Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
DIAM DIAM MENATAP


__ADS_3

"Pak, tunggu. Kenapa seperti ini pak, saya kan sudah menjelaskan. Jika saat itu keadaan saya benar benar mendadak. Bapak ga bisa seperti ini dong, masa bapak sepihak memecat saya?" ungkap Zia.


Zia merasa tidak rela, jika perlakuan pak Evan merasa sepihak membuat ia kehilangan pekerjaan dengan secara tak baik. Namun Evan menyumbingkan senyuman dan meletakan koran di atas meja. Setelah melipat koran yang ia telah baca. Lalu menatap Zia hingga sejajar permukaan bibir indahnya, dengan mata Zia.


"Yang mau memecat kamu siapa?"


"Loh, bu - bukan tadi bapak bilang. Menyuruh saya keluar untuk rapat penting besar ini pak, saya pikir ..?"


"Cepat ganti bajumu, ini kartu acces. Nanti malam jam tujuh. Bersiaplah, tidak ada pertemuan siang ini dengan wajah lusuh dan pakaian formal seperti ini."


Zia menelan saliva, hingga ia terdiam berdiri setelah mengambil kartu yang di berikan pada Atasannya itu. Hingga di mana, ia membalik arah dan melihat satu pria yang berdiri dari room service. Yang kini berdiri tepat dengan sebuah koper dan sebuah kertas di tangannya.


Dengan perlahan Zia bergetar, ia sangat gugup tidak pandai drama dalam suatu kebohongan. Hingga di mana ia mencoba tetap tenang.


"Halwa Tusabina?" lirih pria menghampiri Zia.


Zia berlaga melewati dengan tatapan tak biasa, ia lalu melewati langkah Eros yang tersenyum, dan mencoba mendekati tapi Zia asing untuk tidak mengenali.


"Hal .."


"Heiy, Randi. Lo udah di sini, gila loh. Udah lama banget gue tungguin. Cepetan, yang ada kita bakal kena masalah?!" senyum Zia tepat berada di belakang tubuh Eros yang menoleh.


Randi terdiam, tidak biasanya Zia gebetan yang ia suka. Bisa senempel itu dan semanis itu saat bicara. "Lo demam Zia?"


Zia menepis mengeryitkan alis dan menepuk bahu Randi, lalu mengajak pergi naik ke atas tangga. Berusaha mencoba menghindar dari tatapan Eros yang masih membeku. Zia berusaha tetap tenang, dan tak mau untuk mengenali jika dirinya seperti ini, mungkin Zia tetap harus bertahan sampai bom waktu meledak semua terungkap.


"Lo ada apa sih Zia?"


"Gak apa, bagus ada lo. Gue masuk dulu ya, please gue capek. Nanti malam lo juga ada kan di acara pak Frans?"

__ADS_1


"Ya, pastilah. Emang kenapa sih?"


"Bye. Sampai malam Rand, gue tadi menyapa lo aja. Heee." menutup pintu dan dibelakang pintu, Zia merasa lega kala semuanya baik baik saja.


SEMENTARA DENGAN EROS.


"Gue juga bilang apa, itu mirip istri lo. Masa ia Halwa lo rambutnya pirang, tadi dia juga ga ngenalin lo kan?"


"Ya, tapi kenapa gue ngerasa dia mirip wanita gue banget. Istri gue sadar ga sih, dia mirip banget. Ada emang wajah mirip seperti tadi."


"Ya adalah, buktinya tadi dia gak ngenalin loh. Udahlah bro, kita istirahat. Acara nanti malam kan? undangan pak Frans dan pak Evan itu misi kita." ungkap Emir.


Alhasil Eros menghubungi istrinya, dan benar saja tak berapa lama tersambung. Eros mendapati Halwa istrinya benar di rumah, terdengar suara mama dan ibu mertuanya sedang berbicara. Hingga Eros menutup panggilan dan mengatakan Rindu pada Halwa. Tapi jelas, ia merasa aneh mengapa bisa ada semirip itu wanita dengan Halwa istrinya.


Zia yang kini berada di kamar, ia segera mengecek dan menatap kamarnya saat ini. Suatu hari, ia merasa tak pernah berfikir jika bisa sampai di bali dengan mendadak. Benar saja pak Evan sangat perhatian sekali. Ia mempunyai baju baru dalam satu paparbag, dan terlihat satu kotak merah dengan wajah tertegun.


"Astaga pak Evan. Sepertinya dia bukan tipekal bos angkuh?" senyum Zia melupakan pertemuannya dengan Eros. Dengan begitu aksinya akan terus tak mengenali selama belum terbongkar.


Zia menatap dengan wajah menyempit, kala menatap sebuah pesan dari pak Evan.


"Baju dan gaun, serta nanti ada perias yang datang. Gunakanlah sebaik mungkin, materi di atas meja jangan sedikitpun kurang! juga segala tagihan ini tidak gratis!"


Zia mendeheum, terasa sangat kering. Benar saja pria angkuh itu benar benar tidak layak di puji. Bagaimana tidak, semua ini akan merembes dalam tagihan gajinya bulan depan.


"Astaga, dasar bos pelit. Rupanya selain angkuh masih saja tak bisa di puji. Dasar bos bos pelit yang membuncit." sebal Zia.


Dengan menatap sebuah gaun, ia mencoba sejenak membuka tirai. Terlihat matahari terbenam membuat wajah Zia menutup mata sekedar menghirup udara. Lalu sebuah dering ponselnya bergetar membuat mata Zia membelalakan matanya.


"Dewi, Hallo Dew, kenapa?" tanya Zia saat tersambung.

__ADS_1


"Lo berapa lama, gue mau bicara penting!"


"Ya udah, is oke. Gue dengerin kok say, kenapa Dew. Kok kaya gugup gitu?"


"Ada cewe yang datang, berkerudung dan mirip sama lo. Dia berhasil dan nanyain tempat lo."


"Hallo, Halo Zia, lo masih di sanakan. Lo masih dengerin gue ngomong kan?"


"Owh, oke. Gue ma- masih denger kok. Gak apa kita lanjut chat aja ya. Sebentar lagi gue mau pertemuan. Gue mau siap siap dulu, thanks loh Dew." balas Zia lembut.


Zia meletakan ponselnya di dada, sementara dari arah samping. Terlihat seseorang menatap Zia yang bersedih kebingungan. Tak sadar air mata di pipinya jatuh. Hingga keberadaan Zia menoleh, terlihat jelas Evan dan di belakangnya Randi sedang menatapnya.


Zia merasa malu, hingga di mana ia menghapus yang terjatuh di pelupuk matanya. Menyembunyikan kesedihan dan berlalu pergi.


"Kau lihat Zia kak?" Randi menepuk Evan yang berada di teras balkon.


"Eheeeuum. Kau sudah berapa lama di belakangku Randi?" tanya Evan dengan tegas.


"Ka, Zia cantik ya. Aku menyukainya, bagaimana kalau kaka bantu aku .. "


"Pergi ambil proyektormu, aku ingin dengar saat kau menghadapi proyek besar ini Randi!"


"Kak, astaga. Benar benar menjengkelkan." umpat Randi yang mengekor Evan masuk kedalam ruangan.


Zia di kamar, mencoba diam membisu. Sudah lama ia tak bertemu dengan Zalwa sang kaka. Ada penyesalan saat menyeret sang kakak bersanding dengan Eros.


"Huhuu, jika bukan karna aku. Kita pasti masih bisa bercanda tanpa sembunyi kan, Kak?" tatap Zia melihat kalung liontin love, yang jelas itu adalah foto dirinya dengan Zalwa.


TOOOK .. TOOK!!

__ADS_1


Zia menghapus kesedihan, lalu membuka pintu kala bel berbunyi di ruangan kamarnya.


Hayoo ada yang ga sabar lihat Zia nanti malam? Cung!! ...


__ADS_2