
"Anata ga nemutte iru toki, anata wa totemo hansamudearu koto ga wakarimasu. Anata wa jissai ni hansamudesu ka, soretomo watashi wa anata no bibō ni kidzukazu, mitomenai hitodesu ka? Anata wa mada kōkōsei no otokonoko ni pittaridesu. Anata wa totemo kashikoku, hansamu de, jinsei wa tomi ni michite ori, wakai koro ni kaisha o rīdo suru koto mo dekimasu. Anata wa watashi yori mo ōte kigyō no sainō ga aru yōda to mitomemasu (Ternyata kamu ini begitu tampan sekali jika kamu sedang tertidur. Kamu ini sebenarnya memang tampan ataukah aku yang tidak menyadari dan mengakui ketampananmu? Kamu ini terlihat sangat sempurna untuk seorang laki-laki yang masih bersekolah di Sekolah Menengah Atas. Kamu itu sangat cerdas, tampan, hidupmu bergelimang harta, dan kamu juga bisa memimpin perusahaan di usiamu yang masih muda. Aku akui sepertinya kamu lebih berbakat dalam hal memimpin perusahaan di bandingkan aku)" batin Nara sembari menatap lekat ke arah wajah tampan milik suami kecilnya.
Tanpa Nara sadari, wajahnya yang cantik tersebut mulai membentuk sebuah senyuman kecil yang menambah kesan cantik dan anggun pada dirinya.
Dengan perlahan-lahan, kedua tangan Nara tergerak untuk mengelus-elus wajah tampan milik suami kecilnya dengan sangat lembut.
Ketika kedua tangannya sudah berada di wajah tampan milik suami kecilnya, kedua tangan Nara pun mengelus-elus wajah tampan milik suami kecilnya dengan sangat lembut.
Rafa yang merasakan adanya sentuhan lembut di wajahnya yang tampan pun perlahan-lahan menggeliatkan tubuhnya hingga dirinya terbangun dari tidurnya.
Ketika kedua matanya sudah terbuka secara sempurna, Rafa di buat menjadi sangat terkejut karena pemandangan yang ada di depannya.
Bagaimana Rafa di buat menjadi tidak terkejut, jika di depannya ada pemandangan wajah cantik istri kecilnya yang sedang menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik yang menambah kesan cantik dan anggun dari istri kecilnya.
Dan ketika melirik ke arah salah satu pipinya, Rafa semakin di buat menjadi sangat terkejut karena melihat tangan istri kecilnya yang sedang mengelus-elus wajahnya yang tampan dengan sangat lembut.
"Apakah aku tidak salah melihat kali ini? Kenapa aku melihatnya yang sedang menyunggingkan senyuman kecil di wajahnya yang cantik yang semakin menambah kesan cantik dan anggun pada dirinya? Dan kedua tangannya, mengapa bisa mengelus-elus wajahku yang tampan ini dengan sangat lembut?" batin Rafa sembari menatap lekat ke arah wajah cantik milik istri kecilnya.
"Dōyara anata wa ima okite imasu ka? (Rupanya sekarang kamu sudah bangun ya?)" ucap Rafa sembari menatap lekat ke arah wajah cantik milik istri kecilnya.
Nara pun kini di buat menjadi sangat terkejut lantaran mendengar suami kecilnya yang sedang berbicara kepadanya dengan menatap wajahnya yang cantik dengan tatapan lekatnya.
Nara pun sekarang menjadi gugup dan panik sendiri karena suami kecilnya berhasil memergoki ulahnya yang sedang mengelus-elus wajah tampan milik suami kecilnya dengan sangat lembut.
"Ā,nande kon'na kanjina no? Dōshite kare wa hansamuna kao o totemo yasashiku nadete iru watashi o tsukamaeta nodesu ka? A, ima hazukashīdesu. Ejiputo no piramiddo ni maisō shite mo īdesu ka? Matawa, fujisan ni kakureru koto wa dekimasu ka? (Ah, kenapa menjadi seperti ini? Kenapa dia berhasil memergokiku yang sedang mengelus-elus wajahnya yang tampan dengan sangat lembut? Ah, rasanya aku sangat malu sekali saat ini. Bolehkah aku menguburkan diriku di dalam piramida yang ada di Mesir? Atau aku bisa menyembunyikan diriku di bawah gunung Fuji?)" batin Nara sembari menundukkan pandangannya ke arah lantai yang ada di bilik kamarnya.
Nara pun akhirnya melepaskan salah satu tangan suami kecilnya yang sedari tadi sedang menggenggam salah satu tangannya.
Dengan perlahan-lahan, Nara melepaskan tangannya yang sedari tadi sedang mengelus-elus wajah tampan milik suami kecilnya dengan sangat lembut.
"Hai, anata ga kyō miru koto ga dekiru yō ni. Nemuri kara mezameta shikashi, naze watashi wa kono heya ni iru nodesu ka? Soshite, izen wa shitsureidatta watashi no 2tsu no te ni tsuite mōshiwakearimasen (Ya, seperti yang kamu lihat saat ini. Aku sudah terbangun dari tidurku. Tapi, mengapa aku bisa berada di ruangan ini? Dan maaf tentang kedua tanganku yang sangat tidak sopan tadi)" ucap Nara sembari memberanikan kembali dirinya untuk menatap wajah tampan milik suaminya.
"Sebenarnya kamu tidak perlu meminta maaf, sayang. Aku sebenarnya sangat bahagia bisa melihatmu yang sedang mengelus-elus wajah tampan milikku dengan sangat lembut. Tapi, untuk sekarang aku terima permintaan maafmu karena aku juga belum bisa mengungkapkan perasaan ini" batin Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik istri kecilnya.
Rafa pun segera memperbaiki posisi tubuhnya, dari yang semula sedikit menyender di ranjang Nara sekarang menjadi duduk bersender di senderan kursi yang sedang Rafa duduki.
"Hai, owabi mōshiagemasu. Shikashi, jikai wa kono jiken ga nidoto okoranai koto o negatte imasu. Soshite, kono heya ni iru koto ga dekiru no wa, tsurakute suppai tabemono no yōna kyokutan'na tabemono o taberu koto ga dekinaikaradesu. Kore ni tsuite wa, anata wa sudeni tadashiku shitte iru yōdesu ka? (Ya, aku terima permintaan maafmu. Tapi, lain kali aku berharap tidak akan terulang kembali kejadian ini. Dan untuk perihal kamu yang bisa berada di ruangan ini, itu semua karena kamu tidak kuat memakan makanan yang ekstrem seperti makanan yang pedas dan asam. Untuk hal ini sepertinya kamu sudah tahu kan?)" ucap Rafa sembari menatap lekat ke arah wajah istri kecilnya yang cantik itu.
"Mau di ulangi juga sebenarnya tidak papa. Hanya saja ini adalah drama yang sedang aku mainkan. Jadi, kamu harus bersabar, sayang untuk bisa mengetahui semua kebenaran tentang perasaanku padamu" batin Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah istri kecilnya yang cantik itu.
Seketika wajah Nara langsung mempilkan ekspresi wajah yang bermakna penyesalan yang mendalam setelah mendengarkan penuturan dari suami kecilnya.
__ADS_1
"Suppakute tsurai tabemono no yōna kyokutan'na tabemono o taberu koto ga dekinai watashi ni tsuite anata ga hanashite iru koto wa subete shitte imasu. Sore ga hikiokosu kekka o hijō ni chūibukaku kangaezu ni, watashi ga amarini mo amakute hi kudaki no nikukyū no aji o ajiwau koto ga dekinakatta to iu dakedesu (Aku memang tahu semua tentang yang kamu bicarakan tentang aku yang memang tidak bisa memakan makanan yang ekstrem, seperti makanan yang asam dan pedas. Hanya saja aku tadi terlalu menuruti kehendakku sendiri untuk mencicipi rasa bakso mercon tersebut tanpa memikirkan akibat yang akan di timbulkan dengan sangat matang-matang)" batin Nara sembari memasang ekspresi wajah yang bermakna penyesalan yang mendalam di wajahnya.
"Ē to, watashi wa jissai ni sore ni tsuite sudeni shitte imasu. Faiyākurakkā no mītobōru no aji o hontōni ajiwaitakatta dakedesu. Kono heya ni tsureteitte kurete arigatō. Fuyōi ni yattanode kinishinai to yakusoku shimasu (Emm, aku sebenarnya memang sudah mengetahui akan hal itu. Hanya saja aku tadi memang sangat ingin untuk mencicipi rasa dari bakso mercon tersebut. Terima kasih sudah menolongku dengan membawaku ke ruangan ini. Aku berjanji tidak akan membuatmu menjadi repot karena ulahku sangat ceroboh ini)" ucap Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah tampan milik suami kecilnya sendiri.
"Hai, sore ga watashi e no anata no yakusokunara. Oboete oite kudasai, watashi wa anata no kono yakusoku o watashi ni mamorimasu! (Ya sudah jika itu janjimu kepadaku. Ingat, aku akan terus memegang janjimu yang ini kepadaku!)" ucap Rafa sembari merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya.
Beberapa saat kemudian
Teng
Teng
"Attention! Attention! Class is over. Now all students and students can return to their respective homes. Thank you (Perhatian-perhatian! Jam pelajaran telah selesai. Kini semua siswa dan siswi bisa kembali pulang ke rumah masing-masing. Terima kasih)"
Nara pun di buat menjadi sangat terkejut ketika bell yang menandakan jam pelajaran sudah berakhir dan sekarang sudah waktunya untuk pulang.
"Nan-jikan mo ishiki o ushinatte itanode, megasameta-ra ienikaeru jikandeshita ka? (Memangnya sudah berapa jam aku tak sadarkan diri sehingga ketika aku tersadar sekarang sudah waktunya untuk pulang ke rumah?)" batin Nara sembari mengangkat kedua tangannya untuk menghitung berapa jam ia sudah tak sadarkan diri.
Karena dirinya yang tak tahu pasti berapa lamanya dirinya yang tadinya sedang tak sadarkan diri, pada akhirnya Nara memutuskan untuk bertanya kepada suami kecilnya.
"Ē to, rafa. Nan-jikan ishiki o ushinattanode, mezametara ienikaeru jikandesu ka? (Um, Rafa. Sudah berapa jam aku tak sadarkan diri sehingga ketika aku terbangun sekarang sudah waktunya pulang?)" tanya Nara sembari menatap sangat lekat ke arah wajah tampan milik suami kecilnya.
Sontak saja Nara di buat sangat terkejut dengan penuturan dari suami kecilnya. Bahkan Nara masih tak menyangka jika dirinya akan tak sadarkan diri selama itu.
"Nani! Son'nani nagaiai ishiki o ushinatte iru to wa mada omotte imasendeshita! Dōshite son'nani shokku o uketa genjitsu o shinji raremasu ka? (Apa! Aku masih tak menyangka jika diriku akan tak sadarkan diri selama itu! Bagaimana bisa aku mempercayai kenyataan yang membuatku sangat terkejut?)" batin Nara sembari memasang ekspresi wajah yang menyiratkan keterkejutan di wajahnya.
Rafa yang sebenarnya tahu akan istri kecilnya yang sekarang merasa sangat terkejut karenanya pun segera mencari cara agar mengalihkan perhatiannya.
Rafa segera mengajak istri kecilnya untuk pulang ke rumah keluarga Abayomi mengingat sekarang sudah waktunya untuk pulang ke rumah dan juga Rafa akan pergi ke perusahaan RANY Corporation setelah Rafa selesai berganti pakaian di rumah keluarga Abayomi.
"Kinishinaide kudasai, anata wa ima demo hijō ni odoroite ite, sore o shinjiru koto ga dekinai koto o watashi wa shitte imasu. Ienikaeru jikan ni nattanode,-ka ni kaerimashou! Rafi to raihana wa sudeni kuruma no naka de matte imashita, soshite mata rafi wa kare to issho ni watashitachi no baggu o motte imashita. Kono ato, papa no jama o sezu ni jibun de kaisha o hikiiru to papa ga shinrai shite kuretanode, watashi mo kaisha ni ikimasu (Sudahlah, aku tahu kalau kamu sekarang masih sangat terkejut dan kamu juga masih belum bisa memercayainya. Karena sekarang sudah waktunya untuk pulang ke rumah, ayo kita pulang ke rumah! Rafi dan Raihana sudah menunggu di dalam mobil, dan juga Rafi sudah membawa tas kita bersamanya. Setelah ini, aku juga akan ke perusahaan karena Papa sudah memercayaiku untuk memimpin perusahaan sendiri tanpa campur tangan Papa)" ucap Rafa sembari berusaha untuk beranjak berdiri dari posisi duduknya.
"Sono kaisha ni kuru no wa totemo tsukaremashita. Watashi ga Kankoku ni ita toki ni ichido okotta koto o oboete imasu. Ima demo watashi wa anata to wa kotonari, ura de kaisha o atsukaimasu (Datang ke perusahaan itu rasanya sangat melelahkan sekali. Aku ingat hal itu pernah terjadi sekali ketika aku sedang berada di Korea Selatan. Sekarang aku masih menghandle perusahaan dari balik layar, tidak seperti dirimu)" batin Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah tampan milik suami kecilnya.
"Anata wa mada hitori de aruku koto ga dekimasu yo ne? (Kamu masih bisa berjalan sendiri kan?)" tanya Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik nan anggun milik istri kecilnya.
"Ē to, tabun watashi wa dekimasu (Emmm, mungkin saja aku bisa)" ucap Nara dengan nada bicara yang menyiratkan sedikit keraguan di dalam ucapannya tersebut.
Nara pun langsung beranjak berdiri dari duduknya, tentunya tanpa meminta bantuan dari suami kecilnya. Karena Nara sekarang bisa beranjak berdiri dari duduknya tanpa bantuan dari orang lain.
Nara dan Rafa pun mulai berjalan beriringan meninggalkan ruang UKS yang ada di Internasional Senior High School untuk menuju ke arah area parkiran, di mana Rafi dan Raihana sudah menunggu kedatangan Nara dan Rafa bersama seorang supir keluarga Abayomi di dalam mobil tersebut.
__ADS_1
Sesampainya di area parkiran, terlihatlah sebuah mobil Mercedes Benz berwarna hitam telah terparkir dengan rapi di salah satu tempat parkir yang ada di area parkiran.
Nara dan Rafa pun segera menghampiri mobil Mercedes Benz berwarna hitam tersebut yang di ketahui adalah salah mobil milik keluarga Abayomi.
Sesampainya di dekat mobil Mercedes Benz berwarna hitam tersebut, Nara dan Rafa langsung membuka salah satu pintu mobil yang akan membawa mereka menuju ke kursi penumpang yang berada bagian tengah.
Raihana terlihat sangat antusias karena melihat kakak laki-lakinya dan kakak iparnya yang duduk bersamanya di kursi penumpang yang berada di bagian tengah.
"Hello my sister-in-law who is very beautiful like an angel. Is sister-in-law feeling better now than before? (Halo kakak iparku yang sangat cantik seperti bidadari. Apakah kakak ipar sekarang sudah merasa lebih baik dari sebelumnya?)" ucap Raihana sembari memberikan senyuman terbaiknya kepada sang kakak ipar yang sekarang sudah duduk di samping dirinya.
"Hello, beautiful too. Now you feel better than before (Halo juga cantik. Sekarang kakak sudah merasa lebih baik dari sebelumnya)" ucap Nara sembari memberikan sebuah elusan lembut di puncak kepala adik iparnya.
Sedangkan Rafi, dia duduk di bagian kursi penumpang yang berada di depan bersama seorang supir pribadi keluarga Abayomi yang sekarang sudah berusia 30 tahun, supir di ketahui bernama Pak Septian Yudhistira, atau kerap di sapa dengan Pak Tian.
Brumm
Suara mesin mobil yang terdengar bergemuruh karena Pak Tian sudah mulai menjalankan mobil Mercedes Benz berwarna hitam tersebut.
Di dalam mobil, Raihana tak henti-hentinya mengajak sang kakak ipar untuk bertukar cerita dengannya sepanjang perjalanan pulang ke rumah keluarga Abayomi.
"Sis, do you have any new friends at this new school? (Kak, apakah kakak sudah mempunyai teman baru di sekolah baru ini?)" tanya Raihana sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sang kakak Ipar.
"Yes, Sis Nara already has 2 new friends. They were named Vannesha Mikhayle Faresta or were called Nessa and Anissa Kyara Zahran or were called Nissa. They both were very kind and fun. Nesha's character is very similar to that of Aina Yoshida, Nara's friend who is in Japan (Sudah, kak Nara sudah mempunyai 2 teman baru. Mereka bernama Vannesha Mikhayle Faresta atau di panggil dengan sebutan Nesha dan Anissa Kyara Zahran atau di panggil dengan sebutan Nissa. Mereka berdua itu sangat baik dan menyenangkan. Sifat Nessha itu sangatlah mirip dengan sifat Aina Yoshida, sahabat kak Nara yang berada di Jepang)" ucap Nara sembari menyunggingkan senyuman lembut di wajahnya yang cantik.
"Oh yes, what are the characteristics of Nesha's sister and Aina's sister, which Nara's words are similar to? (Oh ya, seperti apa sifat kak Nesha dan kak Aina yang kata kak Nara itu mirip?)" tanya Raihana sembari memasang ekspresi wajah yang sangat menggemaskan di wajahnya yang cantik dan imut tersebut.
"Emmm, they are both cheerful, kind but a little sneaky, unstoppable, and also a bit crazy (Emmm, mereka itu sama-sama periang, baik tapi sedikit licik, tidak bisa di hentikan, dan juga sama-sama agak gila)" ucap Nara sembari tertawa kecil di akhir kalimatnya karena meningat sifat Aina dan Vannesha yang agak sedikit gila.
"Not only are Vannesha and Aina similar in nature, but Raihana is also very similar to both of them (Bukan hanya sifat Vannesha dan Aina saja yang mirip, tetapi juga sifat Raihana juga mirip sekali dengan sifat mereka berdua)" celetuk Rafi sembari tertawa geli di akhir kalimatnya karena mengingat sifat adik perempuannya yang juga sangat mirip dengan sifat Aina dan Vannesha.
"Brother! (Kakak!)" teriak Raihana dengan sangat geram kepada kakak laki-lakinya yang kedua.
Setelah kurang lebih 15 menit berkendara dari sekolah Internasional menuju ke arah rumah keluarga Abayomi, kini mobil Mercedes Benz sudah sampai di halaman di depan rumah keluarga Abayomi.
Nara, Rafa, Rafi, dan Raihana pun segera keluar dari dalam mobil Mercedes Benz berwarna hitam tersebut dengan menyandang tas mereka masing-masing di kedua bahu mereka.
Baru saja Nara, Rafa, Rafi, dan Raihana keluar dari dalam mobil Mercedes Benz berwarna hitam tersebut, Rania pun segera berlari untuk menghampiri Nara, Rafa, Rafi, dan Raihana yang baru saja akan masuk ke dalam rumah keluarga Abayomi.
Sesampainya di dekat Nara, Rafa, Rafi, dan Raihana, Rania langsung memeluk dengan erat tubuh menantu kesayangannya. Seolah tidak ada yang ingin memisahkan ikatan antara Mama mertua dan menantu tersebut.
"Honey, are you okay? Mama is very worried when she hears that something bad has happened to Mama's beloved daughter-in-law (Sayang, apakah kamu tidak papa? Mama sangat khawatir sekali ketika mendengar sesuatu hal yang buruk terjadi pada menantu kesayangan Mama ini)" ucap Rania sembari memeluk dengan sangat erat tubuh menantu kesayangannya tersebut.
__ADS_1