
Sama halnya dengan Kenzo dan Zayn yang merasa Rafa sedang menyembunyikan suatu rahasia yang sangat besar, Vannesha dan Anissa juga heran mengapa Rafa bisa bersikap seperti itu kepada Nara.
Walau tak terlihat dari ekspresi wajahnya, Kenzo, Zayn, Vannesha, dan juga Anissa bisa melihat suatu kekhawatiran yang sangat besar dari Rafa kepada Nara.
Hal ini pun semakin memperkuat kecurigaan yang besar dari Kenzo, Zayn, Vannesha, dan juga Anissa kepada Rafa.
Lain halnya dengan Kenzo dan Zayn yang berani mengutarkan rasa penasarannya dengan bertanya kepada Rafa secara langsung, Vannesha dan Anissa justru tak berani untuk memanyakan hal ini kepada Rafa secara langsung.
Vannesha dan Anissa hanya bisa menerka-nerka di dalam pikiran mereka masing-masing demi menghindari amukan dari Rafa yang sekarang suasana hatinya sedang sangat buruk.
"What's wrong with Rafa? Why is he being like that? As far as I know Rafa never panicked and cried just because of a woman. Is Nara a very special woman for Rafa? (Ada apa dengan Rafa? Kenapa dia menjadi seperti itu? Setahuku Rafa tidak pernah menjadi panik dan menangis hanya karena seorang perempuan. Apakah Nara itu perempuan yang sangat spesial bagi Rafa?)" batin Vannesha sembari mencuri-curi pandang ke arah wajah tampan milik Rafa.
"I think it's true Kenzo and Zayn said that Rafa was keeping a very big secret. Whatever it is I hope that it's something good and not something bad (Aku rasa benar kata Kenzo dan Zayn yang mengatakan bahwa Rafa sedang menyimpan rahasia yang sangat besar. Apa pun itu aku berharap bahwa itu sesuatu yang baik dan bukan sesuatu yang buruk)" batin Anissa sembari meenyatukan jari-jari tangannya.
Sementara itu, Rafa yang sudah mendengarkan perkataan dari Kenzo dan Zayn yang mengatakan bahwa Rafa sedang menyembunyikan suatu rahasia yang besar pun hanya bisa terdiam di dalam lamunannya.
Bisa di bilang jika sekarang tubuh Rafa memang berada di atas kursi tunggu yang ada di depan bilik kamar yang di dalamnya terdapat Nara, tapi pikiran Rafa tidak bisa diam di satu tempat saja. Pikiran Rafa terus berkelana untuk memikirkan keadaan istri kecilnya yang sedang di tangani oleh para dokter-dokter yang bertugas di ruang UKS.
"Apa sikapku ini sangat berlebihan ketika mengatahui istri kecilku sendiri yang sedang jatuh pingsan sehingga mereka menjadi curiga terhadapku?" batin Rafa sembari menatap wajah tampan milik Kenzo dan Zayn secara bergantian.
Rafa yang masih sibuk berkelana di dalam pikirannya sendiri pun semakin membuat Kenzo dan Zayn menjadi penasaran dengan jawaban yang akan di ucapkan oleh Rafa.
"Hey Rafa, don't you have a mouth to answer my and Zayn's question? Why are you just silent? (Hei Rafa, apakah kamu tidak mempunyai mulut untuk menjawab pertanyaanku dan Zayn? Mengapa kamu hanya diam saja?)" batin Kenzo sembari menatap wajah tampan milik Rafa dengan tatapan yang menyiratkan kegeraman kepada Rafa.
"If you don't want to tell us about the big secret you are hiding, then I will not tell you the big secret that I keep! Remember that, Muhammad Rafardhan Abayomi! (Jika kamu tidak mau memberi tahu kami tentang rahasia besar yang kamu sembunyikan, maka aku tidak akan memberi tahu rahasia besar yang aku simpan kepadamu! Camkan itu, Muhammad Rafardhan Abayomi!)" batin Zayn sembari menatap ke arah wajah tampan milik Rafa dengan tatapan tajamnya.
Rafa yang pada dasarnya memang sudah bersifat kejam dan dingin pun sama sekali tak mempermasalahkan tentang tatapan yang menyiratkan kegeraman dari Kenzo dan juga tatapan tajam yang di layangkan oleh Zayn.
"Just look at my face with a look that expresses your fondness and also a sharp gaze from you. I don't mind this at all. So, you guys just do as you like! (Tataplah saja wajahku ini dengan tatapan yang menyatakan kegemaran dan juga tatapan tajam dari kalian. Aku sama sekali tak mempermasalahkan hal ini. Jadi, kalian lakukan saja sesuka hati kalian!)" batin Rafa sembari menatap dengan lekat ke arah wajah tampan milik Kenzo dan Zayn.
Untuk beberapa saat hanya ada keheningan dan kesunyian yang ada di ruang UKS yang terdapat di Internasional Senior High School karena Rafa, Kenzo, Zayn, Vannesha, dan juga Anissa sedang sibuk berkelana di pikiran masing-masing.
Hingga pada akhirnya, terdapat suara pintu ruang UKS yang sedang di banting oleh seseorang yang sekarang sedang memasuki ruang UKS dengan air mata yang masih mengalir dengan derasnya.
Dia adalah Raihana yang tadinya membanting pintu ruang UKS dengan sangat keras dan sekarang sedang berjalan memasuki ruang UKS dengan air mata yang masih mengalir dengan derasnya. Di belakangnya, terlihat ada Rafi yang memasang ekspresi yang menyiratkan kekhawatiran di wajahnya yang tampan.
Dengan segera Raihana berlari menuju ke arah Rafa yang sedang duduk di atas kursi tunggu yang ada di depan bilik kamar Nara.
Setelah sampai di dekat Rafa, Raihana langsung memeluk dengan sangat erat tubuh kakak laki-lakinya, tentunya masih dengan air mata yang mengalir dengan derasnya.
"Ani, gikei no doko ga ikenai no? Naze kare wa UKS no heya ni iru koto ga dekita nodesu ka? Naze ani? Rai no shitsumon ni ima sugu kotaete kudasai! (Kakak, ada apa dengan kakak ipar? Kenapa dia bisa berada di dalam ruang UKS? kenapa kakak? Jawab pertanyaan Rai sekarang!)" teriak Raihana sembari menangis kencang di pelukan kakak laki-lakinya.
Rafa langsung menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar karena mendengar perkataan adik perempuannya yang menanyakan keadaan kakak iparnya.
"Anata no giri no kyōdai, Rai ga kizetsu shita toki no seikakuna nenpyō mo shirimasen. Dakara, anata wa gaman shite kudasai. Tabun sugu ni anata no giri no kyōdai to issho ni hataraite iru isha ga sugu ni watashitachi ni yattekurudeshou (Kakak juga tidak tahu kronologinya yang pasti ketika kakak iparmu jatuh pingsan, Rai. Jadi, kamu bersabarlah. Mungkin sebentar lagi para dokter-dokter yang sedang menangani kakak iparmu itu akan segera datang mengampiri kita)" ucap Rafa sembari memberikan sebuah elusan lembut di puncak kepala adik perempuannya.
Kenzo dan Zayn yang notabenenya orang yang menguasai berbagai bahasa, seperti bahasa Jepang pun merasa sangat terkejut dengan perkataan Raihana yang mengatakan bahwa Nara itu adalah kakak iparnya.
"Ah, it's impossible if the beautiful Nara could be the wife of young master Rafardhan who is famous for his cold nature (Ah, tidak mungkin rasanya jika Nara yang cantik jelita bisa menjadi istri dari tuan muda Rafardhan yang terkenal dengan sifatnya yang dingin)" batin Zayn sembari menatap ke arah wajah tampan milik Rafa dengan tatapan lekatnya.
"Is my hearing problematic? Or am I dreaming now? Why does it hurt even though you haven't heard Rafa's official acknowledgment? Looks like my heart will break into small crumbs (Apakah pendengaranku sedang bermasalah? Atau apakah aku kini sedang bermimpi? Kenapa rasanya menyakitkan walau belum mendengarkan pengakuan resmi dari Rafa? Sepertinya hatiku akan patah menjadi remahan-remahan kecil)" batin Kenzo sembari mencoba meraba tangannya sendiri untuk memastikan bahwa dirinya sedang bermimpi atau tidak.
Rafa yang mendengar perkataan adik perempuannya pun menjadi sangat sedih karena Raihana terus saja menangis meraung-raung karena mengetahui sang kakak ipar yang sedang terbaring lemah di ranjang yang ada di salah satu bilik UKS.
"Jangan menangis terus, Raihana. Kakak sangat sedih melihatmu menangis meraung-raung karena mengetahui kakak iparmu yang sedang terbaring lemaj di ranjang yang ada di salah satu bilik UKS" batin Rafa sembari mengelus dengan lembut puncak kepala adik perempuannya.
Rafi yang sekarang sudah berada di samping kakak kembarnya pun langsung mengelus dengan lembut punggung kakak kembarnya.
"Shibarakuomachikudasai. Watashitachi no jinsei de sono jūyōna jinbutsu ga UKS beddo ni yowaku yokotawatte iru toki, sore ga dorehodo tsurai ka o shitte imasu (Kakak yang sabar ya. Aku tahu sangat berat rasanya ketika orang yang berarti dalam hidup kita itu sedang terbaring lemah di atas ranjang UKS)" ucap Rafi sembari mengelus dengan lembut punggung kakak kembarnya.
Rafa pun langsung meneteskan air matanya ketika mengingat istri kecilnya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang yang ada di salah satu bilik UKS.
"Anata wa jibun ga kanjite iru koto o hontōni rikai shite imasu, rafi (Kamu ini paling mengerti apa yang sedang kakak rasakan, Rafi)" ucap Rafa sembari menyeka air matanya yang keluar tanpa di sengaja dari pelupuk matanya.
"Watashitachiha futagodesu, kyōdai. Mama no tainai kara issho ni imasu. Dakara watashi ga anata no kimochi o shitte ite, anata ga nani o kanjite iru no ka o rikai suru no wa tōzendesu (Kita ini saudara kembar, kakak. Kita ini sudah bersama sejak di dalam kandungan Mama. Jadi wajar saja jika aku tahu perasaan kakak dan mengerti apa yang sedang kakak rasakan)" ucap Rafi sembari mengelus dengan lembut punggung kakak kembarnya.
"Sō sō, uta o kiku koto wa anata no kyōdai no warui kibun o kaizen suru no o tasukeru koto ga dekimasu (Oh ya kak, mendengarkan lagu bisa membantu untuk memperbaiki suasana hati kakak yang sedang buruk)" lanjut Rafi sembari memberikan senyuman terbaiknya kepada kakak kembarnya yang kini suasana hatinya sedang sangat buruk.
Rafa yang mendengar perkataan adik kembarnya yang menyiratkan perhatian padanya pun diam-diam menyunggingkan senyuman kecil di wajahnya yang tampan secara perlahan-lahan.
"Benar katamu, Rafi. Kita sudah bersama sejak di dalam kandungan Mama. Kita saling mengerti perasaan satu sama lain. Aku dan kamu itu bagaikan kertas yang di fotokopi yang sangat sama persis. Kedua sifat kita yang sangat bertolak belakang itu saling melengkapi satu sama lain. Rasanya aku ingin memelukmu, Rafi. Tapi egoku mengatakan bahwa hal itu terlalu kekanak-kanakan. Jadi, aku tidak akan memelukmu dan menunjukkan rasa sayangku padamu secara diam-diam" batin Rafa sembari menyunggingkan senyuman kecil di wajahnya yang tampan secara perlahan-lahan.
Lain di hati, lain pula di kata. Kata-kata yang seharusnya tidak di ucapkan oleh Rafa kepada adik kembarnya pun keluar karena ingin mengekspresikan rasa sayangnya kepada adik kembarnya.
"Ā, tote mo yoi adobaisudesu. Futago no imōto ni kansha shimasu. Anata no sōrumeito ga kuru no o nagaku matte, hijō ni seijuku shita nenrei de kekkon suru koto o anata ni inorimasu (Ah, bagus sekali saranmu. Terima kasih adik kembarku. Aku doakan kamu semoga kamu lama menunggu jodohmu datang dan kamu menikah di usia yang sudah sangat matang)" ucap Rafa sembari menatap ke arah wajah tampan milik adik kembarnya dengan tatapan lekatnya.
"Shitte imasu ka, Rafi? Anata o mite iru to, jibun no sugata ga utsutte iru yōdesu. Onaji-gao, wazuka ni nita chisei, soreha watashitachi no seishitsu ga hijō ni kotonaru to iu dakedesu. Papa ga watashitachi no ryōhō o miru to, watashitachiha papa ni hijō ni nite irunode, papa wa watashitachi no naka ni jibunjishin'no hansha o mirudeshou (Apakah kamu tahu, Rafi? Jika aku melihatmu, maka aku seperti melihat cerminan diriku sendiri. Wajah yang sama, kecerdasan yang sedikit mirip, hanya saja sifat kita yang sangat berbeda. Jika Papa melihat kita berdua, maka Papa akan melihat cerminan dirinya pada diri kita karena kita itu sangat mirip dengan Papa)" batin Rafa sembari menatap ke arah wajah tampan milik adik kembarnya dengan tatapan lekatnya.
Rafi yang mendengar perkataan kakak kembarnya pun mulai mengubah ekspresi wajahnya dari yang semula tersenyum kepada kakak kembarnya, kini Rafi memasang ekspresi datar di wajahnya yang tampan.
"Hai. Sorekara watashi wa anata ga anata no giri no kyōdai de sore o suru koto ni shippai shi, anata ga muchūninaru yokubō o osaeru koto ni yotte kurushime rare tsudzukeru koto o inorimasu (Oke. Kalau begitu aku doakan agar kakak gagal melakukan hal itu dengan kakak ipar dan kakak terus tersiksa karena menahan hasrat yang terpendam)" ucap Rafi sembari menatap wajah tampan milik kakak kembarnya dengan tatapan sinisnya.
Rafa pun segera mengeluarkan headset dan ponsel miliknya dari dalam saku celananya untuk menyalakan lagu dari playsit musiknya.
__ADS_1
Rafa pun segera menyambungkan headset dan ponsel miliknya dengan sambungan bluetooth agar bisa menyalakan lagu yang akan di putar dari playsit musiknya.
"Daijōbu, mondainai (Oke, tidak masalah)" ucap Rafa dengan santai sembari memasang headset miliknya di kedua telinganya.
Rafa pun segera memilih untuk menyalakan lagu If I Let You Go dari Westlife dari playsit musiknya yang ada di ponselnya.
Day after day
Hari demi hari
Time pass away
Waktu berlalu
And I just can't get you off my mind
Dan aku tidak bisa melepaskanmu dari pikiranku
Nobody knows
Tidak ada yang tahu
I hide it inside
Saya menyembunyikannya di dalam
I keep on searching, but I can't find
Saya terus mencari, tetapi saya tidak dapat menemukan
The courage to show to letting you know
Keberanian untuk menunjukkan kepada Anda
I've never felt so much love before
Aku belum pernah merasakan begitu banyak cinta sebelumnya
And once again I'm thinking about
Dan sekali lagi aku memikirkannya
Taking the easy way out
Mengambil jalan keluar yang mudah
Tetapi jika saya membiarkan Anda pergi, saya tidak akan pernah tahu
What my life would be holding you close to me
Apa hidup saya akan menahan Anda dekat dengan saya
Will I ever see you smiling back at me?
Akankah aku pernah melihatmu tersenyum kembali padaku?
(Oh yeah) how will I know if I let you go?
(Oh ya) bagaimana saya tahu jika saya membiarkan Anda pergi?
Night after night I hear my self say
Malam demi malam saya mendengar diri saya berkata
Why can't this feeling just fade away?
Mengapa perasaan ini tidak bisa hilang begitu saja?
There's no one like you, you speak to my heart
Tidak ada orang sepertimu, kamu berbicara ke hatiku
It's such a shame we're worlds apart
Sayang sekali kita terpisah jauh
I'm too shy to ask, I'm to proud to lose
Saya terlalu malu untuk bertanya, saya bangga kalah
But sooner or later I've got to choose
Tapi cepat atau lambat aku harus memilih
__ADS_1
And once again I'm thinking about
Dan sekali lagi aku memikirkannya
Taking the easy way out
Mengambil jalan keluar yang mudah
But if I let you go I will never know
Tetapi jika saya membiarkan Anda pergi, saya tidak akan pernah tahu
What my life would be holding you close to me
Apa hidup saya akan menahan Anda dekat dengan saya
Will I ever see you smiling back at me?
Akankah aku pernah melihatmu tersenyum kembali padaku?
(Oh yeah) how will I know if I let you go?
(Oh ya) bagaimana saya tahu jika saya membiarkan Anda pergi?
If I let you go, ooh baby
Jika aku membiarkanmu pergi, ooh sayang
Ohh, whoa
Ohh, whoa
Once again I'm thinking about
Sekali lagi saya memikirkan
Taking the easy way out
Mengambil jalan keluar yang mudah
But if I let you go I will never know
Tetapi jika saya membiarkan Anda pergi, saya tidak akan pernah tahu
What my life would be holding you close to me (close to me, yeah)
Apa hidup saya akan menahan Anda dekat dengan saya (dekat dengan saya, ya)
Will I ever see you smiling back at me?
Akankah aku pernah melihatmu tersenyum kembali padaku?
(Oh yeah) how will I know if I let you go?
(Oh ya) bagaimana saya tahu jika saya membiarkan Anda pergi?
But if I let you go I will never know
Tetapi jika saya membiarkan Anda pergi, saya tidak akan pernah tahu
Oh baby
Oh sayang
Will I ever see you smiling back at me?
Akankah aku pernah melihatmu tersenyum kembali padaku?
(Oh yeah) how will I know
(Oh ya) bagaimana saya bisa tahu
If I let you go?
Jika saya membiarkan Anda pergi?
Kenzo dan Zayn yang sejak tadi sangat geram sendiri dengan Rafa yang tidak menjawab pertanyaan mereka pun kini melangkan kembali pertanyaan serupa seperti tadi.
"Rafaaa, tell us the big secret that you are hiding from us right now! (Rafaaa, beri tahu kami rahasia besar yang sedang kamu sembunyikan dari kami sekarang juga!)" teriak Kenzo dan Zayn kepada Rafa sembari menatap wajah tampan milik Rafa dengan tatapan tajamnya.
Rafa pun menghembuskan nafasnya dengan kasar karena mendengar teriakan kedua sahabatnya yang menuntut untuk di beri tahu tentang rahasia besar yang sedang Rafa sembunyikan dari Kenzo dan Zayn.
"Kenzo, Zayn, Vannesha, Anissa, listen to me carefully! Maybe you will be surprised by my statement, but this is the truth. Nara and I are a husband and wife. Yesterday morning we carried out the procession of consent qabul at the house of the Yamada family, the Nara family. Do you understand my statement? (Kenzo, Zayn, Vannesha, Anissa, dengarkan aku baik-baik! Mungkin kalian akan terkejut dengan pernyataanku, tapi inilah kenyataannya. Aku dan Nara adalah sepasang suami istri. Kemarin pagi kami sudah melaksanakan prosesi ijab qabul di rumah keluarga Yamada, keluarga Nara. Apa kalian mengerti dengan pernyataanku?)" ucap Rafa sembari menatap ke arah wajah Kenzo, Zayn, Vannesha, dan Anissa secara bergantian.
__ADS_1