
"Eca, Eca sudah. Tante Zia jangan terus di semprot dong!"
"Gak mau, pokoknya Tante Zia kalau kesini harus kena hukuman. Buat apa kerja ke rumah papi, memangnya kantor roboh sehingga Tante harus kerumah ini?" kesal Eca.
'Astaga. Capek deh gue, setiap gue berurusan sama si Eca, nih anak laki laki kalau bukan anak bos. Udah gue pites popokin sambel. Bisa bisanya baju gue, rambut gue jadi becek bin lepek.' deru nafas Zia menyebut kesal.
"Ecarlos. Cepat masuk ke kamar!!!" Teriakan suara dari bariton anak tangga. Zia merasa tertolong, karna pak Evan tepat datang sebelum bajunya basah seluruh tubuh. Bagus saja Eca anak itu hanya menyembur dengan pistol mainan yang berisi air, belum lagi saat pertama kali aku datang. Di atas kepalaku, sudah ada air seember dengan ikan ikan kecil.
"Huuh, papi ga seru. Terus saja undang wanita ke rumah ini, membosankan kalian semua!" Eca sang anak pergi di ikuti bibi pengasuh rumah.
Dasar anak jin, makan apa ibunya waktu hamil, pertama gue di siram air kurasan aquarium. Saat ini air dari tanaman hias dengan bau apek seperti cucian kotor. Awas aja, kalau ga ada bapak lo, gue kerjain balik. Ungkap Zia dalam batin bergumam.
***
"Zia masuklah!"
Zia pun duduk, dengan sebuah handuk kecil yang di berikan asisten rumah bernama ijem. Ia meminta Zia untuk bersabar jika bertemu Eca. Meski begitu Zia juga capek terus menerus, entahlah. Yang pasti Zia cukup bersabar kala ia masih membutuhkan pekerjaan ini.
"Non, maafin Den Eca ya!"
"Heeeum, ya bi. Gak apa, tapi lama lama juga saya bisa capek deh." mengusap kening. Lalu ia duduk ke ruang tamu yang di sediakan.
Zia duduk kala menatap satu berkas, lalu dengan santai tanpa gugup ia membacanya. Dengan banyak perhitungan dan gambar denah baru.
"Zia, apa kamu sudah mendapat kabar email dari pak Rustandi?"
"Haah, ya bagaimana pak. Owh, sudah tadi pagi tapi belum ada respon."
Zia pun kembali mengambil ponsel lipatnya, namun ia tersadar kala ponselnya tak ada di tas kecilnya, mungkin benar tertinggal. Merutug kesalahannya, karna ia belum melihat sama sekali apakah ada email baru.
__ADS_1
"Denah ini kamu lihat, apa yang di butuhkan klien. Tunggu di sini saya akan kembali, dan jangan keluar sebelum kamu memecahkannya!"
"Yaph. Baik saya mengerti pak."
Zia kesal lagi lagi, setiap hari sabtu ia harus lembur dadakan di luar kantor. Apalagi yang mungkin lembur kali ini akan terlupakan, karna tidak memakai sidik jari. Zia hanya menghela nafas, jika ingin meminta ia mengerjakan semua ini di rumahnya saja. Sungguh menyebalkan jika dirinya harus meneruskan denah tiga di mensi di rumah Pak Evan. Apalagi Eca, sungguh lelah dan terasa capek.
"Bi, bi ijem. Sini!" Zia melambai tangan.
"Ada apa non, mau air minum lagi?"
"Bukan, anak jin itu. Uups, maksud saya si Eca lagi di kamar kan?"
"Dia lagi les tiga bahasa online non, tenang aja. Bibi pastiin dia ga akan ganggu non membuat sketsa dari pak bos!"
"Oke. Baiklah bi, tolong pastikan aman ya!"
'Hadeuh, semoga aja dia terkurung sampai pak Evan kembali. Jangan sampai bocah jin itu kembali merusak semua ini. Jika tidak, sudah dua kali gajiku di potong. Padahal ulah anaknya tetap saja gue kena imbasnya.' batin Zia.
Zia masih mengingat kala ia menaruh sketsa untuk meeting pagi. Hanya karna ia tak bisa pulang terjebak hujan, dan harus menginap di kamar belakang. Eca tidak menyukai dan merobek gunting habis, sehingga Sketsa itu rusak dan hancur. Padahal kala itu ia tidak sendirian, ada dua pria dan dua wanita yang saat itu magang sepertinya. Tapi entah mengapa, anak itu terus saja membuatnya resah dan mengerjai dengan banyak hal.
***
RUMAH SAKIT, BERBEDA HAL DENGAN HALWA.
Halwa dan Eros dalam keadaan gugup, ia masih menunggu respon dari dokter Risa. Menatap senyuman, saat Halwa telah selesai di cek keseluruhan.
"Dok bagaimana keadaan istri saya?" tanya Eros.
"Kondisi semuanya baik, detak jantung dan nadi serta tekanan darah normal. Hanya saja mual dan pusing penyebab dari gejala kehamilan. Selamat ya Pak, Bu. Pak Eros, selamat sekali lagi Istri anda telah mengandung lima minggu!" ucap dokter Risa.
__ADS_1
"Mas,"
"Sayang."
Eros dengan spontan memeluk sang istri, rasa haru bahagia dan penantian membuatnya semakin bergejolak. Rasa bahagia, sulit di artikan baginya saat ini. Sementara Halwa kini merasa gundah, entah apa ia harus senang atau diam.
Jika kelak Eros tau, jika ia hamil kembar. Sudah pasti akan menanyakan, belum lagi kedua mertuanya. Selama ini Eros dan orangtuanya tidak tau jika dirinya kembar. Dan yang harusnya menikah adalah Halwa Tusabina yang asli. Bukan aku, benak pikiran Zalwa saat ini menatap Eros.
"Heiy, sayang. Kamu kenapa bengong? Ini berita baik dan bahagia."
"Mas, aku bahagia. Hanya saja .. Euum, minggu depan rencana kita. Dan tiket mas akan sia sia dan hangus, maafkan aku mas. Karna aku ..?"
"Sayang, soal itu tak perlu di pikirkan. Mas akan berikan pada rekan yang mau menggantikan, lagi pula kita menunda karna kamu ga boleh naik pesawat, dari pada terjadi sesuatu. Mas lebih baik kehilangan tiket yang harganya belasan itu." jelasnya.
"Tapi mas, bukan begitu. Bagiku itu sangat mubajir." Eros memeluk Halwa untuk menenangkan.
Tak lupa mereka pamit pada dokter Risa. setelah memberi obat dan berbagai vitamin. Hingga di mana, ketika mereka menebus obat. Salah satu rekan teman Halwa menyapanya. Saat mereka duduk menunggu antrian.
"Heeeiy. Halwa, dan kau Eros. Alamaak, kakak pembina kita ini. Lama tak jumpa, maaf ya Wa, gue ga bisa hadir waktu acara nikahan lo. Sedang apa kalian di sini?" Sandi teman sebangku Halwa yang baik.
"Maaf, kamu siapa ya?"
Hal itu membuat Sandi terutama Eros sang suami, menatap Halwa dengan kebingung'ngan. Membuat tatapan saling menatap dan diam pasi.
***
Haiyo. Kira kira ada yang bisa menebak gak nih? Jangan lupa tekan love jadi warna biru ya. Jangan di unfavorite biar dapat notif dari SM.
SPLITE MARRIAGE
__ADS_1