
"Udahlah gak usah di perdebat, kan lo udah tau gimana soal Zalwa?"
"Emang sebelas dua belas tuh, Sean juga sahabat kakak lo yang so cantik. Padahal udah sering banget dia itu ngembat cowo yang Zalwa suka. Tapi kenapa sih, udah sesempurna itu masih aja tega sama Lo. Halwa, jujur sama gue ada apa?"
Halwa menatap Dewi, ia hanya bisa menghela nafas. Karna jujur saja, ia sudah malas melanjutkan pembicaraan masa lalu Zalwa bersama keluarga Albino. Yakni kini sosok ayah biologis anaknya kini.
'Aku harus apa, jika Zalwa akan menikah dengan Evan. Lalu anak ini, apa aku gugurkan saja?Ah tidak, semoga aku di jauhkan dari pikiran itu. Membunuh bukan hal lebih baik.'
"Wa, kok diem sih. Hey! Halwa Zia tusabina, kenapa melamun. Orang nanya juga, malah di cuekin?"
"Bukan gitu, stok paket masih berapa yang order. Omset minggu ini, udah lumayan ya Dew?"
"Ya! stok kita berjibun, berkat rekomendasi Randi nih. Bagus dia jadi selegram, bikin iklan di aplikasi TW dan situsnya, kebanjiran omset kita. Lo harus terimakasih!"
'Owh! syukurlah, gue ikut seneng. Randi baik, tapi menggapai untuk membalas cintanya. Mana mungkin, gue hanya wanita kotor.' batin Halwa.
Halwa mengangguk, setelah merapihkan beberapa kotak paket untuk siap mereka kirim ke jasa kurir. Sehingga saat itu, Halwa terperanjat kala seorang karyawan bernama Parjo bicara padanya.
"Neng! punten, di depan ada tamu non ya? Dari tadi kang Parjo bulak balik beresin dus. Dia diem aja di situ parkir depan mobil."
"Siapa, Randi kang?" tanya Halwa.
"Kayaknya bukan deh, mobil biru sport. Apa kang tanya aja, sekalian bukain gerbang?"
Halwa terdiam, kala ia melihat dari sisi jendela. Rasa penasaran membuat ia cukup terkejut. Buru buru Halwa membuka tasnya, ia melihat ponselnya dan benar saja ia telah mengirim pesan dua puluh menit yang lalu.
"Siapa sih, kok muka pucet gitu?"
"Bukan apa apa Dew. Tapi itu mas Eros, gue harus apa ya?"
__ADS_1
"Biar gue yang keluar, pak Parjo kita couplean bilang kalau di sini gak ada Halwa. Kasian, dia baru pulang pasti capek. Wa, kamu matiin ya ponselmu!"
Hal itu membuat Halwa menurut, jujur saja tubuhnya sedang tidak singkron. Ia lemas, dan takut jika mas Eros kembali mengancam. Hal yang tak mudah Halwa kontrol adalah ketika mas Eros kembali mendorongnya di usia ia yang sedang hamil. Bahkan Dewi saja tidak tau apa yang sedang ia alami sangat berat.
"Thanks ya Dew!"
KE ESOKAN HARINYA.
Halwa kembali mendapat pesan dari Zalwa. Ia semakin sulit untuk mengatur nafas, jujur kali ini Halwa mudah emosi, namun tak bisa ia ungkapkan. Belum lagi perkataan Zalwa yang menuduhnya tidak tidak.
'Bisa bisanya kak Zalwa menuduhku, karna Luna datang dan merecoki malam itu. Bukankah aku sudah bilang, berhubungan saja dengan Luna tidak. Dekat saat itu juga enggak, kenapa selalu seperti ini sih.'
Kali ini Halwa keluar dari rumah sakit, setelah membeli obat dan vitamin yang ia temukan dari google untuk ibu hamil. Ia segera memesan taksi online. Tapi Eros yang sudah melihat Halwa, ia segera menghalangi langkah Halwa sehingga terhenti.
"Mas Eros?"
"Kamu mau kabur kemana lagi Wa? sudah seperti ini, kamu mau pergi kemana. Kamu lupa untuk mempertanggung jawabkan?"
Braaagh!!
Tak sengaja kantong plastik terjatuh. Halwa dengan kilat ingin mengambil, sudah lebih dulu di raih Eros. Sehingga kala itu ia melihat sebuah obat, vitamin kehamilan.
"Kamu hamil?" tanya Eros dengan lembut.
"Bu-bukan. Itu untuk kak Zalwa. Tadi dia pesan itu. Ya! benar." jelas gugup.
Eros yang tak percaya, ia akhirnya mau tak mau percaya. Sehingga kala ia menoleh kesekitar, melihat Halwa yang gugup ia menariknya dan membawa paksa Halwa kedalam mobilnya.
"Mas! Tunggu mas Eros mau bawa aku kemana?!" teriak Halwa.
__ADS_1
"Pakai sabuk pengaman, kamu harus bicara pada kedua orangtuaku semuanya!"
Jleeug!! tubuh Halwa melemas, ia tidak mungkin bertemu keluarga Bahrein dan ibu Rita. Ia tau bagaimana bencinya kedua orangtua Eros padanya. Terlebih karna semua ia bertukar peran, dan menipu yang tak sengaja karna putus asa.
"Mas Eros! aku mohon ampun padamu, aku tak bisa datang. Bagaimana jika ibu akan bawa aku ke kantor polisi?" isak tangis Halwa.
"Itu semua sudah seharusnya bukan." Eros menjalankan mobilnya. Sementara Halwa yang ingin kabur, sudah tak bisa karna mobilnya terkunci.
'Ya rabb! bagaimana ini, apa aku bisa menyelesaikan amarahnya .. ?'
Sesaat setelah sampai, Eros menarik lengan Halwa dan mendorongnya mengenai kaki kedua orangtuanya yang sedang duduk.
"Jadi ini Halwa asli yang kamu cintai, pilihanmu yang salah?" tanya bu Rita. Sementara ayah Bahrein masih menatap apa yang terjadi.
"Kamu tau, sudah berapa banyak kerugian dan batin kami karna kebohonganmu. Sekarang apa yang kamu ingin balas agar semuanya terganti?"
Halwa melihat sebuah kertas kerugian materi atas beberapa perusahaan keluarga Bahrein. Percerain dan istri palsu sudah tersebar kerugian perusahaan keluarga Eros membuat batin Halwa menjerit tak masuk akal. Ia lupa siapa Eros, sehingga saat ini ia sangat menyesal.
Namun kala Halwa ingin berdiri, tubuhnya semakin kaku dan kram perutnya membuat ia kesakitan dan menjerit.
"Sudahlah Halwa! untuk apa juga kamu berpura pura sakit?" teriak Eros.
Namun Halwa memegang perutnya, ia menggeleng jika dirinya tidak pura pura. Ia bingung untuk menceritakan, tapi tiga orang yang pernah dekat dengannya saat tujuh tahun lalu. Membuat Halwa ingat apa yang terjadi dan apa yang ia lakukan adalah kesalahan.
"Ak- aaaaaaahkh! Tolong aku, sakiiit.." teriak Halwa, tapi Eros dengan enteng tak percaya pada sikap Halwa saat ini.
Saat semuanya memaki, Halwa terperanjat dengan menahan sakit. Lalu ia menatap seorang pria yang tiba saja datang seolah menolongnya.
"Tunggu! apa yang kalian lakukan?" teriak seorang pria dari bariton teras rumah Eros.
__ADS_1
To Be Continue!!