
Melihat anak perempuannya yang kini sedang tertawa dengan terbahak-bahak, tentu saja membuat amarah Rania semakin naik ke ubun-ubunnya dan hampir saja akan meledak.
Amarah yang sebelumnya saja belum mereda hingga sekarang, namun kini anak perempuannya tersebut kembali menyulut api amarah Rania untuk semakin membesar.
Bisa di bayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika Rania benar-benar meledakkan semua amarah yang kini masih bersarang di hatinya tersebut. Yang pastinya, The Power Of Emak-Emak memang tak ada yang menandingi kekuatannya! Kecuali kuasa Allah SWT.
Dengan sejadi-jadinya, pada akhirnya pun Rania meledakkan segala amarah yang masih bersarang dan menyelimuti hatinya tersebut kepada anak perempuannya yang merupakan biang dari tersulutnya api amarah di dalam hati Rania.
"Myesha Raihana Abayomi, you are! You are very good at igniting the fire of anger in Mama's heart! If you are still going to ignite the fire of anger in Mama's heart, don't expect you to be able to watch the romantic Korean drama genre played by the handsome Oppa-Oppa! (Myesha Raihana Abayomi, kamu ini ya! Kamu itu pandai sekali dalam menyulut api amarah di dalam hati Mama! Kalau kamu masih saja akan menyulut api amarah di dalam hati Mama, jangan harap kamu bisa nonton drama korea bergenre romantis yang di perankan oleh Oppa-Oppa tampan itu!)" geram Rania sembari menatap ke arah wajah cantik dan imut milik anak perempuannya tersebut dengan tatapannya yang menyiratkan kekesalan dan amarah yang sangat besar kepada anak perempuannya tersebut.
Raihana yang mendengarkan ancaman yang sangat di hindarinya yang keluar dari mulut sang Mama pun kini sedang bersusah payah untuk menelan salivanya sendiri.
Sebenarnya Raihana memanglah hafal dengan sifat sang Mama yang sangat mirip dengan sifatnya tersebut. Rania bersifat tak segan-segan untuk melarang kegiatan yang telah menjadi kegemaran seseorang jika merasa dirinya sedang di usik oleh orang tersebut.
"Emh, I know very well about Mama's character who always forbids activities that have become a favorite of that person if you feel that she is being bullied by that person. But, don't be like this either, Mama! I don't want Korean dramas in my romantic genre and my oppa-oppas are threatened that I can't see them because Mama forbids me to watch them! I really don't like it when my hobby is teased by someone, for example being a threat to me! (Emh, aku ini sangat hafal sekali dengan sifat Mama yang selalu melarang kegiatan yang telah menjadi kegemaran orang tersebut jika Mama merasa sedang di usik oleh orang tersebut. Tapi, jangan seperti ini juga, Mama! Aku tidak mau drama korea bergenre romantisku dan para Oppa-Oppa tampanku terancam tidak bisa aku lihat karena Mama melarangku untuk menontonnya! Aku sangat tidak menyukai jika kegemaranku di usik oleh seseorang, contohnya di jadikan ancaman untuk diriku ini!)" batin Raihana sembari mencoba untuk menelan salivanya sendiri dengan sangat susah payah.
Melihat anak perempuannya yang kini hanya terdiam saja, Rania pun refleks langsung beranjak berdiri dari posisinya yang semula sedang duduk ke posisinya yang kini sedang berdiri.
Tak hanya itu saja, bahkan Rania pun berniat untuk meninggalkan anak perempuannya tersebut di dalam kamarnya dengan mengajak menantu kesayangannya agar segera pergi ke dapur kesayangannya.
"My beloved daughter-in-law, let's just leave Mama's very naughty and annoying child! It is better for us to hurry to Mama's favorite kitchen to make birthday cakes for Rafa and Rafi, rather than taking care of a naughty and annoying child like her! (Menantu kesayanganku, ayo kita tinggalkan saja anak Mama yang sangat nakal dan menyebalkan ini! Lebih baik kita segera menuju ke dapur kesayangan Mama untuk membuat kue ulang tahun untuk Rafa dan Rafi, daripada kita mengurusi anak yang nakal dan menyebalkan seperti dia!)" ucap Rania sembari menarik salah satu tangan milik menantu kesayangannya yang ada di dekatnya.
Nara pun kini hanya bisa menjawab ucapan sang Mama mertua dengan sebuah anggukan dari kepalanya tersebut tanpa bisa menjawabnya dengan satu patah kata pun.
Nara yang mendapatkan tarikan dari sang Mama mertua pun hanya bisa pasrah saja. Nara bahkan kini sedang beranjak untuk berdiri dari posisinya yang semula sedang duduk untuk menuju ke dapur kesayangan sang Mama mertua agar bisa membuat kue ulang tahun milik suami kecilnya dan juga adik iparnya tersebut.
Setelah Nara sudah beranjak berdiri dari posisinya yang semula sedang duduk, Nara dan Rania pun langsung melangkahkan kedua kaki mereka untuk menuju ke arah dapur kesayangan Rania agar bisa membuat kue ulang tahun untuk Rafa dan juga Rafi.
Setelah langkah kedua kaki sang Mama dan juga kakak ipar kesayangannya yang kini sedang menuruni anak tangga, Raihana pun sekarang baru sadar jika dirinya sudah di tinggalkan oleh sang Mama dan juga kakak ipar kesayangannya tersebut.
Seakan tak kehabisan akal, Raihana pun langsung berlari begitu saja tanpa menutup pintu kamarnya kembali untuk menuju ke arah anak tangga agar bisa menyusul langkah kedua kaki sang Mama dan kakak ipar kesayangannya tersebut.
Tak hanya berlarian mengejar sang Mama dan kakak ipar kesayangannya saja, Raihana bahkan juga berteriak-teriak dengan sangat keras, seakan Raihana menganggap rumah keluarga Abayomi ini adalah sebuah hutan belantara yang sangat lebat.
"Hey, Mama, sister-in-law, wait Rai! Don't keep avoiding Rai! Rai is so tired running after the two of you, Mama, sister-in-law! Come on, stop for a moment and let Rai walk beside you two, Mama, sister-in-law (Hei, Mama, kakak ipar, tunggu Rai! Jangan menghindari Rai terus! Rai sangat lelah berlari mengejar kalian berdua, Mama, kakak ipar! Ayolah, berhenti sejenak dan biarkan Rai berjalan di samping kalian berdua, Mama, kakak ipar)" teriak Raihana sembari berlarian untuk mengejar sang Mama dan kakak ipar kesayangannya yang kini sudah berjalan di lantai dasar.
__ADS_1
Seakan tak menganggap ada teriakan Raihana yang begitu keras dan menggema di seluruh penjuru rumah keluarga Abayomi, dengan sangat tenang Nara dan Rania pun melangkahkan kedua kaki mereka untuk menuju ke arah dapur kesayangan Rania.
Padahal Nara sangat ingin sekali memberhentikan langkah kedua kakinya tersebut, hanya saja sang Mama mertua memberinya sebuah ancaman yang sangat keras jika dirinya masih ingin memberhentikan langkah kedua kakinya tersebut.
"My beloved daughter-in-law, don't you ever stop your second step if you don't want Mama to send you and Rafa to a five-star hotel so you can do that! Just let the naughty and annoying child scream like Tarzan who is in a very dense wilderness! (Menantu kesayanganku, jangan pernah kamu memberhentikan langkah kedua kakimu itu jika kamu tidak mau Mama mengirimmu dan Rafa ke hotel bintang lima agar bisa melakukan hal itu! Biarkan saja anak yang anak yang nakal dan menyebalkan itu berteriak-teriak seperti tarzan yang sedang berada di dalam hutan belantara yang sangat lebat!)" ucap Rania sembari menatap wajah cantik dan imut milik menantu kesayangannya tersebut dengan tatapan yang menyiratkan sebuah keseriusan.
Sontak saja ancaman dari sang Mama mertua tersebut membuat Nara pun kini mengurungkan untuk memberhentikan langkah kedua kakinya tersebut.
Di dalam relung hatinya yang paling dalam, Nara pun bergidik ngeri dan berharap bahwa perkataan sang Mama mertua tak akan menjadi kenyataan pada suatu saat nanti.
Tak hanya itu saja, Nara bahkan kini sedang bersusah payah untuk menelan salivanya sendiri karena merasa sangat takut demgan ancaman yang di berikan oleh sang Mama mertuanya tersebut.
"Ā, arrā yo. Nara wa, itsuka Nara no giri no mama ga iu koto ga, Nara to rafa no ma de sonoyōni okoranai koto o hontōni nozonde imasu. Nara to rafa no ma de kore ga hontōni okottara, sore wa hidoku bakagete irudarouto Nara wa sōzō shimashita. Arrā yo, Nara no yōkyū o mitomete kudasai! (Ih, Ya Allah. Nara sangat berharap sekali bahwa nanti pada suatu saat perkataan Mama mertua Nara tidak akan terjadi seperti itu di antara Nara dan Rafa. Nara membayangkan rasanya sangat mengerikan dan menggelikan jika hal itu benar-benar sampai terjadi di antara Nara dan Rafa. Ya Allah, tolong kabulkanlah permintaan Nara ini!)" batin Nara sembari dengan sangat bersusah payah untuk menelan salivanya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Nara dan Rania pun kini telah sampai di area dapur yang menjadi dapur kesayangan milik Rania tersebut. Tentunya dengan Raihana yang kini juga telah sampai di area dapur yang menjadi dapur kesayangan milik sang Mama dengan nafas yang terlihat sangat tersengal-sengal karena sehabis berlari dari kamarnya yang berada di lantai 2 menuju ke arah dapur yang berada di lantai 1.
"Hah, Rai feels really tired, Mama, my favorite sister-in-law. That was because Rai was running from Rai's room on the 2nd floor towards the kitchen on the 1st floor. (Hah, Rai rasanya sangat lelah sekali, Mama, kakak ipar kesayanganku. Itu di karenakan Rai yang berlarian dari kamar Rai yang berada di lantai 2 menuju ke arah dapur yang berada di lantai 1.)" teriak Raihana masih dengan nafasnya yang tersengal-sengal karena kelelahan setelah berlarian dari kamarnya yang berada di lantai 2 menuju ke arah dapur yang berads di lantai 1.
Rania yang mendengar perkataan dari anak perempuannya tersebut yang mengatakan bahwa dirinya merasa lelah karena berlari dari kamarnya yang berada di lantai 2 menuju ke arah dapur yang berada di lantai 1 pun mulai mengejek anak perempuannya tersebut.
Rania pun kini mengejek anak perempuannya tersebut tepat di titik yang menjadi kelemahan sekaligus impian terbesar bagi anak perempuannya tersebut.
"So if you want to run around like Korean dramas you have to be strong and not weak like this. If you are weak like this no one wants to glance at you to become a player in Korean dramas! (Makanya kalau mau lari-larian seperti drama korea harus kuat dan tidak lemah seperti ini. Kalau kamu lemah seperti ini kan tidak ada yang mau melirikmu untuk menjadi pemain di dalam drama korea!)" ejek Rania kepada anak perempuannya tersebut sembari menyunggingkan sebuah senyuman yang bermakna mengejek di wajahnya yang cantik tersebut.
Raihana yang mendengar perkataan sang Mama pun kini di buat menjadi sangat sedih, kesal, dan juga kecewa yang berbaur menjadi satu karena perkataan sang Mama tersebut.
"Ish, this Mama sucks! Mama always teases me at the point of being my biggest weakness and my biggest dream! (Ish, Mama ini menyebalkan! Mama selalu saja mengejekku di titik yang menjadi kelemahan terbesarku sekaligus impian terbesarku itu!)" cicit Raihana sembari memanyunkan bibirnya dan memasang ekspresi wajah yang menyiratkan sebuah kesedihan, kekesalan, dan kekecewaan yang berbaur menjadi satu.
Tanpa memberikan respon atas perkataan anak perempuannya yang menyiratkan sebuah kesedihan, kekesalan, dan kekecewaan yang berbaur menjadi satu, Rania pun kini sedang mengeluarkan sebuah kertas dari saku bajunya dan kini Rania berikan kertas tersebut kepada menantu kesayangannya.
"Nara, Rai, you guys take the materials you need which are written on this paper. The ingredients are all in the fridge. Immediately you guys take the ingredients we need, because Mama will prepare the tools we need later, such as a mixer and so on. (Nara, Rai, kalian ambil bahan-bahan yang di perlukan yang tertulis di dalam kertas ini ya. Bahan-bahannya semua ada di lemari es. Segeralah kalian mengambil bahan-bahan yang kita butuhkan, karena Mama akan menyiapkan alat-alat yang kita butuhkan nanti, seperti mixer dan lain sebagainya)" ucap Rania sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik menantu kesayangannya dan juga wajah cantik dan imut milik anak perempuannya tersebut.
"All right, Ma (Baiklah, Ma)" jawab Nara dan Raihana dengan spontan secara bersamaan.
Kini, Nara dan Raihana pun melangkahkan kedua kaki mereka untuk menuju ke arah lemari es yang ada di dapur ini. Sedangkan Rania, dia melangkahkan kedua kakinya untuk menuju ke arah tempat penyimpanan alat-alat untuk membuat kue.
__ADS_1
Setelah sampai di depan pintu lemari es, kedua tangan Nara pun tergerak untuk membuka pintu dari lemari es tersebut yang di lapisi oleh kaca tempred glass tersebut.
Nara dan Raihana pun kini mulai mengambil dan mengumpulkan semua bahan yang di butuhkan untuk membuat kue ulang tahun untuk Rafa dan Rafi nanti.
"Remember, we take all the ingredients we need to make a birthday cake and don't leave anything left, okay? (Ingat, kita ambil semua bahan-bahan yang kita butuhkan untuk membuat kue ulang tahun dan jangan sampai ada yang tertinggal, oke?)" ucap Nara sembari mengambil dan mengumpulkan bahan-bahan yang di butuhkan untuk membuat kue ulang tahun untuk suami kecilnya dan juga adik iparnya nanti.
"Alright, my beloved sister-in-law who is very beautiful (Baiklah, kakak ipar kesayanganku yang sangat cantik ini)" jawab Raihana sembari mengambil dan mengumpulkan bahan-bahan yang di butuhkan untuk membuat kue ulang tahun untuk kedua kakak laki-laki kembarnya nanti.
Setelah selesai mengumpulkan semua bahan-bahan yang di butuhkan untuk membuat kue ulang tahun untuk Rafa dan Rafi, serta memastikan bahwa tidak ada satu pun bahan yang tertinggal, Nara dan Raihana pun kini langsung melangkahkan kedua kaki mereka untuk menuju ke arah meja yang telah di sediakan untuk kegiatan masak-memasak.
Sesampainya di depan meja yang telah di sediakan untuk kegiatan masak-memasak, Nara dan Raihana langsung menaruh bahan-bahan yang di butuhkan untuk membuat kue ulang tahun di atas meja tersebut.
Kini, terlihatlah juga Rania yang tengah berjalan ke arah meja yang di sediakan untuk kegiatan masak-memasak sembari membawa dua buah mixser serta beberapa loyang kue yang berukuran sedang dengan di bantu oleh seorang Asisten Rumah Tangga yang di ketahui bernama Bi Tiah.
Sesampainya di depan meja yang di sedikan untuk kegiatan masak-memasak, Rania dan Bi Tiah pun langsung menaruh dua buah mixer dan beberapa loyang kue yang berukuran sedang di atas meja tersebut.
Rania pun kini berhasil mengejutkan anak perempuannya dan juga menantu kesayangannya akan kedatangannya dan Asisten Rumah Tangga yang di ketahui bernama Bi Tiah tersebut dengan sebuah pertanyaan yang di tujukan kepada anak perempuannya dan juga menantu kesayangannya tersebut.
"Have all the ingredients needed to make a birthday cake taken, Nara, Raihana? (Apakah bahan-bahan yang di butuhkan untuk membuat kue ulang tahun sudah semua di ambil, Nara, Raihana?)" tanya Rania sembari menatap ke arah wajah cantik milik menantu kesayangannya serta wajah cantik dan imut milik anak perempuannya tersebut.
Sontak saja Nara dan Raihana pun di buat menjadi sangat terkejut akan kehadiran Rania dan Asisten Rumah Tangga yang di ketahui bernama Bi Tiah tersebut yang bisa terbilang sangatlah tiba-tiba.
"Yes, Mom. But since when have Mama and Auntie been there? (Sudah, Ma. Tapi, sejak kapan Mama dan Bibi sudah berada di sana?)" tanya Nara dan Raihana kepada Rania secara bersamaan sembari memasang ekspresi wajah yang menyiratkan keterkejutan yang mendalam.
"Ah, just now Mama and Bi Tiah were here. Nara, this is Bi Tiah who is a household assistant in this family house. He also used to help Mama take care of Rafa, Rafi, and Raihana when she was a baby. Now he is a close friend as well as Mama's confidant friend when everyone has gone to the company and gone to school (Ah, baru saja Mama dan Bi Tiah berada di sini. Nara, perkenalkan ini Bi Tiah yang merupakan Asisten Rumah Tangga di rumah keluarga ini. Beliau juga dulunya membantu Mama mengurusi Rafa, Rafi, dan Raihana ketika masih bayi. Sekarang beliau menjadi teman dekat sekaligus teman curhat Mama ketika semua orang sudah pergi ke perusahaan dan pergi ke sekolah)" ucap Rania sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.
Nara pun kini memperkenalkan dirinya kepada Asisten Rumah Tangga yang di ketahui bernama Bi Tiah tersebut. Tentunya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya yang sudah menjadi tradisi di Jepang untuk menghormati orang yang lebih tua.
"Hello, aunt. My name is Narahita Hideko Yamada, auntie can call me by calling Nara (Halo, bibi. Perkenalkan nama saya Narahita Hideko Yamada, bibi bisa memanggil saya dengan panggilan Nara)" ucap Nara sembari sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menghormati Bi Tiah yang sepertinya sekarang usianya sudah berkisar antara 50 tahunan.
"Hello too, young lady. My name is Fatmawati Latiah. Miss Muds can call me by calling Tiah (Halo juga, nona muda. Perkenalkan nama saya Fatmawati Latiah. Nona muds bisa memanggil saya dengan panggilan Tiah)" ucap Bi Tiah sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang di tujukan kepada Nara.
Setelah adegan perkenalan di antara Nara dan Bi Tiah, adegan selanjutnya di lanjutkan oleh adegan Rania yang membanggakan sesosok Bi Tiah yang menjadj Asisten Rumah Tangga di rumah keluarga Abayomi sekaligus teman curhat bagi Rania.
"Nara, Bi Tiah is very kind and very patient. It is not wrong if Mama really liked Bi Tiah's performance and also Mama chose her as a friend to confide in when everyone had gone to the company and also to school. Bi Tiah is a motivator and can motivate other people whose minds are still in a deadlock phase. Mama is very lucky, can't you find a friend to confide in who is kind, patient, and a motivator? (Nara, Bi Tiah ini orangnya sangat baik dan sabar sekali. Tak salah jika Mama sangat menyukai kinerja Bi Tiah dan juga Mama memilihnya sebagai teman curhat Mama ketika semua orang sudah pergi ke perusahaan dan juga ke sekolah. Bi Tiah ini orangnya bersifat motivator dan bisa memotivasi orang lain yang pikirannya masih berada di fase jalan buntu. Mama sangat beruntung bukan bisa mendapatkan teman curhat yang bersifat baik, sabar, dan motivator ini?)" ucap Rania sembari perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya yang cantik tersebut.
__ADS_1
Raihana yang mendengar perkataan sang Mama yang membanggakan seorang Bi Tiah pun langsung membalas ucapan sang Mama walaupun hanya bisa terucap di dalam hatinya saja.
"Yes, Ma. You say that right. Bi Tiah is a very kind person that allows Rai to escape from the tigress! (Iya, Ma. Benar katamu itu. Bi Tiah itu orangnya sangat baik sehingga menjadikan Rai bisa lepas dari terkaman macan betina!)" batin Raihana sembari perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman getir di wajahnya yang cantik dan imut tersebut.