Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
BERURUSAN DENGANKU!


__ADS_3

'Zalwa?' Randi menatap nanar, lalu menoleh ke arah Halwa.


"Rand, jangan ribut ya. Ini keramaian!"


"Baguslah kalian di sini juga? Halwa, ayo ikut sebentar!" titah Zalwa menarik tangan Halwa.


"Tunggu! tidak boleh bawa Halwa, jika mau bicara langsung aja." Randi menahan tangan sebelah Halwa.


"Hadeuh! baru juga calon udah ngatur, ribet banget sih. Gue ada perlu ama adek gue. Lagian situ kenapa ribet sih. Cowok kok ribet banget."


"Rand! bentaran aja, mungkin kak Zalwa mau ada yang penting di omongin. Tunggu sebentar aja ya!" halus Halwa, sehingga Randi menurut meski cemas.


Halwa yang mengekor kemana Zalwa membawanya. Ia masih bertanya akan apa yang ingin Zalwa tanyakan.


"Kak, kita udah terlanjur jauh. Kakak mau bawa aku kemana sih?"


Halwa yang menghentikan langkahnya, ia terlanjur bingung akan sikap Zalwa. Meski begitu masih mencoba sabar apa maunya Zalwa.


Hingga dimana, Halwa di tarik oleh Zalwa dan membenturkannya ke arah tembok.


Braagh! Aaauuwkh. "Kak, kenapa lagi. Salah aku apa sih?" Halwa menahan sakit.


"Ga perlu lo nikah Halwa! dan lo gak boleh hamil anak Evan! Gue tau semuanya. Lo nikah sama Randi! cuma buat masuk keluarga Sanders kan? trus Randi yang sakit parah, mati terus lo deketin Evan. Benerkan, gila seorang Halwa bisa bisanya dengan cara licik kaya gini. Nerima tawaran nikah, dengan cara picik."


"Haah! apa, kak Zalwa ngomong apa sih?"


"Udah deh! jawab sama gue, ga perlu pura pura bego. Denger ya, batalin semua rencana lo nikah sama Randi, atau gue bongkar sama ibu kalau lo nikah sama Randi, tapi Hamil anak Evan. Lo udah ngerebut semuanya dari gue Halwa. Jadi lo ga berhak masuk lebih jauh lagi!"


Deuuugh! sakit hati Halwa akan tuduhan Zalwa.


Zalwa yang emosi, ia segera melempar mangkok bubur bekas yang telah cair dari tong sampah. Di lemparkan ke arah wajah Halwa. Hingga mengenai baju dan bagian perutnya. Hal itu membuat Halwa kembali teriris, sampai kapan kakaknya itu sadar. Jika ia tidak ada maksud untuk merebut Evan.

__ADS_1


Halwa yang masih syok! melihat Zalwa pergi meninggalkannya. Namun ponsel berdering kencang, terlihat nama Randi telah memanggilnya berkali kali. Halwa menahan rasa sakit di hati, kram perut yang sedikit hebat. Membuat Halwa menahan dan menghapus tangisan air matanya saat ini.


"Randi gak boleh tau! Ibu dan ayah juga ga boleh tau keadaan aku yang sebenarnya. Aku harus bicara sama Randi, buat batalin rencana pernikahan ini." lirihnya.


"Halwa! cukup untuk kamu takut, tidak ada yang menghalangi pernikahan kita."


Halwa terdiam, Randi syok melihat Halwa. Ia lalu membuka sweater dan mengambil tisue untuk membersihkan noda yang menempel pada Halwa.


"Rand.."


"Kamu gak papa, aku dah tau semuanya. Rekaman Zalwa saat ini, bisa jadi bukti kalau dia mencelakai kamu. Mengancam kamu, dia bisa kena pasal. Aku gak akan diam..."


"Rand.. jangan! cukup! gimanapun dia kakak aku. Dia kaya gitu semua karna aku. Aku yang salah, jangan laporin Zalwa ke polisi. Please!" rengek Halwa.


"Wa, sesayang itukah kamu sama keluargamu. Tapi kamu tidak sedikitpun mendapat kasih sayang mereka?, aku mohon kamu percaya sama aku! tidak Zalwa. Tidak Eros ataupun Evan abangku. Tidak boleh ada yang menyentuh kamu. Selagi aku ada, aku akan lindungi kamu."


Perkataan Randi, membuat ketakutan Halwa mereda. Randi yang selalu ia anggap sahabatnya. Membuat ia semakin kagum dan benar saja, ia telah salah mencintai seorang pria. Andai waktu bisa di putar, mungkin Halwa benar benar berpikir ulang untuk mencintai Eros. Juga bertemu dengan Evan.


"Kita ganti pakaian dulu! tante Mira udah nunggu kita di rumah!"


"Kalau tante Merli kemana Rand?"


Ah! ya, Randi baru ingat. Kejadian dia memukul Eca anak dari Evan. Ia juga lupa kenapa bisa melupakan tante Merli. Sehingga Randi berbicara jika Merli sedang keluar kota karna Evan tak menyukai ia tinggal di rumah.


Randi yang kini menuju rumah, ia telah banyak mengurus surat ijin untuk menikah. Hari demi Hari, semua telah dipersiapkan. Di bantu Dewi, Halwa kini tinggal semakin tenang, tak ada gangguan datangnya Zalwa bahkan Eros sekalipun.


DI TERAS.


"Seneng deh, kamu bentar lagi sold out." ucap Dewi.


"Apa sih kamu ini, Dew! jangan aneh deh. Masa iya aku di samain sama barang olshop."

__ADS_1


Tawa mereka pecah, hingga dimana saat menjelang malam mereka ngeteh. Dewi bertanya yang membuat Halwa tak ingin mengingatnya.


"Wa! sebenarnya ada apa sih antara Zalwa dan Kamu. Kenapa dia ga suka kalau kamu nikah?"


"Akh- aku ga tau pasti sih Dew. Tapi semenjak kecelakaan itu, aku ngerasa ka Zalwa palsu. Dia berbeda dari sebelumnya, apalagi ibu dan ayah sangat menyayanginya. Jadi aku ga berani bicara aneh aneh. Aku hanya berusaha mengalah, apapun yang ka Zalwa minta."


"Dih! ada gitu kakak model kaya gitu, aneh. Jangan jangan dia orang berbeda, lalu Zalwa asli dia pake tuh wajahnya. Bisa aja kan?"


Hahaa, elak tawa Halwa. "Udah kaya film drakor aja ih, mana ada model gituan. Itu cuma ada di film fiksi dan novel fiksi. Kaya otor yang nulis kita ini?" canda Halwa membuat Dewi terkeukeuh.


Tak lama, Randi datang. Membuat Dewi pamit bebenah tas. "Eheeeeum! Eheuuum. Pangeran lo datang. Gue cabut ya! kasian anak gue di rumah sama omanya." hal itu membuat pipi Halwa merona.


"Kok udah pulang?" tanya Randi.


"Iyalah. Masa iya mau ngejogrok aja disini. Ga enak ama calon pengantin kan. Yehaa.. hahaay. Udahlah, aku mah yang udah kadaluarsa mau cabut nengok calon bojo di rumah. Eh salah! Emak sama bocah di rumah udah nunggu. Have fun ya kalian!" pamit Dewi.


Hal itu juga membuat Halwa berdiri malu menatap Randi. Sementara Dewi sudah pulang dengan taksi online nya yang ia pesan sebelum ngeteh bareng.


"Halwa. Aku kesini cuma mau bilang, besok keluargamu akan di jemput. Aku cuma mau, kamu tidur terpisah di hotel yang aku siapkan. Pingitan kita selama beberapa hari, semoga aku sabar menunggu rindu bertemu kamu. Aku harap kamu jaga diri. Ada perlu apapun, kamu hubungi aku ya!"


"Rand, kamu sebenarnya ga perlu repot. Buang buang uang tau gak."


"Enggak ada, buat kamu aku ikhlas dan tulus. Aku mau kamu selalu aman di sisiku. Aku harap setelah menikah, perlahan kamu cerita sama aku apapun. Aku berusaha menjaga dan membahagiakan kamu Halwa Tusabina." senyum Randi.


Hal itu membuat wajah mereka saling memandang, tangan Randi menggenggam tangan Halwa. Hingga dimana mata Halwa yang berbinar karna kagum. Membuat pandangan mereka semakin dekat dan bertautan.


EHEEEUM!!


Seseorang membuyarkan pandangan mereka, hingga Halwa dan Randi menoleh ke sisi pagar pintu utama.


"Hiks! siapa dia ya?"

__ADS_1


To Be Continue!!


__ADS_2