
Amaya yang mendengarkan permintaan Naura yang memintanya untuk memberikan putra pertamanya yang tak lain adalah Nandito untuk putri kedua dari Naura yang tak lain adalah Ayunindya pun memijat-mijat tulang hidungnya secara perlahan-lahan.
Jujur saja, saat ini Amaya sedang di landa oleh kegalauan yang terbesar di dalam hatinya karena ucapan Naura yang meminta Nandito, putra pertamanya untuk menjadi menantu Naura melalui Ayunindya, putri kedua dari Naura.
"Nandito ni musume no giri no musume ni natte hoshī to hakkiri itta hahaoya no hanashi o kiita no wa kore ga hajimetedesu. Saisho no kaigō de, na Ura fujin wa kore o hakkiri to iu yūki o motte imashita. Hontōni, kon'na shitsumon o suru no wa hajimetenanode, hontōni tomadoimashita! (Baru kali ini aku mendengar ada seorang Ibu yang secara gamblang mengatakan bahwa akan meminta Nandito untuk menjadi menantu dari anak perempuannya. Di pertemuan pertama, Nyonya Naura sudah berani mengucapkan hal ini secara gamblang. Sungguh, aku merasa sangat bingung sekali karena untuk pertama kalinya aku mendapatkan pertanyaan yang seperti ini!)" batin Amaya sembari memijit-mijit tulang hidungnya secara perlahan-lahan.
Amaya pun akhirnya kini memutuskan untuk memberikan jawabannya kepada Naura yang kini sedang menunggu jawaban darinya tersebut dengan sangat antusias. Namun sebelum Amaya memberikan jawabannya, Amaya pun menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut yang bertujuan untuk mengusir kegalauan yang telah melandanya tersebut.
"In my opinion, Madame Naura, I would be happy if our two families, the Yamada family and the Faresta family could become an in-house family united by the marital ties of our children. However, for the next step we just leave it to Nandi and Ayu because they have the right to determine their relationship, from friends to husband and wife or to stay there. If they want to decide to become husband and wife, I personally will give my blessing to both of them. Like that, Madame Naura. May we leave it to Nandi and Ayu for after this (Kalau menurut saya sendiri, Nyonya Naura, saya merasa senang jika keluarga kita berdua, keluarga Yamada dan keluarga Faresta bisa menjadi keluarga besan yang di satukan oleh ikatan pernikahan anak-anak kita. Namun, untuk langkah selanjutnya kita serahkan saja kepada Nandi dan Ayu karena mereka berhak menentukan hubungan mereka yang awal mulanya dari teman menjadi sepasang suami istri atau tetap di sana saja. Kalau mereka ingin memutuskan untuk menjadi suami istri, saya pribadi akan memberikan restu untuk mereka berdua. Seperti itu, Nyonya Naura. Kiranya kita serahkan saja kepada Nandi dan Ayu untuk setelah ini)" ucap Amaya dengan sangat hati-hati kepada Naura sembari menyunggingkan sebuah senyuman kecil di wajahnya yang cantik tersebut.
Naura yang paham akan maksud dari perkataan Amaya pun mengangguk-anggukan kepalanya secara pelahan-lahan yang menandakan bahwa dirinya paham akan maksud dari perkataan Amaya tersebut.
"Oh, yes. I understand that, Mrs. Amaya. But I still hope that we can become in-laws because of our children's marriage later! (Oh, ya. Saya mengerti akan hal itu, Nyonya Amaya. Tapi saya tetap berharap bahwa kita bisa menjadi besan karena pernikahan anak-anak kita nanti!)" ucap Naura kepada Amaya dengan nada bicaranya yang menunjukkan antusiasme sembari mengangguk-anggukkan kepalanya tersebut yang menandakan bahwa dirinya mengetahui dan sangatlah paham akan maksud dari perkataan Amaya tersebut.
Untuk sejenak, tidak ada sebuah perbincangan ringan yang ada di antara Rania, Amaya, Naura, dan juga Ayesha yang notabenenya adalah para Mama-Mama gaul tersebut.
Hingga akhirnya, suara teriakan nyaring yang berasal dari mulut Raihana pun memecahkan keheningan yang terjadi di antara Rania, Amaya, Naura, dan juga Ayesha yang notabenenya adalah para Mama-Mama gaul tersebut.
"Ladies and gentlemen, let's get on the plane right now! We're going to take off to the city of Tokyo, Japan right now, slang moms! Look, now it's 12 o'clock in the evening West Indonesian Time, the slang moms. We'll get there for sure at 8 am Tokyo time. So, hurry up and get on the plane right now, slang moms! (Para Mama-Mama gaul, ayolah segera naik ke pesawatnya sekarang juga! Kita akan lepas landas ke kota Tokyo, Jepang sekarang juga, para Mama-Mama gaul! Lihatlah, sekarang ini sudah pukul 12 malam Waktu Indonesia Barat, para Mama-Mama gaul. Kita akan sampai di sana nanti pasti pada pukul 8 pagi waktu Tokyo, Jepang. Jadi, segeralah naik ke pesawat sekarang juga, para Mama-Mama gaul!)" teriak Raihana kepada Rania, Amaya, Naura, dan juga Ayesha yang kini masih saja bediri terdiam di tempatnya masing-masing.
"Oh yes, Mama's daughter. Mama, Mama Amaya, Mrs. Naura, and also Mrs. Ayesha will soon board the plane. Rai just sit quietly in the seat of the plane Rai because Mama won't leave you in another country without Mama by your side, honey! (Oh ya, anak perempuan Mama. Mama, Mama Amaya, Nyonya Naura, dan juga Nyonya Ayesha akan segera naik ke atas pesawat. Rai duduklah saja dengan tenang di kursi pesawatnya Rai karena Mama tidak akan meninggalkanmu di negara orang tanpa kehadiran Mama di sisimu, sayang!)" jawab Rania dengan sedikit berteriak keras karena jaraknya dan jarak anak perempuannya tersebut terpaut agak jauh sebanyak 5 meter.
__ADS_1
Setelah selesai mengatakan hal tersebut kepada anak perempuannya, Rania pun langsung mengatakan kepada Amaya, Naura dan juga Ayesha untuk segera masuk ke dalam pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas menuju ke arah kota Tokyo, Jepang.
"Besanku, Mrs. Naura, and also Mrs. Ayesha, let's get on the plane immediately because the plane will soon take off heading towards the city of Tokyo, Japan (Besanku, Nyonya Naura, dan juga Nyonya Ayesha, ayo kita segera masuk ke dalam pesawat karena sebentar lagi pesawat akan kepas landas menuju ke arah kota Tokyo, Jepang)" ucap Rania kepada Amaya, Naura, dan juga Ayesha sembari melangkahkan kedua kakinya tersebut secara perlahan-lahan menuju ke arah pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut.
Amaya, Naura, dan juga Ayesha pun kini melangkahkan kedua kaki mereka masing-masing secara perlahan-lahan untuk menyusul Rania yang kini sedang menaiki tangga pesawat jet pribadi milik keluarga Abayomi tersebut.
Sementara itu di dalam pesawat
Nara, Vannesha, Anissa, dan juga Raihana pun kini sedang berbincang-bincang ringan dengan sesekali terselip candaan ringan ataupun kejahilan-kejahilan kecil yang terdapat di dalam perbincangan yang terjadi di antara Nara, Vannesha, Anisaa, dan juga Raihana tersebut.
"Uh, Nara, Nissa, and Rai, do you want to hear about the funny thing that happened to me? This is really very funny! I can guarantee that later the three of you will burst out laughing at hearing this story of mine! (Eh, Nara, Nissa, dan Rai, mau mendengar kejadian lucu yang aku alami tidak? Ini benar-benar sangatlah lucu! Aku bisa menjamin jika nanti kalian bertiga akan tertawa secara terbahak-bahak karena mendengar ceritaku ini!)" ucap Vannesha kepada Nara, Anissa, dan juga Raihana sembari mengerlingkan kedua matanya tersebut yang bertujuan agar Nara, Anissa, dan juga Raihana mau mendengar cerita yang menceritakan tentang sebuah kejadian lucu yang menimpa dirinya tersebut.
Raihana yang pada dasarnya merupakan seorang anak perempuan yang bersifat sangat ingin tahu dan juga menyukai ketika mendengar cerita-cerita konyol dan juga lucu dari orang lain pun langsung menjawab pertanyaan dari Vannesha dengan nada bicaranya yang menyiratkan sebuah antusiasme akan sebuah penawaran yang di berikan oleh Vannesha tersebut.
Berbeda dengan Raihana yang menunjukkan rasa antusiasmenya akan sebuah penawaran yang di berikan oleh Vannesha, Nara dan Anissa justru menjawab dengan jawaban yang tidak mengandung sedikit ekspresi perasaan di dalam ucapan mereka tersebut.
"It's up to you, Vannesha! (Terserah kamu saja, Vannesha!)" jawab Nara dan Anissa secara bersamaan akan pertanyaan yang di tanyakan oleh Vannesha tersebut dengan nada bicara mereka yang tidak mengandung sedikit ekspresi pun yang menyiratkan akan perasaan mereka tersebut.
Sebelum memulai untuk bercerita kepada Nara, Anissa, dan juga Raihana, Vannesha pun menarik dan menghembuskan nafasnya dengan perlahan-lahan yang bertujuan agar membuatnya menjadi rileks ketika dirinya sedang bercerita kepada Nara, Anissa, dan juga Raihana.
"At that time I was watching a Korean Drama where the main character was Lee Min Ho. You three must know that I really idolize Lee Min Ho. Well, in the Korean Drama it tells of a couple who ended their relationship tragically because the woman was a North Korean citizen who defected to South Korea. Because I couldn't bear to watch a scene that was so dramatic and sad like that, I finally burst into tears because I really felt sorry for the woman earlier. My mom was busy cooking for dinner. Because Mami really doesn't like noise, so my mother immediately threw the spatula she was holding at me. As a result, the spatula hit my forehead and made my forehead swell slightly and turn purple. Of course it made me grimace in pain because of what I felt at that time. Instead of treating my swollen forehead because of her actions, my mother dragged me to be asked to swim in the pool. Tragic and sadistic, right? This cut on my forehead needed medicine, not water in the pool. When I asked why Mami dragged me to the pool, then my mother's answer was that if I cried so much I would be able to drown my voice by drowning my head in the water. Huh, what an annoying Mami! (Waktu itu aku sedang menonton Drama Korea yang pemeran utamanya adalah Lee Min Ho. Kalian bertiga pasti tahu kan kalau aku itu sangat mengidolakan Lee Min Ho. Nah, di Drama Korea itu menceritakan tentang sepasang kekasih yang mengakhiri hubungannya dengan tragis karena si perempuan tadi merupakan warga Korea Utara yang membelot ke Korea Selatan. Karena aku tak tahan untuk menonton adegan yang sangat dramatis dan menyedihkan seperti itu, akhirnya aku pun menangis dengan tersedu-sedu karena aku sangat merasa kasihan kepada si perempuan tadi. Yang Mamiku tadi sedang sibuk memasak untuk makan malam. Karena Mami itu orangnya sangat tidak menyukai suara bising, maka Mamiku pun langsung melayangkan spatula yang sedang di pegangnya ke arahku. Alhasil, spatula itu tepat mengenai keningku dan membuat keningku menjadi sedikit membengkak dan menjadi berwarna keunguan. Tentu saja itu membuatku sangat meringis kesakitan karena apa yang aku rasakan pada saat itu. Bukannya mengobati keningku yang menbengkak karena ulahnya, Mamiku justru menyeretku untuk di suruh berenang di kolam renang. Tragis dan sadis bukan? Luka di keningku ini memerlukan obat, bukannya air di dalam kolam renang. Ketika aku tanya kenapa Mami menyeretku ke kolam renang, maka jawaban Mamiku adalah agar jika aku menangis dengan tersedu-sedu aku akan bisa meredam suaraku dengan menenggelamkan kepalaku di dalam air. Huh, benar-benar Mami yang menyebalkan!)" ucap Vannesha kepada Nara, Anissa, dan juga Raihana dengan nada bicaranya yang menyiratkan sebuah kekesalan yang lebih mendalam lagi kepada sang Mami tersebut.
__ADS_1
"What's worse, Mami asked anyone who passed there not to get me out of the swimming pool. My first sister, Ms. Julian and my brother-in-law, Ms. Melvyn, my little nephew, Jesslyn, Papiku, Papi Varrel, and also my second sister, Ms. Ayu, were not even allowed to help me out of the pool until dinner time arrived! (Yang lebih parahnya lagi, Mami meminta untuk siapa saja yang melintas di sana untuk tidak mengeluarkanku dari dalam kolam renang. Kakak pertamaku, Kak Julian dan kakak iparku, Kak Melvyn, keponakan kecilku, Jesslyn, Papiku, Papi Varrel, dan juga kakak keduaku, Kak Ayu bahkan tidak di perkenankan sedikit pun untuk menolongku keluar dari kolam renang hingga waktu makan malam tiba!)" ucap Vannesha kepada Nara, Anissa, dan juga Raihana sembari tertawa getir di akhir ucapannya tersebut.
Sontak saja Raihana yang mendengarkan cerita kejadian lucu sekaligus menyedihkan yang terjadi pada Vannesha tersebut pun langsung tertawa dengan terbahak-bahak hingga memegangi perutnya sendiri karena terlalu kebanyakan tertawa hingga membuat perutnya menjadi sangat sakit.
"Hahaha, what a sad fate for you, Ms. Nesha. Rai is so concerned about what happened to you! (Hahaha, menyedihkan sekali nasibmu, Kak Nesha. Rai sangat prihatin atas apa yang telah menimpamu itu!)" ucap Raihana sembari tertawa dengan terbahak-bahak dengan memegangi perutnya sendiri kareba sudah terasa sangat sakit akibat terlalu kebanyakan tertawa.
Vannesha yang mendengarkan dan melihat respon yang seakan-akan menganggap kejadian yang terjadi pada dirinya tersebut merupakan kejadian yang lucu, Vannesha pun langsung mencebikkan bibirnya serta mengepalkan kedua tangannya secara sempurna tersebut karena kini Vannesha sedang merasa sangat kesal sekaligus malu akan respon yang di berikan oleh Raihana kepadanya.
"Haish, this kid. I also know that my story is both very funny and adorable for those who hear it. However, don't laugh like that either! It will make me both very embarrassed and annoyed with you at times like this, Raihana! (Haish, anak ini. Aku juga tahu kalau ceritaku ini sangatlah lucu sekaligus menggemaskan bagi orang yang mendengarnya. Namun, jangan tertawa seperti itu juga! Hal itu akan membuatku menjadi sangat malu sekaligus kesal kepadamu di saat-saat seperti ini, Raihana!)" batin Vannesha sembari mencebikkan bibirnya dan juga mengepalkan kedua tangannya secara sempiurna kerena merasa sangat kesal akan respon yang di berikan oleh Raihana kepadanya tersebut.
Berbeda dengan Raihana yang memberikan respon yang seakan-akan menganggap hal yang terjadi pada Vannesha tersebut merupakan hal yang lucu sekaligus menyedihkan, Nara dan Anissa justru memberikan sebuah reaksi yang mengejutkan, yakni menyuruh Vannesha agar tidak menyimpan dendam sedikit pun kepada sang Mami yang sudah membuat keningnya menjadi sedikit membengkak dan juga menyeretnya hingga menjatuhkannya di kolam renang yang ada di rumah keluarga Faresta tersebut.
"Me and Nara are sorry about what happened to you, Nesha. Nara and I hope you won't hold a grudge against your own mother for what happened to you that time, huh? Can you take my and Nara's advice this time? (Aku dan Nara turut bersedih atas kejadian yang menimpamu itu, Nesha. Aku dan Nara harap kamu tidak akan menyimpan dendam terhadap Mamimu sendiri akan hal yang terjadi padamu kali itu, ya? Apakah kamu bisa menuruti saranku dan Nara pada kali ini?)" ucap Anissa yang berbicara mewakili dirinya dan juga Nara yang notabenenya merupakan sahabatnya tersebut dengan nada bicaranya yang sangat lembut kepada Vannesha yang notabenenya adalah sahabatnya juga.
Nara yang mendengarkan ucapan Anissa pun ikut membenarkan ucapan Anissa tersebut yang kembali di tujukan kepada Vannesha yang notabenenya adalah sahabatnya tersebut.
"Yes, that's right, Nesha. Can you apply my advice and Nissa's suggestion this time? I hope you can apply my advice and Nissa's advice this time! (Ya, benar itu, Nesha. Apakah kamu bisa menerapkan saranku dan saran Nissa pada kali ini? Aku harap kamu bisa menerapkan saranku dan saran Nissa pada kali ini!)" ucap Nara yang ikut membenarkan ucapan Anissa kepada Vannesha yang notabenenya merupakan sahabatnya tersebut.
Vannesha yang mendengarkan perkataan Nara dan Anissa yang notabenenya adalah kedua sahabatnya tersebut langsung meneteskan air mata harunya yang menandakan bahwa dirinya sangatlah terharu karena dirinya masih mendapatkan kebaikan dan perhatian dari kedua sahabatnya tersebut.
Vannesha yang tadinya ingin memeluk kedua sahabatnya tersebut pun harus mengurungkan niatnya karena mengingat sekarang Nara yang sedang duduk di depannya bersama suami kecilnya serta Anissa yang sedang duduk di samping kirinya.
__ADS_1
"Thank you, Nara and Nissa. I am very proud and happy because I have two very good friends and care for me! I am very lucky to be a friend to both of you, Nara and Nissa! (Terima kasih, Nara dan Nissa. Aku sangatlah bangga dan bahagia karena aku menpunyai dua sahabat yang sangat baik dan perhatian kepadaku ini! Aku sangat beruntung bisa menjadi sahabat untuk kalian berdua, Nara dan Nissa!)" ucap Vannesha kepada Nara dan Anissa yang notabenenya adalah kedua sahabatnya tersebut sembari meneteskan air matanya secara perlahan-lahan yang kini air matanya yang sedang mengalir dengan derasnya di kedua pipi chubbynya tersebut.