
Zia merasa terkejut, kala teman lamanya benar datang. Dewi yang awalnya tak tau, akhirnya ia mau tidak mau jika Zia ada, mengurungkan niatnya tak jadi beralasan jika Zia sedang tidak ada di rumah atau sedang sakit.
"Lo ikutin gue San?" tanya Zia memijit keningnya yang menghampiri.
"Pake nanya lagi loh ah, duit gue habis buat traktir orang asing di tukang bakso. Amnesia loh!" ketus Sandi.
Zia hanya terkekeuh tawa, tanpa merasa bersalah ia duduk dan mengode Sandi agar ikut duduk. Bodohnya lagi, Zia masih tersenyum kala Sandi masih saja selalu nurut padanya.
"Aaaah, lagi lagi gue nurut ma ni cewe." lirih Sandi yang baru sadar menatap ketika telah duduk.
"Wkwkwk, itu udah jadi takdir lo Sand, mana bisa model lo kaya gini mau jadi kaka ipar gue. Gue tolak mentah mentah tau gak!" ungkap Zia.
Dewi sahabat hanya menatap kedua sepasang yang tak mengerti mereka sedang membicarakan apa.
"Tunggu, Zia jelasin. Kalian lagi ngobrolin apa sih?" tanya Dewi dengan senampan cemilan kue kering.
"Eeh iya, Sandi kenalin ni partner best friend gue. Dewi kenalin juga sob, ini temen gue waktu dulu masih sekolah." jelas Zia.
Dewi menjabat tangan Sandi, begitupun sebaliknya. Hingga di mana, Sandi mencecar habis habisan kenapa Zalwa yang menikah dengan Eros bukan wanita di depannya saat ini.
"Wa, jelasin sama gue apa yang terjadi. Gue ga terima, harusnya dia jadi bojo gue. Gue udah sukses, mau cari kerumah lo yang lama. Udah berapa kali gue liat, tapi di sana cuma ada orang bule penghuni baru. Ketemu lo, dan ujungnya menyakitkan." sebal Sandi.
Zia terdiam, ia menatap Dewi. Yang mana Dewi juga ikut pamit akan pembicaraan seriusnya saat ini.
"Zia, udah mau sore nih. Gue balik duluan ya besok pagi gue bakal datang lagi. Jangan lupa besok photo short buat iklan online kita!"
"Thanks ya Dew," balas Zia.
__ADS_1
Sehingga ia mengantar Dewi sampai gerbang, ia pun kembali ke ruang tamu. Yang di mana Sandi masih menatapnya dengan penasaran.
"Sand, lo pulang dulu gih. Cariin gue kontrakan yang sama persis kaya gini. Kalau udah dapat info kabarin, gue janji bakal jelasin. Tapi ga sekarang!"
"Dih, nyesel gue ngejar lo. Mana uang ganti bensinnya!" todong Sandi.
"Nih selembar, gue belum gajian. Lagian lo aja yang oleng, ga bisa pinter dikit. Cepet lo pulang, gue takut tetangga di sini ngarak kalau udah mau gelap, ada tamu lawan jenis!"
Sandi merasa kesal, ia menendang kursi sofa. Namun Zia tertawa karna teman sok jantan nya itu kesakitan tapi gengsi. Alhasil ia pamit dan meletakkan uang selembar di jidatnya. Lalu mengklakson kala dirinya telah masuk kedalam mobil.
"Gue cabut, awas klo ga nepatin janji lo Zia!" ancam Sandi, namun Zia hanya senyum melambai tangan dan masuk ke dalam rumah.
Zia kembali menatap online shopnya. Usahanya bersama Dewi masih terbilang merintis, mengingat jam lima sore adalah jam di rumah sudah tak ada orang lagi yang bekerja membantunya. Hingga di mana Zia menyalakan laptop dan melihat brand dengan nama Langit Indah.
Zia meneteskan airmata, kala dirinya mengingat Eros. 'Astaga, sudah sesulit ini melupakan. Tetap saja jika aku tak bisa mangkir, dari perasaan yang begitu dalam. Menjalani kisah asmara bersama pria yang populer penuh liku. Aku harus melupakan dengan apa, apa aku harus mencari pria online teman curhat. Agar aku bisa melupakan sosok pria yang aku tinggalkan tanpa kata.' ungkap Zia.
***
Di kantor Eros hampir menyelesaikan jam lembur. Hingga di mana rekan kerjanya yang gesrek meminta bantuan agar ia melancarkan misi love online nya.
"Ros, lo udah selesai belum?" tanya Emir.
"Belum, napa sih lo ganggu gue aja. Bentar lagi gue rapihin denah buat ketemu sama pa Rustan ini. Gue juga ga mau kalah sama tangan kanan insinyur cewe itu kan, hasil perusahaan kita lebih top nomor satu harus. Ga boleh ke geser!" ungkap Eros.
"Ya elah, lagian itu cewe datang buat kerjasama bukan mau nyaingin perusahaan kita. Lo ga denger atasan kita ya. Wah parah Lo, nih kuping udah terkena gangguan alam loh Eros. Cepet periksa!" cibir Emir.
"Ya udah, terserah Lo. Sekarang elo mau minta bantuan apa. Gue ga aman, kalau elo masih di sini. Ga konsen, Lo mau minta bantuan apa Emir!" sebal Eros.
__ADS_1
"Gitu dong, kan enak. Nih, gue lagi chat online. Minggu depan gue niatan mau ketemuan. Gimana caranya balas, kalau dia bilang gini. Jangan julid, gue gemeter nih. Ga pernah rasain di balas wanita seksi cantik dan cetar kaya profil komik, ya gak?"
"Hiih, jangan absurd dulu. Kepedean lo nanti bakal malu maluin, bisa aja ini bukan profil dia." jelas Eros.
Eros melihat status dan profil yang tak asing. Ia jadi mengingat Halwa, istrinya yang tak pernah bermain chating akun sosial media. Eros yang awalnya tak ingin penasaran, ia tersenyum kala mengingat dirinya dengan Halwa pertemuan dirinya saat itu.
SEPULUH MENIT .. HINGGA BERPULUH PULUH MENIT.
Emir merasa salah, akan akun update sosialnya di kuasai Eros. Hingga di mana ia menggerutu sebal kala dirinya juga hanya bisa mengintip.
"Gue yang punya, liat dong. Lo balas apa sih?" tanya Emir.
"Kan lo tadi minta tolong, ya udah gue balesin. Lagian gue ga akan menjerumuskan. Udah lo diem aja! tunggu balasan lagi. Tar juga lo baca,"
Hingga selesai Eros meletakkan ponsel Emir yang bisa tersambung kode ketika ia akan melihatnya di laptop sendiri. Jujur Eros merasa bukan ingin selingkuh, niatnya hanya mengerjai dan memantau Emir yang sedang pedekate. Sampai di mana raja jomblo yang tak tersentuh wanita akan bisa menggaet seorang wanita.
'Udah gitu doang, lo udah mau balik Ros?" teriak Emir kala Eros sudah membenahi perlengkapan kantornya.
"Ya lah, mau keukeupin bojo. Masa ia lembur terus," goda Eros pada Emir. Emir hanya menggeleng kepala, kala dirinya masih harus menyelesaikan di kantor sendirian.
Eros kala menyetir mobil, ia tersenyum mengingat profil dan nama indah masa lalunya. Masa ketika ia bertemu Halwa dan tak tau jika dirinya adalah adik kelas.
BRAGGH!! REM MENDADAK EROS KALA MELIHAT DI DEPANNYA.
***
Hayoo .. kira kira kenapa ya sama Eros? jejaknya boleh buat dukung Splite Mariage.
__ADS_1
Note : Tim Halwa or Tim Zalwa. Kira kira jodoh Halwa asli atau Zia siapa ya??