Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
EROS DAN SURAT HIJAU


__ADS_3

Zia menemani Eca! ia melupakan pertemuan di atap gedung untuk menemui Eros. Namun yang hal Zia tau, ia tidak mungkin menemuinya dimalam hari. Mengingat status Eros bukan lagi lajang dan besar kemungkinan akan menimbulkan fitnah.


Eros yang masih di gedung atap, ia sudah menunggu hingga menjelang subuh. Tak terasa ia tak tahan ketika sebuah surat hijau yang terselip dari tas kerjanya saat ia mengambil ponsel.


"Apa ini. Zalwa mengirimiku surat. Seperti inikah kamu ingin bicara pada mas. Kamu tau, kamu wanita palsu yang menyakitkan saat ini."


Sekarang semua terserah padamu, Mas. Pesan isi surat Zalwa. Kemudian Eros kembali membaca semua isi ungkapan istrinya diatas lembaran surat pengadilan.


"Mas boleh menceraikan aku setelah tahu semuanya. Tapi ijinkan aku lebih dulu menyelamatkanmu dari pekerjaan. Aku tidak akan membuka aib pernikahan kita, karna aku tidak ingin karier mas Eros hilang begitu saja."


Terlihat Eros membuang napas saat mengisi surat itu, lalu tersenyum. Perlahan ia ingat saat mendekati wanita yang ternyata begitu kuat di balik semua ketakutannya, kupegang tanganku. Jemari yang dingin itu terasa bergetar saat menyentuh tulisan Zalwa.


"Sampai seperti ini pun, kamu masih memikirkan tentang diriku, Zalwa." ucapku.


Eros terlihat membulatkan mata sejenak, lalu menunduk. Kulihat butiran bening mengalir di kedua pipi yang ragu dan kesal.


"Mas tidak jijik padaku? Aku tau, setelah semua terungkap. Mas tidak ingin lagi menatapku. Aku berterimakasih. Lagi pula, kita segera bisa berpisah karna aku sedang tidak hamil, benar adanya."


Aku tersenyum getir lagi ketika mendengar pengakuannya. Kupegang tanganku lebih erat, seolah Zalwa istrinya benar benar penipu ulung.


"Apa maksudmu Zalwa. Kemarin kamu bicara bukan Halwa, pantas saja aku melihat sikapmu yang aneh. Yang aku pikir kamu berubah perlahan, dan ternyata rasa cintaku menutupi perubahanmu." lirih Eros meremas kertas dengan mata yang menyala.


***


KEDIAMAN EVAN.


Aku tertidur di kasur Evan, saat menemani Eca yang sedang demam. Setelah turun oleh obat pereda nyeri demam, aku mengompres. Aku tertidur setengah duduk karna lelah.


Tak sadar, seseorang mengangkatku dan membawaku hingga tidur membenarkan posisiku. Aku menatap samar, benar saja Evan didepanku sedang tersenyum. Melihat dinding ini adalah kamar tamu.


"Terimakasih sudah menjaga Eca, aku tidak tau harus berterimakasih atau Apa? Jika kamu tidak ada. Sampai sampai dady lalai." bisiknya, membuat Zia terbangun.


"Dia sudah tidak apa apa, jangan biarkan dia sendiri terus Evan!" membenarkan posisi duduk.


"Menikahlah, agar kamu bisa menemani anak anakku kelak Zia!" pinta Evan wajahnya semakin dekat.


"Tapi a-aku..?"


Evan meletakkan telunjuknya dengan lembut ke bibir Zia. Perlahan aku mendekat, dengan lembut kukecup dia. Zia sedikit terkejut dengan apa yang kulakukan, tapi dia tak menghindar. Hingga tangannya menopang dan saling menempel. Perlahan tubuh Evan bergeser hingga rapat pada tubuh Zia.


"Jangan seperti ini, aku tidak siap!" lirih Zia.


Zia tau, kali ini Evan memakai piyama tidur, dengan mudah perasaan macan yang terbangun. Kali ini, Zia bingung apakah hubungannya sudah jauh dari batas atau tidak. Kesalahan satu malam, setelah Evan tau semakin saja ia ingin menyentuh dan terus membuat aku tak bisa bergerak untuk menolak.

__ADS_1


'Apa aku sudah jatuh cinta, tapi tidak mungkin. Eros saja masih belum bisa aku lupakan. Bagaimana bisa?'


"Evan, aku ...."


Lagi lagi Evan meletakkan telunjuknya di bibirku, melarang aku untuk bicara lagi. Evan terus mendekatinya dengan gerakan pelan, agar aku merasa aman. Ritme halus, seolah membuat kaitan pakaian dalam terlepas. Zia merasa malu, meski kali ini ia menutup rapat wajah malu. Ketika Evan mengecup dan semakin berada di tengku leher.


*******! Nafas tersenggal, bergema dikamar tamu. Hingga dimana, Zia terkejut kala sebuah ketukan pintu seorang anak kecil.


Toook!Took!


"Tante Zia, apa kamu didalam?"


Ceklek.


Ceklek.


"Evan, kita harus menghentikannya!" Zia mendorong lalu memakai pakaian lagi. Merapihkan rambut, menutup Evan dengan selimut tebal. Karna Eca membuka pintu namun terkunci.


Zia berlari, lalu membuka pintu dan menutup rapat kembali.


"Maaf sayang! Ayo kita kembali kekamar mu ya!"


"Kenapa emggak dikamar tamu aja, supaya tante gak pergi lagi?"


KE ESOKAN HARINYA.


Zia, Evan dan Eca saling berhadapan di satu meja. Kali ini Eca menatap Zia seperti aneh kala tatapan sang Dady menatap gelisah ke arah Aunty Zia disebelahnya.


"Dady, you are restless?"


Zia yang sedang menyuap, ia tersedak. Hingga mengambil sebuah minuman. Jelas guratan wajah Evan gugup, mungkin semalam tertunda karna sesuatu membuat ia tertidur tak kembali ke kamar Evan.


"No! Dady tidak gelisah. Hanya sedikit lelah banyak pekerjaan bersama tante Zia belum selesai. Apa kamu baik saja, jika Dady tinggal hari ini?"


"Yes! Thanks Aunty." senyum Eca pada Zia.


Hingga dimana, Evan berangkat bekerja dan meninggalkan Eca bersama tante Merli dan bibi pengasuh yang kini tiba pagi tadi.


BERBEDA HAL DENGAN KEDIAMAN ZALWA.


"Mbak yakin mau berpisah sama suami mbak?" tanya Sasa.


"Mungkin, karna gak ada cara lain, mas Eros terlihat mencintai Halwa. Sudah sebulan lebih mbak gak dapat maaf dari suami mbak."

__ADS_1


Tak lama, ibu Anih menghampiri. Dengan secangkir teko teh dan beberapa kue kukus untuk menemani mengobrol.


"Bukle, Sasa ngerepotin enggak tinggal sementara disini?" tanya Sasa.


"Ya enggak dong, siapa yang bilang kerepotan. Sebentar lagi kamu lulus kuliahnya. Rencana mau ngelamar kerja dimana?" tanya ibu Anih pada keponakannya itu.


"Belum tau, mbk Zalwa. Kalau Sasa ikut nyoba daftar di perusahaan BFC gimana?"


"Ya! maksud kamu perusahaan mas Eros. Kakak gak yakin, tapi kakak gak bisa rekomendasi, karna kamu tau kan?"


Hingga dimana, ibu Anih meminta Zalwa memutuskan untuk menarik gugatannya. Jika semua masalah akan ada jalan keluarnya. Jika Zalwa bersabar.


"Gak bisa bu! Zalwa gak sanggup. Udah terbukti kalau mas Eros hanya ingin Halwa. Zalwa gak sanggup rasanya." peluk sang ibu, sementara Sasa mencoba menarik foto pernikahan Zalwa dan memperhatikan pria disampingnya.


***


"Lo udah cek semuanya Dew?" tanya Zia ketika menatap layar laptop sambil mengetik.


"Udah sih, tapi gue kayaknya ijin pergi dulu ya! kalian ngobrol dulu aja. Gue di meja paling pojok tuh." jelas Dewi.


Zia segera menoleh, hingga ia terkejut dan kembali lurus pada ketikan data online nya.


"Bisa kita bicara sebentar?"


"Silahkan!" masih mode datar.


"Halwa Tusabina yang mas kenal. Tidak pernah bicara memalingkan wajah. Jika dia berbohong akan selalu menatap dan mengatakan kesalahannya. Apa ini Halwa yang mas kenal selama tujuh tahun terakhir?"


Zia merasa teriris, baru saja Eros duduk dengan jarak amat dekat. Ia mencoba menaikan dagu dan tak terasa air mata itu jatuh dan bergetar bibirnya sulit untuk berkata.


"Mas Eros, semua sudah mas dengar dari mulut ka Zalwa. Tolong jangan sakiti batin kak Zalwa. Dia wanita yang paling baik, kita tidak seharusnya bertemu untuk saat ini. Maafkan Halwa yang ingkar!"


Zia segera membereskan berkas dan mematikan laptopnya. Hingga dimana tangan Zia diraih oleh Eros dengan cepat.


"Katakan kalau kamu sudah tidak mencintai mas lagi Halwa Tusabina! Katakan semuanya kalau kenangan kita itu palsu dan tidak pernah kamu anggap serius!"


Zia terdiam, melepas genggaman tangan Eros dan berkata saat menoleh dengan jelas pada tatapan pria yang amat ia cintai. Bagaimana mungkin kedekatannya selama tujuh tahun dianggap palsu.


"Hubungan kita, tidak pernah saling mengenal saat ini. Jika mas Eros menyakiti Zalwa maka aku tidak akan pernah bicara sepatah katapun. Kenangan itu bagai debu tak berasap yang harusnya hilang. Mengertilah Langit indah!"


'Langit indah,' senyum Eros.


Halwa tunggu!! teriak Eros namun dicegah seseorang dari belakang.

__ADS_1


To Be Continue!!


__ADS_2