
Evan datang ke rumah milik Bahrein. Lalu dengan sekejap, ia segera menarik Halwa tak tega. Namun bukan kepalang, meski Evan terlanjut benci pada Halwa. Ia juga tidak tega melihat Halwa di permalukan seperti itu, terlebih karna dia wanita mengingatkan mendiang ibunya. Sehingga Evan meletakkan berkas pembatalan, lalu ia kembali menarik Halwa untuk ikut dengannya.
Namun setelah perjalanan di pertengahan, Halwa diturunkan oleh Evan dengan wajah acuh.
"Kau harus berterimakasih, karna tanpaku kau tidak akan tertolong tadi!"
"Baik, terimakasih."
***
PENGINAPAN RESORT BALI.
Halwa memuntahkan semua isi perutnya. Sudah tak lagi terhitung berapa kali wanita itu bolak balik kamar mandi. Tampak wajah Halwa terlihat pucat. Peluh membanjiri pelipisnya. Kepala Halwa memberat. Beberapa kali tubuh Halwa terhuyung nyaris jatuh. Namun, wanita itu segera menyandarkan punggungnya ke dinding kamar mandi demi menjaga keseimbangan tubuhnya.
Halwa menatap nanar sebuah tespack dua garis. Sorot matanya terlihat melemah. Sudah lebih dari lima kali ia melakukan test kehamilan, dan hasilnya tetap sama. Positif. Ada makhluk kecil di dalam rahimnya, benar benar nyata. Ia berharap kemarin lalu ia salah melihat. Setelah ia cek kembali lagi dengan kenyataan tak ia inginkan.
Bulir air mata Halwa mulai jatuh membasahi pipinya.
'Aku harus menemui Evan sekarang. Dia harus tahu tentang kehamilanku. Setidaknya bayi ini punya status, setelah itu bercerai kembali aku tak masalah.' batin Halwa.
Halwa menyeka air matanya. Ya, ia bertekad kuat untuk memberitahukan pada Evan. Bagaimanapun ia adalah ayah dari bayi yang ada di kandungannya. Meski ia tahu Evan telah kecewa, tidak pernah menginginkannya lagi. Tapi darah yang mengalir di janinnya adalah darah Evan.
Di perjalanan, Halwa melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata. Wanita itu ingin segera tiba di kantor Evan. Hingga saat mobil yang dilajukan Halwa memasuki gedung pencakar langit yang ada. Halwa segera turun dari mobil dan memasuki gedung Maxton Company. Perusahaan milik Evan Sanders ini adalah perusahaan terbesar.
Halwa melangkahkan kakinya memasuki lobby perusahaan. Dia tampak sedikit canggung kala ada beberapa orang yang menatap dirinya. Ada ketakutan dalam hati Halwa kalau ada yang mengenali dirinya. Namun, dikala ia melangkah tiba tiba tanpa sengaja dia menabrak seorang pria hingga membuat ponsel nya itu terjatuh.
__ADS_1
Jujur saja, Halwa telah resign dari perusahaan Sanders company di gedung Maxton. Tepatnya ia meneruskan usaha onlinenya bersama Dewi.
Brakkk
Raut wajah Halwa berubah kala dia menabrak seseorang. Sehingga Halwa segera mengambil ponsel miliknya yang terjatuh, tanpa menoleh tatapan pria itu.
"Maaf! ini ponsel anda, biar saya ganti kerugiaan jika rusak."
"Halwa, Hey! kamu ke kantor, mau apa?"
"Randi." terkejut Halwa.
"Mau ambil berkas yang ketinggalan, sebentar doang kok." alibi.
"Mau gue anter?" senyum Randi.
Saat Halwa tiba di lantai tujuh, dimana ruang kerja Evan berada, dia mengendarakan pandangannya mencari sekretaris Evan. Lantai itu begitu besar dan luas membuatnya sedikit kesulitan.
“Selamat pagi, Nona. Maaf Anda siapa?” tanya sang sekretaris dengan sopan pada Halwa.
“Ah, pagi. Aku Halwa. Aku ke sini ingin bertemu pak Evan. Apa Evan ada di kantor?” Halwa bertanya dengan senyuman ramah di wajahnya.
“Nona, apa Anda sudah membuat janji pada Tuan Evan ?” Sang sekretaris kembali bertanya.
Halwa terdiam beberapa saat. Raut wajahnya mulai berubah. Tentu saja dia tidak mungkin membuat janji. Karena jika dia menghubungi, maka pria itu pasti akan mengabaikan telepon darinya.
__ADS_1
“Belum, aku belum membuat janji. Tapi ada hal penting yang ingin aku katakan pada pak Evan. Apa kau bisa membantuku untuk menyampaikan padanya kalau aku ingin menemuinya?” Halwa berucap dengan suara pelan, dan lembut.
“Nona—” Perkataan sang sekretaris itu terpotong kala mendengar suara pintu ruang kerja terbuka. Refleks, dia menundukan kepalanya ketika melihat Evan melangkah keluar. “Tuan,” sapanya sopan.
Tubuh Halwa mematung melihat Evan melangkah keluar dari ruang kerjanya bersama dengan seorang wanita yang tadi dia tabrak kala di lobby. Tatapan mata Evan mulai menunjukan kerapuhan melihat wanita itu memeluk possessive lengan Evan dengan erat. Tanpa harus bertanya, Halwa sudah menduga hubungan yang dimiliki wanita itu dengan Evan.
Evan meminta Halwa masuk, sementara sang sekertaris dan wanita itu telah keluar dan menutup rapat pintu itu. Ada rasa berdebar dan takut bagi Halwa saat ini, tapi ia bagai buntu kemarin menolak Evan, saat ini ia harus memohon agar Evan menikahinya demi status anak dalam kandungannya.
Lama mereka berbicara di dalam ruangan, dengan beberapa saat Halwa keluar dengan raut wajah habis menangis. lalu ia hapus air mata yang berada dalam pelupuk matanya dan berlalu keluar dari kantor ini.
Bagai tersambar petir, tubuh Halwa nyaris ambruk kala Evan tidak mengakui jika dia telah menghamilinya. Mata Halwa memanas. Air mata hendak jatuh dari pelupuk matanya. Namun, mati matian ia menahan air matanya agar tak tumpah. Pria itu telah menghancurkan hatinya sampai tak lagi tersisa.
“Apa yang dikatakan Evan memang benar, aku ini siapa?"
Halwa melangkahkan kakinya gontai memasuki lobby. Wajah wanita itu tampak pucat. Mata sembab. Terlihat jelas wajah cantik Halwa sangat lemah. Pancaran manik mata biru telah meredup. Kebahagiaan tak lagi ada di mata indah itu. Yang tersisa hanya sebuah keputusasaan. Halwa juga mengabaikan panggilan dari Dewi sejak tadi, karna pikirannya saat ini sedang kacau..
Seketika bulir air mata Halwa menetes jatuh membasahi pipinya. Setiap kali Halwa mengingat tentang Evan maka hatinya akan selalu hancur berkeping keping.
Ya, pria yang begitu dia harapkan mau bertanggung jawab adalah pria yang memperilakukan dirinya layaknya boneka yang sudah tak lagi layak dipakai. Evan membuangnya seperti sampah. Pria itu telah berhasil membuat harga dirinya jatuh.
Bruuuk!!
"Hey! Halwa udah selesai?" tanya Randi berada dalam lorong, matanya terkejut kala melihat Halwa habis menangis dan menjatuhkan sesuatu.
“Testpack milik siapa ini, Halwa ini punya kamu?" tanya Randi syok setelah memungut.
__ADS_1
To Be Continue!!