Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
MENGUNTIT


__ADS_3

"Kamu habis nangis?" tanya Randi yang baru saja menemukan Halwa.


"Enggak! mataku kelilipan, udah sekarang kita mau. Kamu udah selesai ketemuan pak Albert?"


"Udah .. tapi beneran kamu enggak apa apa? aku ngerasa ga enak ninggalin kamu lebih dari satu jam Halwa."


Halwa hanya senyum, keberadaan Randi saat ini membuat Halwa yakin. Jika bersamanya, ia akan baik baik saja. Dukungan dan suport Randi yang luar biasa, membuat Halwa tak ingin menceritakan apa yang baru saja terjadi, apalagi sampai masalah terberat di masa depan karna masa lalunya.


"Permisi.. Maaf nona! ini paperbag dan kartu blacknya tertinggal." ucap karyawan butik.


Hal itu membuat Randi meraih, senyum mengucapkan terimakasih. Lalu merangkul tangan Halwa untuk menggenggam tangannya.


"Kamu beli dress apa, boleh aku liat?"


"Rand, nanti aja di rumah. Aku ga mau kamu lihat sekarang!"


Halwa berdegup takut, ia tak mau Randi melihat dress yang ia beli ada noda kotor. Yang membuat Randi bertanya lebih, serta melakukan hal buruk pada Zalwa nantinya.


"Ok! baiklah kalau kamu ga mau aku lihat, aku percaya padamu. Jangan lupa saat ini kita ke lantai enam, butik dan kebaya pernikahan sudah aku kontak langsung designernya. Jadi aku mau kamu yang memilih Halwa!"


Hal itu lagi lagi membuat Halwa semakin terharu. Ia juga lega karna kartu Randi kembali, juga ia karna sempat lupa akan dress yang mungkin telah rusak di beli. Dan berharap Randi tak pernah melihatnya.


Sementara Zalwa yang masih melihat Halwa terlihat bahagia memilih gaun bersama Randi. Ada rasa kesal yang membuat ia semakin emosi tertahankan.


'Dia harusnya ga boleh nikah, kenapa dia selalu beruntung sih?'

__ADS_1


"Mau sampai kapan lo liatin Halwa?" ungkap Sean pada Zalwa.


"Gue gak mau pernikahan Halwa berjalan lancar, dia harus gagal kaya gue. Gue yang harusnya ada di posisi pertama keluarga Sanders!" cetus Zalwa.


Sementara Sean juga merasa janggal, karna tidak biasanya Zalwa yang ia kenal merasa tersaingi dengan adiknya sendiri. Apalagi setelah gugatan perselisihannya dengan mantan suaminya Eros.


"Zalwa, kok bisa Eros kaya gitu? Apa sebelumnya dia pernah lakuin hal lebih, kenapa udah berpisah tapi lo ga nyaman sama pernikahan Halwa. Emangnya Eros mau balikan ngejar Halwa lagi ya?"


Pertanyaan Sean membuat Zalwa malu. Lalu ia berkata jika ia tak ingin membahasnya. Karna memang rasa cinta itu tumbuh pada pria bernama Eros, tapi saat bertemu Evan dan tau yang sebenarnya ia mulai mengejar.


"Please! nanti aja gue jawabnya ya. Nanti gue kehilangan jejak Halwa, gue ga mau ilang kesempatan."


"Zalwa. Sorry ya! tapi mungkin Mas Eros bisa aja jatuh cinta kalau kamu merubah penampilan kamu seperti tadi! atau lo naksir Randi ya?"


"Bukan! gue gak penting soal Halwa yang bakal di gugat Eros. Tapi gue mau dapetin Evan, dengan begitu gue bisa buat Halwa semakin terpuruk."


Tak lama Randi melihat kebaya yang di kenakan Halwa sangat indah. Warna yang berbeda, gold renda keemasan. Terlihat soft kala pencahayaan redup, kebaya itu akan berubah warna biru soft.


"Rand, apa gak kemahalan?"


"Kita menikah hanya satu kali, setelah ini kita ketemu tante Mira untuk restu. Kamu siap?"


"Rand.. Aku," sedikit lola karna perasaan Halwa masih takut bertemunya Evan.


"Aku sudah memesan villa. Evan tidak akan datang, waliku hanya akan di hadiri paman dan orangtua angkat ku dari cianjur. Kamu ga perlu khawatir Wa!"

__ADS_1


"Makasih ya! ibu dan ayahku juga sudah merestui, tapi bagaimana Zalwa?" lirih Halwa yang bingung.


Perkataan Halwa ada benarnya. Tapi bagi Randi penuh dengan tanya.


'Apa seseorang bisa jatuh cinta. Dan aku bisa membuang luka kesedihan di hatimu Halwa?'


Halwa terdiam menatap Randi. Tak ingin mempermalukan lebih dalam dirinya pada Randi, yang ia anggap sahabat, tapi merubah kekaguman.


"Kok diem sih?" tanya Randi.


"Aku ... Euuum ..Nanti ya Rand, kebelet tar aku bicarain lagi. please jangan ngambek!"


Dasar Halwa pasti ngehindar lagi. Sebenernya apa sih masalahmu sama keluargamu itu? tutur Randi menaikan satu alis.


"Halwa. Jujur sama gue semuanya!" tatap tajam Randi dengan nada naik satu oktaf, ia menahan tangan Halwa karna seperti ada yang di sembunyikan.


"Kamu tau kan? ketika menjalin pernikahan. Tidak boleh ada yang di tutupi! Halwa, bicaralah agar aku bisa membantumu!" bisiknya masih mode memeluk tangan Halwa.


Apa aku bisa menceritakan semuanya? Dan apa kamu akan percaya Randi. Kamu adalah pria yang terbaik yang aku kenal. Hanya saja kita terlambat bertemu, sehingga luka itu masih menempel dan aku tidak tau harus berbuat apa saat ini.


"Aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari kamu Rand." senyum Halwa.


Namun saat Randi ingin mengangguk, ia menoleh ke arah kanan. Terlihat seorang wanita memperhatikan geriknya. Dengan sadar Halwa segera menoleh ke arah tatapan tujuan Randi yang bergerak ingin menghampiri.


"Kamu mau kemana Rand?" cegah Halwa.

__ADS_1


To Be Continue!!


__ADS_2