Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
TRAGEDI ZIA


__ADS_3

Zia kini merapihkan beberapa map, di meja ruang pak Evan. Hari ini ia semakin di kejutkan dengan sebuah kotak makan dari Eca, meski ia dapatkan ketika Eca kembali pergi dengan seorang supir ke sekolah tapi selalu menyempatkan ke kantor. Saat di loby, ia begitu malu kala Eca anak bos memanggilnya dengan lembut tak seperti biasanya.


'Tante, ini hadiah dariku. Dimakan ya, untuk sarapan!' Eca senyum melambai tangan, ketika sebuah pintu mobil mewah akan tertutup.


Zia hanya ikut melambai, namun tatapan karyawan lain membuat ia merasa aneh. Hingga ia lebih cepat masuk ke ruangan kantornya, dan memeriksa beberapa map dan denah untuk pak Evan meeting beberapa puluh menit lagi. Sehingga ia menunggu untuk memberikan laporan pada bos nya itu.


Eheeuuuuum!! deheuman pak Evan tiba masuk ke ruanganya. Zia pun senyum menunduk hormat, lalu dengan sadar Zia kembali memberikan laporan dengan beberapa penjelasan yang kala itu pak Evan menarik dasi duduk di kursi kebesarannya.


"Begitulah pak, saya sudah mencetak semuanya di sini. Apa bapak jelas, atau ada yang perlu saya rubah?"


Zia merasa sempit memundurkan langkah dan senyuman. Kala pak Evan menatapnya semakin serius. Dengan hati tak karuan, ia segera membuyarkan tatapan pak Evan.


"Pak, maaf pak. Apa bapak ada lagi yang di butuhkan?" melambai tangan, lalu menoleh ke pak Kean.


"Owh. Tidak cukup bagus, hanya saja makan siang bersama. Ya, itu lebih bagus."


"Haah, apa makan bersama. Maksud bapak, saya harus mengulang semua gambar dan struktur ini di saat jam makan siang?" sebal Zia menatap sinis.


TUUIING .. !! PIKIRAN EVAN TAK SINGKRON, MENAIKAN SATU ALIS MENATAP KEAN ASISTENNYA.


"Baiklah, pergi saja. Semua sudah cukup bagus!" titah Evan. Zia pun kembali pamit pergi, sambil mengulang kata dan melihat hasil kerjanya di sebuah tablet onlinenya.


Pak apa saya harus bertindak?? tanya Kean sekertaris Evan yang tak jauh beda datar dan flat seperti tokoh uncle muthu di film kartun saat bertanya.


"Tidak cukup, jika bukan karna Eca bocah itu, tidak mungkin aku melakukannya." menatap layar monitor, namun lagi lagi ia merasa terpikirkan akan penanganan karyawannya Zia, jika ia tidak cepat membawa anaknya kerumah sakit. Mungkin ia akan merasa bersalah, hanya saja sulit mengatakan terimakasih.


"Baiklah, saya permisi bos." ungkap Kean yang tau, jika sang bos masih saja gengsi dan seperti biasa sulit berterimakasih.


JAM MAKAN SIANG TELAH TIBA.

__ADS_1


Zia kembali menatap satu kotak kecil makan berisi sandwich. Jujur itu adalah sandwich terenak yang ia dapat, hanya saja dengan potongan anak kecil membuat Zia merasa tidak kenyang. Tapi perlakuan anak kecil itu, sudah sedikit berkurang. Hingga di mana, saat ia melihat sebuah mobil yang sudah pasti anak itu kembali datang ke ruangan bapaknya. Yakni pak Evan bosnya.


"Hei, sungguh tepat. Padahal aku mau makan siang di luar, ga sengaja ketemu dengannya. Baguslah, aku mungkin bisa sekalian mengantar kotak makan nya." benak Zia.


Hingga di mana Zia terhenti melangkah, kala Eca membuka pintu mobil dan berteriak kencang.


Dady!!! teriak Ecarlos anak laki kesayangan bos yang selalu datang ke kantor.


Zia terdiam kala anak itu berlari, namun mungkin saja saat ia tersenyum pada Eca, anak itu hanya melintas balas senyum. Tapi bukan main, keusilannya tak pernah sedikitpun berhenti padanya. Meski telah di tolong, tetap saja Zia kembali mendapat masalah dan mungkin akan malu di kenang seumur hidup ia bekerja di kantor.


Eca melewati, namun ia menarik tangannya dan mendorong tubuhnya tepat pada tatapan pak Evan yang berdiri yang harusnya menyambut Eca sang anak. Namun tak di sangka anak itu hanya tertawa terbahak bahak dan membuat dirinya semakin malu saat menjadi tontonan.


BRUUUGH!! ZIA TERJATUH.


Zia membuka mata, tubuhnya benar saja kenyal seperti benda sesuatu yang menempel begitu saja dan melayang di atas permukaan aspal? tapi tak sakit dan berdarah. Hanya malu, membuat matanya terbuka lebar. Karna ia tepat jatuh di atas tubuh pak Evan.


Eca berdiri dan menutup mata, lalu tanpa sadar Evan sang bos tak bisa memarahi sang anak di depan tatapan seluruh orang. Bahkan karyawannya, Zia menutupi roknya yang robek, lalu bingung ingin melangkah kemana.


"Maaf pak! Permisi," tanpa melihat arah wajah Eca anak nakal itu.


Zia melangkah ke kanan, Pak Evan juga. Zia melangkah ke kiri pak Evan juga. Hingga tiga kali, mereka saling menatap. Pak Evan langsung menyingkir agar Zia kembali berjalan duluan.


"Zia tunggu!" teriak Evan dan Zia hanya diam mematung, setengah tangannya menutupi roknya yang robek tersangkut suatu benda.


"Paki ini, maaf!" lirih Evan.


Zia lalu kembali berlari tanpa menatap, meski Eca sang anak terlihat begitu senyum. Kala melihat Dady nya benar benar seperti salah tingkah. Ia kembali membuang muka, kala menatap anak kecil itu. Hingga di mana, wajah memerah terlihat jelas meski Kean sekertaris nya mengetahui.


"Lihat apa kau, dan kau Eca. Ikut aku!" Evan menarik tangan anak itu, lalu masuk kedalam mobil. Sudah tak bisa di pungkiri, sesekali ia menyentuh bibirnya yang baru saja menempel.

__ADS_1


Astaga, tidak Evan. Kau tidak boleh jatuh Cinta!! batin Evan bergumam.


Sementara Zia, ia masuk kedalam ruangan kerja. Setelah berlalu dari toilet, lalu ia menuju arah pantry meski beberapa orang karyawan berbisik bisik. Ini adalah hal yang memalukan bagi Zia, jika ia di kerjai oleh anak kecil bernama Eca dengan menumpahkan dan merusakan kerjaannya. Ia sudah tak asing, dan bisa menerima. Tapi mendorong dan menariknya hingga jatuh ke pelukan pak Evan, lalu bibirnya bersentuhan adalah hal memalukan bagi Zia.


"Astaga Zia, sebentar lagi pasti akan perang dunia akan di mulai." gerutunya mengaduk pop mie.


"Heuum, hebat banget ya. Udah bisa ambil hati bos nih, bagus juga itu jas di lilitin rok murah, ga sebanding banget. Iya gak?" ucap Merlin menyapa teman sebelahnya Dewi.


Zia ingin sekali menampar, tapi ia masa bodo akan semua karyawan yang tak menyukainya. Merasa dirinya benar benar bekerja dengan secara jujur.


"Hei anak baru, inget ya. Jangan harap lo bisa taklukin hati pak Evan!" Zia yang melangkah pergi saat ingin menghiraukan, ia langsung berbalik arah dan menatap Merlin.


"Heeh, denger ya. Gue ga minat pacaran apalagi nikah. Apalagi suka dan incar pak Evan. Jadi camkan ingatan di otak lo, gue kerja bukan cari jodoh!" bisik lantang Zia menggeser bahu Merlin.


"Sialaan loh. Awas lo ya Zia," sebal Merlin menepuk pundaknya seperti jijik.


Hingga tepat saat di lorong, Zia menatap pak Evan yang mungkin saja ia telah mendengar percakapannya tadi bersama wanita wajah dua seperti Merlin.


"Zia, ikut saya!"


"Haah, kemana pak, sekarang?" panik Zia.


"Ya, apalagi. Cepat, kau bawa dan turun lebih dulu. Tunggu saya di mobil!" Evan senyum menarik dan melonggarkan dasi.


Uhuuuk .. Uhuuuk. Zia terbatuk, kala perkataan perintah pak Evan. Sementara tatapan seluruh karyawan sinis padanya.


"Astaga kesalahpahaman apalagi ini. Tumben banget pak Evan nyuruh gue semobil. Apa gledek petir di siang bolong mampir ke kantor ini?"benak Zia.


Hayoo kira kira ada apa nih sama Zia, ada yang tau mereka kenapa ? jejak yuuks!!

__ADS_1


__ADS_2