Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
BUTIK LANGGANAN


__ADS_3

Zia hanya bisa pasrah, kala pak Evan membuat dirinya berkutat dengan hanger. Ia kembali memegang sebuah jas, memilih jas yang pas untuk acara gathering. Meski sebal, ia hanya menghela nafas dan mencoba menahan emosi.


'Astaga, pria ini mungkin sengaja membuat aku menjadi karyawan butik. Menunggu dia di depan ruang ganti baju. Berdiri dan keluar, meminta di carikan lagi yang baru dan pas. Kenapa bukan karyawan butik langsung, si Evan pasti sengaja.' batin Zia.


Pak Evan keluar, menarik tirai dan menatap Zia. Ia kesal dengan wanita yang kurang sopan, mengatakan tidak akan pernah jatuh cinta. Beberapa banyak wanita ingin dekat dengannya, tapi tidak dengan wanita satu ini. Bagaimana bisa aku tertarik, aku akan membuatmu lelah dan sampai di mana kamu kesal Zia.


"Pak, kita sudah dua jam. Apa tidak ada lagi yang bapak ingin beli. Zia rasa itu cocok, jas berwarna navy dengan rompi." menahan pegal.


"Tidak, itu terlihat tidak bagus. Coba kamu bilang pada karyawan toko itu. Cari bahan yang bagus dan termahal!" ketus menatap tajam.


Astaga, Zia tidak henti hentinya berucap kalimat sabar. Hingga ia benar benar ingin sekali melempar, sebuah jas yang masih tergantung di hanger ke arah wajah pak Evan.


TLIITH!!


Zia menatap ponsel yakni, pesanan online membludak, Dewi menghubunginya berkali kali. Hingga di mana ia ke pinggir balkon dan menghubungi Dewi dengan rasa campur aduk.


"Dew, oke satu atau dua jam lagi gue sampe rumah, handle sebentar ya. Lagi pula, gue lagi nemenin pak Evan di butik."


"Loh, jam kerja lo dah habis Zia."


"Iya juga sih, oke gue otw kesana. Tunggu sebentar ya!"


Zia menutup ponsel, ia bingung menatap jam. Entah harus apa. Lalu dengan idenya, ia menitipkan surat kecil pada salah satu karyawan dan jas beserta hanger.


"Mbak, titip ini. Semua ini dan kasih kertas ini ya!"


"Oh. Baik ibu, saya segera mengatasinya." senyum gembira salah satu karyawan, membuat raut Zia mengkrilit keatas.

__ADS_1


Mungkin dia sangat senang kala membantu seorang bos. Tidak bagi Zia, yang kewalahan dan kesal. Tidak anak tidak biangnya, sama saja bagi Zia. 'Mean nothing to me.'


Tidak ada artinya bagi Zia, itu adalah sebuah kata kata yang memutar di kepala Zia. Baginya hidupnya pernah jatuh cinta satu kali, dan tak ingin kembali merasakan jatuh cinta yang mungkin semua pria akan menghianati atau melakukan kekerasan. Itu sudah terjadi pada Ibu, jadi bagi Zia tidak ada di kamusnya untuk kejadian yang tak ingin ia lihat terulang.


Zia kembali memesan taksi online, hingga beberapa saat taksi itu datang. Ia segera menyusul dan menghubungi Dewi untuk segera melakukan penanganan orderan yang membludak. Meski Zia tak henti hentinya bersyukur, ia akhirnya kembali memijit keningnya. Kenapa bisa ada orderan hingga seribu pcs, aneh dan lagi lagi ia kepikiran pak Evan pergi hanya dengan sebuah kertas.


'Astaga, entah terlalu banyak yang di pikirkan. Kenapa juga harus memikirkan si Evan bos angkuh itu.'


"Mohon maaf pak, Wanita muda tadi hanya menitipkan ini. Dan sudah pergi, jadi saya yang menggantikannya. Apa ada yang cocok?" tanya karyawan butik. Evan salah satu pelanggan vvip.


Evan mengkrilitkan alis, masih ingin membuat perhitungan pada Zia. Alhasil ia malas untuk memilihnya lagi, jujur saja ia sangat menyukai mengerjai Zia. 'Kau ijin hanya dengan secarik kertas, tidak sopan. Besok kau akan tanggung akibatnya!'


"Yang saya kenakan ini. Saya debet, tolong segera kirim ke alamat ini!" Evan mengeluarkan kartu debet Card hitam.


Sementara di sisi kasir, kala Evan sedang menunggu seluruh paperbag di kemas. Ia membaca majalah dengan serius. Lalu kembali melipatnya setelah debet di kembalikan. Ia langsung menuju mobil untuk sampai di rumah.


"Selamat datang. Bapak dan Ibu, terimakasih sudah mengunjungi butik QR."


Halwa dan Eros tersenyum, ia masuk dan memilih milih seluruh pakaian yang ada di butik pilihan mas Eros. Karna kata mas Eros, ini adalah butik terkenal dan kualitasnya yang bagus.


"Mas, apa acara nanti akan semeriah Wah. Aku malu, jika harus memilih gaun?"


"Sayang, mas akan bantu pilihkan. Yang jelas, lekukan tubuhmu tidak boleh terlihat orang lain. Gaun indah, senada dengan jas Mas, itu sudah cukup baik. Yang utama adalah ..?"


"Nyaman di kenakan." senyum Halwa memotong mas Eros yang menatapnya.


Sehingga karyawan butik, berbisik bisik. Sungguh terlihat pasangan pengantin yang Romantis. Padahal aslinya, Halwa menikah dengan mas Eros sudah hampir dua tahun lebih, namun perlakuan manis mas Eros. Memang sangat membuat ia takut kehilangan.

__ADS_1


Halwa menunggu kala mas Eros berganti baju dan jas untuk di kenakan. Lalu mata Halwa terperanjat dengan gaun navy dengan payet kerlipan yang mungkin tidak terlalu membuat lekukan tubuh belakangnya terlihat orang lain.


"Mbak, boleh saya lihat yang di manekin ini. Ada ukuran M?" tanya Halwa.


Salah satu karyawan tersenyum, lalu memijit keningnya. Bukankah wanita ini tadi datang dengan pelanggan vvip. Tapi mengapa saat ini memakai kerudung. Terlihat salah seorang pria datang yang mungkin suaminya yang tadi baru saja menjajal jas di ruang ganti. Namun bukan kuasanya mengintrogasi ia langsung mengambil gaun yang di minta pelanggan.


"Sayang, kamu sudah ada yang di pilih?" tanya Eros.


"Mbaknya lagi bantu carikan mas, kalau ukuran S aku yakin akan ketat. Kalau sedikit longgar aku bisa kecilkan dirumah sesuai ukuran nanti mas."


"Good, oke coba juga pilihan yang Mas pilih untuk kamu ya!" Halwa mengangguk senyum.


***


Zia sampai di rumah kontrakannya yang terbilang tidak sempit untuknya. Mungkin cukup untuk keluarga, namun ada yang aneh saat seorang pria membantu Dewi mengemas dan membenahi segala rampelan dan nama brand untuk busana nya.


"Randi, lo ngapain di sini. Ya ampun, kalau pak Evan tau. Gue bisa dijadiin bahan keusilannya lagi."


"Apa, kakak gue kaya gitu sama lo. Ga mungkin, lo ga usah khawatir. Gue ke sini mau bantu aja kok!"


"Zia, udah ya. Ga usah ribut, pusing di denger tetangga nanti. Pesanan banyak ini berkat Randi. Beberapa kantor mau pesan model seragam buat karyawan hasil buatan tangan kita." jelas Dewi.


"Gue niat bantu, siapa tau bisnis lo bakal di kenal. Gue juga tau, lo tertekan kan kerja sama ka Evan?" Randi menatap manja ke arah mata Zia yang bening.


Hingga di mana, Terlihat mobil tiba menyilaukan pandangan Zia, Dewi dan Randi yang sedang berada di gerbang rumah dengan sekotak kardus. Terkejut bukan main siapa yang datang.


"Siapa lagi itu?" lirih Zia.

__ADS_1


Hayoo .. siapa dia?? Ada yang tau, yuks jejak dan dukungannya. Buat Halwa dan Zalwa, masih episode aman mereka ga ketemu ya. Heheehee. Happy Reading All.


__ADS_2