
Halwa kini melihat jelas siapa yang datang, wajahnya seolah malu dan malas untuk menatap. Rasa emosi kembali menyelimuti, kala Zalwa telah banyak berbohong padanya dari dulu.
"Kenapa kakak bisa di sini?"
"Halwa, kakak hanya ingin memberitaumu. Jika kakak sudah terdata dari pengadilan, jika kamu ingin kembali dengan Eros. Silahkan, temui Eros kapanpun itu!"
"Bulsyiet! kenapa kakak diam saja, sejak Evan datang kerumah. Kakak sudah tau, dia adalah teman kakak. Kenapa bohongin aku kak, aku tau kakak menyukai Eros saat masih kita sekolah, kakak lebih unggul. Evan mengejar kakak, tapi kenapa kakak dan Evan bersekongkol. Tau rasanya jadi aku seperti apa?" marah Zia.
"Apapun itu, kamu harus tau. Jika Evan tidak mengenali kakak. Kamu cukup pintar, kamu bisa mencari tau sendiri. Meski kakak kenal dia, tidak untuk di ulang. Terlalu banyak halangan mencintai pria kaya."
Zalwa memberikan satu keranjang kecil buah. Lalu meminta Halwa memakan agar ia kembali pulih sehat.
"Lusa adalah pengadilan perceraian kaka. Aku harap kamu datang Zia!"
Zalwa meraih tas kecil, lalu mengelus tangan adiknya itu. Hingga dimana saat berbalik, Dewi melihat aneh kala gerik wajah Zalwa terlihat bahagia, atau sebaliknya.
'Aneh, dia itu sedih atau sedang bahagia sih?'
Sementara Zia, ia berusaha untuk tetap diam dan bungkam. Masih menggigit kukunya kala perkataan Zalwa membuat ia sedih. Bagaimana bisa seorang pria yang pernah ia cintai selama bertahun tahun harus membuat dirinya bersalah.
"Lo lagi mikirin apa? Zalwa udah pulang, kok cepet sih. Gue kira bakal temenin lo seharian Zia?"
"Dia banyak urusan, lusa ada sidangnya dia sama mas Eros. Gue datang gak ya, ke pengadilan. Jadi gak enak karna ulah gue, kakak gue harus bercerai."
"Jangan nyalahin diri lo Zia. Gak semua salah lo, please! gue sih berharap lo gak perlu datang. Buat apa coba?"
"Persidangan itu ka Zalwa sendirian, ibu kan ke jogja sama Ayah urus gugatan orangtua Eros. Soal mahar dan penipuan, mereka pasti lagi berjuang buat ngembaliinya."
"Haah, mana ada sih kasus kaya kakak lo, mending gue kasih rekomendasi pengacara. Kali aja bisa buat solusi."
Zia mengangguk, ia melirik nomor ponsel yang Dewi tunjukan. Dengan tanpa lama, Zia mengirimkan pesan pada Zalwa dengan kilat. Jika ia tidak datang, semoga pengacara yang di kenalkan Dewi bisa membantunya.
BERBEDA HAL DENGAN EROS.
Eros yang kini membuang bingkai foto pernikahannya. Ia begitu muak kala wanita yang ia nikahi, bukan wanita yang ia cintai.
Arrrrggh!! teriak Eros.
"Eros, jangan seperti ini nak! kamu tidak boleh berlarut, lagi pula kedua orangtua istrimu sudah menjelaskan semuanya. Kasian Zalwa jika harus di talak, bagaimana dengan bayinya?"
"Cukup. Cukup bu! Zalwa tidak mengandung, jadi kami bisa tetap bercerai. Dan akan aku tarik Halwa untuk mempertanggung jawabkan semuanya!"
__ADS_1
"Tidak perlu dendam Eros, itu tidak harus kamu lakukan dengan tangan kotormu. Biar ayah saja yang urus!" ungkap Ayah Sutejo yang sebal.
"Ayah! kau ini sudah tua bangkotan, bukan melerai malah memanasi." ketus ibu Rita.
Sementara Eros masih menatap wanita yang ia cintai, menggores luka dalam batinnya. Entah mengapa Halwa bisa tega melakukan ini semua. Namun dengan kejutan, ia melihat pesan misterius. Membuat Ibu Rita dan Ayah Sutejo mengerutkan dahi.
"Hey! kau akan kemana Eros?" teriak Ayah.
"Nak, kamu mau pergi kemana. Biar ayah temani nanti ya!" panik ibu Rita.
***
Dengan sadar, Zia yang kembali ke kantor. Sementara Dewi menunggu dibawah. Ia segera merapihkan dan mengambil beberapa denah gulungan hasil kerjanya. Sudah lama ia menunggu satpam membuka kunci ruangan kerja, namun perlu beberapa puluh menit. Tatapan Zia terperangah kala Evan keluar dari lift lain.
Hal itu juga membuat Zia seolah menghindar dan berusaha tidak sedekat yang pernah mereka lalui. Benar saja, kala Evan keluar dari lift. Tidak ada tatapan dalam penuh cinta, melainkan tatapan kebencian dan acuh yang tak Zia harapkan seperti tak mengenal. Evan kala itu melewati bahunya Zia, yang berjarak satu centi dengan berlainan arah.
Zia merasa sesak, hingga ia masuk kedalam lift dan kembali turun ke loby.
"Lama banget sih, udah jamuran nih gue." lirih Dewi.
"Sory! liftnya yang lama."
Zia masuk kedalam mobil, entah kenapa pertemuan ia beberapa saat bertemu Eros membuat pria yang pernah ia cintai murka padanya.
"Eros, pas tadi dia jenguk gue di rumah sakit. Dia bilang bakal nuntut gue setelah perceraian dengan kak Zalwa berakhir."
"Haaah! segitunya tuh cowok dendam, bagus keduanya bagi gue gak ada yang baik. Evan masa lalu bully, nah Eros pendendam. Halah, diam diam menghanyutkan. Terus lo jawab apa?"
"Gu-gue ga tau Dew. Gue pasrah, gue titip usaha online kita ya! kalau gue nanti bakal di penjara. Jujur gue udah ga punya tabungan lagi, lagian kan .."
"Ssst! cukup Zia. Semua pasti baik baik aja. Gue bakal bantu cari pengacara yang hebat buat lo. Kalau Eros nuntut lo, gue ga habis pikir apa yang ada di otak pria kalau di tolak."
Zia kembali menatap jendela, ia cukup tersinggung kala dirinya harus merasakan konflik yang rumit. Rasa sakit itu lebih menyakitkan dan kembali robek seperti usia dirinya di umur empat belas tahun.
PAGI HARI.
Cukup ceria bagi Zia, kala semua tenaganya telah kumpul dan kembali pulih. Ia yang telah bersiap packing dan proses edit nametag pada sebuah online shopnya. Cukup senang kala semua penjualan meningkat, Dewi pun cukup senyum dan mempertanyakan.
"Zia, siang ini bener ga mau datang, katanya kasian Zalwa?" tanyanya.
"Iy, gue tinggal dulu ya. Gue pengen tau proses ka Zalwa. Eeh, kayaknya taksi udah di depan tuh. Gue duluan ya sob."
__ADS_1
"Take care, Zia!"
Dalam beberapa puluh menit, Zia sampai di pengadilan kota. Ia menampaki langkah ketika telah memberi beberapa lembar uang kepada supir taksi.
Namun dengan bantuan pegawai, ia meminta diantarkan ke ruang acara pengadilan bernama, Zalwa Tusabina dengan Eros Bahrein.
Zia masuk kedalam ruangan tersembunyi, hingga dimana ia menatap Zalwa dan Eros yang saling berdampingan dengan jarak. Terlihat kedua orangtua Eros hadir, tak terkecuali ibu dan ayahnya.
'Harusnya saat Zalwa seperti ini mereka hadir.' benak Zia kala mendengar keputusan jaksa yang sedang berbicara.
Zia meletakkan tas selempangnya, lalu berusaha mengirim emoji agar sang kaka kuat. Tapi apa yang ia dengar bagai tersambar petir saat ini.
Saksi dalam perkara perceraian umumnya adalah kerabat dekat atau keluarga, namun tidak menutup kemungkinan saksi berasal dari teman, tetangga, rekan kerja atau orang lain yang benar benar mengetahui secara langsung percekcokan antara Penggugat dan Tergugat. Pada tanggal ini 18 januari 2016.
TUG!TUG!!
"Saudara Zalwa yang menggugat. Apakah anda membenarkan jika perceraian ini karna adanya orang ketiga?" ucap jaksa.
"Ya pak! itu benar." lirih Zalwa.
"Tidak pak! itu hanya omong kosong, dia berbohong. Wanita ini penipu." sambung Eros.
TUG!TUG!! TENANGLAH.
Jaksa kembali melihat berkas, kala sebuah kertas itu melihat bukti adanya perselingkuhan.
"Tergugat Eros, anda benar adanya memiliki hubungan dengan wanita lain setelah menikah, benarkah itu?" tanya Jaksa.
Ketika seorang pengacara Eros melihat dengan kacamata tebal. Membuat sorot mata Zia berkata, itu tidak mungkin!!
"Tergugat digugat karna perselingkuhan, dengan Halwa Tusabina ketika masih status istri. Bukti benar adanya beberapa foto dan video ini sudah jelas menjadi bukti. Jika penggugat Zalwa Tusabina terbebas dari tuduhan penipuan."
DEUUR!!
Bagai tersambar petir, Eros menatap penuh marah. Melihat Zalwa wanita yang ia nikahi menjadi penipu ulung mengubah fakta agar dirinya terbebas dari tuntutan.
"Aaahk!!" teriak nyeri Zia kala duduk di tengah tengah. Membuat sorot mata yang lain melihat keberadaan Zia.
Zia menggeleng kepala, kala Zalwa melihatnya. Begitu tega Zalwa menunjuk dirinya dengan enteng.
"Itu wanitanya pak Jaksa!" senyum Zalwa.
__ADS_1
To Be Continue!!
'Kira kira ada yang tau gak nasib kelanjutannya?'