
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Halwa menemui ibunya di jogja, dan rindu pada orangtua nya. Tepat saat itu Halwa bersama Randi ia mengenalkan sebagai temannya.
"Bu, maafin Halwa yang baru sempat menjenguk. Setelah sekian lama, rindu Halwa terpenuhi saat ini."
"Nak, ibu juga sangat merindukanmu. Zalwa selalu bicara kamu tidak akan pernah pulang, karna itu ibu hanya bisa mendoakanmu."
Dengan berat hati, Halwa yang berada di sandar kedua kaki ibu saat duduk. Ia menghapus air mata dan bertanya lagi.
"Zalwa bilang aku tidak akan pulang?"
"Heumph! Dari bulan ke minggu dan hari, setiap detik ibu meminta di antar ketempatmu. Tapi jawabannya..."
"Maafin Halwa ya bu!" memeluk.
Randi yang paham akan perbincangan dua wanita, saat ini ia bersama ayah Husein sedang membicarakan pertanian.
Namun ia tau jika Halwa tidak mungkin bicara seperti itu. Entah kenapa, Randi sangat ingin tau kenapa Zalwa tega pada adiknya sendiri.
Tak lama terlihat Zalwa kembali dengan seorang pria dan anak kecil.
"Kebetulan sekali, itu pasti Zalwa. Kamu tunggu di sini ya! Ibu akan menghampiri kakakmu!" ucap ibu.
Dengan begitu Halwa mengangguk dan berahli ke taman. Namun tak disangka kala ia berada di belakang halaman rumah, melihat kebun buah dan sayur yang segar.
Halwa terperanjat kaget mendengar pertanyaan dari pria dibelakangnya, dan kali ini dia sangat membutuhkan pegangan tapi tak tahu kemana harus memegang pada siapa. Sehingga Halwa hanya mengepalkan tangannya.
"Kau harus mengatakan alasannya karena itu menjadi faktor penting dalam penentuan kau wanita buruk atau tidak!" ungkapnya.
Pria itu menambahkan karena Halwa belum menjawab pertanyaan darinya
"Aku ingin kasih sayang dan perhatian. Tapi sayang, itu bukan dari wanita seburuk dirimu. Tak kusangka, kemiripanmu mirip dengan wanita yang pernah aku sukai dahulu."
Halwa yang sudah tersadar tidak lagi menunggu dan langsung mengutarakan jawabannya, ia menoleh dan menatap bulat pada pria itu.
"Kalau ingin kasih sayang dan perhatian, minta saja pada Zalwa. Kenapa harus bicara padaku?"
Pria itu melepaskan tangannya dari dua gundukan yang tadi diremasnya dan sekarang dua tangannya memegang lengan Halwa sambil matanya menatap pupil mata Halwa.
__ADS_1
"Hentikan! Jangan sentuh aku, apa kau tidak malu bertamu. Ini rumah ibuku?!" kepalanya dekat dan Evan terlena kala dekat dengan wanita yang ia anggap buruk.
'Ini aneh, aku mati matian membencimu tapi kenapa aku ingin dekat padamu.'
Sementara Halwa melepas dan pergi, ia merasa mual masih dengan tatapan membelakangi Evan saat melepas tangannya, lalu ia pergi mendorong Evan. Tak lama ia bertemu Zalwa di pintu dapur. Bagus saja Zalwa tak melihatnya saat di peluk dari belakang, dengan syok Halwa memutar mata. Zalwa pun hanya tersenyum menatap Halwa.
"Kau pikir aku bisa memberikan yang seperti itu. Apa kau tau, Evan akan menikahiku. Cinta yang sebenarnya?"
Halwa menganggukkan kepalanya, ia malas berdebat dengan Zalwa. Hanya bisa mendengarkan Zalwa lebih banyak bicara.
"Momy Merli menjanjikan itu padaku. Kau bisa memberikan kasih sayang dan perhatian padaku, itu yang dikatakannya, karena itu aku memberanikan diri datang ke sini, meminta restu ibu untuk menikah." jelasnya.
"Terserah padamu, lakukanlah!" balas Halwa.
Merli, ia adalah ibu dari Evan yang berada di luar negri, meski Halwa hanya pernah melihatnya di sebuah album di kamar Eca. Halwa memberikan jawaban sesuai yang diberikan oleh Zalwa. Keinginannya untuk mendapatkan kasih sayang, sudah membuat Zalwa menjadi buta dan berusaha dengan cara apapun untuk mendapatkan impiannya itu.
Tapi kenapa Zalwa betul betul ingin mendapatkan kasih sayang? Kenapa ia harus menjatuhkannya dan tidak jujur. Batin Halwa.
Flashback tadi pagi
Halwa memutar bola mata, kala ia harus mendapat kabar pesan dari sang ibu. Jika Zalwa sudah pergi selama satu pekan, dan hari ini ia akan kembali. Meski begitu, Halwa tak ingin sang ibu curiga jika ia cepat pulang tak menunggu Zalwa. Karna itu ia meminta Randi untuk tidak bercerita apapun, hanya menemaninya agar ia kuat.
Ayahnya yang workaholik bahkan bisa bekerja dua puluh empat jam tanpa henti, apabila sedang mengejar suatu proyek pertanian yang penting. Ibunya terlalu sibuk dengan dunia arisan. Kakak pertamanya jangan ditanya, sejak tadi dan sudah bercerai.
Eros sekarang berada di luar negeri dengan pengacara utusan konfliknya. Dia mengurus perusahaan yang berada di sana sambil memulihkan sidang ulang terkait konflik penipuan dalam Pranikah.
Lalu Halwa disinilah dia sekarang. Duduk di meja makan bersama kedua orangtuanya yang mungkin tidak menyadari keberadaannya, di sana karena kedua orangtuanya juga tidak saling bertegur sapa satu sama lain. Ketika bersama apalagi tatapan Zalwa yang selalu membuat ia terlihat buruk.
Ciuk ciuk ciuk.
Suara tembakan di handphone membuat sedikit kebisingan di meja makan, ketika bocah yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar datang mendekat dan hanya mengambil setangkap roti tawar. Lalu segera pergi dengan pandangan matanya masih kepada gadget yang dipegangnya.
Dia adalah Ecarlos. Anak pertama Evan yang dibawa ke jogja saat ini. Tidak ada orang yang peduli pada Halwa, bahkan tidak ada yang sadar untuk menyapanya pagi ini. Kalau hanya satu atau dua kali terjadi mungkin tidak masalah, tapi bertahun tahun ini selalu terjadi dalam hidupnya membuat hatinya kosong dan terasa begitu menyakitkan hidup dengan keluarga tapi serasa sebatangkara.
"Kalau kau ingin kasih sayang dan perhatian, harusnya kau meminta pada orang tuamu bukan datang padaku. Kau juga bisa mencari seorang kekasih yang bisa memberikan itu semua padamu!" jawaban Halwa di hadapan Evan dengan senyum acuhnya, lalu membalikkan badannya melangkahkan kaki kembali ke sofa dan duduk mendekat Randi.
"Kenapa masih diam saja. Apa mereka membuat gaduh, haruskah aku tegur?" Tanya Randi.
"Memang apa yang harus aku lakukan. Kita bahkan sedang berada di kediaman keluargaku Rand?" tanya Halwa polos tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya.
__ADS_1
Halwa pun bingung, bagaimana harus bagaimana menanggapi pernyataan, dari pria yang sudah kembali duduk dan menatapnya. Sementara ia masih menyembunyikan dirinya hamil anak Evan. Pria yang begitu membencinya, dan ia belum sanggup untuk menerima semuanya yang terlalu cepat.
Sementara Randi hanya bisa pilu menatap Halwa sejak satu hari, keberadaan Zalwa. Perhatian Halwa seolah tak di anggap.
"Pakai kembali Sweatermu. Kita pulang sekarang!" perintah Randi yang tak ingin melihat Halwa di rendahkan.
Halwa langsung menganggukkan kepalanya. Paham dan dengan tersipu malu bergegas memakai pakaiannya satu persatu. Pikiran di dalam otaknya sudah berantakan antara malu, bingung, cemas, marah semuanya menjadi satu dan Halwa tidak tahu bagaimana harus menanggapi semuanya.
Halwa tak sadar ada orang yang menikmati sikap malunya, ketika Halwa sedang menutupi satu persatu sweater tebal dan meraih tasnya.
"Apa aku bisa pergi dari sini?" tanya Halwa setelah mengenakan semu. Tapi orang yang ada di hadapannya masih menatapnya dan belum mengusirnya, padahal sudah diam lebih dari dua puluh lima menit.
"Apa kau tidak punya orang tua, kenapa perlakuan mereka berbeda terhadapmu. Ada apa dengan kalian?"
Halwa menggelengkan kepalanya
"Orang tuaku masih lengkap."
"Lalu kenapa kau tak mendapat kasih sayangnya Halwa?"
"Itu ...." Halwa tidak langsung menjawab dan masih memikirkan apa yang ingin dikatakannya kepada laki laki di hadapannya, ia tak ingin Randi mengetahui banyak jauh lagi tentang dirinya dan Zalwa saat dulu. Meski ia juga tak tau apa pendapatanya benar atau tidak.
'Aku tidak mungkin mengatakan siapa aku kepadanya bukan? Tapi aku tidak boleh kehilangan kesempatan ini juga! Aku juga ingin bahagia. Ini satu satunya kesempatan yang aku punya dan mungkin aku tidak akan berani lagi mencoba melakukan ini untuk kedua kalinya. Tapi aku harus menjawab apa pertanyaannya?' gumam Halwa di dalam hatinya ia tidak ingin identitas dirinya diketahui oleh siapapun.
"Tidak semua pertanyaanmu harus aku jawab. Tapi semua pertanyaanmu, memberikan nilai apa aku akan menerimamu atau tidak. Dan kalau aku tidak mau menjawab pertanyaan mu, disana pintu keluarnya, sebaiknya kita keluar karena urusan kita akan pulang saat ini!"
"Aku tidak punya pacar, aku punya kamu Halwa, jadi aku akan menunggu kamu meski aku terluka sekalipun." jawab Randi cepat karena tak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Halwa wanita yang ia cintai.
Halwa mengangguk, ia merasa kagum pada Randi. Tapi apa ia pantas untuk Randi saat ini.
"Jadi karena kau tidak punya pacar kau ingin aku menjadi ..?" tanya Halwa, masih mode menatap Randi.
Randi penasaran pada Halwa di masa lalu, sehingga Randi semakin menggali informasi tentang Halwa.
Dengan cepat Halwa menganggukan kepalanya
"Kenapa aku tidak mencari dari teman teman seumuran Halwa dulu? Bukankah aku ingin perhatian dan kasih sayang tulus Halwa, dan menyelesaikan semua masalah terberatnya." batin Randi.
Hingga tak lama, Randi dan Halwa melihat sepasang insan menghampiri mereka, dengan tatapan sinis.
__ADS_1
TO BE CONTINUE!!