Story Halwa Dan Zalwa

Story Halwa Dan Zalwa
PILIHAN YANG BERAT


__ADS_3

Zia Tusabina! Eros pun berjabat tangan, hanya saja Zia tak mencopot maskernya sepanjang acara. Meski batin Zia, ini pertama kalinya ia kembali menyentuh tangan pria yang ia cintai.


'Fokus Zia, jangan sampai mas Eros menariknya ketika di luar. Entah perasaan hancur kak Zalwa, melihat satu panggung saling menatap saja. Terlihat jika Sean berdiri di samping Zalwa yang seperti takut dari ujung kiri berdiri jika aku akan membuka masker.


"Zia, cepat copot maskernya! tidakah kamu mengenalkan semua para tamu di sini?" ungkap Evan.


"Zia sedang flu kak! Is oke, gak apa Zia pakai saja. Mohon maaf semuanya, partnerku ini sedang tidak sehat." senyum Randi yang tau wajah dan kening Zia mungkin saja berkeringat.


Aku melihat seseorang dengan perawakan tinggi dan paras yang tampan di seberang sana sedang memasuki area ruang tamu.


Kehadirannya membawa suasana dingin hingga semua mata hanya tertuju padanya. Tak di sangka aku kembali bertemu dan semakin dekat, kala mas Eros pria yang dulu aku rindukan. Mimpiku bersamanya hancur ku tinggalkan bersama Zalwa.


Sementara Evan di sampingku, badannya yang tinggi dan tegap dibalut dengan setelan jas hitam buatan tangan, rambutnya yang halus dan hitam terlihat sedikit berantakan, serta sorot mata yang tajam memberikan kesan pada semua orang kalau dia sosok orang yang sangat dingin. Dua pria yang kini harus aku jauhi dari masa laluku! batin Zia.


Acara pun berakhir, Zia kembali berlalu ke kursinya. Randi yang tau Zia pergi keluar, ingin sekali ia mengejar. Tapi sayang wanita yang ia sukai, harus berhadapan dengan mantan terindahnya. Andai ia telah selesai, mungkin berhasil mengejar Zia.


"Zia." teriak Zalwa.


"Kak, kamu hadir juga?"


"Ya pasti hadir lah. Siapa lagi kalau bukan Eros suamiku. Laki laki yang sangat aku cintai." ketus Zalwa.


Aku terakhir kali bertemu dengannya satu bulan yang lalu. Ia belum berubah masih sangat mencurigai. Jika saja wanita di depan Zia bukan kakaknya, mungkin ia sudah menamparnya.


Tanpa sadar, aku ingin sekali menyembunyikan diri karena takut terlihat olehnya. Namun dengan tekad penuh sebagai sosok wanita masa lalu yang baik, aku memberanikan diri berjalan ke arah Zalwa untuk mengambil tas kerja yang masih ada di genggaman kursi.


Saat aku ingin mengambil tas kerjanya, Eros datang aku segera membalikkan badan dan melihat ke arah belakang. Dari arah belakang muncul sosok Zalwa menghampiri dengan balutan mantel putih berjalan menghampiri Eros membuat diriku terhalang.


"Mas, ayo kita pergi!" meninggalkan Zia.


"Sayang, kamu tau. Wanita saingan pak Frans. Namanya sangat mirip sama kamu. Suaranya kenapa mas tidak asing ya?"

__ADS_1


Zia yang masih mendengar percakapan Eros dan sang kakak tepat di belakangnya. Ia sangat tersentuh kala mas Eros masih mengenalinya.


"Jangan bodoh Zia, semua sudah berubah. Jangan biarkan aku kehilangan kepercayaan kak Zalwa. Karna semua aku yang telah meninggalkannya dari awal." batin Zia.


Eros menunjukan senyum khasnya ketika wanita itu mulai mengenggam tangannya. Senyuman yang pernah aku lihat, namun tak pernah aku miliki lagi. Itu adalah bayangan Zia yang melihat mereka pergi.


Ada rasa sakit seperti sebilah pisau menusuk tajam ke relung dada hingga menembus badan ini.


Wanita itu bernama Halwa Tusabina orang yang sangat dicintai Eros. Tapi rasa penyesalan sudah tak harus di sesali, karna Eros berhak mendapatkan wanita seperti Zalwa yang lembut.


Gadis berpenampilan menarik dengan paras yang cantik, tak lupa juga dia orang yang berpendidikan. Aku jelas sangat tak sebanding dengannya, meski dia adalah kembaranku.


Zia berdiri di samping Randi. Ketika aku sedang melamun, Randi menarik lenganku dan menunjukkan wajah yang masam.


"Cepat sambut para tamu lain! Ga ada gunanya di lihat terus kan? Bagus ga ketauan tadi."


Zia senyum berterimakasih pada Randi, namun ia cukup membuat kerinduan pada Eros terobati saat satu panggung.


"Lama tidak bertemu Mbak Halwa, tidak disangka Mbak juga akan datang ke sini?" seseorang mengulurkan tangan sambil menahan getaran suara. Kakak ku menatapku dan melihat tanganku yang gemetar.


Ia juga menjabat tanganku dan tidak lama segera menariknya cepat. Dengan angkuhnya dia berkata padaku, "Lama tidak bertemu denganmu juga Zia. Lalu pergi ke arah Adelia, kamu sekarang tampak lebih kusam? menyapa para istri lain. Cukup kaget bagi Zia, mengapa ka Zalwa selalu seperti itu.


Aku mengatupkan bibirku erat dan tidak membalas pembicaran para wanita lain. Perhatianku sekarang beralih ke Eros saja. Jelas Randi melihatku dengan tatapan penuh.


"Biar aku saja yang bawa tasnya, Zia lo udah cuci tangan?"


"Udahlah, masa belum. Habis makan kita pulang ya Randi!" ungkap Zia.


Tapi dengan sadar Eros menatapku dingin seolah olah mengenali aku, dan membiarkan istrinya bergabung dengan para istri lain.


Kulihat sekilas sudut bibir yang sedikit terangkat, matanya menyiratkan sebuah kemenangan. Ia tersenyum sinis sambil memeluk Eros.

__ADS_1


"Sayang aku lapar." ungkap Kak Zalwa meski batinku menangis melihatnya dengan amat dekat.


"Ayo kita makan malam dulu," balas Eros sambil membawanya ke ruang makan. Eros bukanlah orang yang seperhatian ini. Tapi jelas saat berjalan ia masih melirik aku dan aku pun menunduk diam.


Namun pemandangan ini sungguh sangat berbeda dengan apa yang aku ketahui, ia sangat perhatian dan berhati hati memperlakukan orang yang dicintainya.


"Lo masih sayang dia ya?" tanya Randi.


"Gue, gak tau Rand. Jujur sangat sakit liat semua ini. Meski semuanya gue udah takut tadi ketauan."


"Tapi gue rasa, Eros udah tau siapa sebenarnya lo. Hanya saja ia berpura pura saat ini. Mungkin kakak lo saat ini sedang hamil, atau dia sedang mencari bukti." mudahnya Randi berbicara dengan menyuap cake.


"Udahlah, ga usah di bahas. Gue mau pulang!" sebal Zia.


Terlihat banyak kursi namun orang yang hadir juga tidak sedikit. Dalam sekejap tiga meja besar berjejer di ruang makan sudah dipenuhi anggota keluarga.


Aku baru menyadari bahwa berhari hari telah mempersiapkan makanan perayaan malam tahun baru acara kantor, namun duduk di sebelah Evan saja tidak bisa, terlebih di belakangku adalah Eros dan kak Zalwa.


"Gue mau pulang," lirih Zia pada Randi.


"Duduk dulu, kita makan. Nanti abang gue si Evan bakal kasih skor di kantor. Gak mau kan bikin dia ngamuk lagi?"


"Randi, tapi beneran deh. Ueeeek!" Zia menahan mualnya, namun cekat Randi memberikan sapu tangan yang di oleskan minyak kayu putih. Lalu pergi mengambil sebuah kantong.


"Lo duduk dulu, nanti gue nyusul!" titah Randi.


Seluruh tubuhku bergetar karena kesal dan marah. Aku berjalan ke arah dimana Evan duduk, dengan sedikit kaku aku berkata padanya.


"Maaf pak, ini tempat duduk saya dan Randi?" pinta Zia masih menatap datar lurus pandangan.


"Kenapa, mual dekat saya Zia. Why, apa malam itu kamu?" lirih Evan membuat tatapan matanya terkejut. Sementara ia yang ingin pergi, di cekat tangan Evan dan terlihat Eros dan Zalwa di belakangnya ikut memperhatikan.

__ADS_1


To Be Continue!!


__ADS_2