
“Zia, kamu kok tadi dibonceng si Randi tadi pagi?” Dewi bertanya dengan nada kebingungan, pasalnya tidak biasa Zia mau.
“Iy, aku gak apa apa lagi malas naik motor sendiri.” Aku menjawab apa adanya tanpa tedeng aling aling.
“Jangan sering sering memberi kesempatan berdua, Kalau ga mau, suka atau ga suka!” Dewi masih saja mengoceh meskipun mulutnya penuh nasi.
"Aku bersih bersih dulu ya!"
"Ya, is oke. Gak apa, lagian dari gudang belum di kirim. Kalau udah delapan ratus pcs kamu wajib bantu. Kemarin dua ratusan lebih aja, sumpah kita bersepuluh di bantu kurir loh!"
"Sory ya." senyum Zia. Tak lupa Zia berterimakasih pada Randi. Lalu setelah masuk, Zia berahli ke kamar mandi. Ia menangis tersedu sedu, mengingat dirinya tidak sedang baik baik saja. Zia merasa malu dan kotor. Entah harus dari mana ia harus mendapat perlakuan tidak menyenangkan.
Zia yang telah berendam, selama hampir satu jam, ia segera keluar dan menatap cermin. Lalu dengan memoles wajahnya, agar tidak terlihat pucat dan terasa banyak kemungkinan Dewi akan bertanya tanya.
Dewi mengetuk pintu kamar Zia, ia pun mempersilahkan Dewi masuk. Namun sudah cukup tau, bagi Dewi jika keadaan Zia saat pulang berbeda. Sehingga ia masuk menanyakan keadaannya saat ini.
"Zia, lo bener gak apa apa?"
"Dew, gue. Gue baik baik aja kok, sory ya. Gue dari tadi lagi capek banget. Sepulang kerja, gue mau istirahat ga keluar lagi. Tapi besok, gue pasti bakal bantuin semua online kita." senyumnya.
Dewi memeluk Zia, meminta Zia untuk mengatakan apapun. Bagi Dewi, Zia udah seperti adiknya sendiri.
"Ya, udah gue keluar dulu. Kasih tau Randi ya. Kalau lo ga keluar lagi, udah tidur."
"Thanks ya Dew." menghapus air mata.
Dewi sudah yakin, jika terjadi sesuatu pada Zia saat ini. Namun ia akan mencoba menanyakan dan mencari tau, apa yang terjadi pada Zia sahabat baiknya itu. Meski usia mereka jauh berbeda, Zia sosok yang sangat lembut dan amat baik.
Sementara Zia mengabaikan dering ponsel yang terlihat jelas dari Evan. Sudah delapan belas kali, akhirnya Zia memblokir sementara. Lalu dengan terlihat jelas, sebuah pesan dari Zalwa.
Adik, kita sudah lama tak bertemu. Apa kamu punya waktu? Zia terdiam peluh, hingga di mana Zia menatap nomor keluarga yang tak pernah ia bayangkan sekian lama.
***
__ADS_1
Saat jam pulang tiba, Eros kembali menawarkan untuk mengantar Halwa. Namun, kali ini ajakannya tidak berhasil, karena Halwa terlihat menyembunyikan sesuatu.
“Mas, Aku mau ada perlu ke toko buku. Mbak Balqis sudah janji mau ngantar aku besok, dan janji adalah utang.”
"Sayang, kamu jadi mengantar mbak balqis. Benar jadi usaha kue?"
"Ya mas, itupun jika mas Eros ga keberatan. Jujur saja, Halwa bosan dengan rutinitas."
"Baiklah, ijin sama ibu. Kalau gak ada mas ya, jangan sampai janin dalam kandungan kamu. Terjadi sesuatu karna kamu lelah, kenapa kamu ga suntik modal aja. Kamu ga perlu capek?"
"Mas, lagi pula ini sifatnya online. Gak akan terlalu capek, beneran aku janji deh." rengek Halwa.
Eros pun memeluk Halwa, ada rasa tak percaya ingin ia utarakan kejadian ia bertemu klien kemarin. Wanita mirip istrinya, sangat mengganggu pikirannya saat ini. Hingga di mana di dalam lubuk hati Halwa saat ini, ia berbicara meminta maaf. Tidak ada pertemuan dengan mbak balqis soal kue. Hanya saja, ia diam diam ingin menemui Zia. "Maafkan aku mas, aku tidak seharusnya berbohong." batin Halwa.
BERBEDA HAL DENGAN KANTOR.
"Randi bertanya pada salah satu karyawan lain, menanyakan Zia apa sudah datang?"
"Zia udah datang belum Sar?"
"Owh. Oke deh, thanks infonya ya!"
Hingga di mana Randi menghubungi Zia, masih saja ponselnya tak bisa di hubungi. Ia pun menghubungi Dewi, dan menanyakan keadaan Zia saat ini. Benar saja, ia merasa ingin sekali ikut libur, dan segera mengambil jasnya dan kunci mobilnya.
"Mau kemana kau Randi?" tegas Evan.
"Kak, aku. Aku mau .. mau jenguk keadaan Zia." terdiam.
"Untuk apa, hanya seorang karyawan. Jika dia tidak sakit pasti akan masuk, lebih baik kau pergi ke tempat kerjamu. Jangan keluar sebelum tugas berakhir!" ungkap Evan dan berlalu pergi dengan angkuh.
Randi mencebik. Kak Evan kenapa jadi over protektif banget? Embuhnya.
Sore itu Randi ingat bertiga pulang dari Bali, terlihat raut wajah Evan dan Zia yang berbeda. Zia yang terlihat berjalan kaki memutar dengan kesedihan, Randi menemukan dirinya sedang menangis.
__ADS_1
"Tidak masuk di akal jika Zia mengatakan sedih, karna rindu ingat kedua orangtuanya."
“Ran, kenapa kamu diem aja?” tanya Sari menyenggol.
“Aku ngomong kok, Mbak sari. Cuma kamu aja yang nggak denger?” pergi Randi karna tak ingin terlihat, seperti pria yang banyak masalah. Hanya karna memikirkan Zia seharian penuh.
“Serius kamu, masak iya sih, kupingku bolot?” ucap Sari sambil menggosok gosok kedua telinga. Dan merapihkan meja custumer service.
“Iya, serius. Aku ngomong dalam hati,” ujar Randi berteriak, disusul tawa Sari yang pecah. Sampai bahunya berguncang karna terlihat Randi aneh mengelak.
***
Di kediaman Zia.
Zia masih ingat, Lelaki itu mengerjap ngerjap saat wajah kami begitu dekat. Dadanya terasa naik turun. Baru sekarang aku sedekat ini dengan pak Evan.
Tapi jika itu aku bayangkan saat sesekali meeting, hanya saja kejadian suatu malam membuat Zia merasa jijik. Ia melihat tubuhnya. Tubuh yang di raup paksa tak bisa menoleh, hingga ia hampir pingsan dan sadar dengan tubuh yang membulat sama sama polos. Masih mode menangis, Evan hanya bisa terlelap dan masih membuka mata tanpa rasa bersalah.
"Pria itu telah merusak masa depanku, ketakutanku kenapa harus dengan Evan. Kenapa dengan cara seperti ini. Huhuu." tangis Zia pecah.
TOOK .. TOOK.
"Zia, ini gue. Lo gak apa apa kan? Gue boleh masuk, tumben kamar di kunci?" teriak Dewi.
Zia mengelap wajahnya yang merah basah, mengusap dengan kain kecil sehingga menghentikan rasa tangisan yang begitu sesak. Baginya dengan cara kesibukan, mungkin akan bisa melupakan kejadian malam yang begitu hangat dan fresh di pikirannya.
KREK.
"Gue gak apa, udah mau mulai ya. Barang udah datang ya Dew?" tanya Zia.
"Zia, mata lo bengkak. Habis nangis, jujur sama gue. Gue ga bisa diem aja, siapa yang bikin lo nangis Zia?"
Tingnong!! Bell rumah berbunyi.
__ADS_1
Zia dan Dewi kembali penasaran dengan arah gerbang, siapa tamu yang datang di saat moment tidak tepat.
Duuuh kasian Zia? By the way. "Siapa yang datang ya?"