Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
TANYA ANAK


__ADS_3

"Kenapa kaget ya, atau kamu terkejut karna aku bisa menemukan kamu?" ungkap wanita itu.


"Halwa, siapa dia?" tanya Randi.


Halwa terdiam, ia bingung untuk memberi tau apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, antara Luna dan Zalwa. Sehingga ia meminta kode pada Sandi dengan kedipan sebelah mata.


"Sorry Halwa! Gue di teror ma ini perempuan, dia mau ketemu Zalwa..,"


"Dan kebetulan sekali kita bertemu di sini kan?" ungkap Luna dengan memasang wajah sinis pada Halwa.


"Bukan dia, itu namanya Halwa." ungkap Sandi.


"Sand, .." keliru Halwa.


"Gue keceplosan .. soal lo itu kembar, dan salah orang saat labrak lo waktu itu, masih inget kan Wa? Gue cuma gak mau lo jadi sasaran terus?"


Mendengar hal itu, Randi mengrenyitkan alis. Ia mungkin sedang beruntung, seolah ingin mencari tau tentang Halwa dan Zalwa di masa lalu adalah tepat.


"Ini siapa kamu?" tanya Randi.


"Dia kak Luna, teman Zalwa. Dan Itu Sandi teman sekolahku. Kenalkan juga ini Randi." ungkap Halwa.


"Gue bukan teman, musuh dan selalu jadi musuh." jelas Luna.


Luna menarik Halwa, ia meminta di pertemukan juga dengan Zalwa saat ini. Jarak kediaman ibu Halwa sekitar sepuluh meter, dari parkiran umum. Sehingga Halwa meminta Luna untuk tidak saat ini bertemu. Halwa tak ingin ada keributan, yang memancing gula darah sang ibu kepikiran dan mengakibatkan masuk rumah sakit.


"Bisa tidak lain waktu saja, karna .."


"Gak mau tau, gue mau lo temuin gue sama Zalwa! masih banyak urusan yang belum kelar, gue cuma mau tau dimana anak gue!"


"Anak?" bingung Halwa.


"Lo sendiri aja bingungkan? Cepat kasih unjuk gue! mana nomor ponselnya!" Luna merebut ponsel Halwa dan mencari kontak Zalwa. Benar saja ia menemukannya dan segera mencatat pada ponsel milik pribadinya.


"Kamu bisa temukan aku dengan dia! Atau kamu yang aku seret, karna kamu bersekongkol."


"Bersekongkol? jelasin dulu, apa maksudnya ..?"


"Hadeuh!! Please ya ..." belum sempat Luna menjelaskan, seseorang menarik Halwa dan memberikan wanita cerewet itu pada teman Halwa yang bernama Sandi.


Mendengar pertikaian Halwa dan Wanita itu, Randi segera melerai. Menarik Halwa, lalu menunjuk pada wanita di depannya.


"Kalian, jika tidak percaya! silahkan cari sendiri!"


"Hey!! gue belum selesai .. dasar pria brengs.." kesal Luna.

__ADS_1


Randi memaksa Halwa masuk kedalam mobil, ia meninggalkan tatapan dua sejoli, sungguh membuat tatapan Halwa merasa tak karuan. Kala melihat Randi, melindunginya seperti itu.


"Lucu juga ya .. ?"


"Apanya?" ketus Randi masih menjalankan setir mobil, dan melihat spion.


"Lucu, sikap kamu tadi tuh. Bikin aku lega gak perlu menjelaskan pada kak Luna."


"Sebal! ga bisa aku lihat kamu terus terusan kaya gitu, mending biarkan urusan Luna bertemu Zalwa. Sudah cukup kamu membatin Halwa."


Halwa terdiam, tapi semoga saja Sandi bisa menjaga agar Luna tak melabrak Zalwa. Ia takut karna, tak bisa menghalangi. Zalwa akan kembali menyalahkannya.


Randi yang melihat Halwa kembali murung, ia segera menatap wanita itu dan berkata dalam batinnya. 'Semoga saja, Halwa bisa melupakan masa sulitnya, dan menerima ketulusannya. Jika aku tulus untuk melindunginya.'


Uuuueeek!! Halwa menahan mual, tiba saja ia ingin sekali makan pedas.


"Kenapa lagi?" tanya Randi.


"Gue .. Uuuueeek. Uuuuuuek!"


Randi memberhentikan mobil sedannya, lalu dengan sangat kecewa. Ia segera melangkah untuk membeli minuman. Dan memberikan pada Halwa yang masih saja terlihat lemas.


'Demam, aku antar kamu ke rumah sakit!"


"Enggak! please Randi, gue pasti baik baik aja."


"Pengen rujak pedes asem. Tapi udah mau magrib gini, ada gak ya? Biasanya gue ngeletug itu Randi." jelas Halwa masih menempelkan minyak angin ke hidungnya.


Randi segera menjalankan kembali, namun ada yang aneh. Kala dirinya harus melihat Halwa seperti ini. Tidak ingin ke rumah sakit, sembuh dengan sebuah asam dan pedas. 'Aneh.'


Setelah mencari beberapa puluh menit, Randi memberikan buah asam yang membuat linu bibirnya. Kala melihat Halwa memakannya dengan lahap tanpa ekspresi aneh. Setelah habis, Halwa mengecap bumbu sambal rujak pada jarinya. Mengelap pada tisue basah, dan senyum pada Randi berterimakasih.


"Lo hamil ya?"


Uhuuh!!Uhuuuuuk. Sekilas Halwa terkejut, akan pernyataan Randi menanyakan secara intens. Enggak, tidak boleh ada yang tau. Itu adalah pikiran Halwa saat ini, menyembunyikan serapat mungkin. Agar tidak ada yang tau, anak ini dan perutku yang kelak akan membesar nantinya.


"Waah! ngadi ngadi loh. Mana ada, gue udah kebiasaan kalau sakit. Pasti selalu minta yang aneh, buat ilangin pusing dan mualnya. Biasalah vertigo." alibi Halwa.


Dengan mudahnya juga, Randi senyum percaya pada wanita di sampingnya itu. Mereka kembali menempuh perjalanan kurang lebih puluhan jam, meski sering berhenti di terminal atau sekedar mengisi di spbu.


***


Eros menatap jelas tulisan. Ia menatap perlahan nama lengkap dan tanggal lahir wanita bernama Halwa Tusabina dan Zalwa Tusabina.


"Emir. Cepat kau cari identitas yang saya kirim sekarang. Dua nama dan asal muasal mereka secepatnya!" pinta Eros setelah menelpon.

__ADS_1


Eros memijitkan alis, menempelkan ponsel dan berfikir. Entah mengapa ia merasa tertarik pada wanita itu. Rasa kecewa dan amarahnya akan terbalas.


Pertemuan yang tak di sengaja. Bukan satu atau dua kali. Girls .. jika aku menolongmu lagi. Kamu tidak berterimakasih! Akan aku beri kamu perhitungan!! itu adalah pertemuan pertama Halwa dulu, setelah sekian lama bersama Eros.


Tak lama pesan dari Emir sebuah berita meski sedikit tapi jelas untuk di Jabarkan.


"Aku tidak tertarik Pah. Hanya penasaran, tidak mudah menerima calon menantu jika tak baik. Jika wanita itu berasal dari anak haram .. sudah pasti pernikahan itu tak terjadi. Sebenarnya apa yang di sembunyikan keluarga mereka?" ibu Ratna meletakkan benda pipih.


Hal itu membuat tatapan Eros terdiam kala kedua orangtua masih berselisih akan pertikaian masalahnya.


"Astaga Zia Tar lo liat ya, nanti gue kasih link nya. Okeee .. !" sapa Dewi kala melihat, mobil terparkir di depan rumahnya.


Halwa!! jelasnya, ia berdeheum agar Dewi memanggil nama itu lagi. Dewi menyempitkan matanya. Lalu memulai kembali pekerjaan dengan banyak laporan yang harus ia kerjakan saat ini. Menarik Halwa untuk memberikan sebuah berita yang harus sahabatnya itu lihat. Sementara Randi menarik koper barang barang Halwa.


"Gue pulang dulu ya! kabarin kalau ada apa apa ya Halwa?!"


"Thanks ya Randi."


Seperginya Randi, Halwa kembali menatap Dewi. Lalu berbicara serius untuk meminta solusi.


"Gue pas balik, ketemu kak Luna."


"Luna, teman sekelas Zalwa. Mau apa dia ..?" santai menuang sirup untuk Halwa dan dirinya.


"Cari anaknya,"


Byuuuiuur.


Sebuah kesalahan, Dewi tak sengaja yang sedang minum menumpahkan air berwarna merah, mengenai baju Halwa. Karna terkejut akan ucapan Halwa.


"Ah! sory Halwa!" mengambil tisue.


"Udah gak apa, kira kira lo tau gak sih, kenapa Luna sekesal itu,?" menatap Dewi dengan saling bingung.


To Be continue!!


HEY! KARNA AUTHOR BUAT KISAH NEW PENGGANTI KISAH CLARA!! TEKAN KLIK NAMA AUTHOR KALAU GA NEMU JUDUL INI YA!!


TOLONG MASUK RAK AJA DULU, BACANYA NUNGGU BANYAK.


"Gak Masalah?" senyum Author.



~ BAD WIFE ~

__ADS_1



__ADS_2