Suami Kecilku

Suami Kecilku
Ch 40 - Dingin dan Datar


__ADS_3

Melihat kakak ipar kesayangannya tersebut yang sedang merasa malu hingga membuat wajahnya yang di sembunyikan di balik kedua tangannya tersebut menjadi sangat memerah seperti kepiting rebus, membuat Raihana semakin bersemangat untuk menggoda dan meledek kakak ipar kesayangannya tersebut agar menjadi semakin malu dan wajahnya yang cantik tersebut menjadi sangat memerah.


Ketika sedang merencanakan sebuah rencana untuk membuat kakak ipar kesayangannya tersebut menjadi sangat malu karena dirinya, Raihana pun menyunggingkan sebuah senyuman licik di wajahnya yang cantik dan imut tersebut secara perlahan-lahan.


"Hahaha, my beloved sister-in-law has sparked the flames of ignorance inside me! So, don't blame Rai when Rai teases and teases Rai's favorite sister-in-law so that he becomes even more embarrassed and Rai's beloved sister-in-law's face is getting flushed with embarrassment! (Hahaha, kakak ipar kesayanganku ini sudah memercikkan api-api kejahilan di dalam diriku ini! Maka, jangan salahkan Rai ketika Rai nanti menggoda dan meledek kakak ipar kesayangan Rai ini agar menjadi semakin malu dan wajah kakak ipar kesayangan Rai ini semakin memerah karena malu!)" batin Raihana sembari menyunggingkan sebuah senyuman licik di wajahnya yang cantik dan imut tersebut secara perlahan-lahan.


"Hey, my beloved sister-in-law is embarrassed because Rai has revealed the hidden fact. Brother Rafa, look at your little wife! Looks very adorable, like Angora and Persian cats! (Hei, kakak ipar kesayanganku ini sedang malu karena fakta terpendamnya sudah di ungkap oleh Rai. Kak Rafa, lihatlah istri kecilmu ini! Terlihat sangat menggemaskan sekali, seperti kucing anggora dan persia!)" ledek Raihana kepada kakak ipar kesayangannya tersebut yang kini sedang menutupi wajahnya yang sudah sangat memerah dengan kedua tangannya sendiri.


Sesuai seperti rencana yang di susun oleh Raihana pada awalnya, Nara pun kini semakin menenggelamkan wajahnya tersebut yang kini sudah semakin memerah seperti kepiting rebus tersebut di dalam kedua tangannya sendiri karena merasa sangatlah malu.


Nara pun kini di buat menjadi sangatlah malu sekaligus kesal dengan perkataan yang di ucapkan oleh adik iparnya tersebut. Walaupun begitu, Nara tetap tidak berani untuk mengatakannya secara langsung di depan adik iparnya sendiri.


Nara pun kini hanya berani untuk menegur adik iparnya tersebut di dalam hati kecilnya tanpa bisa mengatakan secara langsung teguran tersebut kepada adik iparnya dengan mulutnya sendiri.


"Ā, anata no giri no imōto, raihana o karakattari, kara kattari suru no o yame nasai! Anata ga anata o karakattari, kara kattari suru toki, anata wa anata no saiai no giri no kyōdai ga dorehodo hazukashī no ka wakarimasen! (Ah, berhentilah untuk menggoda dan meledek kakak iparmu ini, Raihana! Kamu tidak tahu bagaimana malunya kakak ipar kesayanganmu ini ketika kamu menggoda dan meledek kakak!)" batin Nara sembari semakin menenggelamkan wajahnya yang kini sudah semakin memerah seperti kepiting rebus tersebut di dalam kedua tangannya sendiri.


Berbeda dengan Nara yang di buat menjadi sangatlah malu sekaligus kesal dengan perkataan yang di ucapkan oleh Raihana, Rafa justru kini di buat menjadi sangat gemas sendiri ketika melihat ke arah istri kecilnya yang terlihat sangatlah menggemaskan ketika sedang merasa sangat malu.


Sangkin gemasnya dengan tingkah laku istri kecilnya yang sangat menggemaskan ketika sedang merasa malu, bahkan Rafa sampai memuji istri kecilnya tersebut yang terbilang sangatlah imut di dalam hati kecilnya tanpa bisa mengatakannya secara langsung dari mulurnya sendiri kepada istri kecilnya tersebut.


"Uh, kamu ini kucing apa manusia sih? Kenapa bisa imut banget seperti itu? Aku jadi gemas sendiri ketika melihatmu sedang merasa malu seperti itu, istri kecilku" batin Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik istri kecilnya tersebut.


Tak berbeda jauh dengan Nara yang di buat menjadi sangatlah malu sekaligus kesal karena perkataan yang di ucapkan oleh Raihana, Rania pun kini di buat menjadi sangat kesal dengan ucapan yang di ucapkan oleh anak perempuannya tersebut.


Karena merasa sangat kesal kepada anak perempuannya tersebut, Rania bahkan sampai melayangkan sebuah kalimat protes kepada anak perempuannya tersebut mengenai menantu kesayangannya yang di samakan dengan seekor kucing.

__ADS_1


Sangkin merasa sangat kesal dan geram dengan anak perempuannya tersebut yang menyamakan menantu kesayangannya tersebut dengan seekor kucing, bahkan Rania sampai menanyakan kepada anak perempuannya tersebut bahwa dirinya mau atau tidak di samakan dengan seorang hantu kuntilanak.


"Hey, what is this? Why do you equate Mama's lovely and cute beloved daughter-in-law to a cat? It's good that you equate Mama's favorite daughter-in-law with a cat! If you equate Mama with Kuntilanak, do you want to or not? (Hei, apa-apaan ini? Kenapa kamu menyamakan menantu kesayangan Mama yang cantik dan imut ini dengan seekor kucing? Enak saja kamu menyamakan menantu kesayangan Mama ini dengan seekor kucing! Kalau kamu Mama samakan dengan kuntilanak mau tidak?)" protes Rania sembari menatap wajah cantik dan imut milik anak perempuannya tersebut dengan tatapan tajamnya yang dapat menghunus hingga ke jantung anak perempuannya tersebut.


Setelah mendengarkan perkataan dari sang Mama yang menanyakan apakah dirinya mau di samakan dengan seorang hantu kuntilanak, dengan sangat bersusah payah Raihana pun menelan salivanya sendiri ketika membayangkan sang Mama menyamakannya dengan seorang hantu kuntilanak.


"What! I am equated with a kuntilanak ghost? Wearing a white negligee, a pale face, feet that are not flat on the ground, likes to laugh alone for no apparent reason, that's more or less my image if I am equated with a kuntianak ghost! Just imagining it makes me shudder with horror, especially if Mama really equates me with a kuntilanak ghost! Ah, I don't want something like that to happen to me! (Apa! Aku di samakan dengan seorang hantu kuntilanak? Memakai daster berwarna putih, wajah yang pucat, kaki yang tidak menapak di tanah, suka tertawa sendiri tanpa penyebab yang jelas, kurang lebih seperti itu gambaranku jika aku di samakan dengan seorang hantu kuntianak! Membayangkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri, apalagi jika Mama benar-benar menyamakanku dengan seorang hantu kuntilanak! Ah, aku tidak menginginkan hal seperti itu terjadi kepadaku!)" batin Raihana sembari menggoncang-goncangkan sendiri kedua bahunya tersebut dengan menaik turunkan kedua bahunya tersebut.


Karena sudah merasa merinding sendiri ketika membayangkan sang Mama menyamakan dirinya sengan seorang hantu kuntilanak, Raihana yang mendengarkan perkataan sang Mama yang menanyakan apakah dirinya mau di samakan dengan seorang hantu kuntilanak pun langsung menjawab dengan cepat dan melakukan pembelaan kepada dirinya sendiri mengenai penyamaan kakak ipar kesayangannya tersebut dengan seekor kucing.


Agar aktingnya lebih terasa sempurna seperti artis papan atas, Raihana pun menggunakan senjata andalannya yang berupa tatapan dan ekspresi wajah yang terlihat sangatlah memelas di wajahnya yang cantik dan imut tersebut, namun tetap tak menghilangkan kesan imut pada dirinya tersebut.


"Get ready, Raihana. We will start acting in this drama like a top artist! Little things can make you learn so you can become an artist in Korean dramas! Okay, cheer up and don't forget your biggest dream to become a Korean drama actor! (Bersiaplah, Raihana. Kita akan memulai akting drama ini seperti artis papan atas! Dengan hal-hal kecil bisa membuatmu belajar agar bisa menjadi artis di drama korea! Oke, semangat dan jangan lupakan impian terbesarmu itu untuk menjadi seorang artis pemain drama korea!)" batin Raihana sembari memasang tatapan dan ekspresi wajah yang terlihat sangat memelas di wajahnya yang cantik dan imut tersebut, namun tetap tak menghilangkan kesan imut yang ada pada dirinya tersebut.


Kini, terlihatlah Rania yang sedang menarik dan menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar ketika melihat anak perempuannya tersebut yang memasang tatapan dan ekspresi wajahnya yang terlihat sangatlah lucu dan memelas tersebut, serta mengerlingkan kedua matanya yang berwarna cokelat tersebut yang membuat anak perempuannya tersebut terlihat semakin lucu.


"This kid! If there is a wish, his gaze and facial expression are made to look very cute and pitiful! I was really amazed at this kid who is so good at playing a drama! (Dasar anak ini! Jika ada maunya pasti tatapan dan ekspresi wajahnya itu di buat menjadi terlihat sangatlah lucu dan memelas sekali! Aku sangat heran sekali dengan anak ini yang sangat pintar dalam memainkan sebuah drama!)" batin Rania sembari menarik dan menghembuskan nafsnya tersebut dengan sangat kasar.


Karena tak mau memanjangkan obrolan dengan anak perempuannya tersebut, pada akhirnya Rania pun langsung memulai aksinya untuk mengalihkan pembicaraan agar bisa keluar dari jebakan batman yang di buat oleh anak perempuannya tersebut.


"Never mind, we better just go ahead and celebrate the birthdays of your older twin brothers, Myesha Raihana Abayomi! (Sudahlah, lebih baik kita langsung saja merayakan ulang tahun kedua kakak laki-laki kembarmu itu, Myesha Raihana Abayomi!)" ucap Rania sembari mematik korek api untuk menyalakan lilin ulang tahun di kedua kue ulang tahun milik kedua putra kembarnya tersebut.


Pada akhirnya, Raihana pun hanya bisa pasrah dengan kemauan sang Mama yang ingin segera untuk merayakan ulang tahun yang ke 17 tahun kedua kakak laki-laki kembarnya tersebut.


Nara, Rafa, Rafi, Raihana, dan Raihan pun pada akhirnya langsung menduduki kursi makan milik mereka masing-masing untuk bisa merayakan ulang tahun Rafa dan Rafi yang ke 17 di meja makan keluarga Abayomi tersebut. Tak lupa dengan Rania yang juga pada akhirnya duduk di kursi makan miliknya.

__ADS_1


Dengan formasi Raihan dan Rania yang duduk bersebelahan, Rafa dan Nara yang duduk bersebelah di sebelah Raihan dan Rania, serta Rafi dan Raihana yang duduk bersebelahan di sebelah Rafa dan Nara.


"Rafa, Rafi, let's blow out your birthday candles! Happy 17th birthday, Mama's twin sons. Even though Mama is late in giving you a birthday cake, you have to understand it because since yesterday Mama was busy preparing for Rafa and Nara's wedding. Even though the birthday cake is like a birthday cake for a girl, accept it because the one who made the birthday cake for Rafa was Nara, his own wife. Meanwhile, Mama and Raihana made a birthday cake for Rafi (Rafa, Rafi, ayo tiuplah lilin-lilin ulang tahun kalian ini! Selamat ulang tahun yang ke 17 tahun ya kedua putra kembarnya Mama. Walaupun Mama telat memberikan kue ulang tahun untuk kalian, tapi kalian harus memakluminya karena sedari kemarin Mama sibuk untuk menyiapkan pernikahan Rafa dan Nara. Walaupun kue ulang tahunnya seperti kue ulang tahun untuk seorang gadis, tapi terimalah karena yang membuat kue ulang tahun untuk Rafa adalah Nara, istrinya sendiri. Sedangkan yang membuat kue ulang tahun untuk Rafi adalah Mama dan Raihana)" ucap Rania sembari menyunggingkan sebuah senyuman yang menyiratkan sebuah kebahagiaan di wajahnya yang cantik tersebut secara perlahan-lahan.


Kini, terlihatlah Rafa dan Rafi yang sedang menghembuskan nafas mereka masing-masing dengan sangat kasar karena mendengar ucapan yang bisa terbilang sangatlah menyebalkan yang di ucapkan oleh sang Mama tersebut.


Bagaimana tidak terdengar menyebalkan di telinga Rafa dan Rafi? Jika sang Mama menyuruh untuk Rafa menerima kue ulang tahun yang bernuansakan warna pink putih dengan hiasan Hello Kitty yang merupakan kue ulang tahun buatan istri kecilnya sendiri. Sedangkan sang Mama menyuruh Rafi untuk menerima kue ulang tahun yang bernuansakan warna pelangi dengan hiasan karakter My Little Pony yang merupakan kue ulang tahun buatan sang Mama dan adik perempuannya tersebut.


Yang pastinya, hal ini akan sangat memalukan bagi Rafa dan Rafi yang notabenenya adalah laki-laki idaman semua perempuan mana pun. Tak terkecuali Nara yang memasukkan laki-laki seperti Rafa ke dalam tipe laki-laki idamannya.


Tak bisa terhitung lagi telah berapa kali Rafa dan Rafi merutuki kelakuan sang Mama yang memang sangaja di buat untuk menjatuhkan harga diri mereka sebagai laki-laki di hadapan seluruh anggota keluarga Abayomi yang ada di dalam rumah keluarga Abayomu.


"Ah, Mama ini memang sengaja sekalli ya membuat kue ulang tahun yang seperti ini agar bisa menjatuhkan harga diriku sebagai laki-laki di hadapan seluruh anggota keluarga Abayomi yang ada di rumah keluarga Abayomi ini. Kali ini Mama memanglah masih selamat dari amukan mautku. Kenapa? Karena yang membuat kue ini adalah istri kecilku sendiri tanpa campur tangan orang lain. Jika Mama yang membuat kue ulang tahun seperti ini untukku, Rafa tidak bisa memastikan lagi apakah Mama akan selamat atau tidak dari amukan Rafa yang sudah menggila ketika sedang terbakar api amarah" batin Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sang Mama tersebut.


"Mama, what is this? Why do Mama and Rai make a birthday cake for Rafi that has a rainbow color with pony decorations like this? This is so embarrassing for an all girl's dream boy like me! I hope in the next year Mama can no longer drop my pride as a boy with birthday cakes for girls like this! (Mama, apa-apaan ini? Kenapa justru Mama dan Rai membuat kue ulang tahun untuk Rafi yang bernuansakan warna pelangi dengan hiasan para kuda poni seperti ini? Ini sungguh memalukan sekali untuk laki-laki idaman semua perempuan sepertiku! Aku harap di tahun depan Mama tidak bisa lagi menjatuhkan harga diriku sebagai laki-laki dengan kue ulang tahun untuk anak perempuan seperti ini!)" batin Rafi sembari menatap ke arah wajah cantik milik sang Mama dengan tatapan yang menyiratkan sebuah kekesalan yang terdapat di dalamnya.


Jika Rafa memang hanya bisa mengancam sang Mama dari dalam hati kecilnya tersebut, namun rasa kekesalan Rafa kepada sang Mama di perlihatkan dengan nada bicaranya dan ekspresi wajahnya yang sangatlah datar tersebut.


"Rafa doesn't have to blow out the birthday candles on Rafa's birthday cake. Just let Rai blow it or just fan it so the fire can go out by itself (Rafa tidak usah meniup lilin-lilin ulang tahun yang ada di kue ulang tahun milik Rafa itu. Biarkan saja Rai yang meniupnya atau di kipas-kipas kan saja agar apinya bisa padam dengan sendirinya)" ucap Rafa kepada sang Mama dengan nada bicara dan ekspresi wajahnya yang sangatlah datar tersebut.


Rania yang melihat putra pertamanya tersebut yang sedang berbicara kepadanya dengan nada bicaranya dan ekspresi wajahnya yang sangatlah datar tersebut membuat Rania langsung bergidik ngeri akan perilaku dari putra pertamanya tersebut.


Bukan hanya di buat menjadi bergidik ngeri saja akan kelakuan putra pertamanya yang berbicara kepadanya dengan nada bicaranya dan ekspresi wajahnya yang sangatlah datar tersebut, namun Rania juga di buat menjadi terheran-heran kenapa laki-laki yang dingin dan datar itu banyak menjadi laki-laki idaman bagi banyak perempuan di dunia ini.


"Uh, my God. This is if my son inherits his father's flat nature. I, who in fact is his mother, can be made shuddering in horror because of how terrible my first son is when he speaks with a flat tone of speech and facial expression. Sometimes I wonder why men who seem cold and flat are the ideal men for many women in this world. What are their advantages that make women admire men who seem cold and flat? (Uh, Ya Allah. Beginilah jika anakku yang mewarisi sifat ayahnya yang datar itu. Aku yang notabenenya adalah ibunya pun bisa di buat menjadi bergidik ngeri karena betapa mengerikannya putra pertamaku ini jika sedang berbicara dengan nada bicara dan ekspresi wajahnya yang datar. Terkadang aku merasa heran sendiri kenapa laki-laki yang terkesan dingin dan datar banyak menjadi laki-laki idaman untuk banyak perempuan di dunia ini. Apa kelebihan dari mereka itu yang membuat para perempuan-perempuan menjadi mengagumi laki-laki yang terkesan dingin dan datar?)" batin Rania sembari menatap ke arah wajah tampan milik sang suami dan kedua anak laki-laki kembarnya tersebut secara bergantian dengan tatapan lekatnya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2