
"Jangan berlebihan! apa anda benar kembaran yang seiras? tidak! bahkan dengan mata buta sekalipun, perbedaan kalian sangat jauh."
"Kau .."
Zalwa terdiam, ia membuang wajahnya dan menatap tatapan tajam bagai peringatan pada Halwa. Namun Halwa yang sedikit mengigit bibirnya, ia menyumputkan wajah malunya. Bisa bisanya Zalwa menampar dirinya secara terang.
"Halwa! kita cepat pulang, setelah meminta restu. Kita tidak perlu memerdulikan Zalwa yang mengancammu. Aku tidak meminta penjelasan prilaku Zalwa saat ini. Tapi satu hal, aku tidak ingin kamu tersakiti lebih dan takut!"
Ucapan Randi membuat Halwa membisu, lagi lagi ia seolah harus bertumpu pada pria yang terlambat ia kagumi. Dengan senyuman, itu adalah balasan Halwa saat ini. Ia tidak memerdulikan bagaimana rasa sakit selama ini ia simpan yang sangat mendalam.
"Kita temui ibumu! ia sudah memanggil ayahmu. Jangan takut akan Zalwa mengancam!"
"Thanks. Rand, aku tidak tau harus bagaimana lagi berterimakasih padamu. Kamu itu .."
"Ssst! jangan diteruskan, maka kita akan semakin lama di rumah yang kamu impikan tapi bagai nerakamu Halwa." lirihnya.
Tatapan dua pasang mata membuat Randi gugup, tidak begitu aneh jika Halwa tak betah berada di rumah yang ia rindukan. Tapi perlahan dan pasti, ia akan tau ada apa di balik ikatan dua anak yang mirip tapi tidak sepenuhnya memiliki arti kasih sayang yang sama. Bagi Randi sangat di sayangkan, sebab ia sangat menginginkan ibu kandungnya kembali masih ada. Andai jika itu ada, mungkin Halwa akan bahagia jika menjadi pasangan hidupnya.
"Kalian benar ingin menikah, mendapat restu. Punya apa kamu Randi, bukankah persenan di kantor Sanders kamu tidak sebanding dengan nak Evan?"
Gleuuk! tatapan Halwa tak percaya, lagi lagi sang ayah kembali menjengkelkan.
"Bu.. " saat Halwa memotong, tangan ayah Husein meminta Halwa diam, ibu hanya menggeleng agar anaknya itu menurut.
"Pak! saya memang tidak mempunyai kekayaan lebih banyak dari Evan. Tapi kami tetaplah berbeda, sikap karakter dan tanggung jawab menyayangi Halwa adalah ketulusan saya. Soal rejeki, kami yakin rabb, akan melancarkan niat baik kami dan segalanya."
"Nak Randi! jika semua itu, keputusan Halwa. ibu hanya menurut, dan semua tergantung restu ayah Husein juga." ungkap Ibu Anieh.
"Tidak bu! kalau Halwa nikah sama Randi, terus aku gimana sama Evan. Aku ga mau di langkahin pokoknya. Ayah, tolong bantu Zalwa! Bicara sama mereka, kalau mau menikah tidak boleh melangkahi Zalwa lebih dulu." rengek.
Ayah Husein menatap sinis, seolah memikirkan bayak hal. Hingga dimana Halwa menatap Randi dengan wajah kepanikan.
Saya harus bertanggung jawab. Bukankah Zalwa telah menikah, lagi pula tidak ada hadis untuk seorang kakak menghambat pernikahan adiknya. Jelas ia telah menikah dan tidak di langkahi, dasar hukum apapun lemah.
__ADS_1
Terlebih alasan Zalwa yang gagal dan menjadi janda. Serta menolak ketika adiknya akan melakukan sunah baik. Jika bapak dan ibu masih keberatan, saya akan memanggil yang pada ahlinya dan mohon maaf! jika masih menolak saya yang akan melakukan kewajiban sunah rasul dengan tulus. Maka semuanya akan lebih panjang untuk di selesaikan pada yang ahli, jika bapak masih keberatan.
Perkataan Randi, membuat kagum lagi lagi. Point Randi membuat Halwa semakin tersanjung, baginya tidak seharusnya Randi mendapatkan istri yang telah bekas sentuhan oranglain. Apalagi setelah menikah, Halwa tidak akan bisa melakukan selayaknya sebagai istri sah Randi yang di lakukan pasangan pengantin pada umumnya.
Mendengar hal itu pun, pembicaraan berlanjut. Zalwa kalah, ia mendapat tamparan dan kekesalan dan ingin melakukan trik agar pernikahan Halwa batal atau berantakan.
***
BEBERAPA HARI KEMUDIAN
Saat ini Halwa dan Randi berada di sebuah butik dalam mall terbesar. Namun karna sebuah klien penting, ia meminta Halwa untuk menunggunya selama satu jam. Tapi Halwa yang bosan, ia berahli melihat lihat sebuah dress yang pernah ia lihat di akun sosmednya.
Sementara Zalwa berada dalam sebuah Mall yang sama. Kali ini ia menatap Halwa yang sedang berada di sebuah toko seorang diri. Zalwa mempunyai trik, ia berusaha membuat Halwa malu, sehingga akan menjadi tontonan dari kejauhan tersenyum puas.
"Mbak. Boleh saya lihat baju model ini?" tanya Halwa.
"Boleh. Sebentar saya ambilkan, size ukuran berapa ya nona?" tanya pelayan.
"Mungkin size S."
"Uuuupsss. Sorry!"
Air minum berwarna oren itu tumpah, Soft drink yang di sengaja untuk menyenggol Halwa. Kali ini benar benar membuat Halwa menarik nafas. Lalu menatap seorang tersebut dengan tatapan berbeda.
"Lain kali mbak hati hati ya! Saya harus ada pertemuan saat ini, bagaimana ini?" jelas Halwa masih mode dengan sopan menegur.
"Hahaaahaaa ... Pertemuan, sorry untuk mbak seorang anak haram apa pantas. Lagi pula fashion di toko ini mahal loh. Kamu sanggup membelinya. Kalau sanggup sekalian beli aja!"
Halwa yang begitu terkejut. Ia langsung menahan amarah. Hal itu membuat dirinya tak mungkin membeli baju di fashion tersebut. Ia hanya ingin melihat dan akan membelinya setelah Randi datang.
'Anak haram, siapa yang ia katakan. Aku bahkan bukan anak Haram?' batin Halwa menatap serius.
"Kenapa. Kok marah, silahkan beli. Tuh lihat deh, si pelayan udah ambilin. Mbak sekalian bungkus aja. Maklum nona haram ini sepertinya sedang melihat lihat tidak beli!"
__ADS_1
Halwa kembali berdiri, ia menatap wanita itu dan apa maksud pembicaraannya menyinggung. Hingga Halwa berdiri, ia berusaha untuk tidak menghiraukan wanita asing yang membuatnya tak enak di lihat banyak orang.
"Mbak packing ini aja ya! ini kartunya!" ucap Halwa cuek, dan menuju kasir, bagus Randi telah memberikan kartu hitam padanya tadi.
Sreeettth!!
Saat pelayan itu memberikan paperbag. Wanita yang menyiram itu merampasnya. Lalu mengambil dress berwarna putih itu dengan tak menyenangkan. Saat Halwa berteriak, dress itu telah berpindah pada tangan Zalwa.
"Kak Zalwa ..?" terkejut Halwa.
"Kenapa, kaget? Uuuch! ga pantes kamu pakai barang branded ini. Kamu lihat ini ya!"
Zalwa meletakkan baju milik Halwa. Menginjaknya dan mengguyur dengan soft drink berwarna oren. Lalu bicara pada pelanggan lain yang mengerubuninya.
"Lihat deh! wanita ini anak Haram! hamil juga anak haram di luar nikah. Terus apa gunanya beli baju branded. Pantesnya baju ini di injak baru di pakai!" ucap Zalwa masih menginjak, mengotori baju Halwa, dan ia berlalu pergi saat melihat Randi tak jauh sedang mencari keberadaan Halwa.
Sementara Halwa, ia hanya masih menunduk. Dan meninggalkan baju itu, serta paperbag. Ia berlari ke arah toilet yang mungkin tak ingin di lihat Randi.
Tling! sebuah pesan, membuat Halwa tertegun tak percaya.
To Be Continue!!
\*\*\*
Kira kira ada apa lagi ya? Duh beban banget gak sih punya kakak model kaya gitu.
Sorry ya! Update agak malem, soalnya kesibukan dan bagi waktu untuk nyalin baru sempet.
JANGAN LUPA MAMPIR
~ BAD WIFE~
__ADS_1
Ga kalah dilematisnya, perjuangan cewe yang selalu di anggap body shaming. Yang pernah gemuk dan bertubuh gempal! ngacung langsung melipir ya!!