
"Permisi Tante, maaf. Ada apa memarahi Eca ya, bukankah Eca sedang Sak.., " bibir Zia tiba saja ditutup Eca, anak laki laki yang berjinjit agar tak membocorkannya.
"Kamu siapa, karyawan Evan. Ga usah ikut campur, kamu tau. Anak ini sangat bandel, karna dia ini terlalu bandel, sehingga harus dapat pukulan."
"Tapi maaf Tante, bagaimanapun Eca masih anak anak. Di pukul dengan rotan kemoceng itu sakit. Saya juga kebetulan menunggu pak Evan, biar saya urus boleh!"
"Haaah, dasar tukang ikut campur. Kau bereskan kerusakan ruangan yang telah dia ciptakan. Semua orang menyebalkan!" sebal Tante Meiy.
Zia segera mengelus lembut tangan Eca yang di tutupi. Lalu memeluk Eca dan anak itu berbisik. 'Sakit Tante, tapi sebaiknya Tante pulang saja. Tidak perlu ikut campur!' ketus Eca.
"No, Tante tidak mau ikut campur. Hanya kebetulan, dan aku pernah melihat dan merasakan orang yang aku sayang di pukuli. Rasanya sakit, apalagi aku membiarkan. Itu pasti akan membuat hati aku semakin sakit dan bersalah. Mau tau seperti apa .. ?"
Eca mengangguk, lalu Zia berbicara. Seperti piring hiasan yang kamu telah pecahkan. Dan tak bisa kamu satukan kembali. Meski kamu bereskan seperti ini, 'Auuuw' berdarah tapi sesak tak sesakit merasakan apa yang Tante lihat. Apalagi harus membiarkan kamu selalu seperti ini, merusak segala barang barang penting. Tapi Tante Zia tidak akan menanyakan kenapa, karna itu hak kamu Eca. Pilihan terbaik, ya mungkin Tante mengerti apapun yang kamu lakukan, hanya saja. Tante Zia tidak suka melihat kekerasan.
Zia meminta security mengambil kotak obat. Lalu dengan santai, Ia mengobati dan mengoles obat merah ke dalam punggung lengan Eca. Meski Zia kesal, tapi ia tak bisa ikut campur. Mengingat Eca, ia jadi ingat Ama, sang ibu yang kini wajahnya seperti apa. Apa ia baik baik saja, atau ibu sudah mengecek uang selama aku kirim. Uang dari beasiswa dan banyak ragam piagam lomba di Singapore yang aku kembalikan aku telah menggantinya. Sebagian juga aku sisih untuk mengirim pada ibu dan sebagian untuk usaha online shopku.
Zia merapihkan barang yang telah berantakan, lalu melihat Eca pergi begitu saja masuk ke kamar. Mungkin Eca mempunyai kesulitan sendiri, meski anak itu sangat super tak bisa di tebak, tapi Zia akan mencoba mendekati dan berusaha menjadi teman anak itu.
"Eca, Tante pulang ya!" mengetuk pintu, meski tanpa sautan.
"Halah, anak itu harusnya tidak pernah di lahirkan. Sama seperti ibunya yang kabur tidak tau kemana, bisa bisanya anak itu masih saja di banggakan, Evan salah harusnya tak perlu mengurus anak itu. Lihat saja, tidak tau sopan santun kan?" melewati Zia yang ingin pulang.
"Tante Meiy. Zia sepertinya sudah selesai. Pak Evan mungkin akan pulang pagi. Jadi urusan kerjaan Zia telah selesai, dan meletakkan di ruang pak Evan. Permisi tante!" ucap Zia.
__ADS_1
"Ya, pergilah!! Memang penghuni di sini tak pernah mau dengar. Huuuuh, " menghela nafas sambil mengipas ngipas.
Zia meninggalkan rumah sang bos. Meski begitu ia cukup malas. Jika perlakuan Tante Meiy itu sangat tak etis, jika ia memukul seorang anak yang super bandel dan membuat ulah. Ia rasa, harus mencari tau kenapa Eca seperti itu dan kenapa ia harus diam, tidak melapor pada pak Evan, atau pak Evan hanya diam saja ketika tau dan melihat. Gerutu Zia saat menghampiri sepeda motornya.
Saat membelok, Zia hampir menabrak mobil mewah. Tanpa sadar, silau mobil membuat Zia hampir oleng dan jatuh menepi ke sisi pagar rumah besar, bagusnya lagi Zia bisa menahan. sehingga melukai dengkul kakinya.
Zia menatap silau mobil itu, hingga di mana matanya sulit untuk berkedip dan menahan air mata kerinduan yang lama tak ingin ia lihat. Seorang pria yang duduk di depan setiran, membuat kepalanya keluar memanggil sang temannya yang kini tepat di depannya.
"Mbak, maafin saya ya. Kami ga hati hati. Apa ada yang terluka? Saya Emir maaf ya Mbak!"
"Emir, gimana aman gak. Perlu di bawa kerumah sakit gak. Mbak biar kami antar ya, kita selesaikan secara kekeluargaan?" teriaknya.
Zia tak mengeluarkan sepatah katapun, bagus saja ia memakai masker dan helm. Andai kejadian ini siang, mungkin Eros akan mengenalinya. Atau mungkin saja tidak, karna telah lama juga ia merubah segala gaya ciri khasnya agar tak di kenali.
Tak ingin kedepannya hubungan ka Zalwa berantakan karna kemunculannya. Lagi pula dirinya lah yang memutuskan meninggalkan Mas Eros.
"Mbak, gimana sakit gak. Yang mana, apa mau saya antar kerumah sakit?" Emir.
Hanya menggeleng, Zia pergi memundurkan sepeda motornya dan segera pergi bergitu saja. Sementara Emir menggeleng kepala merasa ada yang aneh.
"Pergi mas bro, mungkin dia kira kita ini pria hidung belang yang cari cari celah, hahaa." Emir menarik pintu mobil ketika masuk. Sementara mereka kembali pergi ke suatu rumah yang memang harusnya bertemu malam ini juga.
Zia mengendarai pulang, ia merasa sesak kala telah lama tidak melihat mas Eros. Cambang tipisnya dan kulit bersihnya, membuat Zia rindu dan bibir itu mengingat kecupan yang pernah ia rasakan dan candu kala mas Eros menyentuhnya.
__ADS_1
'YEAAY, SORAK GEMBIRA SETELAH IA LULUS DI KELAS ABU ABU.'
Zia, bagaimana hasilnya. Apa kamu lulus?
Mas Eros, benar jadi hampiri aku. Lihat dong, aku telah lulus dengan name tinggi. Rangking satu, ayo mas mau janji apa sama aku. Tepati loh!!
Tanpa aba aba, Eros meminta Halwa naik dengan sepeda motor berwarna telor asin seperti vespa model jaman dahulu, meski sedikit modern karna dimodif.
Halwa berada di sebuah pohon besar, ia mengukir namanya dan nama Eros dengan tanda love selamanya abadi.
Eros dan Halwa love abadi.
Hal itu pula, membuat Eros membuat janji ingin meminangnya setelah ia lulus dalam S2 nya. Tanpa banyak kata, mereka memandang dan membuat cumbu rayu di pinggir batang pohon. Kecupan halus, membuat dirinya semakin dalam. Semakin lama Eros membuat sensasi yang tak pernah ia lupakan. Tanda merah di leher dan bibir yang merona menjadi basah.
"Wa, tunggu mas Eros. Mas janji besok sore mas akan bawa ibu dan ayah buat nandain kamu ya!" perkataan Eros membuat Halwa berbunga dan mengiyakan.
***
Zia kini sudah sampai di rumah, ia lemas seketika dan tak bisa berfikir jernih. Mengapa di saat seperti ini, ia harus kembali mengingat dan sejauh apapun jarak. Zia salah, perasaan itu semakin sulit untuk ia lupakan nama Eros di hatinya dan kisahnya yang telah lama mereka jalani.
HUHUUUU!! ZIA MENANGIS DAN DUDUK BERSIPUH MENYILANGKAN KEDUA KAKINYA.
"Zia, lo kenapa?" tanya Dewi yang membuka pintu, menghampiri Zia yang tak langsung masuk kedalam rumah.
__ADS_1