Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
BERKELAHI


__ADS_3

Halwa tertidur dalam dekapan Randi, hingga dimana ia merebahkan dan mengecup kening Halwa kembali dengan menutup pintu.


Randi tak bisa tidur satu kamar, hingga dimana Randi menghubungi seseorang. Terlihat ia mengambil jaket, dan pergi dari pintu luar. Sementara Halwa hanya bisa menatap dengan raut sedih, ia menatap Randi pergi dengan mobil jeep begitu cepat.


BERBEDA HAL DENGAN ZALWA.


"Kamu gak bisa gini sama aku Evan, ingat apa yang udah kita lakuin!" ungkap Zalwa.


"Bulsyiet! apa buktinya kalau kamu Zalwa yang gue kenal dulu? ingat kita itu bukan siapa siapa setelah semua yang udah terjadi. Perasaan itu udah lama mati, gak bersisa."


"Evan! kita seperti tali yang menyatu namun berada di jarak pemisah. Tapi ikatan itu masih ada kan?"


Evan lagi lagi galau, ia sudah lelah untuk berfikir. Yang ia tau Zalwa kekasihnya telah tiada, hingga Evan sulit untuk meyakinkan. Terlebih sikap Zalwa yang dulu ia cintai, 80º berbeda dengan Zalwa saat ini.


"Evan, aku tau kamu telah memiliki anak dari pernikahanmu dengan Wita. Tapi aku jelas akan menerimanya. Dan aku! huhuu," mode menangis mencoba mendapat kasihan dari sikapnya saat ini.


"Ada apa denganmu?" lirih Evan panik.


"Aku yakin, setelah keguguran. Aku sulit untuk mendapatkan keturunan. Jadi ketika kita bersama, aku akan merawat Eca sebagai anak kandungku. Please!" rengek memohon Zalwa.


"Pergilah! ingat kemarin aku dekat denganmu hanya untuk memanasi Halwa. Aku gak yakin, kamu Zalwa yang aku kenal. Dia udah mati!"


"Tapi aku masih disini,"


Zalwa mengepal tangannya, lagi lagi kebahagiaannya harus di langkahi Halwa. Hingga ia berjanji untuk membuat Halwa selalu hancur.


Evan yang sulit percaya, ia meminta waktu agar Zalwa meninggalkannya sendiri di lostmen pribadi. Lostmen terbesar di lantai paling atas. Sehingga Evan menatap cermin setelah keluar dibalik pintu dan dinding. Jujur saja setelah kepergian Zalwa Tusabina tujuh tahun lalu, hatinya membeku dan menerima perjodohan dari sang ibu bersama wanita bernama Wita.


Namun keberadaan Halwa yang baik dan ketulusan dimulai dari pekerjaan membuat Evan mabuk dan mencintai Halwa seperti Zalwa. Tapi sebuah penolakan membekas dihati Evan. Masih sama seperti Zalwa kekasihnya saat itu. Sehingga ia memilih untuk membenci dan menyukai wanita yang menolaknya untuk menderita sebagai balasan.


***

__ADS_1


LAPANGAN FUTSAL.


Randi telah memainkan bola untuk di masukan kedalam ring. Setelah mengganti pakaian tampa lengan, dan celana pendek bertulis namanya di balik punggung.


Sudah dua puluh menit ia memainkan, biasanya ia bermain selalu berdua bersama Evan. Tapi kedekatan dengan wanita yang sama, membuat jarak seolah harus memilih kakak atau wanita yang ia cintai. Terlebih perasaan Randi tidaklah sempurna setulus Halwa ucap, hanya berusaha menjadi imam dan kekasih dunia yang terbaik untuk Halwa yang ia cinta.


"Hohooo! Dunia sudah terbelah, di malam pengantin tidak kah kamu bahagia Randi?" senyum Evan melebar, yang telah sama menggantikan pakaian futsal, medekat ke arah Randi.


Randi tetap fokus, ia tak memperdulikan Evan yang datang saat ini. Hanya sebuah dengusan nafas, antara lelah atau menahan amarah terhadap Evan Sanders. Bagai pertarungan sengit, di lapangan futsal. Terlihat Evan menarik bola futsal yang berada di tangan Randi. Hingga mereka saling menautkan pandangan sinis.


"Kenapa? ingin marah?" ungkap Evan.


"Kak! demi tak membuang hormatku padamu karna nama Ayah. Pergilah! aku tidak akan mengganggumu!"


"Serius kau usir aku? Ganggu, baiklah. Kau tidak sadar, berapa banyak kerugian jika kau masih bertahan dengan Halwa. Dia mengandung anakku loh, apa kau tidak sadar Randi?" cetus Evan mempengaruhi pikiran positif Randi saat ini.


"Omong kosong! itu hanya janin anak iblis yang akan aku rubah menjadi anak malaikat seperti ibunya." cetus Randi.


"Jangan gila kak! Halwa sudah bahagia bersamaku, jangan kau pengaruhi Halwa lagi?"


"Kau lupa, aku punya rahasia besar yang Halwa tidak tau saat ini. Hanya saja aku tidak yakin, setelah mendengar ia akan syok atau tidak."


Randi membuang wajah, ia menatap jam sudah pukul dua pagi. Hingga ia mengambil handuk kecil dan pergi dari hadapan Evan.


"Aku belum selesai bicara, hey kau mau kemana!" teriak Evan.


"Hey! Randi Sanders. Kau akan menyesal jika tak mendengarnya!" teriak lagi.


Randi yang tetap menghormati Evan, ia berlalu dan kembali mundur menatap maju langkahnya kepada Evan.


"Apa lagi kak?"

__ADS_1


"Kau ingin tau, tapi jika ya! kau harus bercerai dari Halwa. Katakan dia adalah wanita haram yang tidak patut bahagia."


"Jika aku tidak mau?" lirih Randi.


"Kau aku coret dari nama Sanders! wakil group perusahaan kita. Akan aku ganti, kau ku tendang dari perusahaan."


"Kak! ayolah kau sadar dari amnesiamu. Kau telah membuang Halwa, untuk apa? setelah ia mulai bahagia, kau hancurkan lagi. Jika itu maumu kak. Lakukanlah, aku tetap melindungi Halwa wanitaku!"


"Haah! dengan penyakit jelekmu itu. Kau mau sampai kapan bersembunyi. Sebentar lagi kau akan menyusul ibumu kan?" tawa Evan tergagak.


Randi kembali maju dan memukul wajah Evan. Sehingga ia hampir jatuh karna keseimbangan Randi yang emosi.


"Kau berani memukulku bocah tengik?"


"Dua hal yang aku pertaruhkan! nama ibuku dan nama istriku. Jangan sentuh mereka dan secuil namanya kau sebut, aku akan pasang badan bertaruh untuknya kak. Bahkan aku lebih baik, jika aku kehilangan seorang kakak bernama Evan yang sangat kotor."


Randi menunjuk pada dada Evan, ia pergi dan membawa tumbler dan tasnya. Hingga ia membersihkan diri di mobil, lalu berganti pakaian untuk pulang. Randi saat ini tau apa yang diucapkan Evan adalah serius. Hanya satu ia harus melindungi Halwa saat ini adalah utama kebahagiaannya.


BEBERAPA JAM KEMUDIAN.


TINGNONG!!


"Mas, kamu udah pulang, bibir kamu kenapa?" panik Halwa saat melihat tanda merah, serta mimisan di bagian hidung.


"Kenapa, aku tidak apa Halwa sayang." senyum Randi dan menyentuh hidungnya basah dan merah dengan jelas terlihat Halwa.


To Be Continue!!


Thanks buat semua dukungan Story Halwa Dan Zalwa ya. Happy Reading, mampir juga ke kisah Hanum di judul. BAD WIFE.


BERI DUKUNGAN KARYA LOMBA INI YA!

__ADS_1


__ADS_2