Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
BAU AMIS


__ADS_3

Zia menatap nanar kedua pasangan yang sangat mesra, sejak kapan Evan berbohong padanya, apa ia terlihat sibuk dan bicara sibuk padaku? Akh! jujur saja, memang salahku yang meminta dia untuk membatasi. Mengingat kebenaran siapa Evan dari keluarga Albino yang menjatuhkan keluarganya dan dirinya dahulu, mana mungkin aku bisa mudah menerima.


'Apa aku harus resign! perlahan Evan pasti curiga jika perutku nanti membesar. Aku memang membencinya, tapi anak dalam perut ini. Huuh!'


"Lo pusing lagi Zia?" tanya Dewi yang tiba saja masuk kedalam lift.


"Hey! enggak, mungkin kurang tidur aja." senyum Zia terkaget.


"Pasti karna cowok semalam ya! Ya udah, lo hati hati, gue bakal kirimin kopi susu biar lo semangat ya!"


"Thanks Dew."


Dewi bekerja sebagai service center, sehingga setiap tamu awal gedung ia akan mengetahui siapa saja tamu yang datang dengan meninggalkan identitas.


Pagi yang tak biasa hari ini, ia harus membawa berkas ke lantai tujuh, meminta sebuah buku tamu tahunan. Dan terkejut ia tak sengaja menatap Zia yang menutupi wajahnya dengan tangan bersandar paling pojok.


Dengan kaki gemetar Zia melangkah menuju lantai sembilan. Kini ia harus memberikan berkas pada Evan. Meski ruangannya telah pindah dekat keberadaan Randi perhari ini, entah mengapa hari ini ia sangat berat untuk bekerja. Pikirannya masih tidak singkron, tubuhnya semakin lemas kala dekat dengan Evan. Rasa mual itu semakin memuncak, kala dirinya benar benar tidak bisa dikendalikan.


Uuueeek!!


Zia langsung menaruh cepat berkas di meja sembarang, ia menuju wastafel pantry dekat ruangan itu. Di dalam hanya ada office girl, dan terlihat Evan tidak menoleh saat dirinya membelok ke arah ruangan kiri.


Zia mengusap bibirnya denga tisue, lalu office girl itu bicara padanya dengan memberikan minyak angin.


"Mbak sakit ya? pucet banget itu loh. Nih pake!"


"Makasih ya, mungkin karna kemarin saya kehujanan. Mbak baru di sini ya, soalnya saya belum pernah liat?" tanya Zia.


"Saya Ami. Saya baru hari ini shift pagi bersih bersih, mbak pake aja minyak anginnya. Saya kerja lagi mbak, cepet sehat ya mbak!"


Zia mengangguk, lupa mengatakan namanya. Tapi jelas saja office girl itu tau, karna name card bertali silver telah tergantung di kaitan kemeja kirinya. Zia kembali keluar, lalu menoleh tak ada Evan di ruangannya. Ia mengintip dan mengetuk pintu. Tak ada orang, ia segera masuk dan menempelkan stiker kertas berwarna kuning cerah. Lalu menuliskan agar sang bosnya mengecek berkas yang ia minta.


TUG! TUG!!

__ADS_1


"Sudah kembali, kenapa lama sekali memberikan berkas pak Frans! Kau tau itu sangat penting,?"


"Ya pak, saya sudah mengecek ulang. Saya permisi!"


"Kenapa buru buru?" tanya Evan.


"Permisi pak!" Zia berlari hingga tangannya di hentikan, bukan karna ia menghindar berada di kantor. Tapi rasa mual itu memuncak, entah mengapa menciumnya terasa dekat, seperti amis telur mentah. Membuat Zia mengeluarkan minyak angin dari sakunya.


"Bau amis, maaf pak. Permisi!" Evan hanya mengreyitkan alis, lalu mencium ketiak dan bajunya apa memang bau.


"Clive Christian no satu. Tidak ada yang aneh, dasar wanita aneh. Parfum ku ini wangi yang paling murah aku pakai hari ini, bisa bisanya dia menutup hidung mau muntah." kesal Evan.


Zia masih menatap laptop, rasa mualnya kembali memuncak kala Evan lewat dengan Randi sedang membicarakan proyek. Maka dari itu ia memakai masker setebal mungkin, dengan balutan tisue basah dan kering, lalu ia tempelkan beberapa cair minyak angin. Semata agar dirinya benar benar konsen.


'Ah! akhirnya selesai juga, jam kerja sudah beres. Aku harus cepat pulang!'


PLUGH!


Zia terkaget kala meraih tasnya, saat ia berdiri. Terlihat satu gelas putih dengan tulisan Wedang Ronde.


"Heuumph! semoga kamu tidak muntah lagi, kamu udah ke dokter. Kata Ami office girl, kamu kehujanan semalam?"


"Ami, Office girl ?" senyum Zia mengulang kata.


"Jadi minyak angin, kamu pasti yang suruh kasih aku, minyak angin lewat mbak Ami?" terpatah bertanya.


Haheeea. Tawa mereka, hingga dimana Randi meminta maaf pada Zia. Selama ini ia cuek dan karna dirinya terang terangan sakit hati karna Zia dekat dengan Evan. Hal itu membuat Evan yang di ujung loby masuk ke dalam mobilnya, melihat tidak suka ketika Zia bersama Randi.


'Dasar wanita murahan, menjauh dariku dan kini pergi dengan Randi. Hanya sisaku, untuk apa juga aku peduli.' senyum miring Evan.


"Sebenarnya ga usah anter, gue juga lagi nunggu Dewi. Kita mau ke bahan kain, lo kan tau Rand, online shop gue udah bisa bertahan dan lumayan. Hanya aja, gue masih bingung mau Resign dari kantor."


"Resign, kenapa harus. Oke! kalau itu keputusan terbaik kamu. Gue bantu buka toko di mall gimana, biar lo jadi bos utama terus?"

__ADS_1


"Jangan bikin gue sungkan, jangan bikin gue ga enak. Gue udah pikirin ini sama Dewi, kita sama sama lagi nabung. Lo tau kan bisnis olshop gue itu join sama Dewi." Randi mengangguk.


Hingga dimana Dewi mengirim pesan, jika ia tidak bisa pulang bersama. Lalu dengan sadar setelah beberapa puluh menit, Randi memutar arah lalu lintas masih sekitar kantor. Tidak biasanya ia merasa sakit kala melihat mobil Roll Royce Sweptail berwarna navy denga plat B EV4N.


Zia merasa sesak, kala mobil itu berhenti di sebuah halte. Terlihat jelas itu adalah Zalwa, lalu dengan menutup mata. Ia berusaha untuk meluruskan pandanganya.


"Kenapa, liat apa Zia?" tanya Randi.


"Bukan apa apa kok, gue cuma kepikiran seseorang aja."


"Soal Evan atau cowok semalam?" tanya Evan.


Cowok semalam?? Zia mengulang dengan kaget.


"Cerita aja, mungkin gue bisa bantu. Meski lo tau perasaan gue sama lo, tapi gue harap kita bisa sedeket kaya gini. Gue bakal ada sampai jodoh gue datang." Hahaaa senyum kembali Zia dan Randi.


Zia ingat kala Eros datang, ia segera menarik tangannya. Ia menunjuk pada wajahnya dengan mata merah dan amarah emosi yang sangat meningkat. Zia tau pria yang ada di hadapannya itu, masih menerka cinta atau tidak.


'Aku akan seret kamu ke penjara bersama keluargamu Zia!'


Tersentag air mata membuat Zia tak bisa bicara. Bibirnya gemetar dan tubuhnya kaku, entah apa lagi saat itu, Zia hanya lemas dan pasrah kala Eros kembali meninggalkannya. Tak mempercayai penjelasannya.


"Hey. Kok bengong sih?" sentuh Randi kepundak Zia.


"Sory! Gue bakal di tuntut soal kasus Eros. " jelas Zia.


Randi yang berhenti ke cafe, ia melepas seat belt dan menatap Zia dengan dalam. Saat Zia menjelaskan, betapa sulitnya wanita yang ia cintai saat ini.


"Gue bakal bantu, dan perjuangin! Sebagai teman baik, atau sahabat terbaik sama kaya Dewi. Jadi lo tenang aja ya! Lo gak bakal di penjara."


"Eehm! Terharu, udah aaah nangisnya." Zia menghapus air mata karna malu.


Tak lama ketukan kaca mobil membuat Zia dan Randi terkejut. Karna seseorang mengetuknya dari kaca luar.

__ADS_1


To Be Continue!!


__ADS_2