
Halwa yang terdiam lemas, ia sudah pasrah. Dengan bola mata yang bergelimang merah, tak tau harus berlaga apa. Sudah habis untuk dirinya bertumpu bahkan menyembunyikan untuk menguatkan dirinya nya saja ia sudah tak sanggup.
Lemas! Halwa pingsan, dalam pangkuan Randi. Dengan cepat Randi segera membopong, tak memerhatikan karyawan lain yang melihatnya. Tak terkecuali Sean, ia adalah karyawan service center, sekaligus sahabat dari Zalwa. Ia segera melaporkan, jika Halwa yang telah di tendang saat ini berada di kantor. Sean tak lupa mengabadikan dengan ponselnya untuk melapor pada Zalwa.
Randi yang panik, ia masih menunggu dokter keluar dan mengatakan keadaan Halwa saat ini. Tak lama, yang di nantikan Randi bergegas.
"Bagaimana dok?"
“Sekarang pasien akan dipindahkan ke ruangan Recovery. Sebaiknya biarkan ia beristirahat dulu,” lanjut dokter tersebut dengan senyum yang menenangkan.
“Baik. Terima Kasih atas bantuannya dokter,” ucap Randi dengan senyum haru.
"Tapi, saya mohon jaga kandungan istri bapak! usia yang telah jalan enam minggu memang sedikit rentan. Terlebih asupan gizi sang ibu kurang. Saya akan membuatkan resep agar nutrisinya terpenuhi."
Randi terdiam, ia sulit untuk berkata. Hanya mengangguk dan sedikit patah akan pernyataan Dokter saat ini.
'Hamil enam minggu! istri, Haakh!'
Di ruang recovery. Halwa tengah tertidur nyenyak. Randi yang menatap wanita yang ingin ia gapai, begitu sulit semakin ia kejar.
'Apa yang harus aku lakukan, wanita itu kenapa harus kamu Halwa?'
Kali ini Randi pergi ke sebuah cafe tak jauh dari rumah sakit. Ia bertemu seseorang agar merefresh otak dan pikiran yang tidak singkron. Belum lagi soal hatinya yang remuk namun cinta untuk wanita bernama Halwa sangat dalam.
"Lo tumben ajak gue!" cecar Sandi.
"Pertama lo itu sahabat Halwa masih jaman sekolah kan? lo tau apa aja yang buat Halwa sedih. Atau masa lalu pahit gitu?"
"Soal itu! gue emang temen deketnya, tapi masalah lebih gue gak yakin. Semenjak Halwa di tinggal kembarannya dia sangat histeris. Itu yang gue tau, kecelakaan pas kejadian dia kritis. Tapi gue juga heran setelah lama gak jumpa. Zalwa kembali dan biasa aja,"
__ADS_1
"Maksudnya?" bingung Randi.
"Gue gak mau menerka sih nih ye! Soalnya Halwa bilang kalau kakaknya itu, semenjak kecelakaan dia itu sedikit berubah. Jadi wajar, kalau sikap Zalwa nyebelin ke Halwa. Meski gue gak yakin."
"Dia orang berbeda maksud Lo?" cetus Randi namun Sandi menggeleng kepala karna tidak mau menebak.
Randi tersenyum manis dengan tatapan yang berbinar.
“Pertama kali aku bertemu dengannya, dia sedang kesulitan. Aku memberikan sedikit bantuan. Dia terlihat manis dengan tingkah apa adanya. Tanpa dibuat buat. Lalu melihatnya saat ini di rumah sakit, hati gue ikut sakit."
“Ck! Sepertinya anda sedang jatuh cinta. Tapi anda harus menerobos dinding pak Randi! Halwa sulit jatuh cinta, tapi jika ia telah jatuh cinta. Sebaliknya." ungkap Sandi.
Perkataan Sandi, teman kecil Halwa memang benar. Tapi ia lebih sulit ketika harus menerima Halwa dengan tubuh yang menopang janin. Jelas! ia juga tak tau, siapa yang tega berbuat seperti itu pada wanita yang ia kagumi. Sakit, tapi terlihat bodoh jika aku harus menikahinya ketika Halwa sulit untuk mencintaiku.
"Mohon bantuannya Sandi, gue harus kembali cek kondisi Halwa sekarang juga!"
“Siap boss!” ucap Sandi sambil berjalan meninggalkan pak Randi.
"Kamu baik baik saja Halwa."
"Randi, aku dimana. Hah! a- aku tidak mimpi kan?"
"Kamu sehat! juga bayimu, jangan khawatir aku akan menjagamu." lirih Randi, ia mencintai tapi sangat sakit kala melihat Halwa lemas seperti ini.
Halwa kembali menangis, ia begitu jahat kala bersikap menggantung pada Randi. Sementara dua pria yang ia anggap baik, dan sangat mencintainya dulu, kini seperti musuh dan ingin melihat aku sengsara.
"Randi, setelah semua ini. Lo ga benci gue. Gue adalah wanita murahan. Huhuuuu." isak tangis Halwa.
"Kamu bukan wanita seperti itu, aku yakin. Mulai saat ini panggil sebutan. Aku dan Kita, Randi Sanders akan selalu ada buat kamu Halwa Tusabina!"
__ADS_1
Halwa masih tak mengerti akan perkataan Randi. Yang jelas ia hanya menurut ketika Randi menaikan bahunya sedikit, lalu menyuapinya sup ayam kampung dan buah buahan yang telah ia potong kecil.
"Sup ayam kampung sangat bagus untuk ibu hamil, dan satu lagi jangan menangis. Setelah ini aku akan siapkan sebuah tempat tinggal! jauh dari kesengsaraaan."
"Maksud kamu Rand?" masih mengunyah sup.
"Halwa! aku tak akan bicara pada siapapun, tapi aku tulus mencintaimu. Siapapun ayah biologisnya. Aku akan ikhlas menikahimu, menjaga kamu dan dia, sebagai anak kita!"
Uhuuuk! Halwa begitu terkejut, ia masih tak percaya perkataan Randi yang sangat membuatnya sulit untuk bernafas. Randi segera memberikan segelas air putih dan Halwa pun meminumnya dengan pelan.
"Apa aku terlihat bercanda?"
"Rand! aku bukan wanita baik, kamu layak mendapatkan itu dari wanita baik baik. Tidak sepertiku."
"Halwa! ijinkan aku, menjadi kebahagianmu dan anak ini. Aku ikhlas menutup aibmu, dan aku tidak akan menyentuhmu sampai masa nifas dan sampai kamu jatuh cinta padaku!"
"Randi, apa kamu pria sesempurna itu yang mencintaiku. Kamu yakin dengan keputusanmu itu?" menangis Halwa di depan Randi.
"Llillahi ta'ala. Aku ikhlas menikahimu karna tulus sayangku padamu Halwa Tusabina. Maka dari itu, aku mungkin salah jika berkata seperti ini di rumah sakit. Mau kah kamu menikah denganku, menjadi pendamping hidupku?"
Deuuugh!! Halwa terdiam, kala sebuah kotak cincin Randi buka dari saku kantongnya. Tubuhnya kaku, lemas dan gemetar kala melihat sikap Randi saat ini.
'A- aku .." terdiam Halwa.
"Simpan dulu! jika kamu terima, pakai. Aku mungkin tak semanis dan romantis pria lain. Tapi aku benar benar mendadak mengambil ini dari rumah, oleh supir." gelak tawa Randi sedikit tersipu di hadapan Halwa.
Hal itu membuat Halwa tersenyum, ia bahkan tak tau harus bilang apa. Jujur saja Randi telah menyiapkan cincin sudah lama, tapi kesempatan saat ini dalam kondisi ia yang buruk.
'Bahkan aku yang harusnya malu. Kamu yang tersipu berkata aku malu. Jujur saja, apa yang harus aku katakan. Kamu pria terbaik yang aku kenal Randi Sanders. Tapi jika kamu mengetahui ayahnya. Apa sikapmu akan berubah?' benak Halwa.
__ADS_1
To Be Continue!!.
Kira kira ada yang tau gak? Halwa bakal kasih balasan apa buat Randi. Jejaknya Yuks!!