
"Ah, am I really old and ugly too? Hmm (Ah, benarkah aku ini tua dan juga jelek? Hmm)" ucap Caroline sembari berjalan mendekat ke arah Vannesha yang masih duduk di tempat duduknya.
Sesampainya di depan wajah Vannesha, Caroline langsung mencekal dagu Vannesha hingga membuat Vannesha menjadi sangat kesakitan.
Nara dan Anissa yang melihat Vannesha sedang di sakiti oleh Caroline yang sekarang sedang menggila pun langsung berusaha melepaskan tangan Caroline yang masih mencekal dagu Vannesha.
"Hey grandma tit, what do you want? After you came here and cursed Nara with harsh words, now you are gripping Vannesha's chin! What do you want an old, ugly tit, grandma? (Hei nenek gayung, apa maumu? Setelah kamu datang ke sini dan memaki Nara dengan kata-kata yang kasar, kini kamu justru mencekal dagu Vannesha! Apa maumu nenek gayung yang tua dan jelek?)" teriak Anissa sembari mencoba melepaskan tangan Caroline yang masih mencekal dagu Vannesha.
Caroline yang mendengar teriakan dari Anissa yang memberikan pembelaan kepada Nara dan juga Vannesha pun langsung menatap wajah Anissa dengan tatapan tajamnya yang akan membuat siapa pun merasakan seperti di tusuk oleh 1000 belati.
"Shut up! I don't wanna talk to you! I want to teach your two friends a lesson about how dare they snatch what belongs to a Caroline Nathania Roberts and also yell at me with the words of an old and ugly gay grandmother! (Diam! Aku tidak ingin berbicara padamu! Aku ingin memberi pelajaran kepada kedua sahabatmu tentang betapa beraninya mereka merebut apa yang telah menjadi milik seorang Caroline Nathania Roberts dan juga meneriakiku dengan kalimat nenek gayung yang tua dan jelek!)" ucap Caroline sembari menatap wajah Anissa dengan tatapan tajamnya.
Nara berusaha mencoba untuk melepaskan tangan Caroline yang masih mencekal dagu Vannesha. Tentu saja Caroline akan memberontak dan marah karena Nara sudah berani menganggunya.
"Tch, who do you think you are? Your power will not be able to beat the might of a Caroline Nathania Roberts who is the daughter of the Roberts family, the richest family in the United States. Your wealth will never beat the wealth of the Roberts family! (Cih, kamu pikir siapa dirimu? Kekusaanmu tak akan bisa mengalahkan kekusasaan seorang Caroline Nathania Roberts yang merupakan putri dari keluarga Roberts, keluarga terkaya di Amerika Serikat. Kekayaanmu pasti tak akan bisa mengalahkan kekayaan milik keluarga Roberts!)" batin Caroline sembari menyunggingkan senyuman licik di wajahnya.
Dengan perlahan-lahan Caroline melangkahkan kakinya menuju ke arah Nara. Kemudian dengan suasana hati yang kesal, Caroline langsung mencekal dagu Nara ketika sudah berada di depan Nara.
"Tch, who do you think you are who would dare to snatch what belongs to the young Miss Roberts, huh? Answer my question, you fool! (Cih, kamu pikir siapa dirimu yang berani merebut apa yang sudah menjadi milik nona muda keluarga Roberts, hah? Jawab pertanyaanku, bodoh!)" teriak Caroline dengan nada bicaranya yang terdengar sangat marah sembari mencengkram dagu Nara dengan sangat kuat.
"Caroline, come on and solve this problem as a family. Don't involve my two friends in this problem! (Caroline, ayolah selesaikan masalah ini secara keleluargaan. Jangan libatkan kedua sahabatku dalam masalah ini!)" ucap Nara dengan lembut sembari menatap wajah Caroline dengan tatapan lekatnya.
"I didn't tell you to dare say my name! Tch, don't hope I can solve this problem in a friendly manner! The young Miss Roberts will not allow anyone to take what is already hers! Do you understand, idiot? (Aku tidak menyuruhmu untuk berani menyebut namaku! Cih, jangan harap aku bisa menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan! Nona muda keluarga Roberts tak akan membiarkan siapa pun bisa mengambil apa yang telah menjadi miliknya! Apa kamu mengerti, bodoh?)" teriak Caroline dengan keras sembari menguatkan cengkramannya pada dagu Nara.
Nara yang merasa sangat kesakitan karena Caroline semakin menguatkan cengkraman di dagunya pun hanya bisa menahan rasa sakit tersebut tanpa bisa mengekspresikannya dengan ekspresi wajah atau pun dengan sepatah kata.
Caroline yang melihat Nara hanya diam saja tanpa menjawab ucapannya pun langsung di buat menjadi kesal. Dan tanpa aba-aba, Caroline langsung memberi Nara dua tamparan di kedua pipinya.
Plak
Plak
Terlihatlah Nara yang sedang berusaha menahan rasa sakit yang di berikan Caroline karena menapar kedua pipinya.
Untuk menyamarkan rasa sakitnya, Nara pun memilih untuk memasang ekspresi wajah yang datar. Selama hidup Nara, baru kali inilah Nara menyamarkan rasa sakitnya dengan ekspresi wajah yang datar. Biasanya Nara akan menyamarkan rasa sakitnya dengan menggunakan ekspresi wajah yang bahagia.
"Why are you just silent, huh? Is it that stupid for you to be crowned world champion in the Mathematical Olympiad? Tch, disgusting! (Kenapa kamu hanya diam saja, hah? Apa sebegitu bodohnya kah kamu yang di nobatkan menjadi juara dunia olimpiade matematika? Cih, menjijikan!)" teriak Caroline dengan keras sembari menatap wajah cantik Nara dengan tatapan sinisnya.
"Never mind Caroline. I don't want to get into trouble with you! (Sudahlah Caroline. Aku tidak mau mencari masalah denganmu!)" ucap Nara dengan nada bicara dan ekspresi wajahnya yang sangat datar.
Rafa yang baru menengok ke arah sampingnya pun menjadi terkejut karena di sana ada Caroline yang sedang berteriak dengan keras kepada istri kecilnya. Tak hanya itu, Rafa juga menjadi terkejut karena dia baru pertama kali melihat istri kecilnya yang berbicara dengan nada bicara dan ekspresi wajahnya yang sangat datar yang lebih datar dari ekspresi wajahnya.
"Aku baru pertama kali melihat istri kecilku berbicara dengan nada bicara dan ekspresi wajahnya yang sangat datar yang lebih datar dari ekspresi wajahku. Istri kecilku tampak jauh lebih mengerikan ketika dia sedang memasang nada bicara dan ekspresi wajahnya yang datar" batin Rafa sembari bergidik ngeri karena melihat sesosok istri kecilnya yang begitu mengerikan.
Caroline yang semakin terbakar amarahnya karena mendengar ucapan dari Nara pun berusaha untuk menampar pipi Nara kembali.
Namun ketika Caroline sedang mengangkat tangannya ke udara, Rafa sigap menahan tangan Caroline agar tidak kembali menampar pipi istri kecilnya kembali.
Nara yang melihat suami kecilnya yang sedang menahan tangan Caroline agar tidak kembali menampar pipinya pun mengucapkan banyak pujian dan ucapan terima kasih di dalam hatinya.
"Rafa, tasukete kurete arigatō kyarorain no te o nigitte tasukete kurenakattara dō naru ka wakaranai. Hansamu de sumāto de ritchidearu koto ni kuwaete, anata mo hitobito o tasuketai (Rafa, terima kasih sudah menolongku. Aku tak tahu akan menjadi apa jika kamu tidak menolongku dengan menahan tangan Caroline. Selain tampan, cerdas, kaya, ternyata kamu juga suka menolong orang ya)" batin Nara sembari menatap wajah tampan milik suami kecilnya dengan tatapan lekatnya.
__ADS_1
"I have already spoken that in this school and in this class there should be no violence against other students or girls! Be it physical violence or mental abuse. Do you understand what I said? (Aku sudah pernah bicara jika di sekolah ini dan di kelas ini tidak boleh ada kekerasan kepada siswa atau siswi lain! Baik itu kekerasan fisik atau kekerasan mental. Kamu mengerti dengan perkataanku?)" ucap Rafa dengan nada datarnya sembari menatap wajah Caroline dengan tatapan tajamnya.
Mendadak nyali Caroline pun menjadi ciut karena Rafa yang merupakan anak dari pemilik sekolah Internasional, ketua kelas 11 IPA 1, dan Ketua OSIS di Internasional Senior High School sudah turun tangan untuk menangani perbuatannya.
Sebenarnya Rafa pernah mengatakan bahwa sanksi yang akan di terima jika seseorang melakukan kekerasan fisik atau kekerasan mental adalah di keluarkan dari sekolah Internasional. Namun, Caroline sangat berharap jika hal tersebut tidak akan terjadi padanya.
"Ah, shit. Why did Rafa have to step in too? I don't want me to get kicked out of school in the future! I do not want! (Ah, sial. Kenapa Rafa harus turun tangan juga sih? Aku tidak mau jika aku nantinya akan mendapatkan sanksi di keluarkan dari sekolah! Aku tidak mau!)" teriak Caroline di dalam hatinya sembari menatap wajah cantik Nara dengan tatapan tajamnya.
Agar tak mendapatkan sanksi di keluarkan dari sekolah Internasional, Caroline berusaha membujuk Rafa agar tidak mengeluarkannya dari sekolah Internasional yang notabenenya adalah sekolah milik keluarga Abayomi.
"Rafa, come on, forgive my mistake and don't take me out of this school! (Rafa, ayolah maafkan kesalahanku dan jangan keluarkan aku dari sekolah ini!)" ucap Caroline sembari bergelayut manja di salah satu lengan Rafa.
Rafa yang merasa risih karena kelakuan Caroline padanya pun langsung menghempaskan dengan kuat kedua tangan Caroline yang sedang bergelayut manja di salah satu lengannya.
"Don't cling to my arms like that anymore! You sit down to your seat or I will kick you out of this school! Do you understand? (Jangan lagi bergelayut manja di lenganku seperti itu! Kamu duduklah ke tempat dudukmu atau aku akan mengeluarkanmu dari sekolah ini! Kamu mengerti?)" teriak Rafa sembari menatap wajah Caroline dengan tatapan sinisnya.
Karena tidak mau di keluarkan dari sekolah, akhirnya dengan berat hati Caroline harus kembali ke tempat duduknya.
Dengan suasana hati yang sangat kesal kepada Nara karena sudah mengambil seluruh pujian dan juga Rafa yang seharusnya menjadi miliknya, membuat Caroline tak berhenti untuk terus memaki Nara di dalam hatinya.
"You crazy Japanese girl! Just watch, I will never spare you! I hate you till I die, damn Japanese girl! (Dasar gadis Jepang yang gila! Lihat saja, aku tidak akan pernah mengampunimu! Aku membencimu sampai aku mati, gadis Jepang sialan!)" batin Caroline sembari mengepalkan tangannya karena merasa kesal kepada Nara.
Selepas kepergian Caroline yang kembali ke tempat duduknya, Nara, Vannesha, dan Anissa saling bertanya apakah mereka baik-baik saja kepada satu sama lain.
"Nesha, Nissa, are you guys okay? (Nesha, Nissa, apakah kalian tidak papa?)" ucap Nara dengan nada bicaranya yang menyiratkan betapa besarnya kekhawatirannya kepada kedua sahabatnya tersebut.
"We're okay. But shouldn't we be the ones asking you if you are okay? (Kami baik-baik saja. Tapi bukankah seharusnya kami yang bertanya padamu apakah kamu tidak papa?)" ucap Anissa dan Vannesha secara bersamaan sembari menatap lekat ke arah wajah cantik milik Nara.
Anissa dan Vannesha pun menganggukan kepalanya sebagai tanda bahwa Anissa dan Vannesha mempercayai ucapan Nara yang mengatakan bahwa Nara baik-baik saja.
Nara pun segera mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding yang terpasang di bagian depan kelas 11 IPA 1. Ketika melihat ke arah angka yang di tunjukkan oleh jarum jam dan jarum panjang, Nara pun merasa sangat terkejut karena sekarang jarum jam dan jarum panjang sedang menunjuk ke angka jam 08:00 WIB.
"I sat back down to my seat because soon class hours will start (Aku kembali duduk ke tempat dudukku ya karena sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai)" ucap Nara sembari melangkahkan kakinya menuju ke arah tempat duduknya.
Anissa dan Vannesha hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara untuk memberikan jawaban 'Ya' kepada Nara.
Sesampainya di meja Nara dan Rafa, Nara langsung duduk di tempat duduknya. Tak lupa untuk Nara mengeluarkan buku-buku pelajarannya dari dalam tasnya.
Teng
Teng
"Attention! Attention! Class hours will start soon. Please prepare your textbooks and stationery! Thank you (Perhatian-perhatian! Jam pelajaran akan segera di mulai. Silahkan persiapkan buku pelajaran dan alat tulis kalian. Terima kasih)"
Bell sekolah yang mendandakan waktu untuk jam pelajaran di mulai pun berbunyi. Semua siswa-siswi kelas 11 IPA 1 sudah duduk dengan rapi di tempat duduknya masing-masing karena guru yang akan mengajar akan segera memasuki kelas.
Berselang beberapa saat dari bell sekolah yang menandakan waktu jam pelajaran di mulai, suara ketukan high heels yang berjalan memasuki kelas 11 IPA 1 pun dengan lantai pun terdengar sangat jelas karena suasana kelas 11 IPA 1 yang sekarang sedang sunyi.
Tak
Tak
__ADS_1
Tak
Seorang guru perempuan memasuki kelas 11 IPA 1 dengan membawa beberapa buku pelajaran di tangannya. Berselang beberapa saat, guru tersebut pun menduduki kursi guru yang berada di depan papan tulis kelas 11 IPA 1.
"Hello children. Good morning. Introducing me, Bu Suzy Prescillea, an Indonesian teacher. Greetings to Narahita Hideko Yamada, a new student of grade 11 IPA 1, I hope you are happy to study in grade 11 IPA 1 (Halo anak-anak. Selamat pagi. Perkenalkan saya Bu Suzy Prescillea guru Bahasa Indonesia. Salam kenal untuk Narahita Hideko Yamada siswi baru kelas 11 IPA 1, semoga senang ya belajar di kelas 11 IPA 1)" ucap Bu Suzy sembari menyunggingkan senyuman lembut di wajahnya.
"Hello Ms. Suzy, good morning too. And nice to meet Madam, I hope Ms. Suzy can help me to learn Indonesian lessons (Halo Bu Suzy, selamat pagi juga. Dan salam kenal Bu, semoga Bu Suzy bisa membantu saya untuk mempelajari pelajaran Bahasa Indonesia)" jawab Nara sembari menyunggingkan senyuman lembut di wajahnya.
"Hello Ms. Suzy. Good morning (Halo bu Suzy. Selamat pagi)" jawab semua siswa-siswi kelas 11 IPA 1 dengan serentak.
"Okay, let's start Indonesian lessons today (Oke, kita mulai pelajaran Bahasa Indonesia hari ini)" ucap Bu Suzy sembari memulai menuliskan beberapa kata di papan tulis putih menggunakan spidol berwarna hitam.
Waktu terasa begitu cepat bagi Nara yang sedang fokus-fokusnya belajar pelajaran Bahasa Indonesia. Setahu Nara, tadi Bu Suzy sedang menuliskan beberapa materi di atas papan tulis putih dengan menggunakan spidol berwarna hitam. Tapi sekarang kenyataannya sekarang bell pertanda istirahat pun berbunyi.
Teng
Teng
"Attention! Attention! Break hours have started. Please clean up your textbooks and stationery and get some rest. Thank you (Perhatian-perhatian! Jam istirahat sudah di mulai. Silahkan membereskan buku-buku pelajaran berserta alat tulis dan segera beristirahat. Terima kasih)"
Semua siswa-siswi kelas 11 IPA 1 dan tak lupa juga dengan Bu Suzy sedang sibuk merapikan buku-buku pelajaran dan alat tulis masing-masing karena akan beristirahat selama 15 menit ke depan.
"Today's lesson ends here first. Have a good rest, children (Pelajaran hari ini sampai di sini dahulu. Selamat beristirahat anak-anak)" ucap Bu Suzy sembari melangkah meninggalkan kelas 11 IPA 1 dengan membawa buku-buku pelajaran di tengannya.
Selepas kepergian Bu Suzy, siswa-siswi kelas 11 IPA 1 mulai meninggalkan ruang kelas 11 IPA 1 untuk menuju ke arah kantin.
Di ruang kelas 11 IPA 1 hanya tersisa 6 orang saja, yaitu Nara, Anissa, Vannesha, Rafa, Kenzo, dan Zayn.
Terlihatlah di sana Nara, Anissa, dan Vannesha sedang berkumpul di depan meja Anissa dan Vannesha. Sedangkan Rafa, Kenzo, dan Zayn sedang berkumpul di depan meja Rafa dan Nara.
"Nara, let's go to the canteen. In the canteen there are many delicious foods which are of course Indonesian specialties (Nara, ayo kita ke kantin. Di kantin banyak makanan-makanan enak yang tentunya merupakan makanan khas Indonesia)" ucap Vannesha sembari menggenggam salah satu tangan Nara dengan sangat erat.
"Yes, Nesha said right. The food in the canteen is really good. In the canteen, the meatball menu is the best seller because it tastes so good. You can never find meatballs if you are in Japan (Iya, kata Nesha benar. Makanan di kantin sangatlah enak. Di kantin menu bakso lah yang paling laris karena rasanya sangat enak. Kamu tidak akan pernah bisa menemukan bakso jika kamu berada di Jepang)" ucap Anissa sembari membayangkan bakso dengan lautan cabai yang sangat menggugah selera makannya.
Karena mendengar perkataan Anissa yang mengatakan jika bakso itu rasanya sangat enak membuat Nara penasaran dengan rasa yang sesungguhnya ketika Nara mencobanya.
"Nissa wa mītobōru ga hontōniyokatta to iimashita. Shikashi, jissai ni tameshite miru to, hontō no aji ni kyōmigārimasu. Hontōni oishī no? (Nissa bilang bakso itu sangat enak. Tapi aku masih penasaran dengan rasa yang sesungguhnya ketika aku mencobanya. Apakah rasanya benar-benar sangat enak?)" batin Nara sembari menaruh jari telunjuknya di dagunya sendiri.
Sementara itu, Kenzo Afnan Rahardian dan Zayn Danish Zafiran yang merupakan kedua sahabat Rafa saat ini sedang sibuk mengamati gerak-gerik Nara, gadis Jepang yang sudah mencuri hati Kenzo dan Zayn sejak pertama kali Nara memperkenalkan dirinya.
Rafa yang melihat kedua sahabatnya yang sibuk memperhatikan gerak-gerik istri kecilnya pun menjadi sangat kesal karena kedua sahabatnya yang notabenenya playboy itu sudah menaruh hati kepada istri kecilnya.
"Nasib banget deh yang punya istri yang cantiknya kebangetan" batin Rafa sembari menatap wajah cantik istri kecilnya dengan tatapan lekatnya.
"Rafa, Zayn, let's approach them. I want to become officially acquainted with Nara (Rafa, Zayn, kita hampiri mereka yuk. Aku ingin berkenalan secara resmi dengan Nara)" ucap Kenzo sembari menarik salah satu tangan Rafa dan Zayn di kedua tangannya.
Rafa, Kenzo, dan Zayn pun mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Nara yang sedang berkumpul bersama dengan Anissa dan Vannesha.
Sesampainya di depan meja Anisaa dan Vannesha, Kenzo dan Zayn langsung berusaha menggoda Nara agar bisa berkenalan secara resmi dengan Nara.
"Hey beautiful! Can we formally meet you? (Hei cantik! Boleh kami berkenalan secara resmi denganmu?)" ucap Kenzo dan Zayn secara bersamaan sembari mengedipkan salah satu matanya ke arah Nara.
__ADS_1