
"Kios untuk konveksi label brand, segera siap. Mas sudah transfer semua syaratnya. Minggu depan kita serah kunci, kamu ikut ya!"
"Heuum, makasih ya mas. Aku .."
Cup! kilat bibir Halwa di kecup, Halwa merasa tidak enak saat ia masih berada dalam mobil.
"Kenapa mas liatin aku kaya gitu?"
"Aku mau hadiah kecil dari istriku. Bolehkan?"
"Hadiah apa mas?"
"Seperti semalam, mas ingin Halwa!" bisik Randi membuat mata Halwa berkedip, belum lagi pipi merona. Dan bibir bergetar hebat kala Randi kembali mencium tengku leher dengan bisikan manis.
Semalan memang mereka tidak menyatukan raga, tapi Halwa yang kasian pada Randi. Ia menuntaskan apa yang tersendat pada Randi saat menginginkan, itu adalah inisiatif nya sebagai istri. Meski hal itu ia sempat lihat dari website bagaimana cara ibadah terhadap suami tanpa menyatukan raga.
Saat ini, Halwa menyiapkan makan malam, tidak biasanya Randi menatapnya penuh arti. Halwa mengenal Randi sebelum ia jadi imam bahteranya. Tapi Halwa berusaha positif agar tidak terlalu menaruh rasa curiga.
"Alhamdulillah. Kamu sudah minum vitaminnya? masih ada atau sudah habis?"
"Vitamin, oh bidan aku belum cek lagi mas. Sudah satu bulan aku ga .."
"Halwa! maaf mas melupakan itu. Besok kita cek ke dokter ya. Rambut kamu sudah basah lagi, mas harus menunggu enam bulan lebih di tambah empat puluh hari."
"Mas. Maafkan aku ya!"
"Tidak apa, terimakasih kamu sudah membuat mas fresh hari ini. Maafkan mas, jika tadi menagihnya. Jika kamu tidak siap, kamu katakan ya!"
__ADS_1
"Mas, aku hanya ingin menjadi wanita baik meski bukan muslimah dari keluarga terpandang. Aku butuh sosok imam seperti mas Randi."
Halwa menatap senyum, lalu tangan Randi segera meraih tangan Halwa untuk menanyakan satu hal. Dan inilah perasaan Halwa yang merasa gundah.
"Halwa sayang, aku boleh bicara sesuatu?"
"Katakan saja mas! aku pasti akan mengatakannya."
"Soal Zalwa sayang. Apa yang membuatnya tak menyukaimu. Kalian saudara, mana bisa seperti itu. Aku dan Evan yang beda ibu saja, masih bisa akrab. Meski .."
"Meski apa mas?" spontan Halwa terdiam.
Tingnong!!
"Mas ada tamu. Aku buka ya?"
"Tunggu di sini ya sayang! biar mas yang buka, rambutmu basah. Tidak baik, kamu pasti capek. Mungkin itu Beni makelar yang mau kasih berita baik pada kita."
"Mas..?"
"Mas.. Kamu dimana?" sontag Halwa kebingungan memanggil.
Pintu terbuka lebar tapi sosok Randi tak ada. Halwa kembali memutar ruangan dan teras tetap saja tak ada. Motor dan mobil masih saja terparkir. Kunci mobil dan motor masih tergeletak di vas bunga. Halwa menutup pintu dan keluar, tapi tetap saja ia tak menemukan Randi.
Halwa kembali masuk, hingga dimana ia meraih ponselnya. Namun sia sia kala ponsel Randi juga tetap ada dinakas meja kamar.
Hanya saja ia terlalu takut untuk keluar rumah, jujur saja kediaman Randi masih sangat sepi. Ia ingat perkataan Randi untuk tetap didalam. Meski hatinya berlawanan ingin mencari, keadaan kodratnya harus menurut. Tapi hati yang tidak tenang membuat Halwa mundar mandir di teras. Masuk kedalam dan seperti itulah selama hampir satu jam.
__ADS_1
Halwa tak suka, Halwa tak enak hati. Ia segera meraih tasnya dan berganti baju. Dengan kilat ia segera mengambil kunci mobil dan berusaha keluar membuka pintu.
Krek!
"Mas." lirih Halwa memeluk Randi.
Halwa cemas dan takut, bagus saja ketika ia membuka pintu. Randi datang juga ikut ingin membuka pintu. Namun lebih dulu Halwa yang membukanya sehingga perasaan jiwa dan raga mereka menyatu dalam pelukan di dalam teras rumah.
"Halwa sayang! jangan disini, malu nanti pak Rt lewat!"
"Mas, kamu darimana. Aku khawatir. Aku dari tadi berniat mencari kamu. Tapi aku terlalu takut, aku panik, dan aku cem .."
"Maafkan mas ya! mas ga apa apa kok. Ayo masuk kedalam!"
Pintu tertutup, sehingga mereka masih memeluk satu sama lain. Randi tak bisa mengutarakan apa yang terjadi saat tadi Evan ingin masuk kerumah. Hingga ia memilih menarik Evan meski setelah ini dirinya tidak akan bisa membahagiakan Halwa kelak.
"Mas, ada apa? mas ada masalah ya?" menatap sedih saat melihat gelagat Randi yang aneh.
"Mas baik baik saja! tetaplah dirumah sampai mas kembali. Kita pasti baik baik saja Halwa!"
Halwa memutar otak, apa arti dari perkataan Randi yang bicara jika kita pasti baik baik saja.
"Mas, apa Eros datang lagi?" sontag pertanyaan itu membuat alis Randi naik sebelah.
"Eros? memang dia datang mengancammu Halwa?"
Halwa terdiam, sudah pasti ia salah bicara. Dan tebakan nya meleset bukan Eros yang datang pada Randi saat ini.
__ADS_1
To Be Continue!!
Maafkan ya! Halwa baru hadir lagi, kejar deadline soalnya.