Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
SAH


__ADS_3

"Kalian mau apa? tolong jangan macam macam ya!" gertak Halwa pada tiga preman selengean.


"Malam malam di terminal, udah biasa mangkal ya? mending ikut kita?" ucap salah satu pria berlidah tindik besar.


"Jangan sentuh saya! kalian saya hubungi polisi ya, minggir gak! Saya bukan wanita seperti itu." Halwa berusaha menghindar, tapi ketiga pria itu telah mengelilingi Halwa, meski ia berusaha memukul dengan tas jerami.


"Aaah masa! buktinya sedang hamil belum nikah kan? Udahlah mbak ikut kita, dari pada munafik. Seneng seneng aja kok, cuma tengkurep atau gaya apapun. Biar kita yang gerak. Mbak nya diem aja." cetus tawa nyeleneh.


"Ini udah tindak kriminal ya! kalian bisa saya laporin." keras nada suara Halwa.


Halwa sedikit takut, meski rasa berdebar itu muncul karna panik. Tapi ia mencoba teriak, akhirnya ia tau jika ada mobil Zalwa yang sedang memperhatikannya.


Sehingga Halwa mendorong pria itu, lalu menyenter dengan ponselnya. Berteriak jika ia telah menghubungi nomor darurat. Tiga pria itu terlihat ketakutan, kala menatap layar ponsel dengan tersambung nomor 110. Sehingga semua pria itu, berlari setelah takut juga karna seseorang tiba saja datang, menghampiri.


"Halwa, kamu gak apa apa. Kenapa kamu di sini?"


"Randi,"


Halwa begitu tersentag kaget, yang ia lihat saat ini adalah Pria yang akan menikahinya. Rasa gugup itu, membuat Randi membawa Halwa masuk kedalam mobil. Setelah beberapa saat tenang, setelah memberikan air mineral barulah Randi bertanya.


"Aku tadi kerumah, mau kasih sesuatu. Tapi Dewi bilang kamu pergi, aku kebetulan mau ke lostmen bang Evan. Ga sangka kamu di sini, apa kamu ..?"


"Kamu pasti ngira aku ketemuan sama Evan ya?" lirih Halwa yang mungkin saat ini dalam hati Randi.


"Bu- bukan gitu. Aku ga bilang seperti itu, aku cuma kaget kamu hampir di ganggu. Untung saja aku segera datang."


"Udahlah Rand! kita seharusnya ga menikah, lagi pula kita bersama akan banyak dinding penghalang."


Randi menatap wajah Halwa, ia yakin ada beban berat pada wanita yang ia cintai. Hingga masih mendengarkan Halwa mengoceh, Randi memeluk Halwa dengan erat dan berbisik.


"Aku akan selalu percaya sama kamu, beri aku penjelasan. Apa yang sebenarnya terjadi Halwa. Aku menerimamu, apapun masalahmu adalah masalahku juga. Jangan jadikan aku suami yang membuat penderitaan bagi pasangannya, karna masih ada yang ditutupi."


Halwa masih menutup matanya, seolah Randi adalah sosok pria klise. Begitu baik, haruskah Halwa membawa Randi kedalam masalah terberatnya kelak.

__ADS_1


"Jika aku berkata, apa kamu akan menerimanya?"


"Tentu saja, jangan pendam sendirian. Anak ini, anak aku juga. Aku ga mau kamu nikah sama aku, tapi kamu selalu menangis Halwa. Bukan ini yang aku inginkan."


"Tapi kamu terlalu baik, aku bukan wanita yang pantas. Apa aku bisa menjadi istrimu yang baik. Sementara aku telah kotor?"


"Aku bukanlah pria sempurna tanpa celah Halwa. Aku hanya mau, kita bersama jalani mahligai kebahagiaan. Aku benar menyayangi kamu, begitupun aku akan menerima masalah keluargamu. Aku hanya butuh, kamu selalu suport dan percaya sama aku!"


Tak jauh dari mobil lain, Zalwa merasa tak senang. Karna lagi lagi Halwa beruntung, hingga dimana ia menjalankan mobilnya, tak sanggup melihat Halwa yang sedang berdua dengan pria yang akan menikahinya.


'Sial! karna Halwa gue keguguran. Gue juga di cerai dari Eros. Lalu Evan yang gue ga sangka, dia adalah masa lalu gue. Dia juga gak mau kembali sama gue. Kenapa semua merebutkan Halwa sih. Halwaaaa .. hentikan wajah melasmu itu. Kamu ga berhak nikah, apalagi merebut semua yang harusnya milik aku.' itu adalah ungkapan batin Zalwa saat menyetir dengan rasa kesal.


***


HARI BERGANTI DEMI HARI.


Halwa kini telah cantik dengan balutan kebaya, sementara ibu kini mendampingi Halwa dengan wajah senyuman.


"Wa, kamu kalau udah nikah harus nurut ya!Semoga pernikahan kamu bahagia selalu. Sampai maut memisahkan!"


"Kayaknya bareng Evan. Bukannya Zalwa lagi deket sama Evan ya?"


Pernyataan itu membuat Halwa terdiam, mungkin benar banyak rahasia yang Zalwa tutupi. Yang ia lihat, Evan dan Zalwa tidak baik baik saja. Apalagi beberapa saat malam itu, mereka bertengkar. Sehingga Halwa senyum merangkul peluk sang ibu.


"Sebentar lagi di mulai! kamu siap nak?"


Halwa mengangguk, di dampingi seorang ibu dan ayah sebagai wali. Hari pernikahan Halwa saat ini begitu lancar, nuansa pernikahan di hotel berbintang. Membuat Halwa cukup beruntung dan bahagia sebagai wanita.


Halwa berjalan di gandeng oleh Ayah husein dan ibu Anieh di sampingnya. Ia cukup tersenyum, meski ia sedikit khawatir karna ka Zalwa tak ada di acaranya. Mungkin ia masih marah, karna tak menuruti kata katanya untuk membatalkan pernikahan bersama Randi.


"Sudah siap Ndok! pengantin pria telah datang." ucap ibu.


Halwa tersipu malu, di dampingi tante Mira. Dan terlihat Ecarlos datang menemani Randi. Juga paman dan bibi Randi yang ikut datang dari kampung. Tak lupa Dewi, ibu dan anaknya juga datang. Meramaikan acara membuat Halwa semakin bahagia. Halwa yang fokus pada acara ijab kabul, melupakan Zalwa dan Evan yang tak hadir. Baginya ia sangat berharap acara pernikahan yang di nantikan berjalan dengan lancar.

__ADS_1


BEBERAPA JAM KEMUDIAN.


"Bagaimana saksi Sah?"


SAH!! SERONTAK.


Acara itu penuh dengan suasana kebahagiaan dan khidmat. Tidak ada gangguan dan semuanya berjalan dengan lancar. Kali ini Halwa dan Randi saling menatap juga mencium kening Halwa setelah saling bertukar cincin.


Masih sama, sungkeman dan acara menarik bakakak ayam. Acara menyuap sepotong tumpeng nasi memeriahkan acara. Hingga di mana acara selesai hampir malam. Randi dan Halwa pamit pada keluarga.


Orangtua Halwa juga istirahat ke kamar masing masing. Menyisakan Halwa yang kini berada di kamar pengantin. Rasa degub, hatinya tak karuan setelah beberapa saat telah berubah statusnya menjadi seorang istri.


"Apa semua wanita ketika di halalkan, akan berdebar seperti ini ya? bukannya aku dan Randi telah lama bersahabat. Kenapa jadi ga karuan sih?" lirihnya, tanpa sadar Randi memeluk Halwa dari belakang.


"Kenapa, kamu ragu ya. Ada yang kamu pikirin?"


"Rand, eeh! Aku bingung saat ini aku harus sebut nama panggilan apa?"


"Terserah kamu. Mas juga boleh?"


"Mas. " eja Halwa sedikit malu.


Mas! aku mau tanya, kenapa Zalwa tidak terlihat ya. Aku juga lihat Ecarlos datang sama tante Mira. Apa mereka tidak suka melihat kita menikah.


"Ooh! soal itu, aku melarang mereka datang. Aku sudah meminta Evan menggantikan aku terbang pertemuan. Dan Zalwa, aku meminta seseorang mengawasi agar tidak membuat kacau."


Sontag Halwa tertegun, kenapa bisa Randi tau. Jika Zalwa akan berbuat onar.


"Mas, tidak mungkin ka Zalwa mau berbuat onar." jelas Halwa.


"Tidak ada yang tidak mungkin, mas tau. Apa saja sikap Zalwa padamu beberapa akhir ini. Tolong jangan sembunyikan masalahmu sendirian ya! mas mohon Halwa sayang."


Tak lama, seseorang memencet bell. Membuat tatapan mereka saling menatap arah pintu.

__ADS_1


To Be Continue!!


__ADS_2