
Halwa saat ini merendam air hangat, lalu mengompres sehangat air kuku. Lalu memoles obat kepada lebam di bawah bibir Randi.
"Mas, katakan apa yang kamu lakukan tadi?"
"Aku hanya terjatuh saat di futsal sayang. jangan cemas ya!"
Halwa merasa kebingungan, ia memeras kain kasa lalu mengantinya, lalu kembali memoles obat. Agar luka mas Randi tidak infeksi.
Randi yang melihat wajah Halwa terlihat berbeda, rasa rindu itu semakin menggumpal. Kala melihat perut Halwa yang semakin buncit. Halwa yang merasa di perhatikan, ia segera meletakkan alat p3k dan kompresan ke dapur.
"Aku taru ini dulu mas."
"Halwa. Maafin mas ya!" memeluk erat dari belakang.
Halwa tertegun, soal maaf apa yang harus Randi ungkapkan. Hal itu membuat hatinya merasa bersalah dan kembali memutar akal.
"Soal apa mas?"
"Saat ini kamu jadi cemas, maafin mas pulang dengan memar seperti ini."
"Mas, harusnya aku yang meminta maaf. Harusnya setelah pernikahan aku .."
"Aku menerimamu tulus, anak ini anakku juga. Aku akan menyayanginya sama seperti anakku, aku akan bersabar." senyum Halwa mendengar ucapan Randi saat ini.
Benar saja, harusnya Randi mendapatkan cinta murni dari seorang wanita suci dan baik. Bukan dirinya, jujur saja Halwa tertekan batin karna dirinya merasa bersalah menerima Randi dan mau dinikahi karna satu alasan untuk menutup aibnya. Lalu apakah aku juga bisa meringankan masalah Randi. Dia pria klise yang sempurna, itu sudah terbukti saat dirinya menjadi sahabat. Halwa tak mengira jika dirinya bisa bersanding dengan Randi pria yang sangat baik dan sampai saat ini, hati Halwa masih belum terbuka sepenuhnya mencintai Randi.
'Maafkan aku Rand." batin Halwa kini berada dalam pelukan, Randi sangat mencintai Halwa. Pria itu seolah tau apa yang di rasakan Halwa saat ini.
"Aku tidak memintamu memaksa, aku ingin semuanya berjalan dengan semestinya. Aku saja yang terlalu bucin padamu. Rasa cintaku sangat di murkai pencipta. Sehingga aku tutup mata, memilikimu saja aku sudah beruntung."
"Mas kamu tidak salah! aku seorang istri, mungkin hanya sungkan karna jarak kita bukan lagi seperti sahabat. Terlebih aku yang tengah hamil dua bulan lebih lamanya. Apa aku sesanggup itu, melihat dan membuatmu menderita?" mendongak wajahnya pada tatapan Randi yang menatapnya turun.
"Menderita itu bukan karna kebutuhan biologis Halwa. Tapi aku ingin kamu mencintaku dengan ikhlas, aku merasa bersalah jika kamu menerimaku karna kasihan."
__ADS_1
Pukulan demi pukulan perkataan Randi, membuat Halwa tersindir halus. Benar saja, ia belum mencintai Randi dengan ikhlas. Padahal aibnya telah di tutupi. Tapi benar atau tidaknya ia masih kurang yakin, terkadang ketidak beradaan Randi membuat hatinya gelisah. Tapi keberadaan Randi membuat dirinya canggung.
'Ya Rabb, jangan hancurkan diriku dengan keadaan. Ampuni aku, pria sebaik Randi tidak patut aku kecewakan. Dia pria sempurna dan terlalu baik untuk jodohku. Aku hanya wanita kotor dan haram bagi Randi dalam pernikahan ini.'
"Seharusnya aku tidak menerima dan pernikahan ini terjadi Mas."
"Kenapa, kamu kok bicara begitu. Halwa apa kamu menyesal menikah denganku?"
"Bukan gitu mas, tapi aku merasa bersalah akan dirimu saat ini. Harusnya kamu tidak perlu menutup aibku! aku salah melibatkanmu, tidak seharusnya kita berada dalam kondisi seperti ini. Belum lagi sidang Eros menuntut aku, belum lagi hubunganmu dengan Evan. Harusnya aku berjuang sendiri meski kelak aku .."
Stop Halwa! Randi lagi lagi memberi pelukan hangat, meski saat ini ia tidak bisa menyatukan raga. Tapi Randi bisa membuat Halwa yang merasa bersalah menjadi tenang. Pertengkaran kecil masalahnya kembali membuat manis di akhir. Mata mereka saling menautkan, Halwa mendongak dan Randi menurunkan wajahnya hingga keadaan mereka saling menempel. Randi mulai membuat Halwa tenang, hal yang manis pertamakalinya bagi Randi bisa menyentuh manisnya bibir Halwa meski bukan yang pertama.
***
"Halwa, kamu gimana soal kios baru. Udah coba cek?"
"Belum, mas Randi yang mau liat lokasi dan surat suratnya Dew. Aku ga ngerti soal itu soalnya."
"Lalu kenapa kamu ga ikut sekalian cek sama Randi. Pengantin baru juga Eheeeuum.." goda Dewi.
Duh! bagus baget online shop kita makin banyak ya. Soal konveksi gimana lancar? tanya Halwa.
Sehingga Dewi dan Halwa membicarakan serius akan bisnisnya. Tanpa mereka sadari jika seseorang telah mematai mereka sejak pernikahan Halwa terjadi H+5.
BERBEDA HAL DENGAN RANDI.
"Lokasinya bagus, pasti pemilknya butuh uangkan?"
"Pak Randi bisa saja, pasti untuk istri. Beda ya, kalau bos mah. Demi apapun pasti di beli punya uang dimana mana." ungkap makelar yang sudah kenal Randi sejak lama.
"Bisa saja, ini untuk istri saya. Tapi kenapa pemiliknya ga mau datang pak, kenapa ada banyak syarat segala sih. Bikin aneh aja?"
"Yang pertama pemiliknya sedang dalam masalah gitu pak? ya saya enggak tau pasti sih. Tapi dia jual ruko ini karna ingat seseorang, jadi ya dijual." jelas Beni makelar property.
__ADS_1
Randi yang melihat semua berkas asli, ya benar saja semua lengkap dan ia menandatangani perjanjian. Tidak sabar untuk memberikan sebuah kunci ruko baru yang strategis. Tentu saja dekat dengan kantor.
Beni yang membuat senyum merekah, sudah pasti royalti menanti. Ia segera menghubungi pak Rein dan segera akad minggu depan serah terima kunci dan balik nama.
"Pak Randi, soal balik nama. Apa perlu saya datangkan pak Rein?"
"Boleh! jelaskan semuanya, saya percayakanlah sama kamu beni."
"Ya, nanti anaknya yang datang. Karna pak Rein itu agak sepuh. Pemiliknya, anaknya sih. Tapi saya juga lupa tanyakan namanya."
Hal itu pun membuat Randi tak masalah, ia pamit setelah semua selesai. Lalu segera menjemput Halwa yang kini masih merangkap bisnis onlinenya.
"Deh, enaknya pengantin. Bikin gue ngiler aja deh."
"Kenapa, kamu kenapa sih Dew?" senyum Halwa yang merapihkan label brand fashionnya.
"Suami datang. Randi makin gelagat ganteng bersih ya wajahnya. Gak kaya kemarin kemarin waktu dia datang kesini loh?" ungkap Dewi membuat Halwa menggeleng kepala.
"Assalamualaikum." salam Randi.
"Walaikumsalam suami orang. Aduh cenghar lincah berseri ya setelah nikah." goda Dewi.
Belum dibalas, Halwa tersipu malu saat Dewi menggoda dirinya. Hal itu juga membuat Halwa mencium tangan Randi. Tak lepas Dewi melihat serat kecemburuan karna telah lama tak diperhatikan manis seperti pengantin saat ini. Jelas saja Randi lupa keberadaan Dewi ketika mengecup kening Halwa.
"Eheeum! jangan lupakan di belakang kalian, banyak pegawai yang tutup mata dan baper liat pasangan ala dracin loh," lirih dewi.
"Eeh iy! maaf mbak Dewi. Saya jadi lupa, kalau gitu saya pamit ijin ajak Halwa pulang ya?"
"Ya silahkan, wong bosnya juga Halwa. Mana bisa saya larang." sebal Dewi gemas.
"Dew! kok gitu, gak ada bos. Kita itu partner." senyum mereka hingga Halwa pamit dari rumah olshop mereka.
Sementara Randi yang kini mengaitkan sabuk pengaman. Ia menatap Halwa dan membenarkan rambut Halwa yang tersapu angin.
__ADS_1
"Mas kok liat aku kaya gitu, ada apa?" tanya Halwa.
To Be Continue!!