Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
KAMU PUNYA APA?


__ADS_3

Zia kini berada dalam sebuah kebingungan di butik Weeding, dengan rasa mual yang tak bisa ia bayangkan saat ini. Ia merasa gaun itu tidak mungkin ia kenakan, entah mengapa rasa perasaannya saat ini untuk menerima dirinya menjadi istri Evan adalah hal yang salah.


"Enggak, aku harus buat keputusan. Pernikahan ini gak boleh terjadi." Zia kembali berdiri dan menoleh.


"Kamu bilang apa? tidak boleh terjadi. Bagaimana bisa, kamu membiarkan reputasi ku hancur Zia?"


"Evan. Bukan begitu, aku rasa kita tidak seharusnya bersama. Tidak adil karna aku tidak mencintai pengantin pria."


"Dan tidak adil, bagiku untuk menyianyiakan hidup wanita yang telah hancur. Maka aku harus menikahinya. Ayo jangan buang waktu, aku ingin kamu mengenakan sesuai gaun yang pelayan ini berikan!"l


Zia mau tidak mau harus menurut, namun saat ia melihat Evan menunggu diluar. Ia merasa sangat mual tak terhingga. Beberapa kali pelayan butik keluar masuk, membuat tatapan Evan melihat saat ia sedang membaca buku model.


"Ada apa?"


"Maaf Tuan! Nona di dalam sepertinya sedang sakit. Saya sudah mengambil beberapa minyak angin. Tapi nona di sana seperti tidak sehat, apa masih ingin di lanjut?"


Evan segera merapihkan jasnya. Hingga dimana ia membuka tirai, dan meminta pelayan keluar meninggalkan mereka berdua.


Uhuuk! Anda kenapa masuk, ruangan ini. Zia menoleh dan tak terasa mendapat pelukan. Terlihat Zia merasa diam, tidak mual dan benar benar nyaman. Hal itu ia rasakan dengan benar benar tidak masuk akal.


"Apa yang kamu rasakan Zia?"


"A-aku tadi sedikit mual. Tidak bisa muntah, tapi saat ini kenapa bisa tidak ingin?" lirih Zia.


"Apa kamu terlambat bulan, sejak sebulan lebih lalu kejadian itu. Bagaimana jika .."


"Maksud kamu, aku sedang ...?"


Evan kembali memeluk, mengelus perut Zia. Ia yakin jika Zia kini sedang mengandung anaknya. Ia sungguh mengharapakan jika Zia benar benar anak pertama baginya.


"Kamu berlebihan, Eca tidak akan senang pastinya. Apalagi, saat kemarin dia sangat murung padaku dengan tatapan aneh."


"Dia hanya cemburu, lagi pula kamu hamil anak pertama bagiku Zia."


"Pertama, bukankah Ecarlos juga anak pertamamu dengan Wita?"


"Haah. Sudahlah jangan dipikirkan lelucon itu, kelak sudah jadi istri kamu akan mengetahuinya. Ayo aku bantu mencoba gaun. Aku akan meresletingnya!" ungkap Evan.


"Tapi Evan! Tunggu, aku merasa tidak nyaman. Lebih baik kamu tunggu diluar!"

__ADS_1


"Dan menunggu waktu semakin lama, kamu akan kembali mual bukan? Sudah aku bantu, aku juga menyuruh Hiro agar cepat sampai!"


"Hiro. Untuk apa, menyuruh asistenmu kemari?"


"Membelikan buah asam bercampur manis. Jika dengan buah tidak membuatmu hilang rasa mualnya. Maka aku akan menghukumnya."


Gleuuk! Zia terdiam, entah mengapa tingkah Evan di luar kantor membuat ia lucu. Tidak seperti bos super galak dan menakutkan seperti yang dibayangkan beberapa rumor di kantor. Hal itu pun di sadari Evan kala melihat Zia tersenyum kecil.


Setelah beberapa jam, Zia kembali senyum. Ia seperti ratu saat ini. Evan benar benar membuat ia menjadi wanita paling bahagia. Tapi hal egoisnya kembali muncul karna dirinya harus melupakan membuka hati. Hal itu kembali senyum menyempit, dan Evan yang baru saja duduk di sebelah Zia tau akan sikap Zia saat ini.


Evan kembali memakai Seatbelt agar Zia duduk safety. Sehingga tatapan Zia kembali menatap dan berterimakasih.


"Jangan banyak memikirkan hal lain, aku pastikan aku tidak akan pernah membuat kamu menangis Zia."


"Tapi setelah kita dirumah, bagaimana dengan Randi. Apa aku boleh berbicara beberapa saat pada Randi?"


"Yap! Randi malam ini pulang dari singapore setelah meeting proyek minggu lalu. Tapi aku membiarkan kamu bersama Randi berbicara hanya malam ini. Setelah menjadi istri, kamu harus menjaga jarak. Agar tidak ada rumor aneh Zia!"


Zia pun terdiam, ia manggut mencoba mengerti dan mencerna. Setelah dari rumah Evan, sore ini ia harus kerumahnya. Entah rasa apa, yang harus Zia bersikap. Ia akan makan malam bersama ibu dan Ayah setelah sekian lama.


Jujur saja, kerinduan Zia pada ibu sangatlah dalam. Adanya Evan membuat Zia bisa memberanikan diri pulang ke rumahnya. Namun Zia kembali terkejut, ketika Evan tak jadi menuju arah jalan pulang ke rumahnya.


"Aku baru dapat pesan, Eca sedang pergi bersama tante. Dia tidak ada di rumah. Kita lebih awal kerumahmu ya!"


"Memang kamu tau arah jalan rumahku?"


Evan hanya tersenyum, lalu mengecup tangan manis sebelah kanan Zia, dengan pandangan lurus saja. Menatap dan sambil berkata.


"No one, doesn't know me about you!" senyum Evan Sanders dengan wajah bahagia.


Zia terdiam, kala pria di sampingnya berkata. Jika ia tidak ada yang tidak tau sedikitpun tentangnya. Itu berarti Evan telah mengirim intel untuk memata mataiku. 'Hooh! suami macam apa, apa aku akan terus di awasi tanpa dia di sisiku kelak.' batin Zia.


"Apa yang kamu pikirkan? Pasti kamu takut aku over atau prosesif ya?" Zia ingin menjawab, namun benar saja matanya membulat ketika ia telah sampai di depan rumahnya.


Evan lebih dulu keluar, lalu dengan tatapan sadar Zia terperangah akan sikap manis Evan yang kembali membukakan pintu untuknya. Namun tidak dengan kaki Zia yang sedikit gemetar. Gemetar kerinduan dirinya pada sang ibu, tapi takut bertemu dengan Eros.


"Assalamualaikum." sapa Zia dan Evan.


"Walaikumsalam, masyallah Zia. Anak ibu, ibu sungguh bahagia kamu pulang. Huhuu, ibu selalu berharap kamu pulang nak. Nak Evan kamu pasti Evan kan? Terimakasih telah membawa Zia dan ia mau untuk pulang nak!" ucap Ibu Anih yang masih memeluk Zia.

__ADS_1


"Saya yang harusnya berterimakasih, karna saya bisa mengenal Keluarga Zia. Setelah bertemu Zia dan mengenalnya lebih jauh." sopan Evan menyalami pada kedua orang tua Zia.


Mereka masuk, lalu terlihat ayah Husein yang datar dan ikut menyapa. Lalu mengajak mereka ke ruang tamu. Namun tatapan Zia yang pamit pada Evan untuk berbincang pada sang ibu. Membuat Evan berada di ruang tamu bersama Ayah Husein.


"Bu, kak Zalwa gak ada?"


"Belum datang, mungkin sedikit terlambat." senyum ibu.


"Enak aja! Zalwa datang dong. Surprise, buat adik kakak. Kakak bawakan dodol manis untuk kamu Zia!" senyum Zia ikut memeluk Zalwa. Sehingga mereka senang berbincang bincang.


"Kakak sendirian, naik apa kerumah ibu?"


"Kakak sendiri, tapi mas Eros belum pulang. Baiklah, kita fokus ke news berita utama. Kapan kamu menikah Zia. Kakak dan ibu ikut bahagia pastinya."


Mendengar penjelasan Zalwa, ada rasa bersalah padanya. Zia pun meminta ijin, agar Zalwa percaya jika dirinya tak sedikit pun ingin merebut Eros kembali.


"Kak, aku bolah minta ijin?"


"Ijin apa, di depan ibu aja ya. Kita gak boleh punya rahasia rahasian tau gak!"


"Aku ngerti, meski aku sok mengerti dan sok tau. Tapi kakak percaya sama Zia kan? Boleh aku menemui Eros setelah dia pulang, aku ingin bicara agar Eros memaafkan semuanya. Karna harusnya Eros marah pada Zia. Bukan kakak, maafin Zia ya kak!" peluk Zia dengan kesedihan, Zalwa pun ikut menetes bulir air mata dengan rasa penuh kesedihan batin.


***


BERBEDA HAL DENGAN EVAN.


Evan yang berbincang sedikit datar, ayah Husein to the point pada Evan saat ini.


"Kamu benar ingin menikahi anak bapak?"


"Ya pak! Insyallah doakan agar lancar semuanya. Meski Evan harus menerobos hati Zia agar percaya. Jika Evan selamanya ingin membuat Zia bahagia.


"Kamu punya apa?" tanya ayah Husein.


Sedikit membuat Evan terdiam, lalu tak sadar Zia tepat dibelakang sang ayah.


"Ayah. Ayah bicara apa sih?" ungkap Zia menghampiri.


To Be Continue!!

__ADS_1


Waduh! Kira kira Evan ngeuper alias syok duluan gak ya? Habis sikap ayah Zia gimana ya ... Coret jejaknya!!


__ADS_2