Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
KABAR BURUK


__ADS_3

'Mas, jika memang aku salah ditakdirkan! tidak seharusnya aku membebanimu. Tapi aku tau senyuman itu palsu, kamu sedang menyembunyikan suatu masalah dariku.'


Langkah demi langkah, Halwa menyiapkan makan malam. Menatap punggung Randi yang terlihat indah meski memakai handuk saja. Ia membersihkan diri, sementara lirikan Halwa kini berujung menyiapkan baju dari rak lemari gantung.


Masih melihat Randi keluar dari kamar kecil dengan sehelai handuk putih yang melilit. Halwa segera menghampiri dengan senyuman menatap suaminya.


"Aku bantu keringkan mas!"


"Kamu terlalu sempurna Halwa, apa aku bisa selalu menjagamu." bisiknya.


Sementara Halwa masih senyum merona karna lontaran Randi yang lagi lagi membuatnya melayang. "Mas jangan terus puji aku, nanti aku jatuh karna kamu, buat hati aku terbang."


Piyama indah yang dikenakan Randi senada dengan Halwa. Kini mereka kembali menyatu di dalam mahligai sofa besar. Menonton film bersama dan bertukar cerita yang manis manis. Halwa tau beban Randi sedang tidak beres, maka dari itu ia mencoba memeluk suaminya dengan penuh arti, memulai percakapan masa depan.


"Mas, jika anakku lahir perempuan kamu beri nama siapa?"


"Heuump! kita akan cari nama yang indah, yang pasti jika dia perempuan akan terlihat cantik sepertimu. Tapi jika sebaliknya, akan sepertiku."


Halwa tersenyum, guratan senyuman Randi bak sempurna. Ia begitu rapuh dan kesedihan itu terasa menusuk hati Halwa. Ada rasa tak percaya jika ia memiliki pria seperti Randi yang notabane dirinya adalah ..?


"Sayang. Hey kenapa kamu nangis?" Randi memeluk.


"Aku ga nangis. Aku hanya tersipu ciptaannya. Jika senyumanmu adalah ibadah, adakah luka yang kamu simpan Mas? Jujur mengenalmu adalah anugerah terindah. Dan sangat berat untukku."

__ADS_1


"Halwa, tetaplah tersenyum. Jadilah pelabuhan hidupku, mas tidak meminta apapun. Kebahagiaanku adalah membuatmu bahagia."


Halwa kembali memeluk erat, hingga mereka menuangkan romansa puisi arti tentang cinta. Halwa semakin dalam mencintai Randi, meski ia tak pernah tau apa yang akan terjadi setelah ini.


PAGI HARI.


"Mas, aku udah siapin sarapan. Nasi goreng seafood. Kamu suka kan?"


"Hari ini aku ga mau pedes sayang. Boleh aku minta kamu sendokin acar nya?"


"Tentu mas. Aku memang buatnya tidak pedes, Supaya mas tidak sakit pagi pagi. Mas harus kurangi pedes, supaya ga kumat lambung!" cetus Halwa ramah.


Benar saja Halwa masih ingat akan kebiasaannya. Andai saja waktu cepat berubah, aku ingin menyentuh Halwa dan memiliki anak kami bersama, itu adalah benak Randi menatap Halwa saat ini.


Halwa yang kembali mengambil gelas, ia cukup terkejut kala Randi bersikap aneh. Sudah dua kali Halwa melihat Randi seperti ini. Ia yakin terjadi sesuatu, sehingga ia akan mengeceknya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya saat ini. Mood an dan kadang terlihat tidak bersemangat.


"Sayang! mas akan ke kantor. Nanti sore mas antar ke dokter, mas udah buat janji juga sama dokter Frans."


"Mas, aku ga mau kamu kerepotan. Aku bisa naik taksi. Aku takut kamu sibuk, kamu ga boleh sering absen mas. Nanti ada yang protes." senyum Halwa.


"Huuaah! yang protes akan mas patahkan mulutnya. Mas baik baik saja kok, mas pamit ya sayang?"


"Ya. Hati hati mas. Kecupannya jangan lupa." genit Halwa menunjuk pipi.

__ADS_1


Halwa mengangguk, ia segera meraih tas hitam Randi dan segera mengantar sampai teras. Tidak biasanya sang suami terlihat cemas dan gugup.


"Mas." peluk Halwa pada punggung Randi.


"Sayang, mas harus bekerja! kamu mau ikut mas ke kantor?"


"Enggak! aku cuma rindu kamu aja mas. Aku rasanya berat banget ga mau kamu pergi."


Randi yang paham mood ibu hamil sering berubah. Ia membalikan badannya, tanpa menoleh kiri kanan aksi tetangga yang kepo. Bagi Randi ia menunduk sedikit wajahnya dan bertumpu memeluk istri dan perut Halwa.


"Sayang. Papa kerja dulu, kamu jagain mama ya!" lirih Randi.


"Makasih papa." senyum Halwa meniru suara anak kecil.


Halwa segera melepas setelah mendapat kecupan ulang. Lalu melambai tangan pada Randi yang telah pergi mengendarai mobil.


Saat Halwa ingin masuk kedalam rumah, ia belum sempat menutup pintu. Tapi matanya membulat kala sebuah pesan misterius.


"Suamimu sudah bangkrut! tidak punya pekerjaan dan semua aset tabungan ditarik. Apa kau bisa bertahan Halwa?"


Halwa terdiam lemas, ia menahan rasa sakit hati, pikiran dan kram di perutnya.


'Apa lagi ini, kenapa ..?'

__ADS_1


To Be Continue!!


__ADS_2