Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
DALAM BAHAYA


__ADS_3

Kembalinya Dewi membuat Halwa dan Randi memerah di pipinya. Hal itu membuat Randi salah tingkah, mencari kunci mobil. Sementara Halwa mengusap pot bunga di meja.


"Eeeh! sorry. Nih hp gue ketinggalan. Sory ya, kalian lanjutin lagi aja kalau mau Mpok'an gitu."


"Dew .." teriak lembut Halwa melirik.


"Gak apa kali, mau halal ini. Udah ya! kalian baik baik, jangan terlalu malem. Setengah jam lagi tuh waktu ketemu. Tar pak Rt lewat ga enak!Randi ga usah cari kunci, itu nyantel di saku celana kanan. Byee..." Jail Dewi yang masih terbahak bahak tapi tak mengeluarkan suara.


'Astaga! aku lupa, Dewi itu udah pengalaman. Tau aja dia kalau aku pura pura."


"Sory ya! Dewi emang kaya gitu, tapi aku beruntung punya sahabat kaya Dewi. Kamu tau kan, aku lama bersama cuma Dewi yang ngerti aku."


"Dan aku, aku harap kamu juga ngertiin aku. Percaya sama aku. Apapun itu, katakan sama aku. Aku butuh kamu, kita berkomitmen untuk saling terbuka!"


Halwa hanya mengangguk, ia masih bingung untuk meminta bantuan tentang keberadaan Zalwa. Seseorang yang memang telah berubah drastis, dan ia takut untuk bicara tanpa bukti.


'Andai aku bisa bicara padamu, apa kamu akan mampu melewatinya. Aku takut kedepannya hidupmu sulit Rand! sudah menjadi ayah pengganti untuk anakku saja aku sudah banyak beruntung.'


***


Detik detik persiapan, Halwa di temani Dewi, ia segera menata undangan yang sebentar lagi tersebar oleh ojek online! Hingga tak terasa, saat itu Halwa memberikan sebuah amplop dan ucapan terimakasih pada tiga kurir melalui ojek online.


"Syukurlah semua beres ya?"


"Makasih ya Dew! tanpa kamu, aku pasti sibuk hari ini."


Halwa duduk di tepi meja balkon. Dewi memberikan Teh lemon untuk ia minum. Meski aneh, beberapa saat Halwa tak seperti biasanya. Ia selalu murung dan terlihat sedih.


"Halwa. Aku ga tau beban apa yang kamu pikirin. Tapi melihat kamu seperti ini. Aku ikut batin menyedihkan, apa aku sahabatmu yang ga berguna. Apa aku ga pantas membantumu?"


"Bukan begitu Dew, maaf dan terimakasih udah buat aku selalu kita bersama. Aku hanya pilu untuk mengatakan sesuatu yang berat. Menceritakannya, membuat aku sakit dan air mata ini terus aja mengalir. Padahal aku ga ingin menangis Dew, bahkan aku berkata jujur sama Randi aja aku ga sanggup." menatap Sendu. Mengusap pipinya yang basah.

__ADS_1


"Baiklah. Maafkan aku terlalu memaksamu. Jika sudah tenang, aku bisa bantu sesuai kemampuanku. Terus terang aku ga mau kamu kaya gini Halwa, kamu harus bahagia."


"Sebenarnya. Aku dah coba mencari tau, tapi aku ga yakin. Aku ga yakin jika semua Zalwa yang buat isu itu. Aku ga punya bukti, aku harap kamu jangan kasih tau Randi ya!"


"Zalwa. Apa masalah dia padamu sih?"


"Semua berawal dari Evan. Aku gak pernah tau, jika dia adalah Evan Albino. Evan adalah cinta pertama ka Zalwa. Tapi aku bingung, kenapa Evan juga ga ingat soal ka Zalwa. Bahkan waktu itu aku melihat Zalwa berdebat dengan Evan, dan Zalwa labrak aku yang aku ga tau apa masalahnya."


Dewi yang mendengar, ia masih bingung perkataan Halwa, Sehingga saat ia ingin bertanya lebih. Ponsel Halwa berdering beberapa menit.


"Dew, aku keluar dulu ya! kalau Randi telepon. Bilang aja aku tidur."


"Eh tunggu! kamu mau kemana emangnya, Wa jangan aneh aneh. Lagi di pingit loh! aku juga belum puas nanya soal Zalwa." lirihnya, tapi Halwa senyum dan berlalu pamit.


***


LOSTMEN PURI.


"Cukup Zalwa! aku mendekatimu karna aku tau yang sebenarnya. Kamu tinggalin aku saat itu, hingga aku akhirnya menikah dengan wanita yang ga aku cintai. Semua karna kamu tinggalin aku, kenapa kamu kembali. Apa karna perusahaan terbesar Sanders? belum lagi kamu menikahi Eros musuhku." bertolak Evan.


"Apa karna adikku Halwa? Evan dengarkan aku!semua karna Halwa aku menikahinya, bukannya Eros juga sahabat kamu ingatkan?" tanya Zalwa.


"Omong kosong! kamu tau, saat ia bekerja aku pikir dia memang mirip orang yang pernah aku cintai, karna datanya tidak ada nama keluargamu. Tapi setelah semuanya aku tau, tidak sedikitpun aku mau kembali padamu atau Halwa. Jadi pergi dari sini, aku tidak butuh wanita dan keluarga matre seperti kalian!" ungkap Evan dengan kemarahan.


Sementara Halwa pun memberanikan diri. Lalu mengetuk ruangan Lostmen Puri. Sebelumnya ia gugup, namun pikiran positifnya buyar, karna Zalwa memintanya datang mendesak.


'Apa aku ketuk aja ya? ka Zalwa kenapa minta ketemuan di tempat kaya gini sih?' batin.


Memencet bel. Ting Nong!!


"Permisi! ka Zalwa. Aku datang!"

__ADS_1


Zalwa menoleh, ia terkejut dengan rileks. Menatap dengan sempurna kala itu. Evan pun sama halnya, sebelumnya ia tak pernah mengijinkan Halwa datang ke tempat yang selalu sembunyi untuk bertemu seseorang.


"Apa yang kamu lakukan di sini. Pergilah Halwa!" ucap Evan membuka pintu.


Sementara Halwa terkejut, karna ia juga syok jika bertemu Evan. Jujur saja ia datang karna ka Zalwa.


"Aku kesini karna mau ketemu ka Zalwa. Maaf, aku salah kamar sepertinya." gugup Halwa.


"Hei. Cukup kau benalu!" teriak Zalwa.


Halwa kembali menatap Zalwa. Kini mereka saling bersejajar saling menatap. Seolah asik untuk tontonan besar bagi Evan kala itu. Ia begitu terkejut, kebaikan Halwa agar dirinya berdamai, membuat Zalwa semakin semena mena membuat dirinya malu dan bersikap kasar.


"Ka Zalwa, aku kemari karna pesanmu. Tapi kenapa semua seolah aku yang bersalah. Ka Zalwa harus ingat, aku bekerja dengan Evan dan pernah dekat, karna aku ga tau kalau dia Evan kekasih kaka yang kaka cintai. Dan jika aku tau, aku juga tidak akan membuat mas Eros menggantikan aku. Menikahi kaka dan semua tau kita dalam posisi sulit saat itu?!"


"Bohong kamu Halwa!" elak Zalwa yang mendorong Halwa. Namun Halwa cekat memegang gagang besi tangga, ia menarik nafas dan segera meninggalkan lokasi dimana Zalwa dan Evan yang memberi punggung seolah acuh.


'Kalian samanya, memintaku datang hanya untuk menyakiti,' sedih Halwa menatap wajah Zalwa.


Halwa begitu tertusuk duri. Sungguh kasih sayangnya sangat menyakitkan, ketika Zalwa mengatakan itu. Evan melewatinya dan meludah wajahnya ketika mengusirnya. Sehingga Halwa hanya bisa mengepal untuk membalas semua rasa sakit hatinya, dengan memendam.


Lima menit .. Sepuluh menit .. Hingga puluhan menit berlalu. Halwa yang terdiam kaku hingga rasanya mengering air matanya. Membuat dirinya semakin tak berdaya. Ia pun keluar dan menuju suatu tempat yang tak bisa siapapun melihatnya sedang rapuh.


"Teganya kamu kak! aku menanggung gugatan Eros karna aku melindungi kamu dari pria judi bernama Bahron. Aku menyelamatkan hutang ayah, dirimu dan membohongi Eros agar mahar Eros untuk menutupi, dan aku masih terpuruk akan kehamilan ini, tapi ..." terdiam sesak.


Halwa masih menunggu bus di sebuah Halte. Perasaan yang bimbang, membuat Halwa diam tak naik bus yang beberapa kali datang dan berhenti.


Sehingga tak jauh Zalwa yang mengendarai dengan mobil, ia menatap Halwa dengan senyuman sinis menjengkelkan tak jauh dari Halte.


"Hey! kalian mau uang tidak?" ucap Zalwa pada pengamen bertindik besar di bagian hidung, telinga dan nampak di lidahnya.


To Be Continue!!

__ADS_1


__ADS_2