Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
ANDA GILA!


__ADS_3

"Pak, pergi sekarang juga!"


Zia menutup matanya, namun cekatan tangan Evan seolah menatap Zia bagai magnet baginya. Hingga dimana, Evan berbisik dengan lantang.


"Jika aku tidak mau bagaimana?" senyum.


"Pak anda jangan gila, jika tidak saya bisa di usir. Anda paham gak sih, saya butuh dengan semua ini. Jika online shop saya besar, saya tidak perlu bekerja dengan anda!"


"Good! Cukup menantang, bagus sih. Tapi aku akan dukung, dan memberikan penawaran. Menjadi istriku, atau menjadi pengasuh Eca dan kamu bisa fokus pada online kamu. Bagaimana?" senyum melebar menampakan gigi Evan.


"Astaga! Itu gak mungkin, pak silahkan anda keluar atau saya teriak. Satu .. Dua .. Ti .."


Toook! Toook!


Zia terdiam, kala seseorang mengetuk pintunya. Ia bingung, dengan keberadaan Evan di dalam rumahnya. Hingga dimana, ia membuka pintu dan meminta Evan untuk mengumpat tidak ikut keluar.


"Diam disini, atau saya akan menusuk pisau buah ke perut anda!" menyentuh perut dengan kesal.


Hal itu membuat Evan tersenyum lucu, karna ia sungguh gila. Di sentuh oleh tangan Zia saja membuat hatinya berbunga. Sehingga ia mengintip di balik tirai kemauan yang Zia inginkan.


"Wanita unik, kenapa aku bisa senang dekat dengannya." senyum Evan menutup mata dan menggigit bibir. Lalu mengusap rambut agar sedikit rapih dan cool. Yang jelas, tetap saja begitu tak akan berubah di mata Zia saat ini.


"Bu Meri. Ada apa ya?" tanya Zia.


"Sory nih Zia! Aku kasih kamu waktu kamu sampai besok ya buat berkemas. Kebetulan ada yang mau sewa tiga kali lipat. Karna rumah sewa ini, mau saya kasih buat menantu." ungkap bu Meri.


"Ikh! Gak bisa gitu dong bu! Masa mendadak Lagian sewa aku juga baru dibayar minggu lalu. Seenggaknya masih ada waktu tiga minggu dong. Kalau ibu ada di posisi saya gimana?"


"Ya gimana dong Zia! Menantu gue juga dokter, dia mau beli rumah ini dan renov. Lumayan kan buat anak anak semata wayang gue juga. Rumah sewaan gue juga. Buat apa kamu penyewa marah."


"Yah! Ya saya tau, ini milik ibu. Tapi Atitude nya dong bu. Saya merasa kecewa dan di rugikan."


"Hadeuh! Udah deh. Gue kasih waktu tiga hari. Nah ini uang sewa kemarin, gue balikan setengahnya. Good luck ya! Bye Zia." bu Meri pergi begitu saja. Membuat tatapan Zia kesal dan meremas kepal jari tangan.


'Uuuuuhft!!Siaaal. Hari apa sih ini?' batin Zia mengetuk kening dengan jarinya seolah penat.

__ADS_1


Zia yang melupakan keberadaan Evan. Ia lupa jika Evan di ruang tamu dengan keadaan duduk tertidur, Zia segera berlari ke anak tangga. Lupa menutup pintu kamar, hanya pintu luar saja yang telah ia kunci. Hingga dimana, ia mandi dan segera mengucur air shower dengan bilik kamar mandi kaca transparan. Zia saat itu mandi dan keramas, tidak ada hal lain selain ia menggosok punggung dengan pelan dan membuat ia kembali rileks dengan kepenatan yang menguras pikirannya hari ini.


Evan yang tertidur duduk, ia membuka mata dan menatap jam. Sungguh terkejut ia menatap jam pukul sebelas malam. Ia membuka pintu namun tak ada kunci yang tercantel. Astaga! Apa Zia pergi meninggalkan aku di dalam sini.


Evan kembali mencari setiap kamar yang tak banyak. Saat itu ia melihat pintu terbuka dan berteriak.


"Zia. Uppps!"


Evan hanya menelan saliva, setelah ia melihat foto keluarga. Foto yang sangat mirip dengan wanita bernama Zia. Terlihat nama dari bingkai adalah Halwa dan Zalwa.


"Melihat foto seperti ini, aku tidak bisa membedakan yang mana kamu Zia."


Setelah itu Evan menoleh, ia begitu terkejut kala melihat punggung meski seluruh tubuh Zia yang polos samar akan sebuah kaca. Terlihat memberi pungggung dengan sebuah nyanyian di kamar mandi.


Evan segera turun, agar dirinya tidak hanyut dan tidak ingin menahan kemolekan setengah tubuh Zia.


"Astaga Zia! Apa kamu lupa keberadaanku saat ini, sudah setengah jam. Kamu masih belum selesai, bagaimana aku bisa pulang." Evan duduk menahan sesuatu.


Zia yang telah memakai dress piyama dengan satu tali terlihat buah dada, yang panjangnya diatas lutut. Ia segera kebawah anak tangga hanya ingin membuat jus.


Dengan kilat Evan menarik Zia dan meminta kunci.


"Mana kuncinya?" Gleuuk! terdiam karna tatapan mereka amat dekat. Dengan salah tingkah karna baju Zia sangat tipis, membuat ia bingung untuk menjawab.


"Pak. Maaf saya tidak bermaksud menggoda bapak, tapi anda jauhi posisi anda berdiri. Melihat jam, sebentar lagi akan ada pos ronda. Jika bapak keluar saya akan di arak. Berikan kunci bapak. Dan bapak diam disini!"


Zia akhirnya meraih kunci mobil pada tangan Evan. Dengan kilat ia segera membuka pintu dengan mengambil sebuah syal untuk menutupi dadanya. Sementara Evan cukup senyum, ia memencet tombol nomor Eca dan segera berbicara.


"Eca! tidurlah jangan khawatir, papa sedang meeting yang tak bisa pulang malam ini. Jaga dirimu dengan tante ya! Jika sepi ke kamar om Randi!" pinta Evan lalu menutup ponselnya.


Evan masih menatap dan memandang Zia dari bilik jendela, bagaimana tidak ia mendengar dan melihat gaya Zia yang berbohong.


"Pak Ujang. Tugas ronda pak?" sapa Zia.


"Wah. Neng Zia beli mobil baru ya? Hebat loh. Mewah lagi."

__ADS_1


"Haah, sewa pak Ujang. Mobil rental, biasanya di rumah satu lagi. Ini milik saudara, cuma kemalaman gak bisa antar. Baru di ambil besok pagi, jadi saya mau parkir di dalam. Supaya enggak mengganggu pejalan lain kan ya Pak?"


"Owh gitu toh! Oke baiklah. Kalau gitu pak Ujang kembali keliling ya neng cantik."


"Heuuumph. Ya, bye dah." senyum Zia kembali menutup gerbang dan menguncinya.


Zia menghela nafas berkali kali, sehingga ia cukup untuk memutar mata. Bagaimana bisa pak Evan menginap. Jika ia keluar malam ini, berabe di area pos jaga bakal di introgasi banyak. Bisa panjang urusannya.


Krek! Menutup pintu.


"Kenapa saya tidak bisa pulang saat ini, apa kamu ingin aku nginap Zia?"


'Hiks! Bos kepedean ini, benar benar tak tau terimakasih. Jika dia yang ditanya, maka hancur reputasi gue malam ini juga. Mana satpam disini enggak bisa di suap.'


"Please rumit. Jadi anda bisa tidur di kamar tamu. Dewi biasa tidur disana!"


Sreeth! Tirai tertutup rapat. Zia kembali terdorong dibalik dinding pintu. Deru nafas mereka kembali saling menatap. Bagi Zia ia tak ingin saat ini terbawa arus, atau perasaan lain. Ia mencoba menarik nafas dan berusaha tidak pernah tergoda.


"Mau apa kamu pak?"


"Evan. Panggil aku nama, jika bukan kantor!"


Zia mendorong tangan dekapan Evan, lalu dengan kilat Evan menggenggam tangan Zia.


"Kamu membangunkan harimau yang sedang tidur Zia. Menurutmu apa yang kita lakukan berdua di rumah ini?" bisiknya dengan tiupan terasa di telinga Zia.


"Pak. Anda jangan gila, pergi atau ..?"


Atau kita akan dinikahkan malam ini juga, jika aku pulang saat ini. Satpam disini sepertinya bagus untuk tidak terlena akan uang tutup mulut. Lagi pula sudah lama adikku ini tidak tersentuh. Mungkin kamu bisa membantuku Zia? ungkap Evan melirik arah bawahnya.


"Dasar gila, pria gila dan mesum." Zia mendorong dan berlari kecil meninggalkan Evan.


Hingga Evan mengekor, lalu langkah ketiga Zia terpeleset. Membuat Evan dengan cekat meraih tubuh Zia dan terjatuh bersamaan. Evan segera merangkul tubuh Zia, hingga mereka saling menopang. Evan membuat bahunya terbentur dinding. Namun wajah mereka saling dekat dan menatap.


To Be Continue!!

__ADS_1


__ADS_2