
Zia kembali menatap seorang pria yang menyanggahnya. Evan dengan tersenyum menatap dan memeluk Zia dengan erat, ia berbisik untuk diam adalah cara ampuh agar masa lalu tidak kembali mendekatinya.
"Lepasin tangan anda pak!" cecar Zia yang mencoba melepas.
"Melepas, atau kamu kembali bertatap dengan pria masa lalu kamu Zia? Why, bukankah akan menjadi boomerang. Zia wanita yang mendekati suami wanita lain." jelas Evan.
Zia menutup mata, seolah hal ini tidak lagi terjadi. Evan benar benar membuat ia hilang kendali, dimanapun ia kesulitan. Selalu saja menjadi penolong dengan banyak modus kesempatan yang tak diinginkan.
"Halwa. Bisa kita bicara sebentar?" ungkap Eros yang di susul Emir. Sementara Zia masih memberi punggung dan menatap Evan dalam.
Beberapa puluh detik, Evan memegang erat dan mendekap kepala Zia dan merentangkan tangan satu lagi pada pinggangnya. Hingga dimana ia berkata pada pria bernama Eros.
"Hey! Kau Eros Bahrein. Insinyur termuda, yang bucin pada calon istri pria saingan. Owh! tepatnya rekan kerjasama. Apa kamu tidak mengenali wajahku?"
"Pak. Maaf saya berbicara dengan Halwa. Dia adalah .."
"Zia Tusabina, dia calon istriku. Dengan jelas dia diam saja. Dia sudah tau, jika dia tidak mengenal anda. Bung, jangan lagi macam macam atau berani mendekati wanitaku. Ingatkan saja istrimu yang sedang hamil, beri perhatian lebih agar kamu tidak kehilanganya!"
Evan melepas pelukan, lalu memegang erat dan menggengam tangan Zia. Tanpa aksi Zia menoleh ia hanya mengekor, meski saat itu wajah Zia penuh dengan airmata. Air mata rindu yang sulit untuk diungkapkan. Telah lama berpisah dan kini bertemu, entah mengapa harus kembali di pertemukan. Dan rasa cinta itu sangat dalam belum juga hilang.
"Dah lah! Kita lanjut ke pak Frans ya Bro. Udah nunggu nih!" ungkap Emir menepuk bahu Eros. Mereka pun kembali masuk lift, dan lanjut memencet tombol lift di lantai tujuh belas.
BERBEDA HAL DENGAN ZIA.
"Udah cukup, gak perlu nangisin pria masa lalu. Lagian cuma masa lalu, lebih baik lihat masa depan." ungkap Evan yang ikut duduk di sebuah kursi taman.
"Pergilah Pak! Buat apa masih di sini, karna bapak tidak pernah tau apa yang saya rasakan. But buat tadi, Thankqyu.. aksi hiro anda agar saya tidak menatapnya. Jujur saya perlu sendiri. Kerjaaan saya sudah beres, dan jangan lagi seperti tadi mengambil kesempatan!" ancam Zia berdiri untuk pergi.
Namun belum melangkah jauh, aksi tangan Evan kembali meraih tangan dan membuat Zia memutar dan memeluk erat pada tubuhnya hingga berbisik.
"Kesempatan? What. Seperti apa Zia Tusabina?" bisik Evan.
"Pak, jangan macam macam atau aku akan berteri..!"
__ADS_1
CUP!
Zia terdiam pasi, kala Evan melepas eratan pelukan. Dengan tanda bibir manis kecupan mendarat pada bibir Zia. Hingga dimana ia menyalakan alarm mobil dan membuka pintu mobil agar Zia masuk ke mobilnya.
"Ayo! Tunggu apalagi, mau masuk aku antar sampai rumah. Atau lihat di ujung sana! Ada pria masa lalumu melihat dan mungkin ingin bertanya sangat detail. Udah siap menjelaskan sama dia?"
"Dasar bos mesum," cibir Zia menutup bibirnya berusaha menyeka bekas kecupan Evan yang tiba tiba.
"Terserah. Pilihannya dua, masuk ke mobil dan aku antar. Atau kamu menjelaskan pada pria masa lalumu, tapi ingat pria masa depanmu disini akan tetap dekat mengawasi!" menunjuk dua jari pada tatapan Zia.
Mendengar hal itu, membuat Zia kesal menepuk aspal seolah menggebrak bumi. Lalu ia mengambil tas dari kursi taman dan masuk kedalam mobil. Hal itu pula membuat Evan tersenyum dan menyumbingkan senyuman lebarnya. Tidak pernah ia temukan wanita unik seperti Zia yang tak ingin berkomitmen apalagi kamus dirinya yang berbicara. Tidak ingin jatuh Cinta.
***
DI RUMAH.
"Bu, Mas Eros belum beri kabar. Dia akan pulang kapan. Hanya dibaca tapi tidak dibalas. Online terus, tapi kenapa sulit membalas pesan Zalwa?"
"Nak. Kita sudah berbicara pada mertuamu. Khilafan ayah dan ibu, harus membuat kamu terluka. Bersabarlah! tidak mudah bagi Eros jika ia mendengar kamu bukanlah Halwa Tusabina. Yang jelas kita sudah berbicara jika kamu adalah Zalwa Tusabina. Dan Eros hanya butuh waktu." ungkap Ibu Anih yang ikut menangis memeluk Zalwa.
"Ssst! Nak istighfar. Tidak ada yang bisa membuat semuanya menjadi suram. Semua butuh proses, maafkan ibu atas semua ini. Tetap mendekati diri kamu dengan pencipta. Agar Eros bisa melunak dan memahami!"
Zalwa kembali menunduk, lalu ia bersimpuh pada sang ibu. Ia berharap dirinya bisa mendapatkan maaf dari suaminya Eros. Ia sudah mengakhiri dirinya bukan Halwa. Meski ia telah berterus terang pada mertuanya. Ia berharap mendapatkan maaf dari Eros dan mengatakan semuanya. Hanya saja Eros tak kembali pulang dan menemuinya. Zalwa yakin Eros telah mendengar dari ibu Rita dan Ayah Bahrein akan semuanya.
SEMENTARA DI BERBEDA TEMPAT.
Zia kembali masuk kedalam rumah kontrakannya, terlihat Dewi dengan sebuah tas segera akan pulang menunggunya.
"Ya ampun Zia. Udah berapa hari lo sibuk banget, gue mau ijin balik ke bali. Nyokap gue sakit, orderan makin terbengkalai kalau lo ga pulang tiap hari. Gimana sih lupa sama bisnis kita?" ungkap Dewi.
"Sory! Gue sibuk, sampe lupa online shop kita. Sory ya!" senyum Zia.
Namun Dewi terkejut kala seorang pria ikut turun, dan Dewi mendeheum siapa dia.
__ADS_1
"Zia, barusan Randi cariin Lo. Terus ini siapa lagi, mantan Lo Eros?"
EHEUUUM! "Randi, maksud anda Randi Sanders sering ke kontrakan Zia?" ungkap Evan menyambar mendekati.
"Eeeeh! Ini bos sombong lo Zia? Hadeuh salah tempat gue ngomong. Dahlah, bae bae komitmen buat lo ga pernah jatuh cinta Luntur. Dua pria kayaknya bener suka dan mengejar Lo!" bisik Dewi.
"Dew..?" teriak kesal Zia.
"Sory! Ups pak. Saya pamit, dan saya mau kasih info. Peraturan kontrakan ini. Masih ada waktu dua puluh menit bertamu. Kalau enggak bakal di grebek. Udah ya, Zia gue cabut. Bye see You. Have Fun ya Zia sayang!" teriak Dewi keluar berlari ketika taksi online telah tiba.
Apaaan sih!!! Ungkap sebal Zia.
"Pak, anda sebaiknya pulang. Saya terimakasih untuk hari ini!" ungkap Zia.
Namun dengan senyuman menatap, Evan membuat kesal lagi lagi bagi Zia.
"Grebek doang kan? Di nikahi enggak. Kalau begitu biar saya masuk lebih dulu." ungkap Evan berlalu dengan kilat mengambil kunci ditangan Zia. Dengan santai ia masuk tanpa memperdulikan Zia yang berteriak kesal akan tingkah Evan.
"Pak. Anda jangan keterlaluan, ini komplek perkampungan. Keluar pak! anda diluar batas." teriak Zia menyusul.
Lalu dengan masuk kedalam rumah, Evan berdiri dan mendekat kearah Zia. Lalu dengan kilat.
BRAAGH!!
"Pak, anda mau apa. Kenapa pintu di tutup?"
"Agar tidak ada yang lihat dari luar?" senyum Evan.
"Pak. Anda jangan gila, mobil anda terparkir di luar. Aduh, bisa gila gue. Reputasi online gue bakal jelek dan di gusur. Pak bisnis ini saya rintis dari nol. Jangan membuat saya semakin kesal. Atau ..?"
Zia terdiam, kala meraih kunci yang digantungkan diatas tangan Evan. Lalu Zia meraih dengan melompat, dan tak sadar kancing Evan terputus terkena tarikan tangan Zia sehingga roti sobek terlihat membuat mata Zia membuka lebar.
To Be Continue!!
__ADS_1
Di setiap kesedihan, apakah akan timbul Chemistery Zia yang menghilangkan sarkas memori di otaknya. 'Tidak akan jatuh cinta, dan sulit berkomitmen suatu hubungan?' Jejak yuuks!!