
DI KANTOR.
Hari ini Zia kembali berpijak sebuah kantor. Sudah empat Hari Zia ijin, ia yang lelah akan segala beban di otaknya. Lalu dengan segala orderan online yang membludak, membuat Zia harus di rumah membantu Dewi. Namun setelah itu, ia melarang tamu datang selain pekerja hariannya. Meski Randi datang, Zia tetap tak ingin bertemu dan malu pada Randi. Setelah ia mencurahkan isi hati dan kenapa ia melakukan. Randi kembali simpati dan masih saja manis padanya.
Randi yang tiba datang, ia melihat ruangan Zia sedang sibuk. Entah dimana ia ingin sekali mengajak Zia makan siang bareng dan pulang bareng. Namun alih alih ia menunda karna beban tugas kantornya sangat padat karna sebuah klien penting.
"Kak, aku udah beres semua. Dua map lagi, bisa aku kerjakan nanti setelah jam makan siang?"
"Randi, ini kantor. Kamu tetap panggil saya Pak!"
"Hadeuh, masih aja kaku. Ga ada orang kali kak. Kita cuma berdua, soalnya aku mau nembak seseorang!"
"Randi, jaga sikapmu. Ini kantor, bukan radio curhat. Bersikaplah sebagai keluarga Raksa. Wibawamu harus benar bisa kamu tonjolkan!"
"Ya. Ya. Ya, oke aku akan pergi ke ruangan kerjaku pak Ervan. Tetapi aku tak bisa mengikuti jejak sikapmu!" sebal Randi melangkah keluar.
Randi hanya menghela nafas, sudah sering sekali sang ayah selalu membuat otak sang anak menjadi komponen mirip Morfem sejenis racun, yang membuat sang anak patuh dan terus saja menjunjung perintah. Mungkin perintah memanglah bagus, tapi perkataan ayah yang membuat Randi jijik adalah menjadi orang lain.
Randi tetap ingin menjadi pribadinya, meski ia anak dari seorang berkuasa. Dia tak ingin kejam dan terlalu otoriter pada bawahan dan pasangannya kelak. Sosok periang dan humoris yang menyukai pendaki, sangat sulit mengikuti jejak sang kakak Seperti Ervan Raksa Wijaya.
Sementara di jam siang, Ervan terkejut kala Eca terlihat tidak ada di ruangannya. Ruangannya itu di skat agar anaknya yang sering ikut, tetap nyaman. Namun kala ia membuka pintu, sudah jelas jika sang anak tidak ada di tempat dengan mainan legonya.
Ervan menghubungi Darwin asistennya. Menanyakan apakah Ecarlos sedang bersamanya, tapi tidak. Tidak ada anak itu bersama orangnya.
"Astaga, cepat kau cari dia!"
Zia yang kini duduk di taman, setelah membeli makan siang. Ia cukup takut untuk menemui pak Evan, akhir akhir ini ia lebih menghindar kala memberikan sebuah gulungan gambar denah yang ia buat. Bahkan tatapan kemarin malam, membuat ia semakin sulit untuk ia beradaptasi. Ia lebih memilih makan siang di taman seorang diri, hingga di mana ia terkejut kala seorang anak menabraknya dan menumpahkan makanan jatuh ke lantai.
"Astaga, woiy. Bocil ini anak siapa sih?" kesal Zia menoleh.
"Tante, tolong Eca. Lihat wanita itu, narik narik Eca pergi dan ikut dengannya."
"Wah, ga di tolong jadi masalah juga."
Zia menghela nafas, menunda rasa laparnya. Melihat anak Evan, membuat ia ingin mencakar tajam ke wajahnya. Tidak bapak tidak anak, membuat hidup Zia semakin rumit kala bertemu.
__ADS_1
"Eca, sini sayang. Percaya sama Tante ini mama kamu!" raih seorang wanita.
"Bukan, kamu bukan mama aku. Pergi kamu, lihat ini adalah mamaku yang sebenarnya!" teriak Eca membuat mata Zia mendelik tajam.
"Owh, jadi karna kamu. Evan berubah tak ingin kembali, jadi karna kamu wanita murahan tidak tau diri. Plaak!"
Zia terdiam, kala ia di tampar dan di dorong. Lalu dengan sengaja ia membalas wanita itu dan mengancam kembali.
Plak! Jangan bicara seperti tadi, katakan minta maaf jika tidak?
Cuiih, untuk apa gue minta maaf sama wanita murahan kaya Lo. Siapa tadi, hooh Zia. Gue bakal inget wajah muka dan nama Lo.
Zia kembali menampar, berteriak pada security yang lewat. "Security, ada wanita gila di sini."
Dengan sadar, Zia terlempar ke aspal. Lalu wanita itu pergi dan mengancam. Hingga di mana Zia kesal dan bangun melihat Eca anak bocah itu tersenyum tawa.
"Bukan bangunin, malah ketawa lagi." lirihnya.
"Ecarlos. Kau lagi lagi pergi di luar kantor, kau tau apa yang akan kau dapati hukuman di rumah?" ucap Evan. Zia pun terkejut kala Evan datang dengan beberapa orang.
"Haaaah?" Zia menohok kaget, setelah mendengar pernyataan anak kecil yang tidak tau diri. SIALAN BOCIL INI, DI TOLONG MALAH NGELUNJAK!!
"Kau Zia, ke ruangan saya!"
Zia masih menatap Eca pergi dengan senyuman, diikuti Darwin sekertaris rese yang menyeramkan seperti malaikat pencabut nyawa. Di tambah security yang ia panggil terdiam malah berghibah dirinya. Belum lagi wanita asing yang mungkin nasibnya akan bertemu lagi.
Melihat hal yang membuat ia kesal, ia akhirnya kesal dan berlalu ke toilet. Sudah berapa lama ia merasa sial, sepertinya ia harus keluar dari perusahaan ia bekerja. Namun krisis ekonomi tidak mungkin sanggup ia menganggur. Karna ada delapan dan kadang hampir sepuluh orang yang harus ia bayar harian pada bisnis online nya. Jujur saja, modal online shop Zia adalah modal nekat bersama Dewi.
*Hei lihat deh? kasian ya. Mau rebut hati bos sampe segitunya! sama anaknya di ajak main tanpa bilang. Ga tau apa, kalau satu kantor pusing nyariin anak pak bos.
Ya, biasalah namanya juga cewe ga tau diri*!
Sindiran itu begitu nyata, Zia yang awalnya tak ingin mempermasalahkan. Akhirnya ia harus kebal dengan banyaknya sindiran. Ia juga mungkin akan cepat mencari pekerjaan baru. Yang mungkin tidak akan bertemu dengan Evan selamanya.
"Zia, lo gak apa apa. Mereka bilang kalau lo itu ..?"
__ADS_1
"Terus, Lo percaya sama dia. Is oke, gue udah biasa kok!"
"Dengerin gue dulu, gue percaya sama Lo. Yang mau gue tanyaiin, siapa cewe yang labrak Lo di taman. Apa rambutnya merah ikal, dan ada tahi lalat di bibir atas?"
"Lo tau dari mana?"
"Gue .."
Bu Zia, di panggil pak Evan sekarang juga!!
Zia terhenti, hingga di mana ia meminta Randi untuk membicarakannya lain waktu. Saat Zia berhenti, ia berahli masuk ke dalam ruangan kerja Evan. Zia mengetuk sebelum masuk, hingga dimana terlihat jelas membuat mata Zia terkejut kaget.
"Wanita tadi, kenapa bisa di sini?" ungkap Zia.
"Dia, dia ini wanita yang membuat pipiku merah Darling. Lihat saja, aku ingin menyapa Eca yang ada bersamanya. Lihat saja, apa yang ia lakukan padaku. Juga berhasil ingin menculik Eca dan memanipulasi, kamu harus lakukan sesuatu Darling!"
Zia yang telah masuk, hanya melihat dengan tatapan tak percaya. Melihat anak kecil itu hanya diam menunduk tanpa membelanya, sekalipun di tolong, meski sedikit saja menceritakan yang sebenarnya.
"Eca, tolong kamu katakan yang sesungguhnya nak!"
"Jangan menekan, Zia. Kau tau posisi mu, meski aku yakin jika malam .." Evan terhenti menatap penuh. Karna ada Wita dan Darwin yang berada dalam ruangan itu.
Zia pun hanya ikut terkejut dan takut, kala Evan mengatakan hal malam itu, ia yakin jika Evan tidak sadar jika itu adalah dirinya.
"Malam apa Darling?" tanya Wita tunangan Evan.
"Malam itu dia menolong pukulan Eca dari Tante, tapi Zia bukan berarti kamu bisa seenaknya mendekati anak bos. Kau tau, karyawan dan atasan ada pembatas!" ketus Evan, membuat Zia tak percaya dan semakin membenci.
Zia menghampiri meja pak Evan. Ia meletakan suatu benda pipih, dan berkata pada pria itu.
"Baik pak, saya mengerti. Saya bersalah, saya minta maaf. Dan saya akan mengundurkan diri, agar bapak bisa lega. Tidak punya karyawan rendahan tidak tau diri, dan tau batas antara karyawan dan bos, permisi. Terimakasih saya pasti akan segera mengajukan surat undur diri saya secepatnya!"
ZIA!! TERIAK EVAN SEMAKIN MARAH.
Duh, udah jatuh ketimpa tangga pula. Gimana nasib Zia selanjutnya ya?
__ADS_1
Be Continue!