
"Bisa bisanya ayah kembali berulah Bu, apa dipikiran Ayah selalu materialistic. Why, kenapa harus sih?" kesal Zia.
"Zia, kakak yakin. Sekeras ayah, ingin yang terbaik untuk kedua anaknya. Sabar ya!"
"Kak, terbaik. Apa ayah juga memberikan yang terbaik untuk ibu. Hoh, tidak semua dengan uang. Aku akan bilang pada Evan untuk membatalkan pernikahan ini!"
Zia!! teriak Zalwa. Namun ibu Anih memberi sabar menghentikan pengejaran langkah Zia.
"Zia, hanya emosi sesaat. Terlalu banyak yang dialami psikis Halwa. Semua salah ibu, andai memar saat itu tidak terjadi. Semua yang Zia lihat adalah hal yang tidak seharusnya dilihat oleh adikmu. Ibu sudah lama tidak melihat Zia ceria dan senyum seperti dulu Zalwa. Setidaknya ibu tidak ingin Zia jauh meninggalkan kita!"
Zalwa terdiam, ia cukup terdiam untuk membuat sang ibu tersenyum. Hingga dimana, Zalwa mengambil benda pipih dari saku gamisnya. Lalu ia segera menghubungi Eros. Bukan berarti hatinya tidak sakit dan cemburu, tapi ia juga harus berkorban jika Zia saja selalu mengorbankan apa yang ia miliki.
Dek, kakak memang egois! egois tidak ingin kamu bertemu Eros, bahkan sekedar berbicara sedikitpun. Kali ini, entah harus bahagia atau kesal jika melihat kamu berbicara dengan suami kakak.
Zia kembali berbicara pada Ayah Husein. Namun langkahnya terhenti kala perlakuan Evan membuat hatinya terdiam menatap.
Sementara Ayah di ruang tamu, wajahnya bersitegang dan terlihat jelas mengrenyitkan dahi menatap tajam. Sehingga kali ini Zia tak menyangka apa yang dilakukan Ayah pada Evan.
"Apa yang kamu punya?"
"Ayah, bicara apa sih. Untuk apa ayah berbicara Evan menikahi Zia. Dengan bertanya punya Apa, apa tidak keterlaluan Hah?"
"Ssst! Zia. Pelankan suaramu!" pinta Evan.
"Ayah hanya terlihat egois dan menjijikan bagimu Zia. Tapi percayalah, semua orangtua selalu detail dalam pasangan kedua anaknya kelak bahagia tanpa luka. Apa kamu tau yang ayah rasakan?"
"Hemph! tanpa Luka? Ayah yakin tidak membuat luka bagi kita. Ibu, kak Zalwa dan aku." jelas Zia dengan raut mata yang memerah menunjuk hati.
__ADS_1
Evan yang cukup terkejut, kala meminta Zia untuk menjadi istrinya pada seorang Ayah. Adalah hal yang tidak tepat saat ini. Bagaimana tidak, rencana manis malah membuat dua keluarga menyatu menjadi hal tak diinginkan.
"Om, saya pamit dan permisi. Mungkin saya tidak tepat datang. Tapi saya tau, apa yang om lakukan adalah hal membuat orang yang om bahagiakan akan selalu kesal. Jika sesuatu di biarkan semakin lama, saya yakin hubungan Om dan Zia akan semakin runyam."
"Tau apa kamu?" ketus Ayah Husein.
"Lebih baik om katakan yang sebenarnya! maaf saya bukan bermaksud menasehati yang lebih tua dari saya. Tapi saya rasa. Om harus mengakhiri dan berpura pura untuk terlihat menyakiti orang yang om sayangi. Permisi om!" menyulam tangan pamit tapi Ayah Husein membuang wajah, sehingga Evan pergi.
Hal itu membuat Evan pamit pada ibu Anih dan Zalwa bertudung merah. Ia mengejar Zia yang pergi begitu saja. Namun dengan jelas, ia bisa meraih dan menenangkan Zia.
"Saya pamit dulu bu! saya janji akan membawa Zia kembali kerumah ini!" senyum Evan memberi harapan bahagia pada ibu Anih.
Hal itu juga membuat Zalwa yakin, untuk tidak terlalu takut Eros akan mengejar Halwa adiknya. Karna melihat pria di samping Zia saat ini. Sangat terlihat dewasa untuk mengimbangi Zia yang keras kepala.
"Zia. Tunggu aku! Jangan pergi, apa kamu melakukan seperti ini. Karna kamu mangkir untuk aku nikahi?"
Zia menutup matanya, namun Evan memeluk Zia saat ini. Ia tidak tau, apakah sikapnya membela Ayah Zia adalah hal tepat. Tapi yang harus Zia tau dengan sendirinya. Ayahnya bukan pria yang ia bayangkan. Dan intel orang suruhan Evan Sanders tidak mungkin salah memberikan informasi.
"Ada aku, kamu tidak perlu takut Zia. Aku mengerti! tapi ingatlah sekeras dan sekesal hatimu seperti batu ada buih permata yang kamu rindukan dari sosok Ayahmu. Tetaplah manis berbakti pada Ayahmu! Ibumu sangat rindu. Rindu berkumpul kamu pulang ke rumah!"
Hal itu membuat Zia mendongak kewajah Evan. Ini pertama kalinya ia kembali di ingatkan, seolah saat itu ia mengingat Eros seperti Evan saat ini.
"Kenapa kalian disini?" ucap seseorang dengan terkejut.
Hal itu pula membuat Zia dan Evan menoleh. Lalu terlihat jelas Randi yang tiba saja membawa sekantong bingkisan coklat besar.
"Randi, kok bisa lo disini?"
__ADS_1
"Gue! Gue anter pesanan..," Randi menatap bingung, dan sinis pada Evan yang begitu intim pada Zia.
"Dan gue lupa kabarin sama lo Zia. Beberapa kali gue ketemu ibu Lo. Dan mau anter aja, kalian kenapa berdua di sini sama abang gue?" jelas Randi menatap tajam pada Evan.
Evan hanya tersenyum, tingkah adiknya ini benar benar membuat hati kedua orangtua Zia untuk bisa menerima dan masuk merebut hati Zia. Tapi Evan santai, sekeras apapun Randi mengejar Zia. Dia tidak akan menjadi milik adiknya.
"Gue gak bisa bahas ini Randi, gue mau cabut dulu. Banyak yang harus gue urus."
Biar gue anter Zia!! serempak Evan dan Randi.
Hal itu membuat Zia terdiam, matanya membulat sempurna dan bibirnya sedikit ternganga. Zia lupa, ada diantara dua pria kakak beradik yang tak Zia harapkan untuk masa depannya. Lalu ia bicara jika ia akan sendiri pulang.
Namun gengaman tangan Evan dengan kilat menarik Zia kemobilnya. Hal itu membuat Randi yang memandang geram dan mengepal tangan. Randi tak suka, jika Evan bisa merebut hati Zia dengan sekejap, tak patah arah ia masuk bertamu pada keluarga Zia saat ini.
"Evan, kenapa Randi bisa tau rumah gue?"
"Entahlah! Coba kamu bilang sayang. Jangan panggil kasar lagi, aku bukan orang lain. Sudah semestinya kamu rubah panggilan kamu padaku Zia!"
Zia terdiam, hanya bisa menelan saliva dan menatap wajah Evan yang amat dekat pada tatapannya. Masih mode memegang setiran, Evan semakin dekat menggeser tubuhnya hingga menyentuh kepalanya yang kini saling menatap dan sedikit miring.
"Kamu tidak percaya padaku Zia? Tapi sekeras hatimu seperti batu karang, aku akan selalu berjuang tanpa lelah menunggumu!" bisik Evan, sehingga Zia kembali menatap wajah Evan dalam jarak pandang itungan satu centi.
Took!Took. Suara ketukan kaca pintu.
Membuat Zia dan Evan saling menyadarkan. Mencoba melupakan aksi tatapan pandangan yang hampir bersentuhan. Zia menoleh ke pintu kiri dan mengecek Seatbelt. Dan Evan seolah mencari barang kecil yang terselip di setiran mobil. Lalu ia segera membuka jendela dengan otomatis dan menatap kaca pintu kanan dengan membuka senyuman lebar.
NAH LO! KENAPA NIH MEREKA?
__ADS_1
To Be Continue!!