
Sepanjang perjalanan menuju rumah baru Randi. Halwa sama sekali tak bersuara, pandangannya terus saja mengarah ke depan dengan salah satu tangannya tengah memainkan jemarinya yang lain dibawa pangkuannya. Hal itu karna sebuah kotak misterius tanpa pengirim ada di depan pintu ruang pengantin.
'Bisa bisanya hotel berbintang, tidak tau siapa yang mengirim.' Itu adalah benak Randi saat menyetir.
Randi yang melihat wanita itu seakan memikirkan sesuatu di sampingnya mencoba mengajaknya bicara.
“Apa yang sedang kamu pikirkan Halwa?” tanyanya.
Halwa yang mendengar pertanyaan pria itu seketika menoleh, “Nggak ada kok mas,” balas Halwa singkat.
“Terus, kenapa kamu terdiam sedari tadi? Apa kamu tak ingin menanyakan sesuatu lagi padaku?”
“Rand, eh! Mas, aku hanya bingung kenapa kamu ajak aku kerumah baru. Bukankah di hotel masih ada waktu beristirahat?"
"Biarkan keluargamu nyaman beristirahat, dan kita nyaman dengan seperti ini Halwa. Aku tidak ingin Zalwa merencanakan sesuatu lagi?" menggenggak tangan.
Halwa terdiam, ia tau saat mereka saling memandang di kamar. Ketukan pintu dan tak ada seorang pun yang terlihat. Hanya saja sebuah kotak merah dengan tulisan.
"Mas, kamu yakin soal kotak itu, pasti Zalwa?"
"Halwa, tulisan ancaman seperti itu, sudah pasti ulah Zalwa kan? siapa lagi yang menentang kita untuk menikah?"
Randi begitu kesal, bisa bisanya di malam pernikahan. Sebuah tulisan dengan noda merah membuat mereka tidak tenang. Hal itu juga jelas terlihat panik bagi Halwa. Tapi anehnya Randi yakin itu dari Zalwa.
'Mas, bagaimana jika itu dari mas Eros. Bukan kak Zalwa.' batin Halwa saat ini. Lalu Randi merangkul pucuk rambut Halwa untuk tenang. Hingga mereka telah tiba, di satu komplek.
“Apa ini rumahnya?” tanya Halwa ketika salah satu security mengarahkan mobil pria itu masuk ke sebuah rumah yang sungguh benar benar sangat mewah dan besar.
“Iya, ini rumah beliau mendiang mama. Aku dan mama tinggal di sini. Turunlah sayang!”perintah Randi.
Kemudian keluar lebih dulu dari pintu dan membukakan pintu agar Halwa turun dengan perlahan hati hati.
“Wah, rumahnya besar banget?” batin Halwa ketika ia melihat rumah itu benar benar sangat indah dan menawan, dengan model bernuansa layaknya rumah yang ada di luar negeri.
__ADS_1
Randi yang melihat wanita itu tampak memperhatikan rumah, lagi lagi hanya menggeleng kemudian berjalan mendekatinya.
“Ayo masuk, ada tante Mira sudah menunggumu di dalam!" ucap Randi ketika Halwa terus saja memandangi.
“Iya." balas Halwa lalu berjalan di samping pria yang kini telah menjadi suaminya.
Keduanya pun masuk dengan arahan pelayan yang ada di rumah itu. Namun, ketika Sin salah satu mantan pengasuh ingin mengantarnya ke ruangan pribadi milik majikannya. Randi seketika menghentikan langkahnya.
“Kenapa berhenti? Apa kamu tak ingin masuk ke dalam mas?” tanya Halwa di saat pria itu bukannya berjalan mengikutinya ia mengalah menghentikan langkahnya.
“Aku tak bisa menemanimu masuk ke dalam. Aku harus balik ke kantor sekarang, jadi kamu yang bertemu dengan tante Mira juga semua yang bekerja dan istirahatlah!” jawab Randi.
Halwa yang mendengar hal ini meminta Sin, untuk berhenti sejenak lalu berjalan menuju kamar, dengan tatapan rasa bersalah. Mungkin saat ini Randi sedang menjaga jarak, tidak mungkin Randi menyirami dirinya di saat hamil anak Evan.
Atau Randi mencari tau siapa seseorang yang mengancamnya, malam pertama menjadi pengantin. Sudah ada peringatan surat ancaman, apakah besok akan terjadi lagi? itu adalah ungkapan pikiran Halwa yang saat ini semakin berat.
"Nona. Mari saya antar ke kamar! Untuk Nyonya Mira mungkin saat ini telah tidur, sudah larut malam juga. Biasanya nyonya Mira tidak akan keluar setelah pukul delapan." jelas bibi Sin pengasuh rumah pribadi milik Randi.
"Kenapa begitu?" tanya Halwa.
"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu di sini sendirian Halwa." deru batin Randi yang ingin meninggalkan Halwa.
Sementara, Randi yang melihat Halwa telah masuk ke kamar utama. Ia kembali menoleh dan memikirkan, mengapa rasa canggung setelah menjadi suami.
'Jika aku bersama Halwa, aku tidak yakin bisa menahannya. Tidak! tidak sekarang Randi. Lindungi Halwa saat ini adalah utama, ketulusanku menikahinya. Jadi harus sabar menahan, mungkin perlu waktu tujuh bulan lagi. Setelah itu kembali menunggu setelah masa nifas.'
Pikiran Randi kali ini gelisah, ia berusaha menyibukan dirinya dan kembali keluar dengan mobil putihnya. Namun mengingat sudah pukul sebelas malam, tidak logis jika ia harus ke kantor. Maka dari itu Randi menahan diri di ruangan kerjanya.
“Dia benar benar wanita yang cukup berbeda dari sekian banyak wanita yang aku temui dalam hidupku! dan karna Halwa, aku tidak ingin melihat tanda air mata kembali membasahi pipinya. Halwa, ada apa dengan masa lalumu?" benak Randi gelisah, gugup.
Sementara Halwa yang keluar, ia berusaha mengambil air minum. Namun terlihat dengan piyama tidur, ia menatap Randi yang berada di ruang sebelahnya.
"Mas, kamu di sini?"
__ADS_1
"Halwa! maaf, mas ga jadi pergi. Kamu kenapa belum tidur?"
"Aku hanya ingin ambil air, aku haus."
Sejenak Randi senyum. Ia kembali meraih gelas yang berada di tangan Halwa. Dengan kilat ia juga membawa teko kecil untuk memudahkan Halwa tidur dan terbangun ketika haus di kamar.
“Apa aku boleh bertanya. Mas?” balas Halwa.
“Iya, katakanlah sayang,” jawab Randi.
“Malam ini sangat lelah, apa kamu tidak ingin tidur di kamar. Kita bisa berbagi ranjangkan?"
"Eehmph! Halwa, mas ga ingin kamu lelah. Kita pendekatan sebagai kekasih, karna kita yang bersahabat sangat canggung ketika di satukan menjadi pasangan suami istri. Kamu cukup lelah tidurlah! aku akan bersabar menunggu." bisiknya.
Randi segera mengantar Halwa ke kamar, menyelimuti Halwa, yang kini masih saling menatap. Randi adalah pria normal, saat jaraknya sedekat ini. Ingin sekali ia menjamah wanita yang ia cinta itu. Tapi ia juga tidak akan menyirami janin milik Evan, hanya sabar adalah penantian ujian Randi satu langkah lagi.
Halwa menarik nafas dalam dalam, ia tau letak kesalahannya adalah tidak bisa memberikan apa yang seharusnya menjadi hak Randi saat ini.
"Mas, kamu adalah pria klise. Sangat sempurna, andai kita di persatukan lebih awal. Mungkin malam ini aku adalah wanita paling bahagia .."
"Sssstt! hey, Halwa. Kenapa menangis, aku tidak apa apa. Ini bukan salahmu, aku akan tidur dan memelukmu dan bagaimana?"
"Kamu yakin, jujur jika kamu mau kita malam ini.." Halwa membuka kancing baju, namun di tahan oleh Randi.
"Sayang! aku akan sabar. Aku tidak ingin kamu menangis, mungkin memeluk sebentar adalah hal positif agar kamu tak menangis. Aku menikahi bukan untuk membuatmu menangis."
Sementara Halwa yang memeluk erat Randi dengan posisi duduk, rasa nyaman itu mulai terasa. Berat nafas Halwa saat dirinya adalah beban bagi pria yang sangat mencintainya.
"Mas, aku terlambat mengenal dan mencintaimu. Andai kita dipertemukan lebih awal.."
"Ssst! Halwa, kita sudah di satukan oleh ikatan pernikahan. Pasangan itu saling melengkapi dan saling menerima. Aku bukanlah pria sempurna yang kamu bayangkan. Berhentilah menyalahkan dirimu sayang!"
Hingga Halwa menatap ke wajah Randi, sementara Randi menatap Halwa dengan padangan menunduk.
__ADS_1
To Be Continue!!