
Sudah beberapa menit Nara terdiam saja tanpa menghiraukan sahabatnya yang masih tersambung panggilan video dengannya.
Nara justru sibuk mengumpati sahabatnya di dalam hatinya. Ya, walau begitu Aina kan tetap sahabatnya Nara. Mau semarah apa pun Nara kepada Aina, pastinya akan luluh juga nantinya.
Aina yang melihat sahabatnya hanya terdiam saja tanpa mengeluarkan suaranya sedikit pun langsung bergegas mengacaukan isi hati dan pikiran sahabatnya.
Aina
"Kon'nichiwa? Kon'nichiwa? Nara, kikoemasu ka? Mada imasu ka? (Halo? Halo? Apa kamu mendengarku, Nara? Apa kamu masih di sana?)"
Narahita
"Hai, watashi wa anata no koe o kiku koto ga deki, watashi mo mada koko ni imasu (Ya, aku mendengarmu dan aku juga masih berada di sini)"
Aina
"Naze anata wa damatte ita nodesu ka? (Lantas kenapa kamu tadi terdiam?)"
Narahita
"Īe, daijōbudesu. Emu, o miai wa? Matchimeikinguapurikēshon o kaishite nakama ya bōifurendo o mitsukeru yō ni sudeni adobaisu shimashita (Tidak, aku tidak papa. Em, bagaimana dengan pencarian jodohmu? Aku kan sudah menyarankanmu untuk mencari jodoh atau pacar lewat aplikasi pencari jodoh)"
Aina
"Mada kensaku-chūdesu. Wa wa wa (Masih dalam proses pencarian. Hahaha)"
Narahita
"Anata no risō no otokonoko no taipu wa nanidesu ka? (Memangnya tipe laki-laki idaman bagimu itu seperti apa?)"
Aina
"Ō suginai teido ni. Hansamu de, se ga takaku, sumāto de, kokkeina hito de, yūmeide, Indoneshia hito de, hidzuke o kinyū shita koto ga nai. E e e (Tidak belebihan. Hanya tampan, tinggi, cerdas, orangnya humoris, terkenal, orang Indonesia, belum pernah pacaran, kalau bisa dia agak kaya. Hehehe)"
Aina
"Ē to, motto arimasu. Chūjitsudenakereba naranai, karenomeha hoka no on'nanoko ni au no ga sukide wanai, kare wa watashi to onaji shūkyōdesu (Eh, ada lagi. Harus setia, matanya nggak suka lihat cewek lain, sama dia satu agama sama aku)"
Narahita
"Anata wa sō itta, ōku wanai. Shikashi, anata wa sudeni 11-ten no Aina ni tsuite genkyū shimashita! (Katamu iya tidak banyak. Tapi kamu sudah menyebutkan 11 poin Aina!)"
Aina
"Nara wa 100-ten ijōda to omoimasu (Bagiku yang banyak itu lebih dari 100 poin, Nara)"
Narahita
"Ā, ainaha kinishinaide. Watashi wa anata ga sekai de hijō ni, hijō ni kurutte iru watashi no shin'yūdearu koto o omoidashita (Ah, sudahlah Aina. Aku baru ingat jika kamu adalah sahabatku yang sangat-sangat gila sedunia)"
Aina
"Ē to, anata no risō no taipu no Nara wa dōdesu ka? Anata ga otoko to tsukiatte iru no o mita koto ga naikaradesu. Ē to, ima anata wa dare ka no tsuma ni narimashita (Emm, bagaimana dengan tipe laki-laki idamanmu Nara? Karena kan aku tidak pernah melihatmu berpacaran dengan seorang laki-laki. Eh, sekarang justru kamu sudah menjadi istri orang)"
Nara yang tadinya masih kesal dengan sahabatnya yang sangat-sangat gila ini pun di buat kesal kembali.
Nara melontarkan sejumlah gerutuan-gerutuan di dalam hatinya untuk sahabatnya, Aina.
"Watashi no kurutta shin'yū! Watashi wa kono tane no shitsumon o sakeyou to tsutomete kimashita. Shikashi, anata wa mada watashi ni kono shitsumon o shite imasu! Watashi no kokoro, Aina ga kikoemasu ka? (Dasar sahabatku yang gila! Aku sudah berusaha menghindari pertanyaan semacam ini. Tapi kamu masih saja memberi pertanyaan ini kepadaku! Apa kamu bisa mendengar suara hatiku, Aina?)"
Rafa yang sedari tadi menguping pembicaraan Nara dan Aina pun sekarang masih berada di balik pintu ruang ganti untuk menguping pembicaraan istri kecilnya dengan sahabatnya.
"Hah, kesempatan yang bagus untuk mengetahui tipe laki-laki idamannya. Jika aku tahu tipe laki-laki idaman Nara, maka aku bisa menyempurnakan diriku secara perlahan-lahan supa aku bisa mendapatkan hatinya. Dan rupanya sahabat Nara lebih berpihak padaku dari pada sahabatnya sendiri" batin Rafa sembari perlahan-lahan menyunggingkan senyuman kecil di wajahnya yang tampan.
Aina
"Kon'nichiwa? Nande Nara damatteru no? Sā, watashi no shitsumon ni kotaete kudasai! Watashi wa sudeni anata no kotae ni totemo kyōmigārimasu (Halo? Kenapa kamu terdiam Nara? Ayo jawablah pertanyaanku! Aku sudah sangat penasaran dengan jawabanmu)"
Narahita
__ADS_1
"Hai hai. Anata wa totemo urusaidesu. Watashi no risō-tekina taipu no otoko wa hansamu de sainō ga ari, dekireba kare wa watashi no yōna mono de, shumi wa 1tsu, heisa-tekide shizukade, shūkyō wa 1tsu de, interijento de, romantikku ni henka suru koto ga dekimasu. Ijōdesu (Iya iya. Kamu ini sangat berisik sekali. Tipe laki-laki idamanku itu tampan, berbakat, kalau bisa dia hmm sepertiku, satu kegemaran, tertutup dan pendiam, satu agama, cerdas, dan bisa berubah jadi romantis. Itu saja)"
Aina
"Anata no otto wa anata ga izen ni genkyū shita ikutsu ka no pointo ni fukuma rete imasu ka? (Apakah suamimu itu masuk dalam beberapa poin yang kamu sebutkan tadi?)"
Nara langsung kesal karena perkataan sahabatnya yang dengan sengaja menjebaknya untuk menjawab semua pertanyaan darinya.
Walau Nara sedang kesal, tapi kekesalan itu hanya ada di dalam hatinya. Jadi, hanya Nara yang tahu akan perasaannya yang sekarang sedang kesal kepada sahabatnya yang sangat jahil tersebut.
"Aina, anatadesu. Naze watashi o damashite subete no shitsumon ni kotae sasemasu ka? Saiwai ni mo watashi wa mada anata o aishiteimasu. Sōdenakereba, watashi wa anata o umi ni oshinagashitadeshou (Aina, kamu ini ya. Kenapa kamu jadi menjebakku untuk menjawab semua pertanyaan darimu? Untung saja aku masih sayang padamu. Jika tidak, sudah aku hanyutkan dirimu ke dalam laut)" batin Nara sembari menyembunyikan perasaan kesalnya kepada sahabatnya yang sangat jahil tersebut.
Aina
"Nara, watashi no shitsumon ni kotaete kudasai! (Nara, ayo jawab pertanyaanku!)"
Narahita
"Hai hai. Kare wa hansamu de sainō ga ari, kare wa watashi to onajidesu, kare no shumi wa shirimasen, kare wa heisa-tekide shizukadesu, watashi to no 1tsu no shūkyō, kashikoi, saigo no ten ga wakaranai baai. Kare wa koko de 6 pointodesu (Iya iya. Dia itu tampan, berbakat, dia sama sepertiku, kalau kegemarannya aku tidak tahu, dia tertutup dan pendiam, satu agama sama aku, cerdas, kalau poin terakhir aku tidak tahu. Dia masuk 6 poin di sini)"
Aina
"Uwa ̄ , 6-ten ireba pātonā Nara ni naru (Wow, masuk 6 poin sudah cukup untuk menjadi pasanganmu Nara)"
Sementara itu, Rafa yang mendengar perkataan Nara pun merasa kebingungan sendiri karena Rafa tidak tahu apa yang di maksud 'Dia sama sepertiku'. Sebenarnya Rafa sangat pusing sekali memikirkan maksud dari perkataan istri kecilnya.
"Apa maksud perkataannya 'Dia sama sepertiku'? Jika di logika saja dia perempuan sedangkan aku laki-laki. Dia orang Jepang, dia sedangkan aku orang Indonesia. Lantas perasamaannya di mana? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Nara?" batin Rafa sembari menempelkan salah satu telinganya di pintu ruang ganti.
Narahita
"Nani o iu ka wa anata shidaidesu (Terserah kamu mau berbicara apa)"
Aina
"Yoshi, yoshi. Shikashi, mazu denwa. Nihonde wa kon'ya no 10-jidesu. Ima wa watashi ga nerujikandesu (Oke oke. Tapi sudah dulu ya teleponnya. Di Jepang sudah jam 10 malam sekarang. Sekarang waktunya untuk aku tidur)"
Narahita
Aina
"Ā, Indoneshiade wa ima gogo 8-jidesu. Wakatta, denwa o kiru yo. Konbanwa, mata Nara ni aimashō (Oh, jadi sekarang di Indonesia jam 8 malam ya. Ya sudah, aku tutup teleponnya ya. Selamat malam dan sampai jumpa lagi Nara)"
Narahita
"Oyasuminasai. Mata o ai shimashou. Ī yume o (Selamat malam dan sampai jumpa. Semoga mimpi indah ya)"
Tuuut
Setelah itu sambungan panggilan video antara Nara dan Aina pun terputus karena Aina yang mematikan sambungannya.
Nara pun segera menyibakkan selimut tebal yang membaluti tubuhnya. Nara pun segera beranjak berjalan dari ujung tempat tidurnya dan tempat tidur suami kecilnya untuk menaruh ponselnya di atas meja belajar miliknya.
Ceklek
Rafa yang sedang membuka pintu ruang ganti pun akhirnya dengan tak sengaja melihat lekuk tubuh istri kecilnya yang indah.
Melihat Nara yang sedang menaruh ponsel miliknya di atas meja belajarnya, Rafa dengan perlahan-lahan melangkah menuju ke arah tempat tidurnya dan tempat tidur istri kecilnya.
Sesampainya di tempat tidurnya dan tempat tidur istri kecilnya, Rafa langsung naik ke atas tempat tidur tersebut. Kemudian Rafa langsung membaluti tubuhnya dengan selimut tebal hanya sebatas pinggangnya saja.
Nara yang sudah selesai menaruh ponselnya di atas meja belajarnya pun langsung membalikkan tubuhnya ke arah tempat tidurnya dan tempat tidur suami kecilnya.
Ketika melihat ke arah tempat tidurnya dan tempat tidur suami kecilnya, Nara di buat menjadi terkejut karena mendapati suami kecilnya yang sedang berbaring di atas tempat tidur tersebut dengan membaluti selimut tebal hanya sebatas pinggangnya saja.
"Korehanandesuka? Naze kakurenbo o shite iru dakena nodesu ka? Watashi ga geitaidenwa o oita toki, kare wa soko ni imasendeshita. Shikashi, watashi ga beddo ni modoru toki, kare wa sudeni soko ni ita. Son'nafūni aruita toki ya,-go de beddo ni hairu toki mo hazukashiku narimashita. Ē to, chikyū no soko ni shizumu koto wa dekimasu ka? (Apa-apan ini? Kenapa menjadi seperti bermain petak umpat saja? Ketika aku menaruh ponselku dia tidak ada di atas sana. Tapi ketika aku akan kembali menuju ke arah kasur dia justru sudah ada di atas sana. Aku jadi malu ketika berjalan ke arah sana dan juga ketika aku sedang menaiki tempat tidur nanti. Emm, bisakah aku menenggelamkan diriku ke dasar bumi?)" batin Nara sembari mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke arah tempat tidurnya.
Rafa yang melihat tingkah laku istri kecilnya pun di buat gemas sendiri karena istri kecilnya berjalan perlahan sembari menundukkan pandangannya. Bagi Rafa, begitu menyenangkan ketika melihat gadis Jepang yang sedang malu.
"Hahaha, kamu ini sangat lucu Nara. Bahkan kamu berjalan dengan perlahan-lahan dan juga dengan menundukkan pandanganmu. Begitu menyenangkannya melihat seorang gadis Jepang yang sedang malu" batin Rafa sembari sesekali melirik ke arah istri kecilnya yang akan mulai menaiki tempat tidurnya dan tempat tidur istri kecilnya.
__ADS_1
Nara dengan perlahan-lahan naik ke atas tempat tidurnya dan tempat tidur suaminya. Setelah di rasa menemukan tempat yang pas dan nyaman, Nara langsung membaringkan tubuhnya di sana serta memposisikan kepalanya dengan bantal yang ada di sana. Kemudian Nara langsung menaikkan selimut tebal tersebut sampai setinggi dadanya.
"Ne nasai, ashita wa gakkō ni ikimasu. Ashita wa gakkō de shikiten ga aru node chikoku shinaide kudasai (Tidurlah, besok kita akan sekolah. Jangan sampai terlambat karena besok akan ada upacara di sekolah)" ucap Rafa sembari melirik istri kecilnya yang ada di sebelahnya dengan ekor matanya.
"Emu, daijōbu (Em, oke)" jawab Nara dengan singkat sembari melirik ke arah suami kecilnya yang berada di sebelahnya dengan ekor matanya.
"Ā, dōyara Indoneshiade wa gakkō de shikiten ga okonawa rerudeshou. Nihonde wa shokuminchika sa rete orazu, dokuritsu-bi mo nai tame, Nihon ni sonzai shite inakatta baai (Oh, rupanya di Indonesia akan ada upacara di sekolah. Jika di Jepang tidak ada karena Jepang tidak di jajah dan tidak ada tanggal kemerdekaan)" batin Nara sembari menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
Sebelum tidur Rafa dan Nara membaca doa sebelum tidur dalam agama Islam. Dan tak perlu waktu lama, sebuah doa sebelum tidur dalam agama Islam yang pendek menghantarkan Rafa dan Nara ke dalam alam mimpi mereka masing-masing.
Keesokan paginya
Allahu akbar, Allahu akbar
Karena suara adzan subuh yang sudah berkumandang menandakan hari telah pagi membuat Rafa dan Nara bangun dari tidurnya.
Tak lupa untuk Rafa dan Nara membaca doa sesudah bangun tidur dalam agama Islam. Rafa pun langsung beranjak berjalan dari tempat tidurnya untuk menuju ke arah kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya sekaligus mengambil air wudhu.
Sementara itu, Nara membiarkan suami kecilnya untuk membersihkan tubuhnya lebih dahulu dari pada dirinya karena Rafa juga mau melaksanakan ibadah shalat subuh. Sedangkan Nara tidak melaksanakan ibadah shalat subuh karena sedang Menstruasi.
30 menit kemudian, keluarlah Rafa dari ruang ganti dengan menggunakan seragam sekolah Internasional Senior High School yang merupakan sekolah milik keluarga Abayomi.
Nara pun segera berjalan menuju ke arah kamar mandi dengan menundukkan pandangannya, berharap agar suami kecilnya tidak dapat menatap tubuh bagian depannya.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Nara langsung memulai ritual membersihkan tubuhnya. Dan 15 menit kemudian, Nara yang telah selesai dengan ritual membersihkan tubuhnya pun langsung berjalan menuju ke arah ruang ganti.
Sesampainya di ruang ganti, Nara langsung membuka salah satu lemari miliknya yang bernuansakan pink putih yang berisikan baju-baju sekolahnya.
Terlihatlah di sana ada banyak sekali baju seragam sekolah Nara yang baru. Nara memilih salah satu baju seragam yang berwarna sama dengan baju seragam suami kecilnya.
Baju seragam yang Nara pilih adalah kemeja dengan lengan pendek dengan rok yang menutupi setelah betisnya.
Nara pun memakaikan baju seragam sekolahnya yang baru. Ketika sudah memakai seragam sekolahnya yang baru, Nara langsung melihat penampilannya melalui cermin.
Hasilnya Nara terlihat sangat anggun dengan baju seragam sekolahnya yang baru karena Nara memilih kemeja dengan lengan pendek serta rok yang menutupi setengah betisnya.
Nara pun langsung berjalan keluar dari ruang ganti menuju kembali ke kamarnya dan kamar suami kecilnya.
Sesampainya di dalam kamarnya dan kamar suami kecilnya, Nara langsung berjalan ke arah sebuah meja rias dengan nuasa pink putih yang di atasnya sudah ada berbagai macam make up serta skin care milik Nara.
Sesampainya di depan meja rias miliknya, Nara langsung duduk di sebuah kursi yang ada di meja riasnya.
Nara langsung menyisir rambutnya dan menguncir kuda rambutnya. Nara pun memakai beberapa tahapan skin care yang harus Nara lakukan di pagi hari. Tak lupa juga untuk Nara menyemprotkan parfum ke baju seragam sekolahnya yang baru.
Setelah itu Nara langsung menuju ke arah meja belajarnya untuk mengambil tas sekolahnya yang baru yang berada di atas meja belajarnya.
Tas sekolah Nara yang baru bernuansakan warna pink putih yang merupakan warna kesukaan Nara.
Nara pun langsung memakaikan tas sekolahnya yang baru di kedua bahunya. Penampilan Nara telihat semakin sempurna dengan tas sekolahnya yang baru yang berada di kedua bahunya.
Sesudah mengambil tas sekolahnya yang baru yang berada di atas meja belajarnya, Nara langsung berjalan menuju ke arah ruang makan.
Anak tangga Nara lewati dengan perlahan-lahan hingga Nara sampai di lantai bawah.
Nara pun segera berjalan menuju ke arah ruang makan dengan langkah perlahan-lahan dan penuh dengan kehati-hatian.
Sesampainya di ruang makan, di sana terlihat sudah ada Rania, Raihan, Rafa, Rafi, dan Raihana yang duduk di atas kursi yang ada di ruang makan.
Nara pun segera menghampiri Rania, Raihan, Rafa, Rafi, dan Raihana dengan duduk di kursi kosong yang berada di sebelah kursi yang Rafa duduki.
"Good morning Pa, Ma, Rafa, Rafi and Rai (Selamat pagi Pa, Ma, Rafa, Rafi, dan Rai)" sapa Nara sembari menyunggingkan senyuman manis di wajahnya yang cantik secara perlahan-lahan.
"Good morning too dear. Let's start breakfast, Nara, Rafa, Rafi, Rai, and Papa (Selamat pagi juga sayang. Ayo kita mulai sarapannya ya Nara, Rafa, Rafi, Rai, dan Papa)" ucap Rania sembari menunjukkan jari telunjuknya ke arah piring-piring yang sudah berisi nasi berserta lauk pauknya.
"Okay ma (Oke ma)" ucap Nara sembari menatap sang Mama mertuanya dengan tatapan lembutnya.
"So Rafa, Nara, you guys have to have a lot of breakfast this morning! Because Papa knows you're tired after doing steady things! (Nah Rafa, Nara, kalian harus sarapan yang banyak pagi ini! Karena Papa tahu kalian lelah setelah melakukan yang mantap-mantap!)" ucap Raihan sembari mengedipkan sebelah matanya kepada putra pertamanya dan menantunya.
"Yah, kenapa Papa jadi befikiran aku dan Nara semalam melakukan hal yang mantap-mantap? Jangan begini Papa!" batin Rafa sembari tersenyum getir.
__ADS_1