Suami Kecilku

Suami Kecilku
Ch 16 - Kamu Malu Aku Mau


__ADS_3

"Kare wa watashi o tadashiku mite imasen ka? Moshi kare ga watashi o mitanara, watashi wa kare no zenshin o kaku koto de kabā shimasu (Dia sedang tidak melihatku kan? Jika dia melihatku akan aku penuhi seluruh tubuhnya dengan tulisan)" batin Nara sembari mencuri-curi pandang ke arah suami kecilnya yang sedang membelakanginya.


Rafa yang sebenarnya tahu istri kecilnya sedang mencuri-curi pandang kepadanya pun diam-diam menyunggingkan senyuman kecil di wajahnya yang tampan.


"Aku tahu kamu mencuri-curi pandang kepadaku, Nara. Aku juga tahu kalau kamu tidak mau tubuhmu di lihat olehku. Tapi sebenarnya salah kamu juga sih, kenapa harus punya tubuh yang indah, mulus, dan putih? Laki-laki mana yang tidak tergoda dengan pemandangan menyenangkan dari seorang gadis Jepang yang sudah terbukti kemulusan dan keindahan tubuhnya?" batin Rafa sembari menyunggingkan senyuman kecil di tubuhnya secara perlahan-lahan.


Suasana di kamar Rafa dan Nara pun memang menjadi hening semenjak obrolan terakhir mereka tentang makan malam tadi.


Beberapa saat kemudian, Rafa telah selesai menyantap hidangan makan malamnya. Dan Rafa pun segera menaruh piringnya di atas troli tersebut. Tak lupa juga untuk Rafa mengambil air mineralnya, kemudian Rafa pun meminumnya.


Dan beberapa saat kemudian, Nara pun menyusul Rafa yang sudah selesai menyantap hidangan makan malamnya. Sama seperti suami kecilnya, Nara pun menaruh piringnya di atas troli tersebut, kemudian mengambil air mineralnya, lalu Nara pun meminumnya.


Rafa dan Nara sempat bertatapan sejenak ketika keduanya saling menatap ke arah yang sama, yaitu ke arah dinding yang berlawanan dengan posisi mereka masing-masing.


"Ē to, naze kare wa watashi o mitsumete iru nodesu ka? Chikyū no soko ni shizunde ikitaidesu. Kon'nichiwa, darekaga watashi o tasukete kuremasu ka? (Hah, kenapa dia menatapku? Aku jadi ingin menengelamkan diriku ke dasar bumi. Halo, ada yang bisa bantu aku?)" batin Nara sembari memalingkan wajah dan pandangannya ke arah dinding agar tidak bisa lagi di lihat oleh suami kecilnya.


"Ah, kamu ini seperti kucing saja. Sangat menggemaskan sekali" batin Rafa sembari menatap lekat ke arah tubuh istri kecilnya yang sedang membelakanginya.


Untuk sesekali Nara berani mencuri-curi pandang kepada suami kecilnya dengan sesekali menengok ke arah belakang yang di sana terdapat suami kecilnya.


"Sā, ikimashou! Mō watashi o minaide! Watashi wa kore subete ni totemo fukaidesu! Wakarimasu ka? (Ayo, pergilah! Jangan tatap aku lagi! Aku sangat merasa tidak nyaman dengan semua ini! Apakah kamu mengerti?)" batin Nara sembari kembali mengarahkan wajah dan pandangannya ke arah dinding yang ada di depannya.


Rafa yang merasa istri kecilnya tidak nyaman dengan kehadirannya pun akan segera beranjak berdiri dari duduknya.


Allahu akbar, Allahu akbar


Namun sebelum Rafa berhasil beranjak berdiri dari duduknya, suara adzan magrib sudah berkumandang. Rafa pun segera menanyakan kepada istri kecilnya apakah dia akan shalat magrib bersamanya? Karena sangat tidak mungkin shalat bersama Rania, Raihan, Rafi, dan Raihana dengan keadaan Nara yang sedang seperti ini.


"Kiitekudasai, inori e no yoru no yobikake wa hankyō shimashita. Watashitoisshoni maguribu ni inoritaidesu ka? Mama, papa, rafi, rai toso no yōna jōtai de inoru koto wa fukanōdakara (Dengarlah, adzan magrib sudah berkumandang. Apakah kamu mau shalat magrib bersamaku? Karena tidak mungkin untuk kita shalat bersama Mama, Papa, Rafi, dan Rai dengan keadaanmu yang seperti itu)" tanya Rafa sembari mencoba beranjak berdiri dari duduknya.


Diam-diam Nara yang sedang menatap dinding yang ada di depannya pun wajahnya mulai memerah karena mendengar perkataan suami kecilnya.


Bukan hanya karena perkataan suami kecilnya yang mengatakan tidak mungkin untuk melakasanakan shalat magrib bersama Rania, Raihan, Rafi, dan Raihana dengan keadaannya yang sedang seperti ini, namun juga karena jawaban yang akan di berikannya kepada suami kecilnya.


Rafa yang tidak mendengar jawaban atau pun respon sedikit pun dari istri kecilnya segera melontarkan kembali pertanyaannya kepada istri kecilnya.


"Nande sairento Narana no? Watashi no shitsumon ni kotaete kudasai! (Kenapa kamu hanya diam saja Nara? Ayo jawab pertanyaanku!)" ucap Rafa dengan sedikit menekankan nada bicara karena kesal terhadap istri kecilnya yang tidak kunjung memberikan jawaban atas pertanyaannya.


"Watashi, watashi wa sore de imasu (Aku, aku sedang itu)" ucap Nara dengan masih menatap dinding yang ada di depannya, serta uacapannya yang terpotong karena tidak mau menyebutkannya sembari memegangi kedua pipinya yang sekarang terasa sangat panas.


Rafa bisa menebak jika istri kecilnya ini sedang malu dan wajahnya juga sedang memerah karena perkataannya yang mengarahkan kepada kondisinya saat ini yang sedang menggunakan pakaian seksi yang sangat transparan.


Rafa pun sebenarnya tahu apa maksud dari perkataan istri kecilnya, karena Rafa merupakan pelajar kelas 11 IPA. Jadi tidak mungkin Rafa tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada istri kecilnya. Hanya saja Rafa ingin membuat wajah istri kecilnya semakin memerah.


"Nanishiteruno? Sā, anata ga itta koto o setsumei shite kudasai! (Sedang apa katamu? Ayolah, jelaskan apa perkataanmu!)" ucap Rafa yang sengaja ingin membuat wajah Nara semakin memerah.

__ADS_1


"Hontōni nani ga hoshī no? Naze kare ga wazato watashi o settei shita yō ni mieru nodesu ka? Kare wa shizen kagaku no senmonkadattanode, kore o shiranai hōhō wa arimasendeshita. (Sebenarnya apa maunya? Kenapa seolah-olah dia sengaja menjebakku? Dia itu ahli di bidang Ilmu Pengetahuan Alam, tidak mungkin dia tidak mengetahui hal ini!)" batin Nara sembari merutuki suami kecilnya yang berniat untuk menjebaknya agar mengatakan hal tersebut.


"Watashi, seiri-chūdesu. Dakara watashi wa inoru koto ga dekimasendeshita. Gekkei ga nandearu ka wakaranai baai wa, kagaku orinpikku no sekai chanpion no shōgō wa anata ni tekishite inai koto o imi shimasu! (Aku, aku sedang menstruasi. Jadi aku tidak bisa melaksanakan ibadah shalat. Jika kamu tidak mengetahui apa itu menstruasi berarti predikat juara dunia olimpiade sains tak cocok di sematkan padamu!)" ucap Nara dengan santai sembari mencoba menyembunyikan kekesalannya kepada suami kecilnya.


"Ā wa wa wa, anata wa tsuini watashi no tensai o kagaku orinpikku no sekai chanpion to shite mitomemashita. Ē to, watashi wa anata ga kokusaikagakuorinpikku de watashi no mottomo kibishī aitedatta koto o omoidashimashita. Sonotoki, watashi wa Indoneshia o daihyō shi, anata wa Nihon o daihyō shimashita. Sate, anata wa Indoneshia ni hikkoshitanode, anata wa mō Nihon o daihyō suru koto ga dekimasen. Watashitachiha, asean, Ajia, kokusai reberu de no kagaku orinpikku de Indoneshia o daihyō suru tame ni kyōsō shimasu (Oh hahaha, akhirnya kamu mengakui kejeniusanku sebagai juara dunia olimpiade sains. Emm, aku baru ingat kalau kamu itu lawan terberatku dalam olimpiade sains tingkat internasional. Pada saat itu aku mewakili Indonesia dan kamu mewakili Jepang. Nah, sekarang kamu sudah pindah di Indonesia maka kamu tidak bisa mewakili Jepang lagi. Kita akan berlomba-lomba mewakili Indonesia di dalam olimpiade sains tingkat Asean, Asia, dan internasional)" ucap Rafa sembari menyunggingkan senyuman kecil di wajahnya yang tampan secara perlahan-lahan.


"Watashi ni nanika iu no wa anata shidaidesu. Jūyōna no wa, watashi wa Indoneshia shiminde wa arimasenga, Asean, Ajia, kokusai orinpikku de Indoneshia o daihyō shitai to omotte iru kotodesu. 17-Sai no toki ni kokuseki o Nihon kara Indoneshia ni kaetai (Terserah kamu mau mengatakan hal apa saja kepadaku. Intinya aku juga ingin mewakili Indonesia di olimpiade tingkat Asean, Asia, dan Internasional walaupun aku bukanlah warga negara indonesia. Ketika usiaku sudah memasuki 17 tahun, aku ingin merubah kewarganegaraanku dari Jepang menjadi Indonesia)" ucap Nara dengan impian-impian yang tersembunyi di balik setiap kata dari ucapannya.


Rafa pun langsung berdecak kagum di dalam hatinya karena ambisi Nara yang ingin mewakili negara Indonesia dalam olimpiade di kanca Asean, Asia, dan Internasional.


"Uh, dia sangat berambisi sekali untuk mewakili negara tempat di mana dia tinggal untuk ajang olimpiade tingkat Asean, Asia, dan Internasional. Apa impian-impian yang tersembinyi di dalam setiap kata-katanya itu?" batin Rafa sembari menatap dengan lekat tubuh bagian belakang milik istri kecilnya.


Nara yang tidak mendengar suara atau pun respon sedikit pun dari suami kecilnya langsung menoleh sedikit ke arah belakang, tepat di mana suami kecilnya berada.


Ketika melihat ke arah suami kecilnya yang berada di belakangnya, Nara di buat sangat terkejut karena suami kecilnya sekarang sedang menatapnya dengan lekat.


Nara yang malu akan tubuh bagian depannya di lihat oleh suami kecilnya walau hanya sebentar pun langsung kembali mengarahkan wajah dan tatapannya ke arah dinding yang ada di depannya.


"Yoru no inori o shitakunaidesu ka? Kono heya no tokei o mite! Ima sugu ni yoru no oinori o shinai to, mōsugu jikan ga nakunarimasu! (Apakah kamu tidak ingin melaksanakan shalat magrib? Lihatlah jam yang ada di kamar ini! Waktunya akan segera habis jika kamu tidak segera melaksanakan shalat magrib sekarang juga!)" ucap Nara sembari mengarahkan jari telunjuknya untuk menunjuk sebuah jam dinding yang ada di kamarnya dan kamar suami kecilnya.


Rafa pun mengikuti arah gerak jari telunjuk istri kecilnya untuk melihat ke arah jam dinding yang terpasang di kamarnya dan juga kamar istri kecilnya.


Ketika melihat dua angka yang di tunjukkan oleh jarum jam dan jarum panjang yang ada di jam tersebut, seketika Rafa langsung memelotokan kedua matanya.


Jarum jam menunjukkan angka 6 yang berarti jam 6 sore, sedangkan jarum panjang menunjukkan angka 9 yang berarti 45 menit Jadi sekarang adalah pukul 18:45.


"Hai hai, sugu ni yoru no inori o shimasu. Demo, beddo no ue ni nekorogatte karada o ōi, kokochiyoku, utsukushī karada o watashi ni mi rarenai yō ni shite kuremasu. Sono Ue, gakuya de yoru no inori o shimasu (Iya iya, aku akan segera melaksanakan shalat magrib. Tapi kamu bisa berbaring di kasur sembari menyelimuti tubuhmu agar kamu merasa nyaman dan tubuh indahmu tidak akan di lihat olehku. Lagi pula aku akan melaksanakan shalat magrib di dalam ruang ganti)" ucap Rafa sembari melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke arah kamar mandi yang ada di kamarnya untuk mengambil air wudhu.


Selepas kepergian suami kecilnya, Nara langsung melipat laptop miliknya yang sekarang masih berada di dalam pangkuannya.


Setelah itu, Nara mulai melangkah dengan perlahan menuju ke arah meja belajarnya untuk menaruh laptop miliknya serta mengambil ponsel miliknya.


Sesampainya di depan meja belajarnya, Nara langsung menaruh kembali laptop miliknya ke dalam tasnya.


Setelah menaruh laptop miliknya di dalam tasnya, Nara pun langsung menaruh laptop miliknya yang ada di dalam tasnya di atas meja belajarnya. Kemudian Nara langsung mengambil ponsel miliknya yang tadinya berada di atas meja belajarnya.


Setelah mengambil ponsel miliknya, Nara langsung berjalan kembali menuju ke arah tempat tidurnya dan tempat tidur suami kecilnya dengan perlahan-lahan.


Sesampainya di depan tempat tidurnya dan tempat tidur suami kecilnya, Nara langsung naik ke atas tempat tidurnya dan segera mencari posisi berbaring yang nyaman dengan selimut yang sudah membaluti seluruh tubuhnya.


Ketika sudah berbaring di atas tempat tidurnya dan tempat tidur suami kecilnya dengan selimut yang sudah membaluti seluruh tubuhnya, Nara berencana untuk menelepon Aina, sahabatnya dengan panggilan video.


Nara pun bergegas membuka ponselnya untuk menelepon Aina dengan panggilan video melalui aplikasi WhatsApp.


Ketika sudah terbuka aplikasi WhatsApp yang ada di ponselnya, Nara bergegas memencet profil sahabatnya untuk meneleponnya melalui panggilan video.

__ADS_1


Beberapa saat setelah membuka profil WhatsApp milik sahabatnya, Nara langsung mengklik logo video yang merupakan panggilan video.


Klik


Nara pun menunggu untuk beberapa saat sebelum Aina mengangkat panggilan videonya. Tak berselang lama, Aina pun langsung mengangkat panggilan video dari sahabatnya, Nara.


Aina dengan cepat mengangkat panggilan video dari sahabatnya, Nara karena jika malam rutinitasnya adalah membaca novel melalui platform MangaToon.


Sesaat setelah panggilan video tersambung, layar ponsel Nara menampilkan wajah sahabat yang sangat di rindukan olehnya. Wajah Aina yang penuh dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya, itulah yang akan di rindukan oleh Nara.


"Itsumo egao de waratte iru anata no kao ga koishī Aina. Anata o wasure rarenai toki made (Wajahmu yang selalu bahagia dengan senyuman yang menghiasinya membuatku akan merindukanmu, Aina. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa melupakanmu)" batin Nara sembari menatap lekat pada wajah sahabatnya yang tertampil di layar ponselnya.


Aina


"Kon'nichiwa! Anata ga koishī! Tatta 1-nichi mo attenai no ni, hisashiburi ni kao o minai yōdesu. Watashi ni totte wa ichinen no yōdesu (Halo Naraaa! Aku sangat merindukanmu! Sudah lama sepertinya aku tidak melihat wajahmu, padahal kita tidak bertemh baru satu hari saja. Itu sudah seperti satu tahun bagiku)"


Narahita


"Kon'nichiwa, ai na. Watashi mo anata ga inakute totemo sabishīdesu. Zutto minogashi teru kimi no sumairu (Halo juga Aina. Aku juga sangat merindukanmu. Wajahmu yang penuh dengan senyuman akan aku rindukan, selamanya)"


Aina


"Mā, watashitachiha otagai no kao to watashitachi no kōdō o nogasudeshou, watashitachi wa mada isshodesu. Sō sō, denwa ga kiraina no wa, hontōni denwa ga kiraina Yamada Eiko-san kara no terebi denwa demo, terebi denwa ga kakatte kite (Ya sudah, kita akan saling merindukan wajah dan tingkah laku kita kita masih bersama. Oh ya, rasanya sangat langka bisa mendapatkan telepon, bahkan panggilan video dari seorang Narahita Hideko Yamada yang sangat benci dengan telepon)"


Narahita


"Hasu, kono yō ni hanasu to pointo ga arimasu (Husss, kamu ini kalau ngomong suka ada benarnya ya)"


Aina


"Anata no koto o shiranainara, watashi wa anata no hontō no tomodachi, narahitade wanai (Jika aku tidak tahu fakta tentangmu berarti aku bukan sahabat sejatimu, Narahita)"


Narahita


"Ā, wa i, hai. Anata ga nanto iou to (Ah, iya iya. Terserah kamu mau bicara apa)"


Aina


"Sate, kon'ya no junbi wa dōdesu ka? Kon'ya wa anata to anata no otto Nara ni totte saisho no yorudesu. Machigainaku anata no beddo de atsui shīn ga arimasu. Sonotame watashi wa shinkon fūfu o shukufuku shi, watashi no shōrai no chīsana oi ga sugu ni anata no shikyū ni arawareru koto o negatte imasu (Oh ya, bagaimana persiapanmu untuk malam ini? Malam ini kan malam pertamamu dan suamimu Nara. Pasti akan ada adegan panas di atas ranjang kalian. Karena itu aku mengucapkan selamat pengantin baru dan semoga calon keponakan kecilku akan segera hadir di rahimmu)"


Nara yang mendengar ucapan dari sahabat sejatinya pun langsung kesal, namun Nara masih bisa menyembunyikannya dan menatap layar yang menampilkan wajah sahabat sejatinya dengan tatapa jengah.


"Aisshu, Aina wa nani ni tsuite hanashite iru no? Kare wa amarini mo ōku no shōsetsu o yon dari, romanchikkuna dorama o mite ita ni chigai arimasen (Aish, Aina ini berbicara apa? Pasti dia terlalu banyak membaca novel dan menonton drama romantis)" batin Nara sembari menatap jengah ke arah layar yang menampilkan wajah sahabatnya yang tersenyum seolah tanpa dosa dan beban hidup.


Sementara itu di balik pintu ruang ganti, Rafa sedang menguping obrolan antara Nara dan Aina, sahabatnya. Diam-diam Rafa menyunggingkan senyumannya karena Aina, sahabat Nara yang berani secara terang-terangan mengatakan hal-hal seperti itu.

__ADS_1


"Sahabatmu itu sangat berani sekali mengatakan hal itu secara terang-terangan. Bahkan dia tak segan-segan untuk menggodamu. Kamu yang malu tapi aku yang mau" batin Rafa sembari tersenyum getir.


__ADS_2