Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
PENOLAKAN


__ADS_3

"Dia udah enggak mau liat, Gak usah dikejar!" ungkap Randi.


"Siapanya Halwa lo?"


"Gak penting siapa gue, yang jelas gue care dan baik di saat Zia sedih. Gue selalu ada."


"Bulsyiit! namanya Halwa Tusabina. Kenangan dan gue amat berarti dari orang yang baru dekat."


Kenangan lama yang hanya jadi debu!! lirih Randi. Ketika pria itu menghentakan tangan, pergi begitu saja.


Sementara Eros mengejar Zia. Hingga dimana, Zia melupakan Dewi yang masih berada di rest area resto kantor.


"Halwa tunggu!! temui untuk terakhir kalinya. Jika semua yang kamu bilang Zalwa terbaik. Temui besok malam untuk melepas semua kenangan langit indah selama tujuh tahun. Mas hanya ingin dengar dari kamu seorang!"


Zia terdiam, ia melepas kembali pegangan tangan Eros. Hingga dimana ia kembali berlari menepi masuk ke loby menuju lift.


Zia merasa sesak, menatap beberapa detik bicara saja. Ia sudah sulit untuk bicara, bagaimana bisa bertemu untuk datang. Zia tidak mungkin mengkhianati Zalwa. Dia bukan tipe yang menelan kembali ludah. Baginya Zalwa dan orangtua sudah menjelaskan. Ia sudah tidak berhak ikut campur, semua terbayar dengan permintaan Ayah saat itu yang tak ingin melangkahi sang kakak. Sehingga ia ingat kata kata terakhir sebelum pergi dari rumah. Meninggalkan kebaya untuk Zalwa agar menjadi dirinya.


"Jadi kamu mau menikah?" Tanya Ayah.


"Dengan Eros yah! Ayah tau dia itu keluarga Bahrein. Itu cukup tinggi untuk menaikan nama ayah di kantor." jelas Ayah.


"Bagaimana dengan Zalwa. Ayah, dia tidak mungkin dinikahi dengan Bahron. Kamu tau kan dia itu pria yang kasar dan sering berjudi?" kesal ibu.


"Lantas, apalagi. Bukankah kamu tau bu. Hutang kita pada keluarga Bahron sangat banyak. Tidak masalah Zalwa jadi istri muda yang ketiga juga."


Deuugh!! Hati Halwa terasa teriris, ia melihat sang kakak meratapi dikamar dan ia tau betul siapa Bahron. Sehingga ia pergi kerumah Bahron untuk bernegosiasi. Dan kala lamaran Eros, Halwa meminta Zalwa menjadi dirinya. Hal itu pula ia meminta sang Ayah untuk tidak kasar pada ibu dan sang kakak.


"Dasar anak tidak tau diri, membuat malu Ayah pada keluarga Bahron. Plaaak!" tamparan mendarat pada pipi Zia. Sehingga Zia diusir dari rumah dan itu adalah hal terakhirnya melihat ibu dan kakaknya bahagia.


"Halwa. Kembali dek!! Eros hanya cinta sama kamu!" teriak Zalwa.


"Kak, Eros pria baik. Suatu hari ia pasti mengerti dan mencintai kakak."


Zia masih tersendak menangis di dalam lift. Ia mencoba menghapusnya kala mengingat semua itu. Tak sadar Evan masuk kedalam lift, menatap Zia mundur memojok menutupi wajahnya yang terlihat merah menangis.

__ADS_1


Jika saja Evan tidak bersama klien dari paris. Dan tidak berada di area kantor. Mungkin Evan akan memeluk Zia saat ini. Profesional Zia, kala itu lebih dulu menunduk kala Evan dan pak Albert keluar menuju lantai lima.


TLING! LANTAI SEMBILAN.


Dimana Zia kini kembali berada di meja kerjanya. Sehingga ia menutupi wajahnya dengan masker, dan kacamata putih lalu mencepol rambut yang sedikit coklat.


Evan kembali setelah beberapa jam ia mengadakan pertemuan, sudah banyak karyawan yang pulang pada pukul enam sore lebih. Namun saat berkas tertinggal, ia menatap ruangan Zia masih menyala. Evan sedikit menghampiri, menoleh kekanan dan ke kiri sudah tak ada siapapun.


"Kau belum pulang?"


"Hey! Zia kamu belum pulang?" Evan bertanya namun masih diam, sehingga ia meraih pundak Zia membuat ia terkaget dan membuka kacamatanya menatap Evan.


"Sedang apa? ikut keruanganku!" mengekor karna tangan Zia ditarik lembut masuk kedalam ruangan Evan. Evan membawa Zia keruangan skat yang hanya mereka berdua saling bertatap. Jendela tarik ia turunkan dan posisi itu tidak ada yang akan melihat, sekalipun kamera cctv.


"Kenapa diam?"


"Aku hanya ingin dikantor beberapa saat, tidak akan pulang. Boleh?"


"Kenapa, pasti pria itu mengganggumu lagi?"


"Temui. Aku akan datang untuk membereskannya."


"Evan, dia bukan pria pengganggu. Hanya saja dia pria masa laluku."


"Kenapa, masih mencintainya. Sudah berapa lama menjalin hubungan dengan Eros?"


Zia bahkan sadar, jika Evan tau siapa Eros. Pria yang ada di depannya itu. Ia semakin takut untuk menjalani kehidupan yang lebih serius.


"Kenapa kamu takut Zia?"


"Jika aku memutuskan rasa cinta, dan tetap tidak akan pernah ada pernikahan diantara kita. Apa yang kamu lakukan?"


"Kenapa aku pria yang menjijikan bagimu Zia?"


Evan meletakan tangannya di hati dadanya. Ia berharap Zia bisa tau, apa arti rasa tulus dan tanggung jawabnya untuk menikahi Zia.

__ADS_1


"Aku tidak yakin, bisa menjadi nyonya Sanders. Lagi pula soal kesalahan itu, anggap saja kita tidak pernah melakukannya!"


Zia pergi begitu saja, hingga Evan masih terasa kala erat tangan Zia melepas dengan keras. Matanya merah menyala seakan emosi dan amarah mendapat penolakan. Namun ia tak jadi mengejar Zia, ia duduk dan membalikan kursi kedasar rak buku. Memijit kening, mengapa wanita seperti Zia menolakku berkali kali.


"Apa dia wanita bekas, mudah bicara untuk melupakan dan merendahkan martabatku sebagai Ceo keluarga Sanders. Zia kau akan menyesal telah menolakku!" kepal tangan Evan.


Aku tidak akan berhubungan denganmu lagi Zia!! batin Evan yang emosi.


TAP! TAP!


Langkah Zia dengan berat hati, ia segera menatap punggung Eros. Pria yang pernah mengisi hatinya. Selama ini masih tersimpan didalam hatinya, hingga dimana Eros menoleh dan melihat Zia dengan rambut yang tergerai angin berwarna coklat.


"Sekian lama, apa ini yang kamu inginkan Halwa?" menghampiri Zia.


"Diam disitu mas Eros! Jaga jarak kita, kita bukan lagi kekasih."


"Kenapa kamu melakukan semua ini, Halwa yang aku kenal bukan wanita penipu?"


"Tapi aku dalang dari penipuan itu Eros. Jika kamu kecewa, kamu berhak melaporkan semuanya ke polisi. Tapi jangan libatkan ka Zalwa. Jika aku tidak pergi, maka aku akan bersalah karna ka Zalwa menikah dengan pria yang salah."


"Lalu kamu mengorbankan aku, cinta kita. Kenapa tidak dari awal berterus terang Halwa?" teriak Eros.


"Karna waktu yang terbatas, kamu tidak akan pernah tau. Karna aku .." Zia terdiam.


Halwa, pergi dan berlutut pada Eros. Untuk melaporkan dirinya saja, ia bersimpuh agar tidak menyeret nama Zalwa dan kedua orangtuanya. Bagi Zia, keberadaannya tidak pernah diharapkan. Zalwa yang telah banyak berkorban baginya. Ia hanya ingin mereka bahagia.


"Baik aku akan melaporkan, tapi untuk menyeret nama lain. Aku tidak berjanji!" Eros pergi melangkah tatapan Halwa. Sehingga amarah Eros terlihat jelas baginya saat ini.


Hujan kecil, membuat Zia menatap langit. Semakin deras Zia masih duduk lemas dan meratapi semua kesalahannya. Selama puluhan menit hujan, ia berada disana tak mampu beranjak.


Hingga dimana ia terjatuh, pingsan dan melihat cahaya putih remang remang dengan tatapan yang tak pernah ia lihat.


"Aku dimana?" lirihnya.


To Be Continue!!

__ADS_1


__ADS_2