Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
MUAL


__ADS_3

Sepulang Halwa dan Eros mengantar Ibu dari rumah sakit. Halwa menutup pintu, terlihat seseorang membuka jendela tepat dari depan rumah pagarnya yang terbuka lebar.


"Mas, itu rumah baru, yang baru di bangun itu udah di tempatin ya?"


"Yang mana sayang? Kayaknya Ya, apa kita aja yang gak tau kalau tetangga baru bertambah. Kamu bisa ada temannya dong." senyum Eros.


"Mas emang udah liat tetangganya?" kesal Halwa menutup jendela kasar.


"Sayang, ga usah marah begitu. Mas belum liat, jangan kasar kasar dong. Nanti ibu denger di kamar sebelah. Nanti anggapan ibu mertua apa, kalau mas Eros kdrt lagi sama kamu."


Halwa kembali masuk ke kamar, berganti pakaian piyama dan Eros terlihat mengekor dan memeluk Halwa dari belakang. Jujur saat Halwa masuk ke kamar, Eros mengintip dan terlihat tetangga baru terlihat tidak sopan dengan pakaian setengah telanjang mengumbar dengan sengaja di depan jendela rumahnya.


"Sayang, mas hanya sayang sama kamu. Mas ngerti mood orang hamil memang naik turunkan. Tapi mas cuma mau bilang, jika kamu marah dan sedih. Bayi kita akan ikut seperti mamanya!"


Halwa yang terbawa suasana, ia langsung memeluk Eros dan berbalik badan. Seolah ia memang takut kehilangan suaminya itu.


"Ya udah, kita tidur sekarang ya!" angguk Halwa.


Tak lupa Eros mengangkat baju Halwa, dan membuat kecupan nikmat, yang mungkin membuat Halwa mengigit bibir bawahnya. Hingga mereka mendesul dan Eros sangat menyukai gundukan kembar Halwa yang semakin padat berisi.


"Mas, pelan pelan ya!" Eros pun mematikan lampu, dan membuat tanda indah di seluruh tubuh Halwa yang mungkin tak bisa di lihat hanya seorang diri.


KE ESOKAN HARINYA.


Hari demi Hari, Halwa menjalani rutinitas seperti biasanya. Hanya saja Halwa merasa kesal dengan tetangga bernama Sri yang sering mampir kerumah pagi pagi. Lebih jengkelnya meminta tolong dan menatap Eros suaminya dengan genit.


"Mbk Hal, pinjem uang seratus ribu dong. Boleh ya jangan pelit dong, suami kaya tampan gak boleh pelit!" Halwa menatap kesal, baru satu minggu saja tetangga baru sudah membuat ia kesal bukan main. Menyesal Halwa meladeni ia berkenalan di tukang sayur keliling.


"Mas, Udah cepat berangkat ya!" senyum Halwa dan Eros mengecup kening Halwa. Hingga dimana Sri tetangga itu ikut senyum dan melambai tangan ke arah Eros.


"Astaghfirullah. Mbak Sri ini keterlaluan sekali, yah?" Halwa kini tak bisa menahan emosi.

__ADS_1


"Habis kamu lama sih, aku udah wa loh tadi, gak apa kali intip suami orang dikit doang?"


"Pagi itu mana sempat liat ponsel, udah mbak Sri cepat pulang. Saya banyak kerjaan jangan lupa di ganti janjinya sore kan!" kesal Halwa lalu masuk dan menutup pintu.


"Dih, cewe sensian amat. Tar lakinya gue rebut loh!" cibir Sri kembali pulang yang hanya beberapa langkah saja.


Sri!! Jangan berani dekatin suamiku ya!! kesal Halwa membuka jendela berteriak ke tetangga menyebalkannya itu.


***


BERBEDA DENGAN ZIA ESOK HARINYA.


Zia hari ini ia harus berada di rumah Evan, saat mengantar Randi yang ingin mengambil baju dan laptopnya. Untuk di bawa ke Apartemen miliknya, tapi karna hujan Zia mau tidak mau harus menginap di kamar tamu yang di sediakan Randi.


Zia yang telah mandi dan rapih, berusaha menjemur handuk agar tidak lembab.


Evan sama sekali tidak berucap apapun. Pria itu menarik semua kain Zia dan memasukkan ke dalam keranjang. Kemudian membuangnya ke bak keranjang kotor.


Setelah itu Evan keluar lagi mengambil kain milik Eca yang tertumpuk di sudut tali jemuran. Ia menyerahkan kain itu pada asisten yang hanya diam melihatnya. Lalu meminta mengeringkan, dan jemur dimana Zia beberkan kain bersih lembabnya tadi.


Setelah itu, Evan pergi lalu Randi menghampiri keributan yang terdengar tadi. Randi membuka tali jemuran dan memindahkannya di samping halaman sebelah. Randi yakin jika tali jemurannya dipindahkan di sana, Zia pasti tidak akan mengganggu. Membuat onar bagi Evan kakak gilanya itu.


"Gak usah di ambil hati ya! Evan kalau di rumah bukan bos dia emang kaya gitu, lagian semalam karna hujan kan. Ingat fokus nanti malam acara besar kantor. Jadi gak usah pulang, ada gue yang bakal lindungin lo di rumah berhantu ini!" senyum Randi.


"Heumph! Ga apa sih Rand. Cuma dia bikin emosi terus kerjanya."


Randi merangkul Zia usai menjemur kain. Mereka memandang kain yang tergantung di tali jemuran. Kemudian mereka menghela napas lega secara bersamaan.


"Ayo, kita pergi. Ntar keburu siang," ajak Randi.


"Tapi yakin bakal kering, gak ada sinar matahari masuk loh Rand." namun di abaikan, ia mengekor Randi melangkah saat ini.

__ADS_1


PEMAKAMAN.


Nama Serly binti Ahmed Adriano tertera di batu nisan.


Randi duduk menangis di atas pusara mamanya. Menangis tersedu sedu. Ia merindukan sosok mama yang katanya sangat baik itu. Randi berusaha untuk mengingat ingat kembali masa kecilnya. Siapa tahu gambaran mamanya bisa terlintas di benak. Namun, ia sama sekali tidak bisa. Karena pada saat itu dirinya masih kecil.


"Mama ...."


"Rand, sudahlah. Sabar! Aku yakin Mama sudah tenang di alam sana." Zia menyemangati.


Lama Randi terisak di sana dan pada akhirnya pulang karena cuaca tampak mendung. Tepat saat mereka tiba di rumah. Gerimis pun turun. Zia dan Randi bergegas mengambil jemuran kemudian masuk. Karena hujan kini mengguyur ibu kota. Letak makam mama Randi tak jauh dari pelataran rumah mereka sekitar sepuluh meter dari rumahnya.


"Sory gue memalukan ya? Jujur gue sedih karna enggak punya mama. Gue hanya punya papa," balas Randi.


Zia akhirnya diam. Tak ingin membuat suasana hati Randi makin buruk. Mendengar cerita Randi, ia merasa bersalah tak ingin marah berkepanjangan pada sang Ayah. Meski seburuk apapun, mereka punya alasan. Buktinya Randi tegar kala ia dan Evan berbeda ibu. Ibu Evan adalah sosok istri kedua bagi keluarga terpandang.


Saat Zia memegang teh hangat, Randi masih bercerita. Seolah tatapan Evan melihat dari bilik dinding lain. Menatap Zia yang serius duduk dan dekat dengan Randi adik tirinya itu. Tanpa sadar kala Ecarlos tepat di belakang Evan, memperhatikan gerik sang papa yang menatap wanita bernama Zia.


"Papa suka sama Aunty Zia?" menepuk tangan.


"Eca, kau sedang apa di sini. Masuklah ke kamar!" ketus Evan.


Tanpa sadar, suara Evan bergema. Sehingga Randi dan Zia menoleh ke arah Evan dan anaknya yang sedang beradu mulut.


"Tuh kan, lo liat aja Zia. Evan itu unik, dia sok kejam di kantor. Tapi di rumah dia takut sama anaknya, hahaaa." tawa Randi.


Namun Zia merasa sesak dan sedikit mual. Ada rasa janggal kala ia ingin muntah tapi tidak jadi.


"Rand, Uueeeeeek!" menahan muntah karna sulit.


Randi terkejut kala Zia ingin berlari ke kamar kecil, tapi menabrak Evan dari arah berlawanan. Sehingga muntahnya tepat dibahu baju Evan.

__ADS_1


Uuuueeek!! Zia menohok kaget.


To Be Continue!!


__ADS_2