
Beberapa hari kemudian, Halwa yang telah berada di rumah. Ia masih melihat kroscek buku bulanan.
Sekarang Halwa sedang duduk santai di salah satu kursi tinggi. Siku tangan kanannya menumpu pada meja, sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk mengaduk minumannya.
"Kamu kenapa?"
Randi yang sejak tadi selalu menemani Halwa berbelanja, kini mulai merasakan keanehan. Dia dapat melihat ada gelagat tak biasa dari Halwa, seperti ada yang disembunyikan.
"Tidak apa apa." Halwa senyum menegakkan duduknya. Dia mengangkat gelasnya, kemudian mengarahkan sedotan itu ke bibirnya.
Perlahan Halwa menyesap jus alpukat itu. Terasa dingin, manis, dan menyegarkan.
"Kalau wanita mengatakan 'tidak apa-apa', pasti artinya ada masalah." cetus Randi.
Diletakkan minumannya kembali ke tempat semula. Kemudian Halwa memandangi Randi yang duduk di hadapannya.
"Hem, kamu sangat berpengalaman ya soal wanita?"
"Hahah, seperti itulah."
Halwa sebenarnya bingung ingin melakukan apalagi saat ini. Dia sudah lelah berjalan jalan di mall beberapa jam lalu. Kalau dia pulang ke rumah orangtuanya, paling nanti akan ribut lagi dengan Zalwa.
"Kenapa sampai sekarang kamu gak nikah?" Sampai pertanyaan absurd itu terlontar dari mulut Halwa.
Jarang sekali ada sesi obrolan panjang di antara mereka. Bahkan Randi merasa ini merupakan momentum yang langka.
Randi menjawab pertanyaan Halwa sembari memutar mutar benda pipih kecil di meja.
"Sebenarnya aku memang gak ada niatan buat nikah dengan wanita lain, tapi aku menunggu kamu."
Halwa tak terkejut lagi soal ini, karena ia memang pernah mendengar kabar soal Randi.
"Kamu jangan ge'er. Aku cuma bertanya tanya, tidak ada niatan yang lain."
"Iya, iya, I know."
Halwa kembali menyesap minumannya, sementara Randi dengan tatapan sayu mulai menceritakan beberapa hal.
"Sebenarnya alasanku gak nikah itu karena trauma. Dan alasan aku menikahimu karna aku bisa berkomitmen dan melindungi kamu."
"What?" Halwa terbatuk saat mendengar fakta itu.
"Kamu? Trauma soal apa?"
"Kenapa? Kamu gak nyangka ya kalau lelaki sesempurna aku punya trauma?"
__ADS_1
Halwa mendelik. Hufh! Randi memang kadang suka songong, menganggap dirinya paling sempurna.
"Apa kamu korban broken home?" tebak Halwa yang langsung di iyakan oleh Randi.
"Aku dilahirkan oleh istri kedua, meski di perbolehkan. Itu sangat menyakiti hati perempuan, dan itulah mengapa mamaku sering jatuh sakit. Sepandainya pria mempunyai istri kedua, ia akan kembali pada istri pertamanya yang dari nol. Sementara mamaku adalah korban bucin."
"Lalu aku bukanlah wanita baik baik Rand, kenapa kamu masih mau mempersuntingku dengan aku yang .."
Randi memegang ranum bibir Halwa dengan jari manisnya. Ia meminta Halwa untuk tidak melanjutkan pembicaraan.
"Meski aku tau anak itu, aku yakin dia harusnya jadi keponakanku. Tapi setelah menikah, dia akan menjadi anakku, tidak ada yang bisa memisahkan kamu dan mengganggu kamu dengan anak ini ketika kita menikah."
Halwa terdiam, mungkin Randi benar mempunyai skill orang dibelakangnya. Mudah mencari data seseorang. Sehingga ia mampu mau menikahiku, bodohnya aku yang terlambat mengenal kamu Randi.
"Andai kamu seperti yang dahulu, aku tetap mencintai kamu. Tidak perduli fisikmu dahulu, jika bisa dirawat dan selagi ada uang. Kenapa tidak untuk merawatnya, bahkan aku melihatmu bukan segi kecantikan Halwa. Kamu salah! Hatimu yang membuat aku jatuh dan nekat berkomitmen. Tidak ada kamusku untuk mempermainkan wanita."
"Tapi setidaknya kamu harusnya mendapatkan gadis, bukan aku yang bekas Rand."
"Hey! Halwa, apa artinya botol air yang tutupnya tersegel dan tidak. Pada akhirnya semua akan terbuka juga. Aku pria pernah mempunyai dosa, bukan pria tanpa cela. Aku sempat ingin menikahi wanita dan kesalahan satu malam. Tapi dia meninggal mengenaskan kala kecelakaan dengan plat milik Evan. Dua orang yang aku belum sempat bahagiakan, Mamaku dan dia .. yang telah aku cicipi sebelum menikah. It's Real karma."
"Maksudmu?" terkejut Halwa.
"Ada banyak cerita yang mungkin sulit kita bahas saat ini, keberadaanku berada di perusahaan Sanders milik papaku. Adalah aku mengambil hak ku yang di miliki Evan. Tante Mira adalah sahabat mendiang mamaku, dia memang seperti pengganti ibu. Penengah kami, tapi ketus dan cerewetnya adalah bukti sayang mereka meski terlihat berbalik."
"Aku masih sulit mencerna Rand.." lirih Halwa.
Randi menautkan matanya pada pandangan Halwa. Seketika hati Halwa mulai berdebar, pria yang selalu ia anggap teman atau sahabat baik seperti Dewi. Ia tak menyangka, akan merasakan debaran itu lagi setelah sekian lama mati ketika meninggalkan Eros.
'Kamu adalah keluarga Sanders! tapi hanya kamu yang mampu membangkitkan hatiku kembali berdebar Randi.'
Randi yang hampir mendekatkan wajahnya pada wajah Halwa, ia terlalu jauh untuk menggapai, sehingga lengannya terpeleset karna tak mampu menjaga keseimbangan. Dan wajahnya hanya meleset pada tumpuan tangan kursi yang Halwa duduki.
"Astaga! maafkan aku Halwa! kita berangkat sekarang?" senyum Randi sedikit gugup.
Halwa yang merasa salting, ia hanya mengigit bibir bawahnya. Lalu memegang tangan Randi yang telah duluan di ulurkan.
"Terimakasih malaikatku."
"Jangan berlebihan! baru kali ini seorang Halwa merayu setelah sekian lama aku kandas di tolak."
"Hiks! dasar pria ulung. Biasanya kamu yang gombal terus Rand, kenapa kamu bikin aku yang salah tingkah sih."
Hahaaa! elak tawa mereka, Randi segera membuka pintu mobil. Ia segera berangkat ke jogja. Dan akan membangun sebuah rumah daerah dekat kedua orangtua Halwa. Sekaligus mencari tau silsilah kehidupan Halwa dahulu. Mengapa ada orangtua yang lengkap membedakan pada kedua putrinya dengan sangat tidak masuk akal.
***
__ADS_1
KELUARGA BAHREIN.
"Jadi kau tidak tau, jika Halwa akan di nikahi Randi. Adik tirimu?" tanya Eros.
"Tau darimana kau, apa kau membuntutinya?" gelak Evan yang mengangkat kaki songongnya.
Eros sengaja menjadi penjilat, karna perusahaan yang hampir bangkrut. Kerja sama dengan Evan Sanders membuat ia yakin untuk mencecar salah Halwa untuk merasakan akibatnya dari tuduhan telah menipunya.
"Huuuh! kenapa dia mau menerima Randi, apa dia sengaja mempermainkan aku. Anak itu anakku, jelas sekali. Atau ada udang di balik itu. Aku harus meminta Tante Mira tidak merestui.'
"Kau atur lagi sesi pertemuan! ingat kau berada dibawahku. Jangan sampai kau sembrono melakukan hal bodoh yang menyeret namaku!"
Perintah Evan membuat Eros mengepal tangan, ia tidak biasa di perintah. Tapi demi membalas dendamnya pada Halwa dan menghancurkan dendamnya juga pada Evan yang berani menjatuhkan dirinya pada perusahaan Bahrein. Satu perahu ia hempaskan dua mangsa dalam sekejap, membuat rasa sakit hati keluarga Bahrein terbalas.
Jujur saja, karna aksi Halwa dan saingan bisnis keluarga Sanders dan keluarga Bahrein. Ayah Sutejo Bahrein kini mengalami struk di rumah sakit. Dengan keadaan finansial yang tidak bagus, Eros harus menjadi penjilat demi keadaan baik baik saja.
***
JOGJA.
"Salam ibu, saya Randi. Apa ayah Husein ada?" sapa Randi dengan santun.
"Duduk nak!"
Ibu Anieh meminta Randi menunggu, sementara Halwa mengambil sesuatu di dapur. Tanpa terasa Zalwa menarik lengan tangan Halwa dengan keras, hingga membentur tubuhnya kedasar kulkas.
"Jelasin sama gue! apa apaan ini?" tajam Zalwa.
"Ada apa kak? kenapa kakak sekasar ini. Ini di rumah lo? kalau ibu liat gimana?"
"Lo jangan nikah sebelum gue dapetin Evan. Dan lo ga berhak nikah sama Randi. Karna nanti kita bakal jadi keluarga. Kalau lo nikah sama Randi, otomatis gue .."
"Kita tidak sedarah Zalwa palsu." kecam Halwa membuat tamparan spontan dari tangan Zalwa.
PLaaak!!
To Be Continue!!
Yes! kira kira ada apa lagi ya? Yuks jejak lagi.
JANGAN LUPA MAMPIR KARYA NEW.
~ BAD WIFE ~
Kisah Hanum di Bad Wife, dan Halwa di story ini insyallah akan update tiap hari.
__ADS_1
Masuk Love Jadi Biru ya!
Happy Reading