Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
CUKUP MENGEJUTKAN


__ADS_3

"Lihatlah! bukankah dia cukup pandai, saat ini dia bersama pria lain?" senyum Zalwa.


Zia yang terkejut ketika Zalwa berada tepat di belakang mobil Randi. Rasa moodnya turun kala Zalwa datang mengetuk kaca mobil, Terlihat Evan tak jauh tiba saja mengantri di sebuah kedai minuman jarak Lima meter dari kaca transparan.


"Jadi gimana? Lanjut atau makan di tempat lain?"


"Kita pulang aja deh, gue mu.." terdiam kala Zalwa memegang tangan Randi, karna menahan rasa mual.


Meski Randi cukup melerai, kala tangan Zalwa memegang dengak mencekik pergelangan Halwa di depannya.


"Jangan keterlaluan anda mbak!" pekik Randi menatap Zalwa.


"Hey! aku gak pernah nikah sama om kamu. Jangan panggil mbak!"


Zia meminta Randi berhenti, dengan kode matanya. Lalu Zia yang memakai masker karna tau mungkin akan datangnya Evan. Ia segera menutupi untuk berjaga.


"Halwa, mau sampai kapan kamu berada di balik wajah palsu. Lebih baik kamu rubah wajah kamu seperti dulu, meski mirip denganku. Tetap saja jauh lebih baik dan cantik aku." lirihnya.


Zia tak menyangka, apa ini yang disebut kakak. Jika bukan karna ulahnya, Zalwa di nikahi Eros. Mungkin Zalwa akan di nikahi menjadi istri ketiga Bahron, suami yang selalu kasar dan judi.


Namun ketika ingat ibu, ini bukan saatnya untuk Zia mengingat keadaan masa lalu, itu bukan sikapnya.


"Maumu apa kak?"


"Cukup bilang, kamu benar selingkuhan Eros! Jika tidak ingin ibu dan Ayah terseret lebih jauh. Semua ini ulahmu juga, jadi apapun itu. Kamu harus bicara cukup kamu saja yang bertanggung jawab kala sidang memutuskan!"


"Hey! Jika Itu tidak benar, bisakah kamu berhenti memfitnah orang lain. Dia itu adikmu kan?" sambung Randi.


"Rand, udah cukup. Lo gak usah ikut campur. Biar ini urusan gue dan Zalwa."


Pada saat ini, Randi sangat menyesal karena tidak merekam video dengan ponselnya ketika mendengar pembicaraan antara Zalwa dan Zia, saat berada di loby umum.


"Pergilah kak! Pria pertama kakak, setengah mati mencintai kakak sudah mau datang. Jangan sampai kakak terlihat buruk di depannya. Aku akan memikirkannya agar Eros menghentikan semuanya."


"Ok! inget. Tepatin itu!" berlalu pergi Zalwa dengan menunjuk wajah Halwa.


"Hey! Zia, kamu gila. Masih bisa bersikap lembut pada kakakmu. No! dia pasti bukan kakak aslimu. Aku yakin, bukan. Dia itu pasti oranglain." bisiknya.

__ADS_1


"Kita pergi sekarang Rand! Gue udah ga laper. Gue mau pulang." jelas Zia.


Sekarang memang tidak ada bukti nyata yang bisa aku tunjukan! Jadi aku hanya bisa menggigit jari. Pekik Randi, yang ingin membantu Zia, ia terlalu terhipnotis akan pertikaan dua wanita yang mirip tetapi sedikit perbedaan bagi Randi untuk mengenal.


"Sial sekali." lirih Randi memukul setir mobil.


Di saat Zia sedang kebingungan. Pada saat ini, Randi datang sambil merangkul Zia berjalan masuk.


"Apa Evan masa lalu kakakmu?" tanya Randi. Yang saat ini Zia enggan berkomentar.


"Zia, katakan semuanya. Biar gue bisa bantu!"


"Rand, makasih tumpangannya. Tapi gue mau sendiri. Gue butuh waktu!"


Mendengar hal itu, Randi mengangguk. Ia tak bisa memaksa Zia untuk menceritakan semuanya. Tapi ia berusaha mencari tau, apa yang terjadi pada Zia dan Zalwa di masa kelam.


'Mereka saling mengenal, aku harus apa?' pekik Randi berfikir.


Aku ingin segera menghajarnya untuk melepaskan kekesalan ini. Pria itu bernama Eros, lalu kenapa Evan terlihat cuek pada Zia. Bukankah kemarin ia ingin sekali menikahi Zia. Pikiran Randi semakin memutar otak, dan berfikir keras.


Randi meminta data informasi, yang ia dengar. Kedua wanita itu alumni surabaya negeri. Cukup mudah bagi Randi yang mempunyai kenalan untuk mencari tau silsilah Halwa Tusabina dan Zalwa Tusabina.


Di luar dugaan, Zia mengirimi pesan pada Eros. Ia meminta agar mencabut segala tuntutan, dan Zia berjanji kala ia akan melakukan apapun untuknya. Bagi Zia ia melindungi keluarganya adalah yang utama.


'Aku tau, sejak dulu kamu tidak mempercayaiku. Tapi seperti inikah balasan menyelamatkanmu kak?' sedih Zia yang menatap bingkai foto keluarga.


Zia memoles goresan tinta hitam di wajah kirinya. Mirip tanda lahir yang terlihat gerhana matahari. Tentu saja racikan ini adalah dari luar yang Zia beli dan harus pakai selama hidupnya. Meski operasi berhasil, tapi tanda hitam tidaklah bisa hilang. Hanya mampu di samarkan dengan sebuah make up.


"Baiklah, Halwa Tusabina. Kita harus kembali, sudah saatnya kita tidak perlu memakai nama samaran, dan wajah tampilan buruk ini sudah seharusnya kembali." batin Zia.


BERBEDA HAL DENGAN RANDI.


"Kak, katakan padaku. Apa yang kau lakukan pada Zia?" bentak Randi pada Evan.


"Kamu! Kamu berani berbicara bentak kepadaku?" Evan tiba tiba marah.


Namun, ekspresi Evan masih sangat acuh tak acuh, dan berkata.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Tidak terima. Marah? Mau berkelahi? Ayo kesini! kita lakukan sekarang juga!"


Randi yang baru saja arogan, tiba tiba mengecilkan lehernya ketika Evan menantangnya berkelahi. Saat ini Randi merada kesal sia sia, melihat Evan yang masih berkutat dengan bolpen dan tinta hitam cap perusahaan.


"Apa yang membuatmu marah Rand?"


"Aku tak ingin pengulangan, kenapa Evan Sanders bisa melakukan begitu hina pada Zia. Masalahnya apa, bukankah dia wanita yang membuat kantor ini berkembang. Lalu dimana hati nurani mu kak. Bisa bisanya bersekongkol dengan wanita licik masa lalumu kak."


"Apa maksudmu?" bingung Evan.


Setelah mendengar ini, Evan yang berdiri di sebelahnya, tiba tiba merasakan arus hangat mengalir di dalam hatinya. Randi mengatakan masa lalu, apa yang ia maksud. Apa kini adiknya itu juga sedang salah sangka.


BRAGH!!


Randi melempar beberapa identitas dan sebuah lembaran foto menjadi lima bagian.


"Jelaskan!! ini adalah foto Halwa Tusabina yang asli. Dia wanita lugu, baik yang kau hina dahulu kak. Why? apa wajah buruk harus kau hancurkan hidupnya hingga saat ini?"


JLEEGEEUR!! SUARA PETIR.


Evan bagai tersambar petir, bahkan wajahnya sangatlah berbeda dari dahulu. Lantas bagaimana bisa ia melakukan semua pada wanita yang ia benci.


'Tidak! ini pasti tidak mungkin, ini semua salah besar. Itu bukan dia?'


"Kenapa diam? Jelaskan padaku kejadian 13 tahun silam sekarang juga kak!"


Teriakan Randi, tak membuat Evan bicara. Ia masih bungkam dan acuh pada sikap Randi. Ia mengambil jaket dan ponsel serta kunci mobilnya.


"Hey! Evan Sannders. Kau belum jawab aku bicara ..,?" Aaargggh!!! teriak Randi meninju dinding, kala di tinggal pergi.


Sementara Halwa, ia berlalu melangkah menatap punggung pria yang ia kenali. Ia tau, ketika ia meminta maaf, Eros akan mencabut tuntutan Zalwa. Dan melepas keluarganya agar tidak terlibat jauh.


"Mas Eros, aku terimakasih kamu sudah mau datang. Tapi aku hanya ingin mas Eros tau. Aku khilaf, dan saat itu yakin jika Zalwa sangat lebih baik. Karena .."


"Teruskan, apa yang ingin kamu katakan untuk membela. Apa kamu tau rasanya, menikah selama hampir dua tahun lebih, bersama dengan wanita dan keluarga pembohong. Why. Kenapa Halwa Tusabina. Kenapa kamu lakukan semua ini padaku dan keluargaku. Kau pikir dengan maaf selesai?" teriak Eros membabi buta.


Eros memegang dan mendorong tubuh Halwa dengan nada berteriak. Hal itu membuat Halwa sedikit pusing, tubuhnya terbentur dinding saat ia masih menjelaskan dan.. ' BRUUUGH!!'

__ADS_1


To Be Continue!!


__ADS_2