Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
HALWA KHAWATIR


__ADS_3

"Zia, terimakasih. Hari ini aku sedang menuju bali bersama Axel. Aah, andai putraku telah tumbuh besar. Mungkin kita bisa quality time bersama. Mungkin akan gembira dan suasana ramai." pesan Dewi.


Zia ingat, kala silau cahaya tadi malam, adalah cahaya sebuah mobil yang terparkir. Dia adalah Jason mantan suami Dewi dengan paras campuran negara eropa. Namun hebatnya, Zia akui sahabatnya itu memang benar akur kala bersama Axel putra berusia enam tahun saat mantan suami playboynya datang menjemput dan saat bersama mereka terlihat akur dan harmonis.


Zia hanya senyum, lalu dengan singkat ia menghubungi Randi. Hingga di mana beberapa panggilan membuat ia menunggu karna ponselnya tiba saja rusak.


Zia pun memencet nomor customer service bagian Hrd. Ia menghubungi seseorang yang sangat ia kenal di ruang kerjanya. Lalu mendengarkan apa saja agenda esok.


"Des, apa pak Evan sedang meeting dadakan. Atau ada acara sesuatu?" tanyanya.


"Apa bu Zia, begini bu! Pak Evan sedang dalam perjalanan ke bali. Jadi kantor hari ini benar sepi, karna beberapa staf juga sedang meeting di luar kantor bersama pak Randi. Apa ibu tidak di beritau?"


"Baiklah Desi, terimakasih." Zia menutup ponselnya.


Zia merasa kesal, karna beberapa saat ia menutup panggilan. Tiba saja sebuah email terlihat dari laptopnya. Ia langsung bergegas bersiap siap. Kala pak Evan membuat dirinya dalam masalah. Bagaimana bisa ia harus kebandara selama tiga puluh menit tanpa perlengkapan apapun. Meski begitu ia resah dan menyadari jika pak Evan sengaja membuatnya dalam situasi buruk. Karna malam di butik ia pergi dengan sebuah surat.


"Dasar bos angkuh, lihat saja jika online ku sudah besar. Aku akan cepat keluar dari bos gila seperti anda Evan." ketus Zia mengambil tas dan berlari. Menghiraukan tatapan ke arahnya.


***

__ADS_1


KANTOR PUSAT.


Perusahaaan Eros, ia lupa akan sebuah hal kecil. Lalu dengan mudah ia segera mengambil jas dan menghubungi Emir.


Pesan email : www blogZia @ langit indah.


"Emir, tiket ke bali. Sekarang juga, kita susul klien kita saat ini, kerjasama ini tidak boleh lepas!" ungkap Eros.


Eros semakin gundah, kala menatap sebuah email dari sebuah perusahaan beberapa hari yang ia lewatkan. Dan mendengar berita kerjasama nya berada di bali ia segera cepat mengunjungi Perusahaan X corporation.


Sementara Halwa di rumah membuka ponselnya, masih sama menempelkan telepon dalam genggamannya. Dadanya, ia sesak dan duduk di sofa panjang. Hal yang tak habis pikir mengapa sesibuk apapun mas Eros tak sempat mengabarkannya. Hal ini pula membuat Halwa kembali ke kamar, sedikit tenang untuk mencoba berfikir jernih.


Hal itu pula membuat Halwa diam membisu, ia yang masih memikirkan mas Eros. Masih saja diam dengan segala keluh kesah. Lalu menatap sebuah pesan online shop yang tak sengaja ia lihat dari Sean. Sean terlihat mengirimkan sebuah design busana dari kantornya, masih satu manajemen di bawah pak Eros. Hanya saja, Halwa penasaran dengan gambar blog dan design unik mirip adiknya.


Meski bayangan sulit untuk ia jelaskan, Halwa masih memikirkan keadaan mas Eros yang selalu membuat ia khawatir jika tak memberi kabar. Hal itu pasti di rasakan para istri yang mencoba khawatir pada suaminya. Bukan berarti ia curiga dan tak mempercayai segala hal aktifitas suaminya di luar sehingga Halwa sebagai istri mencurigai.


Halwa kembali berfikir positif, hingga di mana ia berusaha tenang dan menghela nafas agar tubuhnya benar benar mendapat oksigen yang segar tanpa hambatan dalam pikiran dan otaknya yang sedang kacau.


Hingga hujan turun lebat, Halwa masih menunggu kala menjelang malam hari. Tak ada satupun yang ia lihat pesan dari mas Eros. Ingin sekali bertanya pada Emir. Namun pernyataan Sean yang kini membuat pikirannya kembali tak perlu berfikir macam macam. Membuat jarinya menghentikan nama panggilan Emir, meski telah tersambung Halwa kembali merejectnya.

__ADS_1


Hingga beberapa saat ia melihat status sebuah pesan dari Sean. Bagai tersambar petir, hujan yang turun membasahi bumi membuat hati Halwa kembali sesak. Ketakutan yang akan terjadi, kala adiknya akan muncul di saat tidak tepat.


Sean tau, jika dirinya adalah Zalwa. Tapi selama ini ia selalu mendukung dan menutup rapat rahasia besarnya. Hingga ia meminta Sean untuk mencari tau keberadaan Zia adiknya Sebelum Eros lebih dulu menemui dan mengetahuinya.


Halwa memencet ponsel dengan gemetar. Ada rasa bercampur, ketakutan dan kesal emosi membuat ia menghubungi Ama Anih. Sang ibu agar dirinya kembali tenang.


" Zia kita harus bertemu, kamu tidak bisa muncul dengan keadaan seperti ini," ungkap Halwa.


BERBEDA HAL DENGAN ZIA.


Zia dengan cepat berlari, menatap nama dan tiket penerbangan jam yang di berikan pak Evan. Telah landing lebih dulu beberapa puluh menit, hal itu membuat Zia lelah dan mengatur nafasnya.


Hingga di saat Alea menunggu ia duduk bersandar, menutup wajahnya dengan topi dan kacamata. Menutup sebagian lehernya dengan syal. Membuat lelahnya kembali harus memutar otak, kala apa yang harus ia lakukan mendapat maaf dari pak Evan. Hal itu pun membuat Zia menutup mata untuk mengatur nafasnya.


"Udahlah bro, di sini aja kita tunggu! Eros kau sudah hubungi dek Halwa?"


"Belum, ponsel gue rusak. Gue kabarin pas sampe bali. Gue ada teman di sana yang bisa service." ucap Eros ikut duduk.


Zia merasa terkejut, ia mencoba melirik siapa orang yang duduk di sebelahnya itu. Hingga tak terasa bulir air mata itu kembali menangis. Tidak mungkin, tidak bisa dengan cara seperti ini dia mengenaliku. Lagi pula namaku telah berganti. 'Jika dia duduk di sini, dia menunggu. Apakah kami berada dalam satu penerbangan yang sama juga?' batin Zia menatap.

__ADS_1


__ADS_2