
"Lo kenapa Zia? kok buru buru gitu?" tanya Dewi yang tiba saja menyusul Zia di cafe, terlihat wajah sembab. Namun Zia segera memoles untuk membenarkannya.
"Bener lo gak apa apa, gak ada masalah tadi di sidang?"
"Gue- disana aman kok."
"Jangan boong, gue udah pesenin semua ini. Inget ya, jangan ada yang di tutupi!"
"Gak apa apa Dew. Mungkin gue salah liat tadi. Owh ya, gue ke toilet dulu sebentar ya!"
"I'ts ok. Gue tungguin kok Zia. Tapi jangan lama lama ya. Kita kan mau ke mall yee kan.. ?!"
Senyum Zia. Tak lama, ia mengikuti beberapa pria tubuh besar. Namun masih melirik antrian di coffe shop. Jelas ia melihat Zalwa bersama seseorang, hingga di mana ia pura pura melihat menu dengan sebuah buku menu dan duduk di meja lain.
Zia melihat Zalwa dengan seorang pria mirip Evan, entah mengapa rasa sakit hatinya semakin bertambah. Belum tuduhan Zalwa yang menyebut ia orang ketiga beberapa jam lalu, sehingga hubungan mereke terlihat retak. Di tambah keluar dari pengadilan, ia melihat Zalwa di jemput Evan Sanders.
Otak Zia semakin sakit, kala Eros Admaja dari keluarga Bahrein itu meminta ia diam, berdiri kala persidangan masih belum selesai. Sorot tajam Eros menghampirinya saat ia hampir menuju arah pintu luar.
"Jangan pergi! katakan pada Hakim, siapa kamu Zia?!" teriakan Eros membuat tatapan seluruh persidangan menatapnya.
Belum lagi pak Sutejo dan ibu Rita yang matanya merah menyala seolah menghakimi dirinya.
"Dasar wanita murahan, bagus kamu tidak jadi menjadi menantuku. Tega kamu ya, berbuat seperti ini sama Eros! dasar wanita wajah buruk yang tidak tau diri!" ungkap ibu Rita.
Dan itu adalah bayangan Zia lari meninggalkan persidangan. Hingga membuat janji pada Dewi karna rencana mereka akan kesuatu tempat.
'Dan sekarang, Zalwa jalan ke cafe ini. Menuju lantai atas private, apa yang kalian pikirkan. Kenapa harus aku jadi tumbalnya?'
"Lo kemana aja sih, lama bener?" menepuk bahu Zia.
"Eh. Iya Dew, sedikit antri. Sory ya!"
"Heuumph. Tapi tadi gue sempet lirik cowo, siapa, mamas itu siapa. Ciee, lo udah punya gebetan ya?" tanya Dewi kala Zia memencet tombol kamera, mungkin benar ia habis memotret seseorang.
Zia terdiam, untung saja ia langsung mengganti topik.
__ADS_1
"Owh, itu namanya Sandi siapa sih? Mamasmu ya?"
Hingga di mana Zia bicara jika itu adalah kerabat terbaru yang ia kenal saat ini.
Dewi pun sedikit penasaran, ia bercerita. Agar Zia bisa mengenalkan pria yang tersave di ponsel Zia padanya. Lalu Zia mengangguk dengan senyum, meski tangannya sedikit menggaruk tak gatal di kepala. Ia langsung cekat kala tombol galeri, dan mengklik nama kontak. Entah mengapa nama Sandi yang keluar.
"Bagaimana mungkin, apa aku sanggup mencomblangkan pak Sandi padamu Dew. Sementara posisiku sulit saat ini." batin.
"Yuuks. Cabut kita ke mall sebelah aja ya Zia!"
"Ya, nih. Gue juga ga bisa lama. Soalnya tugas gue banyak banget. Semenjak kita di pisah ni. Masih lama lagi, lo di perusahaan Pak Randi dua bulan lagi ya Zia?" tanya Dewi.
"Heuuumph. Gak tau, kalau boleh kita harusnya bareng bareng lagi. Sepi, hampa tau gak. Klo kita ga bersama sama." ucap Zia.
"Uuuch.. so sweet. Thanks ya Zia!" peluk Dewi pada Zia. Karna ia terharu akan sikap Zia yang unyu.
"Slow, lagian kita bisa ketemu di rumah online shop kita. Gimana kalau udah cukup, kita buka toko di mall Zia?"
"Mungkin, tapi kita harus buat dekornya. Supaya online shop kita terkenal. Ya kan,?" senyum Zia berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Eh tunggu, bukankah itu Zalwa?"
'Aku harus ketemu kak Zalwa, kenapa dia tega seperti ini, kenapa harus menyudutkan dengan alasan yang tidak masuk akal. Bahkan aku tak berniat kembali dengan Eros saja tidak.'
"Apa itu pak Evan ya. Tapi kenapa harus gandengan?" tanya Dewi menatap Zia.
"Lo salah liat Dew, pak Evan sih bener. Bisa aja itu artis BE yang baru aja bergabung." alibi Zia.
"Memang nya dunia hiburan seperti itu, tapi itu mirip Zalwa. Masa lo gak bisa bedain sih?" ketus Dewi.
Zia ingin sekali memotret kembali, tapi ia lupa. Jika ponselnya di letakkan di tas. Jika saja ia kembali dan kembali ke toilet, sudah pasti Dewi akan mempertanyakan banyak hal, dan curiga jika wanita itu benar kak Zalwa.
'Apa aku salah. Jika menginginkan yang terbaik untuk Zalwa dahulu. Jika Evan pilihan terbaik, maka aku harus melihatnya benar benar bahagia. Agar aku bisa ikhlas tanpa syarat.'
Ingatan Zia kembali redup, kala ia tau jika Evan adalah pria yang pernah membencinya dan membully ia habis habisan. Zia tak menyangka tepat di hari persidangan, Evan kembali dekat dengan Zalwa. Belum lagi rasa mual yang membuat Zia menyentuh perutnya.
__ADS_1
'Jadi aku harus apa?' benak Zia memejamkan mata, seolah berputar untuk tidak berlarut dalam kesedihan.
Beberapa jam kemudian. Dewi dan Zia telah kembali di rumah online shopnya. Sehingga ia mulai merasakan, adanya raut wajah berbeda pada Zia saat ini.
"Lo kenapa Zia. Kenapa, ada masalah lagi. Semuanya gak berjalan dengan baik Ya? jelasin sama gue. Zalwa ga berhasil soal sidangnya ya?" Dewi merogoh ponselnya dan memencet nama seseorang.
"Cukup Dew! gak perlu hubungi kenalan pengacara lo lagi, gue udah ga mau mikirin hal itu. Gue capek, gue mau sendiri!" berlari masuk lebih dulu.
Dewi masih melihat sahabatnya itu menangis, hingga dimana ia melihat Eros yang turun dari mobil hitam pekat. Terlihat aneh, kala ia mematikan alarm sekedar mengunci.
"Rumah Halwa tinggal kan?"
"Nanya sama siapa lo. Gak pake ijin dulu main masuk, mau apa ya. Zia ga ada di rumah. Mending lo pergi, ga perlu datang kesini!" kesal Dewi.
"Gue bisa hancurin nama online shop ini, kalau ga mau panggil Halwa kemari!"
Halwa!!!
Teriaaakan Eros bergema, membuat kebisingan dari penghuni rumah lain. Hal itu membuat Dewi gugup, dan masuk kedalam rumah dengan begerutu.
Dewi mengetuk pintu, hingga dimana Zia tak membukanya. Seolah ini adalah harapan yang tak bisa Dewi ungkapkan.
"Zia, keluar dulu! sebenarnya ada apa sih, Eros di luar ancem pengen lo keluar katanya. Zia .." panggil Dewi.
"Zia, ga bisa ditemuin sekarang!" jelas Dewi kala tak mendapat suara saat memanggil, dan menghampiri Eros.
Tanpa aba aba, Eros masuk dan meminta Dewi menunjukan kamar Halwa.
"Yang mana kamar Halwa?"
Terlihat gugup, Dewi menutup hordeng para pegawai yang sedang berkemas. Ia meminta Eros untuk tidak bicara teriak, memancing keramaian.
"Bisa gak lo jangan teriak teriak, lo tamu ga sopan tau gak!" kesal Dewi menghadang.
"Kalau gitu lo panggil Halwa penipu itu sekarang juga!" teriak Eros, naik satu oktaf.
__ADS_1
Hal itu membuat Dewi syok, dan ia melihat Zia membuka pintu menggeleng ke arah Zia untuk tidak keluar. Hingga Zia melihat jelas punggung Eros yang amat dekat membelakangi tubuhnya.
To Be Continue!!