
Sandi kembali tertawa, kala Halwa berpura pura tidak mengenal. Ia hanya bicara jika ia sedang prank pada teman lama.
"Astaga Wawa, gue pikir lo beneran lupain gue?
"Enggak lah, masa gue lupa sama temen sebangku. Gimana lo lagi berobat sama siapa?" tanya Halwa.
"Biasa nyokap gue, eeh ia gimana soal Zalwa. Kakak lo yang pendiam itu, deketin lah Wa!" senyum Sandi.
Halwa terdiam, ketika Eros datang mengambil resep obat. Ia berlalu mengalihkan pertanyaan, dan membuat Sandi juga mau tidak mau melanjutkan pembicaraannya.
"Sandi, gue harus bawa Halwa pulang. Lagi kurang sehat, sorry ya ga bisa lama!" ucap Eros.
"Owh, oke kaka. Baiklah, lagian ini juga mau cepet kok ke nyokap. Lain waktu gue boleh mampir kan Wa?" senyum Sandi.
"Ya, silahkan. Nanti ijin dulu sama mas Eros tuh." canda Halwa melirik mas Eros.
Mereka pun berjabat dan pamit. Sementara Zalwa sedikit berfikir keras, bagus saja Sandi menanyakan dirinya saat mas Eros sedang keruang administrasi menebus obat. 'Halwa susahnya jika kakak bertemu temanmu, untung saja kamu pernah mengenalkan Sandi teman sebangku kamu saat kita antar Ama ke pasar.'
Halwa pun kembali melalui perjalanan, Eros yang antusias memberi kabar pada kedua orang tuanya. Terlihat jelas raut bahagia, penantian selama hampir dua tahun. Membuat Zalwa merasa semakin bersalah.
'Mas Eros, jika aku jujur. Apa mas kelak akan memaafkan aku. Apa mas Eros akan mengejar Halwa adikku, sementara aku sangat jatuh dan sayang pada sosok mas Eros yang manis dan baik ini.' batin menatap suaminya.
***
BERBEDA TEMPAT.
Zia kini kembali pulang dengan sepeda motor. Namun ia terkejut kala seseorang ingin menemui dirinya di taman.
"Aneh, ini Dewi ga ada di rumah. Dia ganti nomor lagi, ngapain juga nemuin mau ngomong sama gue di taman. Kan tadi pagi dia bantuin gue ngepacking. Kenapa ga tadi pagi aja langsung ngomong." gumam Zia.
Zia yang tak penasaran pada pesan misterius. Akhirnya ia sampai di taman beberapa puluh menit lalu.
__ADS_1
"Hey, wanita sampah. Hadir juga lo sampai waktunya!" ungkap Luna. Zia pun menoleh dan tak asing dengan wanita yang kini di depannya.
"Luna, sedang apa kamu di sini?"
"Gara gara lo, hidup gue ga sebaik lo saat ini. Lo harus mati Zalwa!"
"Ka Luna sadar. Kita bisa lakukan dengan cara yang baik. Jangan seperti ini, gue ga boleh jatuh. Jangan jatuhin gue Kakak .. !!!" teriak Zia.
Astaga musuh kakak gue, kenapa bisa di sini sih! batin Zia menahan dorongan tangan kak Luna.
"Gue ga terima, lo harus terima hari ini juga. Supaya impas semuanya!" hahaa tawa Luna seperti orang gila yang kerasukan.
"Kak, sadar. Salah orang, kalau ada masalah bisa di selesaikan kak!" pekik Zia kesakitan saat bicara pun menahan.
Mungkin bagi sebagian orang kehilangan keperawanan di luar nikah bukan hal yang perlu dirisaukan, tapi bagi Ka Zalwa itu dosa besar yang harus dia tanggung seumur hidup.
Terlebih perlakuan jahat ka Luna pada ka Zalwa saat itu. Zia masih ingat akan dirinya dan temannya menolong sang kakak yang hampir di celakai oleh teman mirip preman Luna, berusaha ingin menodai ka Zalwa. Namun saat tepat kedatangan Zia dan Sandi mereka berhasil datang tepat waktu. Itulah bayangan Zia mengingat masa lalu dan melihat wanita di depannya ini yang berusaha mencelakainya.
"Siapapun tolong aku!" batin Zia dalam cekikan.
HENTIKAN!! TANGAN ANDA!!
"Kupikir kamu wanita baik baik, tapi kamu sama saja dengan wanita lain yang menghalalkan segala cara," ucap Sandi.
'Sa- Sandi, terimakasih sudah tepat datang.'
UHUUUK UHUUK, ZIA TERBATUK.
Luna melepas dan menghempas tubuh Zia kedasar aspal. Sandi menolong dan terkejut akan Zalwa yang baru saja ia lihat, kini ia lihat lagi.
Sandi mendorong wanita bernama Luna saat menyelamatkan Zia yang hampir terjatuh. Hingga di mana Zia bisa terselamatkan saat ini.
__ADS_1
"Pria gila, untuk apa kau ikut campur!" isak Luna kesakitan tangannya terkena cengkraman.
"Apa kamu pikir cara ini bisa membuatmu lepas, mimpimu terlalu tinggi." Sandi menunjuk Luna wanita jahat terhadap Zalwa.
"San, udah ya. Mending kita hubungi polisi aja. Jangan memperpanjang masalah ini. Kasian!"
"Zalwa, wanita itu udah jahat sama lo. Kalau gue ga pas lewat, lo udah jatuh tanpa orang tau. Dasar wanita gila menjijikan kau Luna. Pantasnya kau membusuk!" ketus Sandi.
"Apa maksudmu? Aku korban di sini, masa depanku hancur karena kalian semua harus bertanggung jawab!" isak Luna kembali menangis. Sementara Sandi berdecih melihat wanita sihir yang pandai bersandiwara menangis.
"Kamu memilih cara rendahan dengan memberikan obat perangsang dalam minuman sama wanita yang gue sayangi. Apa itu pantas lo sebut diri lo korban?" amuk Sandi kesal.
"Minuman ap- apa maksudmu gelas yang mana, aku ga ngerti?" tatap Luna seolah bingung.
Luna juga menceritakan, jika ia kesal karna sosok Zalwa di cintai pria yang ia sukai. Dan tewas karna ulahnya. Hal itu pun di bantah, tapi jelas ia tak suka karna semuanya berantakan.
Sementara Zia kaget, kala Sandi menganggap dirinya Zalwa. Hal itu pun membuat Zia menghubungi nomor darurat. Yaitu polisi untuk di tindak lanjuti.
"San, tapi kita bisa selesain semuanya baik baik, kita ga perlu menghakimi." Zia melembut, seolah dirinya adalah Zalwa. Hal itu agar Sandi tak curiga, dan masih saja temannya itu tak bisa membedakan dirinya Halwa teman sebangkunya.
"Zia, Buka mata lo, dia udah hampir mau bikin lo mati!"
"Sandi, tapi dia perlu kita tolong, kasih dia luang buat nyeritaiin semuanya. San, kejahatan ga perlu di balas kejahatan. Gue yakin Luna tadi khilaf."
"Terserah lo deh." ungkap kekesalan Sandi pada wanita bernama Luna yang beberapakali melakukan kejahatan pada wanita idamannya.
Sementara Zia menghampiri Luna yang seperti wanita depresi. Tidak terurus, Zia merasa iba. Apa karna kesalahan dia hampir membuat ka Zalwa ternoda, berbalik pada dirinya. Sehingga ia masih dendam pada ka Zalwa. Bagus saja, ka Zalwa selalu patuh dan tak pernah keluar rumah.
Sandi melihat mobil polisi datang, namun ia sempat bingung. Kenapa ia tadi melihat Halwa di rumah sakit terlihat lembut dan memakai pakaian feminim, memakai anting. Sementara Halwa yang ia kenal sedikit tomboy, tak pernah memakai hiasan sedikit pun. Bahkan tindikan di telinga saja tak ada.
'Astaga orang yang gue tolong ini siapa sih. Kenapa nih cewe bener bener bikin gue pening dari masalah yang gue tolong?' benak Sandi terjatuh lemas.
__ADS_1
San -Sandiii!! teriak Zia.