
Sontak saja Vannesha yang mendengarkan perkataan yang di ucapan oleh sang Mami tersebut yang mengandung banyak kata-kata nasihat sekaligus ancaman di dalamnya pun kini sedang di buat menjadi bergidik ngeri karena perkataan sang Mami tersebut.
Bahkan, Vannesha pun sampai menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri secara berlahan-lahan dengan harapan agar bisa menghilangkan dan menghapus jejak kata-kata yang di ucapkan oleh sang Mami mengenai dirinya yang akan dilarang untuk menonton Drama Korea oleh sang Mami tersebut.
"Erm, get rid of the words uttered by my mother who said that I would be banned from watching Korean dramas again! I don't want this to really happen in my life! How could I have lived far away with Jesslyn, my nephew who is currently living in South Korea, then I had to lose my freedom to watch Korean dramas? If this really happens, I will live in South Korea with my first brother, sister-in-law, and also my little nephew so that I can happily watch Korean dramas that are original from the country of manufacture! (Emm, enyahlah kata-kata yang di ucapkan oleh Mamiku yang mengatakan bahwa aku akan dilarang menonton Drama Korea lagi! Aku tidak mau jika hal ini benar-benar terjadi di dalam hidupku! Masa aku sudah tinggal jauh dengan Jesslyn, si keponakanku yang kini sedang tinggal di Korea Selatan, lalu aku harus kehilangan kebebasanku untuk menonton Drama Korea? Jika hal ini benar-benar terjadi, aku akan tinggal di Korea Selatan bersama kakak pertamaku, kakak iparku, dan juga keponakan kecilku agar aku bisa dengan puas menonton Drama Korea yang asli dari negara pembuatnya!)" batin Vannesha sembari menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri secara perlahan-lahan dengan harapan bisa menghilangkan dan menghapus jejak kata-kata yang di ucapkan oleh sang Mami mengenai dirinya yang akan dilarang menonton Drama Korea lagi.
Suasana di dalam pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi pun kembali menjadi hening dan canggung karena tidak ada seorang pun yang kunjung membuka suaranya untuk memecah keheningan yang kini sedang terjadi di dalam pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut.
Hingga pada akhirnya, suara dari salah satu awak kabin pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi yang terdengar sangatlah keras tersebut pun kini sedang memecahkan keheningan yang terjadi di dalam pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut.
"Caution, the Abayomi 1007 private jet will be taking off soon. It is hoped that all passengers on the Abayomi 1007 private jet to fasten their seat belts because the plane will soon take off for the city of Tokyo, Japan. For all passengers on the Abayomi 1007 private jet, it is hoped that they will position themselves in a comfortable sitting position and avoid all objects that are at risk of harming the passengers of the Abayomi 1007 private jet while the plane is taking off to the city of Tokyo, Japan. Thank you (Perhatian-perhatian, pesawat jet pribadi Abayomi 1007 akan segera lepas landas. Di harapkan kepada semua penumpang pesawat jet pribadi Abayomi 1007 untuk mengencangkan sabuk pengaman masing-masing karena pesawat akan segera lepas landas menuju ke kota Tokyo, Jepang. Untuk semua penumpang pesawat jet pribadi Abayomi 1007, di harapkan untuk memposisikan posisi duduk yang nyaman dan hindarkan semua benda-benda yang beresiko untuk mencelakakan para penumpang pesawat jet pribadi Abayomi 1007 selama pesawat sedang lepas landas menuju ke kota Tokyo, Jepang. Terima kasih)" ucap seorang awak kabin yang ada di dalam pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut kepada semua penumpang yang ada di pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut.
Sontak saja Nara, Rafa, Rafi, Raihana, Rania, Amaya, Nandito, Ayunindya, Vannesha, Anissa, Naura, dan juga Ayesha yang merupakan semua penumpang yang ada do dalam pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut pun segera mengencangkan sabuk pengaman yang ada di kursi pesawat mereka masing-masing. Serta juga mereka semua tak lupa untuk menjauhkan semua benda-benda yang berpotensi untuk mencelakakan mereka semua ketika pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut sedang lepas landas menuju ke arah kota Tokyo, Jepang.
Formasi kursi tempat duduk penumpang yang ada di dalam pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi pun di mulai dengan Nara dan Rafa yang duduk di barisan pertama di bagian bangku paling depan atau bangku pertama. Di lanjutkan dengan Vannesha dan Anissa yang duduk di barisan pertama di bagian bangku yang teletak di tengah atau bangku kedua. Serta Rafi dan Raihana yang duduk di barisan pertama di bagian bangku paling belakang atau bangku ketiga.
Tak ketinggalan dengan barisan kedua yang di isi oleh Rania dan Amaya yang duduk di bagian bangku paling depan atau bangku pertama. Di lanjutkan dengan Naura dan Ayesha yang duduk di bagian bangku yang terletak di tengah atau bangku kedua di barisan kedua. Serta Nandito dan Ayunindya yang duduk di bagian bangku paling belakang atau bangku ketiga di barisan kedua tersebut.
Brumm
Suara deru mesin pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut pun menandakan bahwa kini pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut sudah lepas landas dan mengudara di langit yang kini terlihat sangatlah gelap tersebut di karenakan sekarang sudah pukul 00:30 WIB. Jika di konversi ke waktu Tokyo, Jepang yang berbeda 2 jam dengan Waktu Indonesia Barat, maka di kota Tokyo, Jepang sekarang sedang pukul 02:30 Waktu setempat.
Pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut yang di kemudikan oleh Pilot dan Co-Pilotnya pun kini mulai mengudara untuk bertolak dari kota Jakarta, yang merupakan ibu kota dari Indonesia menuju ke arah kota Tokyo, yang merupakan ibu kota dari Jepang tersebut.
__ADS_1
Ketika pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut sudah lepas landas, Nara, Rafa, Rafi, Raihana, Rania, Amaya, Nandito, Ayunindya, Vannesha, Anissa, Naura, dan juga Ayesha pun mulai memposisikan tubuh mereka untuk mencari posisi yang nyaman untuk mereka masing-masing agar bisa tidur dengan nyaman di dalam pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut.
Nara, Rafa, Rafi, Raihana, Rania, Amaya, Nandito, Ayunindya, Vannesha, Anissa, Naura, dan juga Ayesha pun juga menarik selimut mereka masing-masing untuk menutupi semua tubuh mereka masing-masing, kecuali kepala agar tidak merasa kedinginan oleh AC yang tepasang di atas langit-langit pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut.
Kebanyakan dari mereka ini memang sengaja memakai 1 selimut saja untuk 2 orang. Nara dan Rafa, Rania dan Amaya, serta Rafi dan Raihana pun menerapkan sistem 1 selimut untuk 2 orang seperti ini.
Namun, sepertinya sistem 1 selimut untuk 2 orang ini tidak berlaku untuk Vannesha dan Anissa, Naura dan Ayesha, serta Nandito dan Ayunindya. Karena memang Nandito dan Ayunindya bukanlah muhrim hukumnya do antara mereka berdua, maka sudah di pastikan bahwa mereka akan memakai selimut milik mereka masing-masing.
Ketika belum memulai kegiatan tidur malamnya di dalam pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi, Rania pun memberikan sebuah nasihat atau petuah yang di tujukan kepada putra pertamanya serta menantu kesayangannya tersebut. Sebenarnya, nasihat atau petuah yang di berikan oleh Rania tersebut pun lebih di tujukan kepada putra pertamanya sendiri yang tak lain adalah Rafa.
"Brother, sister, don't make your daughter-in-law tired to serve you in that matter for now, especially now that we are on the plane and we are flying to Tokyo, Japan. So, brother, don't be weird first here with Mama's favorite daughter-in-law, OK !? (Kakak, kakak jangan buat menantu Mama kelelahan untuk melayanimu dalam hal itu untuk sekarang, apalagi sekarang kita sedang berada di dalam pesawat dan kita akan terbang menuju ke kota Tokyo, Jepang. Jadi, kakak jangan aneh-aneh dulu ya di sini sama menantu kesayangan Mama, Oke!?)" ucap Rania yang memberi nasihat atau petuah kepada putra pertamanya sekaligus menantu kesayangannya tersebut dengan nada bicaranya yang terdengar sangatlah tegas tersebut.
Sontak saja Nara yang mendengarkan perkataan yang di ucapkan oleh sang Mama mertua yang mengandung nasihat atau petuah yang di tujukan untuknya dan suami kecilnya tersebut pun langsung saja membuat wajah Nara yang semula berwarna putih tersebut kini menjadi berwarna merah seperti kepiting rebus yang siap di berikan saus tersebut karena merasa sangat malu akan perkataan yang di ucapkan oleh sang Mama mertua tersebut.
Bahkan, Nara pun sampai menggeleng-gelenggkan kepalanya sendiri secara pelahan-lahan karena Nara sangatlah paham jika sang Mama mertuanya tersebut kini sedang menjadi salah paham akan perkataan yang di ucapkan oleh sang Mama mertuanya tersebut kini memang sangatlah tidak mungkin untuk terjadi di antara dirinya dan suami kecilnya tersebut.
Berbeda dengan istri kecilnya yang merasakan perasaan malu kepada Rania yang notabenenya merupakan sang Mama mertua bagi istri kecilnya tersebut, Rafa justru merasakan perasaan kesal kepada Rania yang notabenenya merupakan sang Mama untuk dirinya tersebut karena sang Mama kini sedang menjadi salah paham dengan perkembangan hubungannya dengan istri kecilnya tersebut.
"Ya Allah, Mama! Mama ini suka sekali berlarut-larut dalam sebuah kesalahpahaman tanpa ingin mendengarkan sebuah penjelasan mengenai kesalahpahaman tersebut! Mama ini benar-benar sangat menyebalkan di karenakan Mama yang memiliki sifat seperti itu!" batin Rafa yang di tujukan kepada Rania yang notabenenya merupakan sang Mama baginya tersebut sembari menarik dan menghembuskan nafasnya tersebut dengan sangat kasar karena dirinya sekarang sedang merasa sangat frustasi dengan sifat yang di miliki sang Mama tersebut.
Walaupun perasaan kesal yang di tujukan kepada Rania yang notabenenya adalah sang Mama untuk Rafa tersebut, Rafa pun kini membalas ucapan sang Mama tersebut dengan singkat, padat, dan jelas tanpa menyertakan sebuah fakta mengejutkan mengenai dirinya yeng belum pernah menyentuh istri kecilnya tersebut.
"Yes, Mama. You still know where to do that crazy thing with my little wife! (Ya, Mama. Kakak masih tahu tempat untuk melakukan hal gila itu bersama istri kecilku ini!)" ucap Rafa dengan singkat, padat, dan jelas kepada Rania yang notabenenya merupakan sang Mama baginya tersebut sembari mengarahkan kedua ekor matanya tersebut untuk menatap ke arah tubuh istri kecilnya tersebut yang kini sudah tertidur pulas dan kini istri kecilnya tersebut sedang berkelana di dalam alam mimpinya sendiri.
__ADS_1
Selesai mengatakan hal tersebut kepada Rania yang notabenenya merupakan sang Mama baginya tersebut, dengan pelahan-lahan awak kabin pun meredupkan cahaya yang di pancarkan lampu-lampu yang terpasang di atas langit-langit pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut hingga cahayanya menjadi agak gelap dan nyaman untuk para penumpang yang ada di dalam pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut agar bisa tertidur dengan sangat nyenyak tanpa merasa kesilauan karena cahaya dari lampu yang terlihat sangatlah terang tersebut.
Blamm
Karena mengingat semua orang yang ada di dalam pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut sudah tertidur dengan sangat pulasnya dan kini tengah berkelana di alam mimpi mereka masing-masing, Rafa yang kini juga sudah merasakan dirinya sedang terserang kantuk pun mulai memejamkan kedua matanya untuk tertidur dan mulai berkelana di alam mimpinya sendiri.
Sebelum sudah benar-benar memejamkan kedua matanya untuk tertidur dan mulai berkelana di alam mimpinya sendiri, Rafa pun sebelumnya sudah mengucapkan doa sebelum tidur di dalam agama Islam karena dirinya yang memang menganut agama Islam tersebut.
6 jam kemudian
Setelah 6 jam mengudara dari kota Jakarta yang merupakan ibu kota dari Indonesia menuju ke kota Tokyo yang merupakan ibu kota dari Jepang, pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi pun kini sudah mendarat dengan mulus di kota Tokyo, Jepang yang tepat mendarat di halaman belakang rumah keluarga Yamada tersebut.
Kira-kira sekarang sudah pukul 08:30 Waktu kota Tokyo, Jepang, pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi pun sudah tiba dengan selamat di kota Tokyo, Jepang tanpa adanya suatu insiden yang membahayakan selama perjalanan dari kota Jakarta, Indonesia menuju ke kota Tokyo, Jepang.
Nara, Rafa, Rafi, Raihana, Rania, Amaya, Nandito, Ayunindya, Vannesha, Anissa, Naura, dan juga Ayesha pun kini sudah keluar dari pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi untuk memasuki rumah atau kediaman dari keluarga Yamada yang berada di kota Tokyo, Jepang.
Pintu rumah atau kediaman dari keluarga Yamada yang berada di kota Tokyo, Jepang yang sedari tadi sudah di buka dengan lebar pun mempermudah akses Nara, Rafa, Rafi, Raihana, Rania, Amaya, Nandito, Ayunindya, Vannesha, Anissa, Naura, dan juga Ayesha untuk segera memasuki rumah atau kediaman dari keluarga Yamada yang berada di kota Tokyo, Jepang.
Namun, sebelum bisa kembali melangkahkan kedua kakinya untuk bisa memasuki rumah atau kediaman dari keluarga Yamada yang tak lain adalah rumah dari keluarganya sendiri, tubuh mungil milik Nara pun sudah di peluk dengan sangat erat oleh seorang gadis yang sepertinya memiliki usia yang sama dengan usia Nara.
Gadis tersebut adalah Aina Yoshida. Dia adalah satu-satunya sahabat sejati Nara yang berada di kota Tokyo, Jepang. Dia adalah sahabat sejati Nara yang sudah menemani Nara selagi Nara masih berada di dalam kandungan Mamanya, begitu juga dengan Aina yang masih berada di dalam kandungan Mamanya. Usia Aina dan Nara sendiri hanya terpaut 2 bulan. Yaitu, di mana usia Nara lebih tua 2 bulan dari usia Aina, sahabat sejatinya.
Sepertinya jarak yang jauhnya berjuta-juta kilometer tersebut pun tak memutuskan rantai persahabatan yang sudah terjalin dengan sangat erat sedari masih berada di dalam kandungan Mama mereka masing-masing yang terjadi di antara Nara dan Aina tersebut.
__ADS_1
Hal ini terbukti dengan kata-kata Aina yang mengungkapkan betapa besarnya kerinduannya kepada Nara yang notabenenya merupakan sahabat sejatinya tersebut, serta dari perilaku Aina yang terlihat sangatlah menyayangi seorang Nara yang notabenenya merupakan sahabat sejatinya tersebut seperti Aina menyayangi saudara kandungnya sendiri.
"Fu fu, iyoiyo Tōkyō ni kimashita ne. Watashitachi ga umareta machi, yūjō no naka de takusan no utsukushī omoide o kizamu machi, anata no otto no shusshin-kokudearu Indoneshia ni sumu koto o watashi mo akiramenakereba naranai machi. Don'nani hanarete ite mo, hontō no tomodachi, anata o aishi tsudzukemasu! Osoraku, anata to no watashi no shiawase kara, anata ga kono machi o satta toki no watashi no kanashimi made, korera subete o ichiren no kotoba de iu koto wa dekimasen. Shikashi, watashi no hontō no tomodachi, anata ga inakute sabishīdesu! Anata ga koishī! (Huhu, akhirnya kamu datang juga ke kota Tokyo, Jepang. Kota di mana kita di lahirkan, kota di mana kita mengukir banyak kenangan indah di dalam persahabatan kita, kota di mana aku juga yang harus merelakanmu untuk tinggal di Indonesia, negara tempat suamimu berasal. Mau sejauh apapun jarak yang memisahkan kita, aku tetap akan menyayangimu, sahabat sejatiku! Mungkin ini semua tak dapat di katakan dengan serangkaian kata-kata, mulai dari kebahagiaanku bersamamu, hingga kesedihanku ketika kamu meninggalkan kota ini. Namun, aku merindukanmu, sahabat sejatiku! Aku sangat merindukanmu!)" ucap Aina dengan memeluk tubuh mungil milik Nara yang notabenenya merupakan sahabat sejatinya tersebut sembari dengan meneteskan air matanya tersebut secara perlahan-lahan karena merasa sangat bahagia sekaligus terharu karena tak menyangka bisa kembali bertemu dan berkumpul dengan Nara yang notabenenya merupakan sahabat sejatinya tersebut.