Suami Kecilku

Suami Kecilku
Ch 42 - Bekerja Ekstra Keras!


__ADS_3

Cekrek


Cekrek


Cekrek


Cekrek


Cekrek


Jari-jari tangan Rania pun kini tak henti-hentinya untuk memencet tombol volume di ponselnya untuk memotret fotonya bersama sang suami, kedua putra kembarnya, menantu kesayangannya, serta anak perempuannya tersebut.


Berbagai pose gaya untuk berfoto pun kini banyak sudah di lalui oleh Nara, Rania, Rafa, dan Raihana. Sedangkan Rafa dan Raihan, kedua laki-laki 2 generasi dari keluarga Abayomi itu hanya terpaku dengan pose gaya mereka yang sebelumnya. Yaitu mengaitkan kedua tangan mereka masing-masing di leher istri-istri mereka yang tak lain adalah Nara dan Rania.


Tak terhitung lagi berapa banyak waktu yang di habiskan oleh Nara, Rafa, Rania, Raihan, Rafi, dan juga Raihana hanya untuk sekedar berselfie ria. Walaupun mereka hanya sekedar melakukan kegiatan berselfie ria, namun Rania sudah memotret mungkin lebih dari 100 foto bersama sang suami, kedua putra kembarnya, menantu kesayangannya, dan juga anak perempuannya tersebut.


Tentu saja Rafa, Raihan, serta Rafi yang merupakan tipikal laki-laki yang tidak dapat menunggu pun di buat menjadi sangat kesal dan juga jengah dengan kelakuan Rania yang masih saja terus memotret foto mereka tanpa menghiraukan sedikit rasa kesal dan jengah yang kini tengah melanda ketiga laki-laki 2 generasi dari keluarga Abayomi tersebut.


Sangkin merasa sangat kesal dengan kelakuan Rania yang terus saja memotret foto mereka tanpa menghiraukan sedikitpun rasa sakit kesal dan jengah yang kini tengah melanda ketiga laki-laki 2 generasi dari keluarga Abayomi tersebut, Rafa, Raihan, dan juga Rafi pun bahkan sampai merutuki kelakuan Rania yang bisa di bilang sangatlah egois tersebut.


"Ah, Mama ini benar-benar menyebalkan ya! Kita sudah hampir menghabiskan waktu 2 jam hanya untuk berselfie ria saja! Apakah Mama ini tidak bisa menghiraukan sedikitpun rasa kesal dan jengah yang ada pada diri kami ini? Mama sangatlah egois! Mama lebih mementingkan kepentingan Mama sendiri!" batin Rafa sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sang Mama tersebut.


"O Allah, it is very painful for husbands who have wives who like to take selfies like this! Isn't there a woman who spends almost 2 hours just taking selfies? If there is a woman like that, it must be very lucky for the man to be her husband! It's not like us who suffer because we have wives who really like to take selfies! (Ya Allah, menderita sekali para suami yang memiliki istri yang suka berselfie ria seperti ini! Apakah tidak ada perempuan yang menghabiskan waktunya hampir 2 jam hanya untuk berselfie ria? Jika ada perempuan yang seperti itu, pasti sangat beruntung sekali laki-laki yang menjadi suaminya itu! Tidak seperti kami yang menderita karena memiliki istri-istri yang sangat suka berselfie ria!)" batin Raihan sembari menarik dan menghembuskan nafasnya tersebut dengan sangat kasar.


"Geez, I really hate it when Mama starts to take selfies again! I really hate this because Mama will definitely spend a lot of time and also ignore our feelings in order to fulfill her selfies! If there are girls who don't like selfies, then you should call me right away as this is very rare! (Ya ampun, aku sangat membenci sekali jika Mama mulai suka berselfie ria lagi! Aku sangat membenci hal ini karena Mama pasti akan menghabiskan banyak waktunya dan juga mengabaikan perasaan kami demi bisa memenuhi hasrat selfienya tersebut! Jika ada perempuan yang tidak mengukai selfie, maka kamu harus segera meneleponku karena hal ini sangatlah langka!)" batin Rafi sembari mematap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sang Mama tersebut.


Tak berbeda jauh dengan Rafa, Raihan, serta Rafi yang di buat menjadi sangat kesal dan jengah dengan tingkah laku Rania yang terus saja memotret tanpa menghiraukan sedikit rasa kesal dan jengah yang telah melanda ketiga laki-laki 2 generasi dari keluarga Abayomi tersebut, Nara dan Raihana pun juga di buat menjadi sangat kesal dengan kelakuan seorang perempuan yang berstatus menjadi Mama bagi Raihana dan juga Mama mertua bagi Nara tersebut.

__ADS_1


Walaupun begitu, Nara dan Raihana tetap menampilkan senyuman kecil di wajah mereka masing-masing yang cantik cantik dan imut tersebut guna menghindari amarah dari seorang perempuan yang berstatus menjadi Mama dan Mama mertua bagi Nara dan Raihana ini.


Perasaan kesal yang sedang menyelimuti hati Nara dan Raihana pun kini memang tak dapat di sangkal lagi oleh Nara dan Raihana karena hal tersebut memang benarlah adanya.


"Gibo ni iraira shite ite mo, egao de gibo ni shashin o tora sete kudasai. Anata ga kanojo ni hara o tatete iru ka dō ka, anata no gibo ni shirasenaide kudasai, Nara! (Walaupun kamu sedang merasakan perasaan kesal kepada Mama mertuamu itu, kamu harus tetap tersenyum dan membiarkan Mama mertuamu itu untuk memotretmu. Jangan sampai juga Mama mertuamu itu mengetahui jika kamu sedang merasa kesal kepadanya, Nara!)" batin Nara sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.


"My mother! I feel very, very annoyed with my mother because she still doesn't stop taking selfies! What methods should I use to stop it? Even though I feel very annoyed with my mother, I still have to smile so I can avoid getting angry with Mama! I hope Mama can hear the voice of my heart as I can hear the inner voice of the players in Indonesian sinteron! (Dasar Mamaku ini! Aku merasa sangat-sangat kesal kepada Mamaku ini karena dirinya yang masih saja tak berhenti untuk berselfie ria! Aku harus memakai cara apa untuk menghentikannya? Walaupun aku merasa sangat kesal kepada Mamaku ini, tapi aku tetap harus tersenyum agar aku bisa menghindari amarah Mama! Aku harap Mama bisa mendengar suara hatiku seperti aku yang bisa mendengar suara hati pemain di sinteron Indonesia!)" batin Raihana sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah cantik milik sang Mama tersebut.


Beberapa saat kemudian. Raihan yang tidak bisa membendung rasa kesal dan jengahnya kepada sang istri pun dengan segera merampas ponsel yang kini masih di dalam genggaman tangan sang istri tersebut.


Raihan melakukan hal ini agar sang istri menjadi tahu dengan isi hati dan perasaan yang kini sedang di rasakannya kepada sang istri. Selain itu juga, Raihan ingin bahwa seluruh anggota keluarga Abayomi langsung saja menyantap hidangan makan malam yang tersedia di atas meja makan mengingat sekarang sudah pukul 19:00 WIB.


"Never mind, Rania Syahlaa Abayomi. Stop this activity right now! We're all hungry! And also all those birthday candles have been extinguished since 2 hours ago where you started busy taking selfies regardless of our little feelings! (Sudahlah, Rania Syahlaa Abayomi. Hentikan kegiatan ini sekarang juga! Kami semua ini sudah lapar semua! Dan juga semua lilin-lilin ulang tahun itu sudah padam sejak 2 jam yang lalu di mana kamu mulai sibuk berselfie ria tanpa menghiraukan sedikit perasaan kami!)" ucap Raihan dengan nada bicara dan ekspresi wajahnya yang sangat dingin yang tentu saja bisa membuat semua orang menjadi ketakutan ketika melihat ekspresi wajahnya yang terlihat sangat menyeramkan tersebut.


Sontak saja Rania yang melihat dan mendengar ekspresi wajah dan nada bicara suaminya yang dingin pun di buat menjadi bergidik ngeri lantaran sang suami kini sedang marah besar kepadanya ketika sang suami sudah memanggilnya dengan nama lengkapnya, yaitu Rania Syahlaa Abayomi.


Di dalam diamnya sekarang, Rania sedang memikirkan cara-cara agar dirinya menjadi bisa untuk meluluhkan hati sang suami yang kini sedang marah besar kepadanya.


Namun ketika sudah lama berfikir di dalam diamnya, Rania pun hanya mempunyai satu cara untuk meluluhkan hati sang suami yang kini sedang marah besar kepadanya, yaitu dengan cara merayu sang suami.


"Um, what am I supposed to do? My husband was already furious at me when he said my full name! Do I have to seduce him right now to get his mood back from being angry to getting better? Ah, I think it's a bit inappropriate to do in front of my twins, my beloved daughter-in-law, and also my daughter. But, this is the only way for me to return to melting my husband's heart. So with great force, I will take this method as a way to melt my husband's heart again! (Um, aku harus bagaimana ini? Suamiku sudah marah besar kepadaku ketika dia menyebutkan nama lengkapku! Apakah aku harus merayunya sekarang juga untuk bisa mengembalikan suasana hatinya dari marah menjadi lebih membaik? Ah, aku rasa itu agak kurang tepat untuk di lakukan di depan kedua putra kembarku, menantu kesayanganku, dan juga anak perempuanku ini. Tapi, hanya ini satu-satunya cara untuk aku bisa kembali meluluhkan hati suamiku ini. Maka dengan sangat terpaksa, aku pun akan mengambil cara ini sebagai cara untuk kembali meluluhkan hati suamiku!)" batin Rania sembari mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya tersebut pada dagunya sendiri.


Dengan hati yang tidak ikhlas karena keterpaksaan, pada akhirnya Rania pun memulai aktingnya untuk merayu sang suami agar hatinya bisa kembali luluh dan tidak marah besar lagi kepadanya.


Berbekal gerak-gerik aktris dalam sinetron Indonesia yang berjudul 'Suara Hati Istri', Rania pun kini memulai aktingnya tersebut. Agar lebih terlihat meyakinkan oleh sang suami, bahkan Rania pun sampai meneteskan air matanya agar sang suami semakin percaya kepadanya dan ingin memaafkan kesalahannya kembali.


"It seems that watching Indonesian soap operas has its functions and uses! At times like this, I can use it to seduce my husband's heart to melt and want to forgive my mistakes. It seems that now I have a lot to learn from actresses with very good acting. Or even I can bring in Lee Min Ho from South Korea to teach me how to act to make it look stronger and more convincing! Cheer up, Rania! This is all for the sake of your heart, your husband! (Rupanya menonton sinetron indonesia juga ada fungsi dan kegunaannya! Di saat-saat seperti ini, aku bisa menggunakannya untuk merayu hati suamiku agar menjadi luluh dan mau memaafkan kesalahanku ini. Sepertinya kini aku harus banyak berguru pada aktris-aktris yang aktingnya sangat bagus. Atau bahkan aku bisa mendatangkan Lee Min Ho dari Korea Selatan untuk mengajariku cara-cara akting agar terlihat lebih kuat dan meyakinkan! Semangat, Rania! Ini semua demi pujaan hatimu, suamimu sendiri!)" batin Rania sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman licik di wajahnya yang cantik tersebut.

__ADS_1


Dengan perlahan-lahan, tangan kanan Rania pun tergerak untuk mengenggam dengan sangat erat tangan kanan milik sang suami tersebut.


Bermodalkan bakat akting terpendamnya dan juga ekspresi wajahnya yang terlihat sangatlah memelas dan imut, Rania pun memulai aksinya untuk merayu sang suami agar kembali luluh dan tidak marah lagi kepadanya.


"My dear, my love, the jewel of my heart, the kings and princes of my life, come on, don't be angry with your queen anymore! The Queen will be very sad when she sees the King who is angry with her! Is the King willing to forgive the Queen's mistakes gracefully? (Sayangku, cintaku, permata hatiku, raja dan pangeran di dalam hidupku, ayolah, jangan marah lagi kepada ratumu ini! Ratu akan sangat sedih ketika melihat sang Raja yang yang sedang marah kepadanya! Apakah Raja mau memaafkan kesalahan sang Ratu dengan lapang dada?)" tanya Rania sembari mengerlingkan kedua matanya yang berwarna cokelat tersebut kepada sang suami agar terlihat semakin memelas dan juga menggemaskan di mata sang suami tersebut.


Baru saja Raihan akan menjawab pertanyaan yang ucapkan oleh sang istri tersebut, namun Rafa, putra pertamanya tersebut sudah terlebih dahulu memotong ucapannya sebelum Raihan sempat mengatakan jawaban dari pertanyaan yang di ucapkan oleh sang istri tersebut.


"Mama, Papa, Rafi, and also Rai, Rafa and Nara just want to go to the room. Please have dinner later, just ask Bi Tiah to take him to our room! (Mama, Papa, Rafi, dan juga Rai, Rafa dan Nara mau ke kamar saja ya. Tolong nanti makan malamnya minta di antarkan saja oleh Bi Tiah ke kamar kami!)" ucap Rafa dengan nada bicaranya yang sangat tegas sembari menarik kursi makannya untuk sedikit mundur agar dia bisa beranjak berdiri dari posisinya yang semula sedang duduk.


Setelah kursi makannya berhasil sedikit mundur, Rafa pun langsung menggenggam tangan kanan milik istri kecilnya tersebut. Kemudian, Rafa dan Nara pun berjalan ke arah anak tangga yang akan membawa mereka menuju ke kamar mereka berdua.


Sontak saja tubuh Nara pun menjadi sangat berdesir ketika suami kecilnya sudah berhasil untuk menggenggam tangan kanannya tersebut. Aliran darah Nara pun kini terasa seperti terpompa lebih cepat karena mendapatkan sentuhan dari suami kecilnya tersebut.


"Migite dake de karada o batabata sa se, ketsuryū ga itsumo yori hayaku nagarete imashita. Anata ga watashi no karada no ta no bubun ni fureta ka dō ka wa sōzō dekimasen! (Sentuhanmu di tangan kananku saja sudah membuat tubuhku berdebar dan aliran darahku terasa terpompa lebih cepat dari bisanya. Aku tidak bisa membayangkan jika kamu menyentuh bagian tubuhku yang lain!)" batin Nara sembari menatap dengan sangat lekat ke arah wajah tampan milik suami kecilnya tersebut.


Sorai-sorai yang menandakan kegembiraan pun datang dari Rania dan Raihan karena putra pertama mereka dan menantu kesayangan mereka kini sudah berjalan menaiki anak tangga secara satu per satu yang akan membawa putra pertama mereka dan menantu kesayangan mereka tersebut ke kamar mereka berdua.


Rupanya Rania dan Raihan salah mengartikan ucapan dari putra pertama mereka tersebut. Rafa sebenarnya bermaksud untuk mengajak istri kecilnya agar menjauh dari kedua orang tua mereka yang kini masih dalam tahap menyelesaikan masalah rumah tangga. Sementara itu, Rania dan Raihan justru menganggap ucapan dari putra pertama mereka tersebut sebagai lampu hijau untuk segera memiliki dan meminang seorang cucu dari Rafa dan Nara.


"Yes yes yes, Mama knows what you mean, boy. Cheer up both of you and give your Mama and Papa lots of grandchildren while you are still able to make them! (Ya ya ya, Mama tahu maksudmu, boy. Bergembiralah kalian berdua dan berilah Mama dan Papa kalian ini cucu yang banyak selagi kalian masih bisa untuk membuatnya!)" batin Rania sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman yang menyiratkan kebahagiaan di wajahnya yang cantik tersebut.


"You are very impatient to touch your wife. You are the same as Papa when Papa can't be patient to touch your mother. If it's like this, you guys have to work extra hard to make lots of grandchildren for the four of us! (Kamu ini sangat tidak sabaran sekali untuk menyentuh istrimu itu. Kamu sama dengan Papa ketika Papa tidak bisa bersabar untuk menyentuh Mamamu. Kalau sudah seperti ini, kalian harus bekerja ekstra keras untuk membuat banyak cucu untuk kami berempat!)" batin Raihan sembari dengan perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyuman yang menyiratkan kebahagiaan di wajahnya yang tampan tersebut.


Rania dan Raihan pun tak henti-hentinya bersorai-sorai gembira untuk putra pertama mereka dan menantu kesayangan mereka tersebut. Namun, tentu saja suara cempreng Rania mendominasi sorai-sorai gembira yang tengah di lakukannya dengan sang suami tersebut.


"Get spirit! You have to work extra hard to make grandchildren for Mama and Papa! Beforehand, don't forget to recharge first because this activity is so tiring! (Semangat, semangat! Kalian harus bekerja ekstra keras untuk membuat cucu untuk Mama dan Papa! Sebelumnya, jangan lupa untuk mengisi energi terlebih dahulu karena aktivitas ini sangatlah melelahkan!)" teriak Rania kepada putra pertamanya dan menantu kesayangannya tersebut yang kini sudah berada di depan pintu kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2