
Beberapa jam kemudian, Zia kembali lega. Kala Eca anak itu telah kembali pulih sehat tak seperti tadi. Hingga di mana sang dokter meminta sang wali datang, Zia meminta dokter untuk menunggu beberapa jam, karna Wali aslinya pasti akan tiba. Namun sebuah cubitan membuat Zia kesakitan.
"Aauuuwh, Aakh. Adik kecil kamu ini sudah di tolong tidak bisa terima kasih ya. Apa kamu ga pernah di ajarkan sopan santun oleh Papamu?" cibir Zia kesal.
"Tante, please. Datang dan wakili aku, aku mohon jangan biarkan Papa ku tau. Aku sudah lama menyembunyikan ini. Aku ga mau papa tau, asma ku sudah tak pernah kambuh. Tapi aku berbohong!"
"Apa, kamu bernegosiasi agar aku menutup mulut, hei anak kecil kamu tau. Jam terbang aku ini.."
"Aku tau, jam terbang tante lebih banyak dari aku. Tapi demi kemanusiaan, please. Katakan pada Papa jika aku baik baik saja dan hanya nakal lalu menjatuhkan laptop Papa!"
'Astaga, bagaimana bisa ia berkata jujur karna nakal. Sementara aslinya anak ini benar benar sakit. Apa kenakalannya mempunyai sisi trauma?' benak Zia.
Zia mengangguk, hingga di mana ia harus mempertaruhkan akan kebohongan pada atasannya itu. Meski gugup tapi benar benar ini adalah hal terberat kala anak itu meminta tolong dengan wajah melas.
Zia kembali ke ruangan dokter, selama beberapa puluh menit ia mendengarkan penjelasan tentang penyakit yang mudah kambuh, penyebab emosi dan kekesalan terpendam dan rasa trauma akan sesuatu yang tak mempercayai. Adalah di mana penyebab asma kembali kambuh dengan mendadak.
Zia keluar dari ruangan dokter Reta. Hingga tak menyadari saat ia melintas masih menggunakan masker dan topi coklatnya menunduk menatap lembaran, dari arah bersebrangan sepasang insan yang sedang bahagia yang mungkin tak ingin Zia lihat.
Zia kembali menuju loket, namun saat melihat tagihan sangat besar. Zia terdiam, karna ia lupa membawa debet card yang selalu ia tinggal di rumah.
"Astaga, apa benar ini total tagihannya?" Zia melemas melihat seluruh biaya pengecekan dan biaya menebus obat. Namun saat Zia ingin mengecek tunai di dompetnya, seseorang mengulurkan credit hitam melampaui wajahnya.
"Debet ini untuk pasein bernama Ecarlos, dia anak saya!"
"Baik pak. Mohon di tunggu ya pak!" balas Suster.
Zia menoleh dan menelan sesuatu kala pak Evan telah ada di sampingnya. Sementara kala mereka menatap sama sama terkejut, saat suster berbicara hal yang tak masuk akal.
"Bapak, Ibu. Ini sudah saya debet, semoga anak bapak dan ibu cepat sembuh ya!" ucap Suster lalu memberikan kembali credit black dengan senyum.
GLEUUUK!!
Dia bukan ibunya! Saya bukan ibunya! Jawab Zia dan Evan bersamaan saling menatap.
__ADS_1
Hingga di mana baju Zia di sisingkan untuk mengikuti langkahnya. Zia yang menepi di pojok balkon. Membuat tatapan terdiam kala wajah pak Evan menunduk ke arahnya. Sementara Zia menatap dagu atasannya itu dengan berdegub kencang. Tubuh mungilnya benar benar terhalang siapapun yang lewat. Meski beberapa orang melewatinya merasa penasaran.
"Ingat, kau tidak boleh membawa anakku tiba tiba ke rumah sakit tanpaku, paham!"
"Yah, mengerti pak. Tapi tadi saya hanya menuruti perintah bapak saja dan menolong dengan cepat. Tidak lebih, karna meeting bapak tadi .."
"Cukup, kau pergilah sekarang ini, bisa sendiri kembali bekerja kan?" teriak Evan yang memijit kening dan kesal.
Zia kembali ingin pergi, namun lagi lagi ia kembali menatap wajah pak Evan, dan berkata.
"Pak, jangan marahi dia. Apapun kenakalannya tolong maafkan. Dia masih kecil!" pinta Zia.
"Pergilah. Aku orangtuanya, jangan dekati!"
"Ok saya mengerti Pak. Tapi apa bapak bisa menggeserkan tubuh bapak yang tinggi besar ini, saya permisi!"
Zia menghela nafas, lalu dengan cepat ia pergi. Menuju arah parkiran di mana, ia memarkirkan motornya. Namun ketika ia mengingat Eca. Ia tersenyum, mencoba mencari bubur terenak dan memesannya untuk di berikan pada anak kecil itu. Terus terang, meski ia sangat kesal. Tapi menurutnya, anak itu mempunyai kesulitan sendiri.
\*\*\*
BERBEDA HAL DENGAN HALWA.
Menjelang sore, Eros telah memarkir mobilnya dengan sang istri di halaman rumahnya. Ia telah mengecek dari rumah sakit, dan mampir ke sebuah butik. Membuat perasaan yang bercampur bahagia. Eros membukakan pintu mobil lalu Halwa terlihat menggapai tangan dengan aura kebahagiaan.
"Anak mama tersayang, sudah ke dokternya. Apa katanya sayang?" tanya Mama Rita mertua Halwa.
"Syukur puji tuhan mah, semuanya baik dan bulan depan kita kontrol kembali." jelasnya.
"Syukurlah, Mama ga sabar jadi Oma. Eros, kamu harus siaga untuk rutin cuti kontrol kandungan Halwa ya!" Eros mengangguk dan tepat berjalan di belakang wanita penyemangat hidupnya.
Hingga mereka menepi di meja makan. Terlebih ibu Anieh menyapa senyum kala menyambut kedua anaknya. Terlihat Eros meletakkan paperbag dan mencuci tangan. Makan bersama seperti hal kebiasaan, lalu di saat makan Halwa bertanya dan mengingat saat kejadian di rumah sakit.
"Mas, ingat gak. Pas kita mau ke ruang dokter Hera. Apa kemungkinan mereka sepasang pengantin yang sedang cemburu, aku lucu melihatnya?" senyum kecil.
__ADS_1
"Sayang, jangan berghibah. Mas tau, saat tadi kamu penasaran dengan wajah wanitanya kan?" Halwa mengangguk malu.
"Eeeh, eeeh. Kalian bicaraain apa sih, Mama jadi kepo?"
"Ini mah, Halwa pas lihat seorang pria besar ya layaknya bicara dengan pasangannya, hanya saja Halwa melirik seperti ingin tau ada apa? Menantu mama ini nakal sengaja melirik pria lain," cibir Eros.
"Mas, maaf. Bukan itu, mama bener deh. Maksud Halwa tadi, Ibu percaya kan sama Halwa?"
Semua menatap Halwa dengan sinis, namun wajah Halwa berubah sedih. Semua memeluk dan tertawa kala menggoda Halwa dengan raut wajah yang menggemaskan. Hal itu membuat Eros memeluk Halwa dengan penuh cinta di depan mama dan ibu mertuanya.
EHEEEUM .. EEHUUUM!! EROS, JAGA SIKAP. KALIAN GA LIHAT KAMI PARA IBU PARUH BAYA MELIHAT?? SINDIR MAMA RITA.
"Mama, tutup mata saja. Anggap saja aku sedang membujuk."
"Dasar anak nakal, kau membuat masalah saja. Seperti yang lain ngontrak saja melakukan manja di depan umum." gerutu mama Rita. Sementara Ibu Anieh tersenyum dan meletakkan buah di meja.
"Ya udah, kita berdoa dan makan bersama ya. Kasian nasinya nanti dingin!" ucap Ama Anieh.
***
Zia yang telah pulang ke rumah, ia penasaran dengan Pak Evan yang tak terlihat lagi. Ia khawatir, dengan Eca. Maka dari itu, ia membersihkan diri lalu bergegas dengan motor bebeknya. Berusaha menjenguk anak itu, mendengar anak itu memohon membuat dirinya penasaran dan khawatir.
SRIITH!! BERPULUH MENIT.
Zia sampai di kediaman pak Evan, ia membawa satu lembar denah yang mana memang pak Evan belum minta. Dengan satu tangan lagi ia membawa buah buahan di kantong plastik bening.
"Eeuy, Non Zia. Mau ketemu bapak? Tapi bapak ga ada di rumah?"
"Eeh, pak satpam. Iya nih, sekalian mau numpang ke toilet. Boleh gak ya, ga bisa di titip nanti rusak lagi kaya waktu itu." alibi Zia.
Zia di persilahkan masuk, hingga di mana saat ia menuju ruang belakang. Hal yang Zia tak pernah bayangkan terjadi membuat dirinya geram.
KIRA KIRA APA YANG DI LIHAT ZIA YA?
__ADS_1