Suami Kecilku

Suami Kecilku
Ch 10 - Grup Keluarga Abayomi


__ADS_3

Karena ucapan suami kecilnya yang membuat Nara terkejut, sontak saja Nara langsung menoleh ke arah suami kecilnya yang tepat berada di belakangnya.


"Anata ga shitte iru kagiri, watashi wa totemo kanashīdesu. Demo hokanohito ni shira retakunainode hyōgen dekimasen (Asalkan kamu tahu aku sangat sedih sekali. Namun aku tak bisa mengekspresikannya karena tidak ingin orang lain mengetahuinya)" batin Nara sembari menatap lekat wajah tampan milik suami kecilnya.


"Anata ga imamade ni kanjite iru no wa dareka kara hanarete inakereba naranai to kanjita koto ga arunara. Mayu wa tada no nekodesuga, watashinojinsei no ichibu ni narimashita (Jika kamu pernah merasakan harus berpisah dengan seseorang itulah yang kini aku rasakan. Walaupun Mayu itu hanyalah seekor kucing, namun dia telah menjadi bagian dari hidupku)" ucap Nara sembari menyunggingkan senyuman lembut di wajahnya yang cantik.


"Haish, masih saja dia menyempatkan untuk tersenyum di kala keadaan hati yang sedang tidak stabil. Kebiasaan orang Jepang memang beginilah. Namun aku juga seperti ini walaupun aku bukanlah orang Jepang" batin Rafa sembari menatap lekat wajah cantik milik istri kecilnya.


Untuk beberapa saat Nara dan Rafa saling terdiam sembari menatap lekat wajah salah satu di antara mereka. Keadaan masih terus hening di antara pasangan pengantin baru tersebut hingga akhirnya Nara yang membuka suaranya.


"Naze watashitachiha kono yō ni chinmoku shite iru nodesu ka? Kaika ni ikou. Mama, rafi, soshite rai wa watashitachi o matte iru ni chigainai (Kenapa kita terdiam seperti ini? Ayo kita turun ke bawah. Mama, Rafi, dan Rai pasti sudah menunggu kita)" ucap Nara sembari berjalan melewati suami kecilnya yang masih berdiri di tempatnya.


Melihat istri kecilnya yang sudah lebih dulu pergi meinggalkan dirinya, Rafa pun akhirnya berjalan keluar dari kamar istri kecilnya.


Terlihatlah Nara yang sedang menuruni anak tangga dengan membawa tas laptop yang berisi laptop dan ponsel miliknya.


Rafa pun segera mempercepat langkahnya agar bisa berjalan di samping istri kecilnya. Sebenarnya hal ini Rafa lakukan untuk mengekspresikan rasa cintanya. Namun pasti sang Mama tidak akan merasa curiga kepadanya. Jadi aman-aman saja jika Rafa melakukan hal ini.


Sepanjang perjalanan hanya di isi oleh keheningan yang tercipta di antara kedua pasangan pengantin baru tersebut. Dan karena keheninganlah yang membuat perjalanan Nara dan Rafa terasa sangat cepat. Kini Nara dan Rafa sudah berada di lantai dasar di rumah keluarga Yamada.


Suasana hening di antara Nara dan Rafa pun terpecah karena akhirnya Rania pun muncul untuk menghancurkan keheningan di antara anak dan menantunya tersebut.


"Hello, your handsome and beautiful son and daughter-in-law. Come on, come on, Mama, take a photo first so that it will be a memento (Halo anak dan menantu Mama yang tampan dan cantik. Ayo sini Mama foto dulu biar jadi kenang-kenangan)" ucap Rania yang tiba-tiba saja datang menghampiri anak dan menantunya yang baru saja tiba di lantai dasar.


"Uh, why did you take your photo of us? It's a waste of time (Ih, untuk apa sih Mama memfoto kami? Membuang-buang waktu saja)" ucap Rafa sembari memasang kembali ekspresi datar di wajahnya yang tampan.


"Mama clearly wants you to have memories of your first day as husband and wife. Never mind, don't refuse Rafa again. Mama's decision is inviolable! (Mama jelas ingin kamu memiliki kenangan hari pertama kalian menjadi suami istri. Sudahlah, jangan tolak Rafa lagi. Keputusan Mama tidak bisa diganggu gugat!)" ucap Rania sembari menatap wajah putra pertamanya dengan tatapan yang menyiratkan betapa dalamnya kekesalannya terhadap putra pertamanya itu.


"Hah, taring Mama sudah keluar semua ini. Padahal kan aku tidak suka di foto, tapi Mama malah memaksaku untuk berfoto bersamanya. Jelas-jelas saja aku akan menolaknya karena aku sangat benci ketika diriku di foto" batin Rafa sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Come on, dear Mama. You guys have a very romantic pose in front of these stairs. Or if necessary Mama will take a photo of you when you are kissing (Ayolah sayang-sayangnya Mama. Kalian berposelah yang sangat romantis di depan tangga ini. Atau bila perlu Mama akan foto kalian ketika kalian sedang berciuman)" lanjut Rania sembari mengaktifkan kamera yang ada di ponselnya.


"Korehanandesuka? Shashin no kikan wa kisu no pōzudearu hitsuyō ga arimasu ka? Kyō wa mitabime no kisu wanaideshou (Apa-apaan ini? Masa berfoto harus dengan pose yang sedang berciuman? Semoga saja tidak ada ciuman ketiga kalinya di hari ini)" batin Nara sembari menatap wajah sang Mama mertua dengan tatapan yang menyiratkan ketidakpercayaan.


"Dasar Mama ini. Apakah Mama sudah gila untuk menyuruhku dan Nara untuk berciuman di depannya, kemudian Mama akan memotretnya? Sangat menggelikan" batin Rafa sembari menatap wajah sang Mama dengan tatapan yang menyiratkan betapa besarnya kekesalannya terhadap sang Mama.


Rania yang melihat anak dan menantunya yang masih berdiam diri di tempat mereka masing-masing tanpa melakukan sedikit perubahan pun menjadi gemas dan geram akan tingkah laku anak dan menantunya.


"Come on honey, Mama can get sore if you wait for you but you guys are still silent like this! (Ayolah sayang, Mama bisa pegal jika menunggu kalian tapi kaliannya masih berdiam diri seperti ini!)" keluh Rania sembari menyiapkan kamera ponselnya untuk memotret anak dan menantunya tersebut.


"Ah, yes Mama. What do you want us to pose for a pose? (Ah, iya Mama. Mama mau kami berpose seperti apa?)" tanya Rafa dengan nada bicaranya yang datar dan juga ekspresi wajahnya yang datar.


"Wrap your hands around Nara's waist, then spend some distance between you. And for Nara, put your hands on Rafa's shoulders. Okay, so get ready! (Lingkarkan tanganmu di pinggang Nara, lalu jauhkan jarak di antara kalian. Dan untuk Nara, letakkan tanganmu di bahu Rafa. Oke, jadi bersiaplah!)" ucap Rania yang mengarahkan gaya.


Nara dan Rafa pun melakukan pose sesuai yang di arahkan oleh Rania tadi. Dan Rania pun tersenyum puas karena anak dan menantunya yang segera melakukan apa yang di arahkan olehnya tadi.


"One two Three... (Satu...Dua...Tiga...)" ucap Rania sembari bersiap memotret anak dan menantunya yang saat ini sedang melakukan pose romantis.


Cekrek


Setelah mendapatkan foto pertama anak dan menantunya yang sedang berpose dengan gaya yang sangat romantis, Rania pun segera mengecek hasil foto anak dan menantunya tersebut.

__ADS_1


Rania pun tersenyum puas ketika hasil foto anak dan menantunya sangatlah bagus. Bahkan Rania sampai memeluk ponselnya karena senangnya bisa mendapatkan foto anak dan menantunya yang sedang berpose dengan gaya yang sangat romantis.


"Apakah sebegitu senangnya Mama bisa mendapatkan fotoku dan Nara dengan pose yang terbilang sangat romantis?" batin Rafa sembari menatap wajah sang Mama dengan tatapan yang menyiratkan ketidakpercayaan.


"Gibo wa jibun no geitaidenwa o dakishimete itoshite iru yō ni mieru (Mama mertuaku kini terlihat seperti orang yang sedang jatuuh cinta karena sampai memeluk ponselnya sendiri)" batin Nara sembari menatap wajah sang Mama mertua dengan tatapan yang menyiratkan ketidakpercayaan.


Karena suasana hatinya yang sekarang sangat senang, Rania bahkan sampai memeluk menantunya dengan sangat erat. Senyuman bahagia yang terpancar dari wajah Rania pun tak pernah luntur dari wajahnya karena sangkin gembiranya.


"Uh, the photos are really good. Later, Mama will send the photos to the Abayomi family whatsapp group. Nara's number has been registered as a member of the Abayomi family whatsapp group (Uh, hasil fotonya sangat bagus sekali. Nanti Mama akan kirimkan hasil fotonya di grup whatsapp keluarga Abayomi ya. Nomor Nara telah terdaftar menjadi anggota di grup whatsapp keluarga Abayomi)" ucap Rania sembari memeluk menantunya dengan sangat erat.


Raihana dan Rafi pun datang menghampiri Rania, Nara, dan Rafa karena mereka sudah lama sekali Raihana dan Rafi tunggu untuk pulang ke rumah keluarga Abayomi. Tapi Rania, Nara, dan juga Rafa sama sekali tidka menyadari kedatangan Raihana dan Rafi. Hal inilah yang mudah untuk Raihana dan Rafi untuk mengagetkan Rania, Nara, dan Rafa.


"Um, Mama. When are we going home if Mama keeps hugging my beautiful sister-in-law? (Um, Mama. Kapan kita akan pulang jika Mama terus-terusan memeluk kakak iparku yang cantik?)" ucap Raihana sembari memanyunkan bibirnya.


Sontak saja Rania, Nara, dan Rafa pun terkejut dengan kehadiran Raihana dan Rafi yang terbilang sangat tiba-tiba. Pada dasarnya memang Rania, Nara, dan Rafa lah yang tidak menyadari kedatangannya Raihana dan Rafi.


"Oh, you are Rai. Surprise Mama (Oh, kamu ini Rai. Mengejutkan Mama saja)" ucap Rania sembari melepaskan pelukannya dengan menantunya.


Rania pun segera menatap wajah putri bungsunya dengan senyuman kikuk yang tersungging di wajahnya.


"Let's go home dear-unfortunately Mama. Since it's already noon then Mama will cook lunch for you (Ayo kita pulang sayang-sayangnya Mama. Karena ini sudah siang maka Mama akan memasak makan siang untuk kalian)" ucap Rania sembari melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan kedua besannya serta suaminya.


"Ran was going home very quickly (Cepat sekali sudah mau pulang Ran)" ucap Amaya yang muncul dengan tiba-tiba bersama dengan Naoki, Nandito, dan juga Raihan.


"It's already afternoon May. Besides, this youngest is already whining that he wants to go home (Ini sudah siang May. Lagi pula ini si bungsu sudah merengek ingin pulang)" ucap Rania sembari tertawa kecil di akhir kalimatnya.


"Oh, nevermind. Nara is fine there. Now Nara is not a single girl anymore, but Nara has the status of a wife (Oh, ya sudah. Nara baik-baik ya di sana. Sekarang Nara bukanlah gadis lajang lagi, melainkan Nara sudah berstatus menjadi seorang Istri)" ucap Amaya sembari mengelus lembut puncak kepala putri bungsunya.


"Okay Mama. Nara will definitely miss Mama very much (Baiklah Mama. Nara pasti akan sangat merindukan Mama)" ucap Nara dengan menatap wajah sang Mama sembarj menyunggingkan senyuman di wajahnya yang cantik.


Nara pun hanya membalas ucapan sang Papa dengan senyuman lembut yang tersungging di wajahnya. Memang Nara bisa setiap saat main ke rumah keluarga Yamada karena rumah keluarga Yamada dan rumah keluarga Abayomi memanglah bersebelahan.


"Naoki, Amaya, and Nandito, let's go home first (Naoki, Amaya, dan Nandito, kami pulang dulu ya)" ucap Raihan sembari tersenyum lembut kepada kedua sahabatnya yang kini telah menjadi besannya.


Amaya, Naoki, dan Nandito pun hanya membalas ucapan Raihan dengan sedikit anggukan dari kepala mereka masing-masing.


Raihan, Rania, Nara, Rafa, Rafi, dan Raihana pun segera pergi meninggalkan rumah keluarga Yamada untuk menuju ke rumah keluarga Abayomi yang berada tepat di samping rumah keluarga Yamada.


Hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk sampai di rumah keluarga Abayomi. Kini Raihan, Rania, Nara, Rafa, Rafi, dan Raihana sudah sampai di rumah keluarga Abayomi, tepatnya di ruang keluarga yang afa di rumah keluarga Abayomi.


"Rafa and Nara you can rest first in your room. Mama will cook our lunch first (Rafa dan Nara kalian bisa beristirahat dulu di kamar kalian. Mama akan memasak makan siang kita terlebih dahulu)" ucap Rania sembari melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur.


"Yes, Ma (Baik Ma)" jawab Nara yang mewakili dirinya dan juga suami kecilnya.


Setelah itu Nara dan Rafa pun segera berjalan menaiki anak tangga yang akan membawa Nara dan Rafa menuju ke kamar mereka.


Sesampainya di depan pintu kamar mereka, Rafa langsung membuka pintu kamarnya yang sekarang telah menjadi kamarnya dan kamar istrinya juga tentunya.


Nara dan Rafa pun berjalan memasuki kamar mereka. Menurut Nara, karakter Rafa sangat tercerminkan sekali dengan kamarnya yang di dominasi oleh warna abu-abu.


"Kanojo no seikaku to kosei wa kanojo no haiiro no heya ni hijō ni han'ei sa rete imasu. Kare wa hontōni samukute shinpi-tekina hitodesu (Karakter dan kepribadiannya sangat tercerminkan sekali dengan kamarnya yang bernuansakan abu-abu. Dia ini benar-benar orang yang dingin dan misterius)" batin Nara sembari menatap lekat pada kamar Rafa yang kini telah menjadi kamarnya juga yang bernuansakan warna abu-abu.

__ADS_1


Melihat istri kecilnya yang hanya terdiam saja di tempatnya, Rafa pun berusaha untuk memecah apa yang ada di dalam pikiran istri kecilnya saat ini.


"Doko de rirakkusu shitaidesu ka? Rirakkusudekiru barukonī mo tsuite imasu. (Kamu mau bersantai di mana? Kamar ini juga punya balkon untuk bersantai)" tanya Rafa kepada istri kecilnya yang masih saja terdiam di tempatnya.


Sontak saja perkataan suami kecilnya mampu memcah pikiran Nara dan juga diamnya Nara. Kini Nara bahkan terlihat seperti orang yang sedang linglung walaupun hanya sebentar saja.


"Etto, barukonī de kutsurogitai. Suzushī kaze o tanoshimu no wa totemo tanoshīdesu. Dakara barukonī wa dokodesu ka? (Hah, aku mau bersantai di balkon saja. Menikmati sejuknya angin itu sangat menyenangkan. Jadi, di mana balkonnya?)" tanya Nara kepada suami kecilnya sembari membuka tas laptopnya untuk mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam sana.


Setelah ponselnya sudah di ambilnya dari tas laptopnya, Nara kembali menutup tas laptopnya yang kini berisi laptop miliknya berserta flashdisknya juga. Nara pun menaruh tas laptopnya di meja belajar berwarna pink putih yang ada di dekat tempat tidurnya dan suami kecilnya.


"Soko ni sore ga aru (Itu, ada di sana)" ucap Rafa sembari menunjuk di mana balkon yang ada di kamar mereka berada.


Nara pun segera berjalan ke arah balkon sesuai dengan yang telah di tunjuk oleh suami kecilnya tadi.


Sesampainya di sana, terlihatlah ada sebuah bangku panjang dan beberapa tanaman hias yang berada di balkon tersebut. Nara pun segera menduduki bangku panjang tersebut.


Nara segera menyalakan ponselnya untuk membuka aplikasi WhatsApp miliknya. Rasanya seperti sudah lama sekali Nara tidak membuka aplikasi WhatsApp yang ada di ponselnya tersebut.


Tring


Ada salah satu pesan yang masuk di ponsel Nara melalui aplikasi WhatsApp miliknya. Karena penasaran, Nara pun akhirnya membuka pesan tersebut.


Terlihatlah ada sebuah pesan masuk dari grup WhatsApp Abayomi's Familly. Dan yang mengirim pesan tersebut adalah sang Mama mertua. Ketika Nara membuka pesan tersebut, Nara sangat terkejut dengan apa yang di kirimkan oleh sang Mama mertua.


Mama Rania di grup Abayomi's Familly


Mama Rania sent a picture (Mama Rania mengirimkan sebuah gambar)


"Rafardhan and Narahita. How are the photos? Very romantic, right? This is Mama Rania who took the picture (Rafardhan dan Narahita. Bagaimana hasil fotonya? Sangat romantis bukan? Ini Mama Rania lho yang mempotretnya)"


Aunty Rayya di grup Abayomi's Familly


"Very romantic. Forgive aunt, uncle, and Shaqeela ya Rafa and Nara because we couldn't come to your wedding (Sangat romantis sekali. Maafkan tante, om, dan Shaqeela ya Rafa dan Nara karena kami tidak bisa datang di pernikahan kalian)"


Narahita di grup Abayomi's Familly


"It's okay, Aunt, Uncle, and Shaqeela too (Tidak papa kok Tante, Om, dan juga Shaqeela)"


Raihana di grup Abayomi's Familly


"Mama, there are still Rai and Qeela here, as well as those who are still minors (Mama, di sini masih ada Rai dan Qeela, dan juga yang masih di bawah umur)"


Rafirdhan di grup Abayomi's Familly


"Yes Ma, there are still singles here too (Iya Ma, di sini juga masih ada yang jomblo)"


Shaqeela di grup Abayomi's Familly


"That's why Rafi has to find a girlfriend (Makanya kak Rafi harus cari pacar)"


Rafardhan di grup Abayomi's Familly

__ADS_1


"What is this mom using to send pictures of Rafa and Nara? (Mama ini apa-apaan sih pakai kirim foto Rafa dan Nara?)"


Seketika grup Abayomi's Familly yang beranggotakan Rania, Raihan, Rayya, Nara, Rafa, Rafi, Raihana, Shaqeela, Sayuda, Amaya, Naoki, dan Nandito pun menjadi sangat ramai karena di awali dengan Rania yang mengirim foto romantis Nara dan Rafa.


__ADS_2